Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 69


__ADS_3

⚘⚘⚘ Hi semua! Aku baca komen banyak yang gak suka sama visualisasi Dio. Maaf ya soalnya aku nyari yang warna matanya cokelat agak susyeh yang cucok. Yang kemarin aku kasih tuh visualisasi Dio setelah 3 tahun kemudian. Jangan lupa vote yang banyak ya cin... 😘😘😘😘😘⚘⚘⚘


POV Author


"Kev, come to mommy. " Kevin kecil nan menggemaskan berlari menghampiri Mommy tersayangnya. "Give me a little hug, please." Ayu merentangkan kedua tangannya. Kevin langsung menghambur ke arahnya dan memeluknya. Kevin juga memberikan ciuman penuh kasih sayangnya untuk Ayu.


"Wow! Om Guntur iri sama kamu, Vin." celetuk Guntur yang langsung mendapat pelototan mata Ayu. "Peace... Yu.... Peace... Becanda... He..he..he..."


Ayu lalu berjongkok dan menyamakan tingginya dengan putranya tersebut. "Are you happy?"


"Off course, Mommy." jawab Kevin tanpa melepaskan pelukannya pada Ayu.


"Say thanks to Uncle Guntur."


Kevin melepaskan pelukan dari Ayu dan berlari menuju Guntur. "Thank you, Uncle." Kevin tak lupa mencium pipi Pamannya tersebut.


"You're welcome, Boy."


Guntur lalu menggendong Kevin. "Kita lihat Danau dari dekat yuk. Ada perahu disana. Kevin mau lihat gak?"


"Mauuu..." jawab Kevin dengan penuh semangat.


"Oke. Mau kemana kita?" tanya Guntur menirukan nada suara di film kartun Dora The Explorer.


"Liyat peyawu."


"Lets go!" teriak Guntur antusias.


"Lets go!" balas Kevin tak mau kalah.


Ayu hanya tersenyum saja melihat kelakuan dua orang tersebut. Betapa akrab dan sayangnya Guntur terhadap Kevin. Ayu sadar kalau Guntur memiliki perasaan terhadapnya namun Ia bersikap seolah tak tahu karena tak mau memberi harapan lebih pada Guntur.

__ADS_1


Hari ini Guntur mengajak Ayu dan Kevin untuk jalan-jalan ke Danau Ranau. Danau Ranau adalah salah satu Danau terbesar di Pulau Sumatera setelah Danau Toba.


Pemandangannya sangat indah dan udaranya masih bersih. Sejuk dan segar rasanya bila dibandingkan dengan asap polusi Jakarta. Sambil menggendong Kevin, Guntur menggandeng tangan Ayu berjalan menuju tengah Danau. Ada jalanan yang terbuat dari kayu yang sengaja dibangun agar kita bisa lebih melihat pemandangan Gunung Seminung yang menjulang megah. Air danau masih jernih dan banyak ikan yang hidup didalamnya.



Tak salah Guntur mengajak Ayu kesini. Berkali-kali Ayu terpukau dengan keindahan alam yang masih asri disini. "Bagus kan Yu pemandangannya?"


"Iya, bagus sekali. Rasanya sejuk mata aku melihat pemandangan ini."


"Gak sia-sia kan kita menempuh perjalanan jauh dari kota sampai perbatasan provinsi seperti sekarang?"


"Iya, betul. Semua dibayar lunas dengan indahnya pemandangan ini."


Guntur melirik sekilas senyum indah yang terpancar dari wajah cantiknya. Inilah yang selalu Ia inginkan. Melihat Ayu yang tersenyum bahagia dan melupakan segala beban hidupnya.


******


Lokasi: Jakarta


"Tolak aja. Nunggu sebulan lagi kalau masih mau nunggu. Kalau gak mau yaudah cari tempat lain saja." jawab sang bos dengan sombongnya.


"Si Bos mah kebiasaan nolak rejeki melulu. Kan tempat tidur mahal bos bisa 10 jutaan. Lumayan pemasukan." gerutu Yono. Memang anak buah Dio yang satu ini suka songong dan seenaknya saja kalau ngomong sama atasan.


"Orderan masih banyak. Nanti yang lain encok ngerjainnya. Udah tolak aja dulu. Masukkin waitting list kalau Dia mau sabar nunggu." Dio turun dari treadmillnya. Sudah gak mood lagi olahraga ngomongin kerjaan.


"Yaudah Boss, saya kabarin Bu Melly dulu." Yono lalu pergi meninggalkan bosnya yang ganteng itu.


Dio mengelap keringat hasil dari olahraganya dengan sebuah handuk kecil. Ia sekarang rajin berolahraga. Selain salah satu treatment agar menenangkan pikirannya juga sebagai terapi penyembuhan gejala kepanikan yang Ia miliki.


Dio berjalan ke dapur dan mengambil segelas air putih dan meneguknya sampai habis. Menggantikan cairan tubuhnya yang hilang setelah berolahraga.

