Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 90


__ADS_3

POV Author


"Ayu jadi gak enak nih ngerepotin Mama terus." kata Ayu sambil memangku Kevin yang tak bisa diam sejak tadi. Kevin yang belum pernah diajak ke Jakarta terlalu antusias melihat pemandangan ibukota.


Hari ini Ayu berencana mengajak Kevin jalan-jalan sekalian ke rumah Mamanya itu pun kalau Mama Lia mau. Sebenarnya mau pergi kemarin tapi Mama Lia diintilin sama Papa Putra terus jadi gak bisa kabur. Baru hari ini kesampean jalan-jalan karena Papa harus mimpin rapat direksi.


"Gak apa-apa Yu. Mama senang kok jalan bareng kalian. Kevin seneng gak jalan-jalan sama Oma?"


"Seneng Oma. Oma itu apa?" Ayu dan Mama Lia mengikuti arah yang ditunjuk oleh Kevin. Ayu yang sudah 3 tahun tidak pulang ke Jakarta juga belum pernah melihatnya.


"Itu manusia silver namanya."


"Itu badannya dipakein apa sih Ma sampai jadi glowing gitu? Apa enggak iritasi ya kulitnya dicat semua?" Kevin sudah tidak penasaran eh sekarang malah Ayu yang penasaran.


"Waktu Mama tanya sih katanya pakai cat sablon dicampur pakai minyak tanah atau minyak goreng makanya catnya terlihat glowing. Terus bersihinnya pakai sabun cuci piring biasa. Mereka sih santai aja kayaknya enggak ada masalah sama kulitnya." Mama Lia memang pernah bertanya langsung sama Manusia Silver yang kebetulan Ia temui.


Ayu mengeluarkan selembar uang 50 ribuan dan menyerahkannya pada salah seorang manusia silver. Ayu merasa miris sebagai seorang ibu. Bagaimanapun Ia memiliki anak laki-laki, hati kecilnya teriris melihat banyak anak-anak yang seharusnya menghabiskan waktu dengan bermain dan belajar ini malah harus bekerja dan melumuri seluruh tubuhnya dengan cat. Ayu selalu berdoa agar anaknya tidak pernah mengalami hal seperti itu.

__ADS_1


"Ma, kita mampir dulu ke rumah Mama Ayu ya. Ayu belum sempat mampir kemarin. Niatnya Ayu mau kasih surprise ke Mama."


"Boleh Sayang. Kita beliin buah dulu ya buat besan. Masa kita gak bawa apa-apa sih kesananya?" Mama Lia pun meminta Pak Supir mampir ke Total Buah untuk membeli buah terlebih dahulu.


Di dalam Total Buah, Mama Lia memilihkan buah-buah terbaik untuk besannya. Ayu mengikuti saja kemana Mama mertuanya tersebut melangkah, tentunya sambil menuntun Kevin yang mulai gak bisa diam dan berusaha kabur terus. Ah nih anak mirip siapa sih suka kabur-kaburan? Ayu menatap pantulan wajahnya di cermin. Ya, Kevin memang mirip dirinya yang suka kabur ninggalin Dio di kala susah. Huft... mau marah tapi kok ya mirip banget sama Mommynya. Alhasil Ayu melepaskan pegangan tangannya pada Kevin agar Ia bisa bebas berlari-lari dan Ayu mengikuti saja dari belakang.


Kevin dengan bebas memegang ini dan itu yang menarik perhatiannya. Sesekali menyebutkan warna buah.


"Ini meyah. Ini oren. Ini umu." Ayu tersenyum melihat kepintaran anaknya tersebut. Kevin lalu berlari menghampiri Mama Lia yang sedang asyik menerima telepon.


"Omaaaa!" Mama Lia yang kaget mendengar suara Kevin seperti menutupi sesuatu. Ia pun segera memutuskan sambungan teleponnya.


Ayu berjalan menghampiri Mama Lia. Ia menggendong Kevin yang sedang bermanja ria dengan Oma-nya tersebut. "Siapa yang telepon, Ma? Kok Mama langsung matikan teleponnya?"


Mama Lia gelagapan menjawab pertanyaan Ayu. Ia seperti terciduk sedang melakukan kesalahan. "Mmm... sebenarnya tadi.. Papa telepon Mama, Yu. Papa nanya Mama pergi kemana. Mama gak kasih tahu kok keberadaan kamu dan Kevin. Cuma... tadi pas Kevin manggil Oma eh Mama keceplosan bilang 'apa Sayang'. Jadinya Papa curiga deh. Papa nanya Mama ngomong sama siapa. Karena takut curiga yaudah Mama tutup aja teleponnya."


