
POV Author
Tanpa terasa matahari sudah mau terbenam. Tanpa terasa hubungan Mama Lia dan Mamanya Ayu sudah membaik hanya karena makan ikan asin dan sambel bareng. Ayu hanya bisa menikmati pemandangan betapa damainya hubungan kedua mamanya tersebut. Indahnya perdamaian.
Melihat Kevin yang dimanja oleh Oma dan Nini-nya merupakan kebahagiaan sendiri. Terkadang kedua neneknya berebutan minta dicium oleh Kevin. Tinggalah Ayu yang seharian puas bermain Hp. Mau ngapain lagi? Rumah Mama selalu rapi dan bersih tanpa perlu campur tangan Ayu. Kevin sudah asyik dengan kedua neneknya. Yaudah lanjut aja main hp nya.
Telepon masuk dari Dio langsung Ayu angkat. Dio menanyakan keberadaan Ayu dan Kevin tak lupa menanyakan bagaimana situasi ketika kedua besan itu bertemu. Setelah memastikan tidak ada masalah Dio pun menutup teleponnya.
Jam 7 malam Ayu dan Mama Lia sudah sampai di rumah kontrakkan Ayu. Seharian bermain tak membuat baterai Kevin drop, Ia malah makin banyak berceloteh yang membuat Mama Lia tak henti terkagum-kagum akan kepintarannya.
"Ma, mampir dulu ya. Dikit lagi Dio pulang kok. Kita makan malam bareng." ajak Ayu setelah turun dari mobil Mama Lia.
"Hmm... gimana ya Yu, Mama sih mau aja. Tapi nanti Papa nanyain kalau Mama gak ada." tolak Mama Lia dengan halus. Ia pun masih mau menghabiskan waktunya dengan cucu kesayangannya bahkan sampai menginap tapi apa daya bayi besarnya pasti akan curiga.
Sebuah suara berat langsung mengagetkan Ayu dan Mama Lia. "Kata siapa Papa nanyain? Papa tahu kok Mama lagi disini."
Ayu dan Mama Lia kompak melihat ke asal suara tersebut. Suara yang langsung membuat tubuh Ayu serasa lemas. Suara yang ternyata masih amat ditakuti Ayu.
Papa Putra berjalan keluar dari belakang mobil Mama Lia. Sejak tadi Ia menunggu kedatangan istrinya dengan tenang di dalam mobil yang terparkir di depan rumah kontrakkan tempat karyawan Dio bekerja. Mama dan Ayu tidak memperhatikan ada mobil Papa disitu karena sibuk memperhatikan ulah lucu Kevin.
Merasa terancam, insting Ayu langsung memeluk buah hatinya tersebut. Ia amat takut kalau Papa akan mengambil anak kesayangannya.
"Pap....pa?" tanya Ayu dengan terbata-bata.
Papa melihat sekilas Ayu yang ketakutan dan melihat anak laki-laki yang ada digendongan Ayu. Ayu menutupi wajah Kevin sehingga Papa Putra tidak bisa melihat dengan jelas wajah cucunya tersebut.
"Papa kok bisa ada disini? Kan tadi Mama bilang kalau Mama akan makan malam di rumah. Enggak percayaan banget sih sama Mama!" gerutu Mama Lia. Ia langsung turun dari mobil Alphard putihnya dan berusaha mencegah Papa bertemu Ayu dan Kevin lebih lama lagi.
"Memangnya kenapa? Papa gak boleh kesini? Ini kan rumah anak Papa juga. Papa tuh tau ada yang Mama dan Dio sembunyikan." Papa melipat kedua tangannya di dada, seperti sedang menyidang kelakuan Mama.
__ADS_1
Sementara Ayu sibuk menahan keingintahuan Kevin yang sejak tadi ingin melihat suara siapakah yang berbicara dengan Omanya. Setiap Kevin mau nengok ke belakang Ayu selalu memalingkan lagi wajahnya. Sampai akhirnya Kevin kesal kenapa Ia gak boleh ngeliat ke belakang.
"Iiih Mommy! Kevin mo liyat!" perkataan Kevin mengalihkan perhatian Papa dan Mama yang sedang beradu argumen tersebut. Ayu langsung menutup mulut anaknya tersebut seraya menyuruhnya diam.
Namun semuanya telat. Papa Putra sekarang perhatiannya sudah tertuju pada Kevin. Melihat Kevin yang masih berusaha melepaskan diri dari Mommynya.
"Itu..... anaknya Dio?" Papa Putra mulai penasaran dengan wajah cucunya tersebut.
Mama Lia dengan sigap berusaha mengalihkan perhatian Papa. "Udah malam nih, kita pulang yuk Pa. Kita makan malam di luar aja gimana? Mama lagi pengen makan steak di hotel X nih. Enak kali ya makan wagyu steak pakai kentang goreng. Ayo Pa nanti keburu kemaleman. Naik mobil Papa aja deh biar mobil Mama dibawa pulang supir. "
Papa Putra tidak menggubris ucapan Mama yang panjang kali lebar tersebut. Ia begitu penasaran dengan wajah anak laki-laki yang memegang mainan Dinosaurus tersebut.