__ADS_1



Olahraganya tak sia-sia. Bentuk tubuhnya yang dulu berisi kini makin terbentuk dengan otot dan perutnya yang dulu agak tambun jadi sixpack. Ia sengaja menumbuhkan jenggot dan sedikit kumis. Malas mengurusi penampilan malah membuat Dio terlihat lebih macho.


Dengan hanya memakai celana pendek tanpa baju atasan Dio melenggang ke rumah kontrakkan di sebelah rumahnya. Melihat kemajuan usaha AYU FURNITURE yang semakin pesat.


Dio bahkan sudah mengontrak rumah kontrakkan di sebelahnya sebagai bengkel pembuatan furniture. Karyawannya yang mencapai 10 orang setiap hari tak pernah menganggur. Selalu saja ada orderan masuk. Baik dari Pak Dhana pelanggan tetap mereka maupun dari penjualan online.


Dio mengangkat Hpnya yang berdering. Driver mengabarkan bahwa pengiriman ke daerah Bandung sudah selesai. Dio menyuruh mereka kembali lagi karena ada pengiriman barang selanjutnya. Setelah panggilan telepon terputus Dio kembali memandangi wajah bayi mungil yang menjadi wallpapernya saat ini. "Morning, Baby." Dio lalu mencium wallpapernya menganggap kalau Ia tengah mencium buah hati yang tak pernah dilihatnya selama ini.


Karyawannya sudah biasa melihat kebiasaan Dio mencium wallpaper Hpnya. Mereka yang sudah mengenal Dio dari awal tau bagaimana kisah hidup Dio sebelum dan setelah sukses seperti sekarang. Mereka membiarkan saja Dio melakukan hal tersebut yang penting Dio bahagia.


"Pak Ari, proyek Pak Dhana sudah berapa yang selesai dan berapa yang belum?" Pak Ari yang mendengar namanya dipanggil pun menghentikan pekerjaannya.


"Sudah 12 yang selesai. Sisa 3 lagi. Ini tinggal finishing aja." lapor Pak Ari.


"Oh yaudah nanti saya bilang ke Pak Dhana. Semalam Dia nanya kurangnya berapa. Next project dari Pak Dhana udah mau masuk lagi nih Pak. Kali ini pesan tempat tidur tapi saya batesin pesanannya soalnya tempat ngerjainnya gak cukup. Itu rumah kontrakkan sebelah mau dikontrakkin juga gak ya? Mau saya sewa juga sekalian."


"Siapa yang ngerjain nanti, io? Ini aja gak kelar-kelar kita ngerjainnya. Bersyukur sih kita kebanjiran job. Tapi sekali-kali saya mau cuti. Mau pulang kampung." protes Pak Ari.


"Iya juga sih. Nanti saya minta waktu lagi deh sama Pak Dhana. Kalau bukan Pak Dhana yang pesen udah saya tolak juga tuh orderan. Pak Dhana kan pelanggan prioritas kita. Pak Ari kampungnya dimana?" Dio meminum lagi air putih yang Ia bawa sejak tadi.


"Di Palembang, io. Dio mau ikut saya pulang kampung? Ayo kalau mau ikut. Sekalian cuci mata. Liburan, io. Hilangin penat di Jakarta. Kita jalan-jalan naik kapal." ajak Pak Ari.


Dio memikirkan ide Pak Ari yang lumayan menarik menurutnya. "Saudara sepupu saya juga punya usaha di Palembang sih Pak. Pengen saya kesana sekalian jalan-jalan. "


"Ayo kita kesana. Seminggu aja kita libur. Ajak anak-anak yang lain. Rumah Bapak mah gede disana. Maklum rumah panggung. Kamarnya banyak gak usah takut mau tidur dimana. Itu rumah peninggalan orang tua Bapak. Sekarang hanya istri dan anak Bapak aja yang tinggalin. Ada 8 kamar. Ya seadanya aja sih bukan rumah gedong. Tapi pemandangannya bagus. Kita main ke Danau kalau pagi sambil piknik makan ikan bakar. Gimana? Mau gak?"


Tawaran Pak Ari membuat Dio amat tertarik. Jalan-jalan bersama anak buahnya kayaknya seru juga. Kasihan mereka selama ini selalu kejar setoran dan tak pernah diajak piknik.


"Boleh juga, Pak. Sekalian saya mau mampir menemui saudara sepupu saya di kotanya. Kabarin aja sama yang lain nanti kita jalan-jalan ke Palembang. Tapi jangan lupa selesaikan dulu orderan yang masuk. Orderan berikutnya suruh sabar bilang saja karyawannya mau family gathering. Oke?"

__ADS_1


"Oke. Siap, io." Pak Ari langsung berteriak mengabarkan ke karyawan lain. "Woy semuanya. Kita mau jalan-jalan ke Palembang di sponsori oleh Pak Dio. Ayo kita cepet selesein kerjaan kita biar makin cepet kita jalan-jalan. Setuju?"


"Setuju." jawab semua karyawan kompak. Dio hanya tersenyum melihat kebahagiaan karyawannya. Ia senang walau hanya memberi sedikit kebahagiaan untuk mereka.


__ADS_2