Ayu tersenyum. Ia tahu mertuanya tersebut sudah berkata jujur dan tak ada yang disembunyikan lagi. "Gak apa-apa kok Ma. Kalau memang sudah waktunya kami ketemu ya pasti akan ketemu. Mau Ayu bersembunyi dimanapun juga pasti akan ketemu. Mama gak usah khawatir. Saat Ayu memutuskan untuk ikut Dio ke Jakarta, maka saat itu pula Ayu siap dengan segala resiko dan cobaan yang mungkin Ayu akan hadapi." Ayu menepuk lengan Mama Lia pelan. "Kita bayar dulu belanjaannya baru ke rumah Ayu ya Ma?"

__ADS_1


Mama Lia mengangguk. Lega rasanya mengetahui kalau Ayu sudah siap bertemu mertuanya si aki-aki killer itu. Dalam hati Mama Lia bertekad, kalau sampai si Aki-aki Killer itu jahatin Ayu maka Ia akan kabur lagi ke Semarang. Eh apa ke Palembang aja ya? Kata Dio disana enak dan bagus pemandangannya. Mama Lia pun mulia merancang next trip nya kalau sampai bertengkar lagi dengan Papa. Bodo amat deh dibilang kakek nenek suka tarik ulur. Yang penting negara aman sebelum negara api menyerang ha..ha..ha...


Di rumah Ayu seperti sudah diduga. Mama Ayu langsung kaget melihat kedatangan anak dan cucunya ditemani dengan besannya yang dari keluarga berada tersebut. Mama Ayu sebenarnya agak keberatan Ayu kembali ke pelukan Dio. Takut kalau Ayu akan disakiti seperti dulu.


Mama Ayu sadar kalau Ayu dan Kevin masih membutuhkan kehadiran Dio. "Papa lagi gak ada di rumah Yu. Adik kamu juga lagi pergi. Jadi kalian gak bisa ketemu mereka deh. Kamu tinggal dimana sekarang? Nanti Mama sekeluarga yang main ke rumah kamu."


"Masih di rumah kontrakkan Ayu dan Dio yang lama kok, Ma." Ayu melihat perubahan wajah Mamanya. Pasti Mamanya kesal dengan Dio, jauh-jauh Ayu disuruh pulang kok tinggalnya di kontrakkan, bukannya Dio sekarang banyak uang? Kenapa tidak membelikan Ayu dan Kevin tempat tinggal yang nyaman?


Ayu sudah menjadi seorang ibu sekarang. Ayu tahu apa yang Mamanya pikirkan. Sebelum Mama Lia ikut campur dan membela anaknya yang mungkin bisa berujung perselisihan lebih baik Ayu yang menjelaskan semuanya.


Ayu memegang kedua tangan Mamanya yang sudah berkerut dan menua tersebut. "Untuk sementara Ayu dan Kevin tinggal disana, Ma. Dio sudah menawarkan Ayu memilih rumah yang mana. Tapi Ayu nyaman kok Ma tinggal di rumah kontrakkan tersebut. Banyak karyawan Dio yang nemenin jadi bisa sekalian jagain Kevin kalau sampai Kevin lari ke jalanan. Ayu yang minta Ma tinggal disana aja dulu sampai kami nemuin rumah yang cocok untuk pindah. Mama gak usah khawatirin Ayu ya."


Melihat keyakinan dalam setiap perkataan Ayu membuat Mama harus menyetujui setiap keputusan yang Ia buat. Ayu yang menjalaninya. Kalau Ayu senang kenapa Ia sebagai orang tua tidak mendoakan saja demi kebaikannya?


"Yaudah Mama ikut Ayu aja deh maunya gimana. Oh iya kita makan siang bareng ya. Mama masakkin sambel terasi sama sayur asem nih. Ada ikan asinnya juga. Pokoknya seger deh. Hmm... besan ikutan makan juga ya?"


Mama Lia langsung menerima tawaran dari besannya tersebut dengan suka cita. "Ada sayur asem dan ikan asin mah udah surga dunia. Ayo lah kita makan. Kebetulan saya lapar nih. Ayo saya bantuin siapin biar kita cepet makannya."

__ADS_1


Ayu melihat kedekatan kedua Mamanya dengan tersenyum. Bagaimana hal sepele kayak sayur asem dan sambal bisa dengan mudah menyatukan mereka? Ah hidup tuh terkadang kita yang membuat rumit padahal sebenarnya simple.


⚘⚘⚘⚘Hi semuanya! Maaf Upnya dikit. Lagi gak ada banyak ide nih. Tapi vote dan likenya tetep harus banyak ya.⚘⚘⚘⚘😘😘😘😘


__ADS_2