
Malam minggu yang amat indah. Jauh lebih indah daripada saat dulu berpacaran dengan Dewa. Jauh lebih indah daripada saat aku dikasih hadiah kalung berlian oleh Dewa.
Hanya makan ketan susu dan kami berakhir dengan percintaan panas di ranjang. Entah aku yang terlalu mendambakan keromantisan atau memang aku yang sudah terlalu jauh melangkah.
Aku sadar aku sudah terpesona oleh Dio. Pesonaku atas semua hal yang Dio lakukan. Pesonaku atas keuletan Dio mencoba bertanggung jawab yang membuatku mampu melangkah lebih jauh lagi.
Semalam aku yang berinisiatif melakukannya. Kami sudah bersiap ingin tidur. Sudah cuci muka dan sikat gigi bersama. Ini kebiasaan sejak kami menikah, menyikat gigi bersama sebelum tidur. Sikat gigi kami pun bersebelahan di kamar mandi, biru punya Dio dan pink punyaku.
Kami suka saling menggoda saat menyikat gigi. Kadang Dio membuat mimik wajah lucu yang membuatku tersenyum dan kadang aku memelototinya dan Ia memasang wajah pura-pura takut.
Dio menepuk lengannya dan membiarkanku menjadikannya bantal, seperti malam-malam biasanya. Aku memeluk pinggangnya. Mata Dio perlahan mengantuk tapi aku tak rela malam indah ini cepat berakhir.
Dengan penuh keberanian aku mencium pipi Dio. Hal ini tak pernah kulakukan sebelumnya. Dio yang kaget dengan perbuatanku tak jadi mengantuk. Kucium sekali lagi pipinya. Cup....
Rasanya mencium pipi saja tak cukup bagiku. Aku melepaskan pelukanku. Tanganku terangkat menyentuh wajah tampan suamiku ini. Dengan sekali gerakan aku membuat wajahnya menoleh padaku dan langsung kucium bibir Dio.
Dio langsung merespon perbuatanku. Ia pun membalas ciumanku dengan ciumannya yang lebih memabukkan lagi. Ini percintaan terpanas yang pernah kami lakukan. Saat kami selesai melakukannya Dio mencium keningku dan kami jatuh tertidur karena lelah.
******
"Dio....." Aku memanggil suamiku yang tak kutemukan di sampingku pagi ini.
"Apa Sayang?" Dio menghampiriku. Ia sedang mengenakan apron pink yang biasanya kupakai saat memasak. "Mau lanjuttin yang semalem lagi?" Senyum jahil bercampur mesum terpasang di wajahnya.
Aku menguap dan meregangkan tubuhku. Tanpa kusadari selimutku melorot dan membuat tubuhku yang tanpa benang sehelai pun terekspos.
"Tuh kan mancing-mancing aku. Cowok tuh sensitif kalau pagi hari tau."
Aku buru-buru menarik selimut dan menutupi tubuhku lagi. "Gak sengaja. Beneran deh."
__ADS_1
"Nanti aja ya lanjutnya. Udah siang, sebentar lagi teman-teman aku datang."
"Ih siapa yang minta lanjut? Oh iya aku belum buatin cemilan buat teman kamu. Aku mandi dulu." Aku terburu-buru bangun dan mencari bajuku.
"Udah tenang aja. Aku lagi gorengin pisang. Baju kamu udah aku taruh di nakas. Mandi aja dulu sana ya. Aku mau lanjut goreng pisang."
Aku mengambil bajuki di nakas. Ah, Dio sudah pergi untuk apa pakai baju lagi. Aku langsung saja mengambil handuk dan masuk kamar mandi.
*******
"Sini aku gantiin goreng pisangnya." Aku menghampiri Dio setelah selesai mandi. Handuk masih melingkar di kepalaku untuk mengeringkan rambutku sehabis keramas.
"Oke. Aku siapin alat-alat dulu ya."
Dio melepaskan apronnya dan memakaikannya di tubuhku. Ia memajukan badannya dan mencium pipiku. "Makasih ya Sayang untuk yang semalam. Aku suka deh."
Wajahku langsung bersemu merah. Ah mudah sekali aku merona. Oh iya, pisang goreng! Hampir saja pisang gorengnya gosong karena aku malu-malu kucing.
Suara orang bicara di depan adalah pertanda kalau teman-teman Dio sudah datang. Aku menghidangkan kopi dan pisang yang sudah matang di meja depan.
