
Setelah kejadian malam itu, hubunganku dengan Dio tak juga membaik. Bahkan kami tak saling bicara satu sama lain. Mungkin Dio marah padaku karena kukerjain dengan nasi goreng pedas yang membuatnya jadi diare, entahlah. Aku gak peduli.
Aku sibuk dengan kerjaanku sampai tanpa terasa sudah hampir seminggu kami tak bertegur sapa. Kami tetap bareng pulang dan pergi kerja, namun tak ada percakapan sepanjang jalan. Hanya diam saja asyik dengan pikiran kami masing-masing.
Pulang kerja aku hanya di kamar saja atau sesekali menonton drama korea di ruang tv sementara Dio bergabung dengan teman-temannya di halaman depan melanjutkan pekerjaan membuat kitchen set.
Kami masih tidur satu kamar namun aku berinisiatif menaruh guling sebagai pembatas tidur kami. Dio pun tak protes. Aku menunggu sampai hari ini, saat Papa menanti jawaban Dio.
Namun Papa tak kunjung datang. Hanya Mama Lia yang menelepon dan memberitahu kalau Papa akhirnya setuju memberikan waktu sampai Sheila kembali ke Indonesia. Aku sih sudah tidak peduli lagi.
Aku sedang menonton drama korea di ruang tv ketika Dio ikut bergabung bersamaku. Harum tubuhnya setelah mandi tercium amat segar di hidungku. Teman-temannya sudah pulang sebelum jam 6 sore.
Aku mengenang malam minggu yang kami habiskan seminggu lalu. Walau sederhana namun aku merasa bahagia. Entah sejak kapan aku memiliki perasaan terhadap si nyebelin Dio. Mungkin pepatah suka karena terbiasa benar adanya. Rasa suka perlahan tumbuh di hatiku karena aku terbiasa bersama dengannya.
Aku sudah kehilangan semuanya. Pacar sekaligus calon suami, keperawanan yang selama ini terus kujaga dan selanjutnya adalah suami. Ikhlas meski sulit. Sabar meski mustahil.
Dio tiba-tiba menaruh kepalanya di pahaku. Aku kaget dan hendak menarik tubuhku menjauh, tapi Dio memegang tanganku dan memaksaku mengusap rambutnya. "Please, sebentar aja, Yu."
Aku menghela nafas berat. Walau awalnya terpaksa tapi lama-lama aku membelai rambut Dio tanpa paksaan lagi. Dio memang sangat suka seperti ini padaku.
"Aku lelah, Yu. Lelah bertengkar sama kamu. Lelah dengan hubungan kita yang terlalu banyak cobaan."
"Yaudah ikhlasin aja aku. Ceraikan aku dan kamu tidak akan lelah lagi." Jawabku sinis.
Dio kembali terdiam. Mata cokelatnya menatap kosong ke layar TV. Pikirannya berkelana entah kemana.
"Andai Yu.... Andai aku memilih pilihan pertama. Aku sih yakin kita akan mampu bertahan hidup. Dengan usaha furniture aku mampu membiayai kamu. Kita hidup berdua bahagia selamanya. Tapi perasaanku pasti akan tersiksa dan merasa bersalah karena menelantarkan ribuan karyawan Papa."
__ADS_1
"Ya jangan pilih pilihan pertama. Kan ada pilihan kedua. Ribet deh."
Dio bangun dari pangkuanku dan menatapku tajam. "Aku gak mau kehilangan kamu, Yu. Kamu ngerti gak sih dari kemarin arah pembicaraan aku kemana? Aku udah muter-muter. Merangkai kata yang bagus untuk dijelaskan ke kamu. Rela makan nasi goreng pedas sampai diare. Demi apa? Demi kamu agar tidak marah sama aku. Demi kamu mau tetap dampingin aku. Ini kamu malah makin sebodo amat. Makin cuek. Nyebelin kamu, Yu." Lah jadi Dio yang ngambek?
"Dio. Aku kasih tau kamu sekali lagi ya. Hanya keajaiban yang membuat aku akan berada di sisi kamu dan bersedia untuk di poligami. Sisanya gak mungkin. Mau kamu melakukan hal apa kek, aku gak akan goyah. Mau kamu kasih aku bulan dan matahari pun aku tak akan goyah. Jadi berhenti omong kosong kamu mulai sekarang!" Aku membetulkan posisiku lalu berdiri. "Dan satu lagi, aku mau pulang ke rumah orang tuaku malam ini juga!"