Ayu semakin mempererat pelukannya pada Kevin. Tatapan Papa Putra yang menyelidik membuatnya ketakutan. Dalam hati Ia terua berdoa agar Dio segera pulang dan menolongnya lepas dari keadaan ini.
Mama Lia tak putus asa. Gagal mengajak bicara Ia pun berusaha menggandeng tangan Papa Putra. "Ayo, Pa. Kita pergi."
Usaha Mama Lia lagi-lagi gagal. Papa Putra melepaskan tangan Mama dan berjalan mendekati Ayu.
Dio juga kaget melihat kehadiran Papa Putra. "Ma...Pa...." sekarang semua mata tertuju pada Dio yang baru datang. Ayu langsung bisa bernafas lega melihat kedatangan suaminya tersebut. Setidaknya Ia dan Kevin akan aman kalau ada Dio.
"Daddy!" Kevin langsung berteriak kegirangan menyambut kedatangan Daddnya tersebut dan minta digendong Dio.
"Hi jagoan Daddy. Nakal gak hari ini?" Dio menggendong Kevin dan mencium pipi Kevin yang wangi bedak bayi tersebut.
"Enda nacal dong. Kevin kan pintel."
"Hebat anak Daddy mah." Dio mencium lagi pipi Kevin. Dio akhirnya sadar kalau Ayu, Mama dan Papa Putra tatapannya tertuju pada dirinya dan Kevin.
"Hmm.... kita masuk dulu aja ya, Pa.. Ma. Kita ngomongin di dalem." Dio langsung menggandeng Ayu yang wajahnya sudah pucat dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Papa Putra dan Mama pun mengikuti Dio. Papa Putra sejak tadi hanya diam saja dan mengamati sikap Dio yang ternyata sudah amat akrab dengan anak kecil yang bernama Kevin tersebut. Dalam hati Papa Putra terus bertanya-tanya apakah Dio dan Ayu sudah lama bertemu dan menjalin hubungan lagi? Kenapa Ia baru mengetahuinya sekarang. Kalau masalah Kevin anak siapa, dengan sekali lihat Papa Putra yakin kalau itu anak Dio karena wajahnya amat mirip Dio saat kecil dulu.
"Duduk Pa... Ma...." Dio mempersilahkan Papa dan Mamanya duduk di ruang tamu.
"Sayang, tolong buatkan minum untuk Papa dan Mama ya." Ayu langsung beranjak ke dapur dan mengerjakan perintah Dio. Di dapur Ia dapat bernafas sejenak. Ia mengambil segelas air putih dan meneguknya. Ternyata Ia masih amat takut dengan Papa Putra. Bagaimana nanti dengan Kevin kalau Ia saja takut dengan Papa Putra? Memikirkan keselamatan anaknya Ayu pun terburu-buru membuatkan teh manis untuk mertuanya tersebut.
Kevin memang bersama Dio. Yang Ayu takutkan adalah kalau kedua mertuanya ribut dan penyakit Dio kumat, lantas siapa yang akan menjaga Kevin? Ayu menuangkan air panas dan secepatnya mengaduk teh dan gula pasir lalu membawanya ke ruang tamu.
Seperti terjadi gencatan senjata di medan perang. Papa Putra duduk diam tanpa kata dan hanya memandang Dio dan Kevin yang sedang bercanda dan tertawa. Mama Lia sesekali memandang suaminya dan berusaha mencari tahu apa yang suaminya pikirkan tersebut namun Ia tak mendapatkan apa-apa.
Ayu datang dan menghidangkan minuman untuk kedua mertuanya serta suaminya yang baru pulang kerja tersebut.
"Diminum Pa... Ma..." Dio yang menawarkan karena Ia tahu Ayu masih amat canggung menawari Papa Putra minum.
Kevin menarik jas Dio seraya berbisik pelan. "Daddy itu capa? Kevin tatut."
Ucapan Kevin mewakili perasaan Ayu. Walau diucapkan pelan namun semua yang ada di ruang tamu bisa mendengarnya.
Dio tersenyum mendengar perkataan Kevin. "Oh.. itu kan Oma. Tadi Kevin habis pergi sama Oma kan?"
Kevin menggeleng karena jawaban Dio tak sesuai dengan pertanyaan yang Ia maksud. "Butan Daddy. Yang itu." Kevin memberanikan diri menunjuk ke arah Papa Putra yang sejak tadi terus menatapnya.
Dio tahu Kevin menanyakan Papa Putra. Ia hanya sedang mengulur waktu saja dan tentunya ingin berbuat jahil juga. "Oh... itu. Yang di samping Oma?"
Kevin pun mengangguk. Dio lalu tersenyum dan berkata. "Itu adalah..... Aki. Kakeknya Kevin."
Mata Papa Putra langsung mendelik tajam ke Dio. Seharusnya kan kalau Oma itu pasangannya Opa. Kenapa harus Aki?
"Kenapa Pa?" tanya Dio pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Gak apa-apa." jawab Papa Putra gengsi.
Dio terus saja menahan tawanya melihat kegusaran Papanya tersebut. Ah biarlah, sekali-kali ngerjain Papanya gak dosa kan? eh dosa deh, tapi dikit kan?