"Eh Neng Ayu sudah nyiapin kita kopi sama cemilan aja. Kan kita jadi males kerja, maunya minum kopi buatan Neng Ayu aja." goda Pak Budi padaku.
"Ah Bapak bisa aja. Ini pisangnya Dio yang buat Pak bukan saya. Ayo dimakan dulu. Sarapan biar perutnya gak kosong."
"Siap, Neng." Pak Budi menyomot satu buah pisang sambil menunggu kopinya dingin.
"Kebanyakan basa-basi Pak. Udah makan aja." Yono langsung menyomot pisang dan kopi.
"Iya, biasanya juga langsung dihajar tanpa permisi dulu." Anto juga ikutan menyomot pisang.
__ADS_1
"Udah makan aja. Biar semangatnya full. Habis itu kita kerja lagi. Makin cepat kelar makin banyak job menanti kita." Dio menengahi. Ia juga mengambil sepotong pisang lalu memakannya. Oh iya, Dio kan belum sarapan. Kasihan Ia pasti lapar. Ah ini pasti karena aku kesiangan makanya semuanya belom siap.
Aku kembali lagi menyelesaikan menggoreng tahu. Tak lupa aku sambil masak untuk makan siang nanti. Kalau Dio lapar kan makanan sudah tersedia di meja makan.
Tahu berontak pun matang. Aku mengantarkannya ke depan. Kali ini tidak ada suara tertawa dan bercanda seperti sebelumnya. Sepi. Ada apa ya?
Aku cepat-cepat ke depan dan melihat Papa Putra sedang berkacak pinggang. Wah gawat nih. Papa Putra terlihat sangat marah.
Papa Putra dan Mama Lia seperti biasa habis bersepeda langsung mampir ke kontrakkan kami. Mereka kaget saat melihat banyak orang di halaman depan sedang membuat furniture. Wajah Papa Putra langsung merah padam karena emosi.
"Ada apa ini di depan rumah banyak orang? Kalian mengerjakan apa?"Kata Papa Putra dengan suara tingginya.
Dio meletakkan alat yang Ia pegang dan menghampiri papanya. "Dio lagi ngerjain pesanan furniture, Pa. Ini teman-teman Dio dari Bengkel Kayu datang membantu."
"Siapa yang suruh kamu terima orderan? Istri kamu?!" Papa Putra langsung menuduhku.
Dio langsung membelaku. "Bukan, Pa. Ini ada customer Dio. Kita ada kerja sama untuk mengisi furniture untuk cluster baru. Bukan Ayu yang suruh, Pa."
Teman-teman Dio hanya bisa diam dan tak mau mencampuri urusan pribadi Dio dengan keluarganya. Aku ingin membela Dio namun takut malah memperkeruh suasana. Mama Lia mengirimkan sinyal lewat matanya padaku untuk diam saja jangan ikut campur. Aku pun mengangguk.
"Papa memang mulai mengijinkan kamu menggeluti hobby membuat furniture namun bukan berarti kamu bisa mengambil orderan. Bagaimana dengan kerjaan kamu di kantor nanti? Gak akan fokus kamu kalau mengerjakannya sekaligus. Kalau kamu sampai bermasalah di kantor, Papa akan sangat marah!" Eh bucceett ini aja udah marah yang bikin orang takut, gimana kalau sangat marah? kalah kali gunung meletus sama semburan marah Papa.
"Batalkan pesanan furniture ini. Biar Papa yang bayar pinaltynya nanti!" Papa Putra dengan entengnya memutuskan sesuatu.
"Gak bisa gitu dong, Pa. Papa gak bisa selamanya ngatur hidup, Dio. Gak mudah bagi Dio mendapatkan orderan ini. Ada yang menghargai hasil karya Dio tapi Papa seenaknya aja membatalkannya. Ini hidup Dio, Pa. Dio udah besar. Udah berkeluarga. Biar Dio yang mengatur hidup Dio sendiri. Toh Dio juga tidak melupakan pekerjaan kantor, apa salahnya kalau Dio mulai membangun usaha Dio sendiri?!"
Papa Putra makin emosi. Ia tak terima putra tunggalnya berani melawannya apalagi di depan banyak orang. Wajahnya makin memerah menahan api amarah. Bahkan Mama yang berusaha meredakan emosi dengan memegang lengannya pun ditepis.
*********
__ADS_1
Gantung ya? Udah mulai ada konflik nih rumah tangga Ayu-Dio. Jangan lupa terus vote ya. Jangan keasyikan baca jadi lupa vote ya!