Dio langsung bangun dan mengejarku. Ia memegang kedua bahuku dan menghentikan langkahku. "Yu..Yu...Yu... Please... Jangan pergi.... Please... Aku minta maaf. Tapi tolong Yu, jangan pergi..... Jangan tinggalin aku..."
"Kamu mau terus nyakitin aku, io?"
"Aku gak mau, Yu. Aku mau membahagiakan kamu."
"Ya kamu harus tegaslah. Kamu pilih aku dan perusahaan kecil kita atau pilih Sheila dan perusahaan besar Papa kamu!
"Jangan seperti Papa yang membuat aku memilih, Yu. Jangan pergi, Yu." Dio memelukku erat seakan takut kehilanganku. Lagi-lagi aku lemah. Tak kuasa pergi meninggalkan Dio apalagi saat kurasakan air matanya membasahi pundakku.
*******
Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa sudah sebulan. Pekerjaan furniture Dio makin cepat selesai karena menambah 2 orang lagi yang membantu. Setengah pesanan sudah selesai dikirimkan. Feedback yang diberikan Pak Dhana juga bagus. selalu tersenyum puas saat menerima hasil karya Dio.
Motif yang berbeda-beda dan bernilai seni sehingga tak bosan memandangnya. Pak Dhana bilang kalau harga rumah di clusternya meningkat tajam setelah pembeli melihat kitchen set buatan Dio.
Aku membantu Dio membuatkan laporan keuangan untuk usaha furniturenya. Aku dan Dio sepakat akan menamainya Ayu Furniture.
Sebuah papan nama besar sudah terpasang di depan rumah. Sesekali ada yang datang dan melihat-lihat contoh furniture design Dio. Harga yang kami tawarkan memang lebih tinggi dari yang lain namun tak jarang pembeli tak peduli dengan harga. Pemesanan dari luar mulai berdatangan namun semuanya masih menunggu waitting list selesainya job dari Pak Dhana. Sedikit jual mahal memang namun bagi pembeli yang sudah jatuh hati pada karya seni Dio tak akan masalah.
"Dio, ini tumpukan faktur pembelian dari toko kayu langganan kamu. Aku udah buatkan laporannya. Ada yang belum kamu transfer." Aku memberikan laporan dan barang bukti faktur pada Dio yang sedang asyik mengukir motif kayu.
__ADS_1
"Masih kurang berapa yang belum aku transfer?" Dio tak mengalihkan perhatiannya dari furniture yang Ia kerjakan.
"3 juta lagi kurangnya."
"Yaudah kamu tolong transferin. Pakai mobile banking aja di Hp aku. Ambil aja di kantong belakang celana."
"Aku yang ngambil nih?"
"Iyalah. Aku lagi ribet nih!"
"Yaudah." Aku mengambil Hp di kantong belakang Dio. "Pin nya apa?"
"Tanggal ulang tahun kamu." Aku mengernyitkan keningku. Sejak kapan Ia menggunakan tanggal ulang tahunku sebagai passwordnya? Tak ingin larut dengan berbagai khayalan indah, aku membuka mobile banking dan mentransfer ke toko kayu.
Selesai transfer ada sebuah notif pesan Wa yang masuk dan tak sengaja kubaca.
Sayang... Aku pulang.... Aku kangen banget sama kamu.... Gak usah jemput aku di bandara. Aku nanti yang akan ke rumah kamu. Kita ketemuan disana ya. Kangen berat aku sama kamu. Peluk cium dari aku. Muaaachhh.... Note: Nanti aku cium yang lebih hot lagi kalau kita ketemu ya.
"Udah transfernya, Yu?" Dio berbalik badan dan menatapku yang hanya diam dan menatap horor Hp miliknya. Diletakkannya alat kerjanya dan mendekatiku.
"Kamu kenapa?" Dio merebut Hp yang kupegang dan melihat isinya. Tes.... air mata menetes tanpa bisa kucegah... Saatnya sudah tiba. "Yu..." Dio menghapus air mataku dan berusaha memelukku namun aku melepaskan pelukannya.
Aku langsung berlari ke kamar mandi dan menutup pintu. Suara keran air di washtafel kunyalakan agar tidak mendengar suara Dio yang menggedor pintu sejak tadi dan tentunya agar tangisanku tak ada yang mendengarnya......
****
Hayooo siapa yang meweeekkkkk? Cung!!!! Vote dong sambil elap air mata pakai tissue...jangan lupa like juga sambil nyempretin ingus 🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1