Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 44


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam. Cahaya matahari senja sudah hilang tergantikan dengan cahaya sang bulan. Suara ketukan palu dan suara mesin kayu saat kayu dihaluskan masih terdengar.


Dio dan teman-temannya masih bekerja di halaman depan sana. Sesekali suara tawa dan canda terdengar di luar sana. Aku tersenyum melihat senyum kebahagiaan terpancar dari wajah Dio.


Aku tahu Dio lelah setelah kemarin seharian bekerja dan harus bekerja lagi. Namun sorot kebahagiaan tidak dapat dibohongi, terpancar jelas di matanya.


Aku berinisiatif membuatkan indom** telur untuk mereka semua. Tak lupa aku menambahkan sayur sawi hijau agar tidak terlalu bersalah makan mie instan, setidaknya ada protein nabati yang terkandung di dalamnya. Ah alesan saja nih.


Aku membawakan dua mangkuk berisi indomie diatas nampan dan menyajikannya di meja depan. "Dio, makan mie rebus dulu."


Dio meletakkan gergaji kayu yang sedang dipegangnya dan berjalan menghampiriku. "Kamu masak mie, Yu?" matanya berbinar senang. Yaelah baru dimasakkin mie aja udah seneng banget, kayak dimasakkin semur daging aja.


"Iya, aku ambil 3 mangkuk lagi di dapur ya. Panggil teman-teman kamu untuk makan bersama." aku meninggalkan Dio dan mengambil 3 mangkok mie yang belum aku bawa.


Aku kembali ke halaman depan dan teman-teman Dio sedang mencuci tangannya di kran air depan rumah.


"Wah istri Dio idaman lelaki banget ya. Pinter masak." puji Anto.


"Tau aja Neng kalau menjelang malam begini enakkan makan indom** telor pake saos pedes. Wuih mantap." Pak Ari mengacungkan dua jempolnya kepadaku.


"Bisa aja nih. Masak mie doang mah gampang. Ayo semuanya dimakan. Mumpung baru matang. Lagi enak-enaknya nih."


"Siap, Neng." Pak Budi langsung mengambil mangkuk mie dan menuangkan saus cabe yang kuletakkan di samping lada bubuk. Yang lain pun mengikuti langkahnya.


Aku kembali lagi ke dapur dan mengambilkan air minum. Saat kembali ke depan mereka sedang mengobrol mengenai kemajuan pekerjaan mereka.


"Dio, kalau saya prediksi kita bisa lebih cepat dari target yang kamu kasih ke Pak Bos. Ini aja seharian kita kerja udah lumayan hasilnya. Paling 4 hari kerja udah beres kayaknya." Pak Budi meminum air sudah kutuangkan di gelas. "Makasih ya, Neng."


"Masa sih secepat itu Pak? Ini karena masih saya bantuin. Kalau saya kerja mungkin lebih lama kelarnya Pak." Dio megap-megap karena kepedasan. Keringatnya terlihat meneter di dahinya. Aku mengambil tissue dan mengelapnya. Aku lupa kalau ada orang lain selain kami. Mereka saling berpandangan dan kompak menggodaku.

__ADS_1


"Kalau masih pengantin baru mah begitu. Masih mesra-mesranya. Nanti kalau udah lama mah boro-boro dielapin, makan aja suruh ambil sendiri." sahut Pak Ari yang disambut dengan gelak tawa yang lainnya.


Aku tertunduk malu. Pasti wajahku memerah sekarang.


"Ih itu mah Pak Ari kali sama istrinya. Kalau kita mah akan mesra terus begini ya Sayang sampai tua, he..he...he..." Dio mengelus rambutku dengan lembut.


"Cie...cie... jadi bikin yang jomblo kayak aku sama Yono pengen buru-buru nikah deh." Anto ikut juga menimpali.


"Makanya nikah. Nikah itu menghindarkan kita dari dosa. Nikah juga bawa rejeki. Awalnya gaji cuma cukup buat sendiri, tapi coba deh lihat pas udah nikah. Gaji kita bisa ngidupin istri dan anak. Padahal jumlah gajinya sama. Malah setelah nikah jadi banyak orderan. Pokoknya rejekinya terbuka lebar deh kalau kita nikah." Pak Budi memberikan petuah panjang lebar.


Aku mencoba mencerna maksud perkataan Pak Budi. Benar juga ya katanya. Dulu waktu aku masih single, gajiku sebulan habis hanya untuk membeli tas branded. Tas tersebut setelah aku taruh sembarangan dan tidak dipajang dengan apik eh malah kulitnya terkelupas. Sia-sia aku menghabiskan gajiku hanya beli tas yang ujung-ujungnya tidak kupakai kalau kulitnya sudah mengelupas.


Setelah menikah dengan Dio uang gajiku utuh. Semua biaya hidup Dio yang tanggung. Padahal gaji Dio lebih kecil dari gajiku, namun setelah dibantu mengatur gajin olehnya semua tercukupi. Malah aku bisa nabung buat bayar uang kontrakkan tahun depan. Inilah yang disebut dengan rejeki.


Rejeki bukan tentang jumlah nominal uang yang kita punya. Dengan nominal yang sama jika rejekinya banyak maka akan lebih berkah lagi hidup kita.


"Makanya nyari. Kerjaannya berkutat sama kayu aja sih. Nyari sana." kata Yono dengan santainya.


"Mentang-mentang udah punya pacar. Sombong amat." Anto menaruh mangkuknya yang telah kosong di meja lalu mengambil air minum. "Kalau Dio dapet bini cakep dan pinter kayak Ayu dimana? Bagilah infonya biar dapet yang kayak Ayu."


"Dibilang Ayu tuh limited edition, udah gak ada lagi cetakannya yang kayak Ayu. Di bahunya aja ada tulisannya 'hanya untuk Dio seorang'." Dio tersenyum bangga.


"Sombong amat! Jawab dong ketemu Ayu dimana?" Anto masih penasaran ternyata.


"Ketemu di acara amal. Waktu itu lagi ada acara amal di panti asuhan. Ayu lagi bantuin sambil bagi-bagiin permen. Pas aku lihat aku langsung berpikir, pasti ini bidadari yang Tuhan kirim buat aku." kenapa Dio harus berbohong? kami kan bertemu di diskotek pertama kali, bukan di acara amal seperti yang Ia ceritakan. Apa Ia ingin membangun citra baik tentangku didepan teman-temannya.


"Wah kamu beneran dapet bidadari ternyata ya, io? Aku juga mau dapet bidadari secantik Ayu." Anto termakan omongan Dio ternyata.


"Makanya banyak doa dan ikut acara amal. Biar ketemu bidadari di sana." celetuk Dio.

__ADS_1


"Apa yang mau dikasih di acara amal, io? Buat makan sehari-hari aja sulit. Mau nyumbang apa? bulu ketek?" Yono nyeletuk dengan tajam seraya menyindir Anto.


"Yeh kalau buat amal mah aku punya duit kali." Anto tak terima dengan celetukan Yono.


"Sudah...sudah... udah kenyang nih. Ayo kita pulang. Kasihan pengantin baru mau malam mingguan. Jangan kita gangguin. Besok aja kita kesini lagi pagi-pagi." Pak Budi menengahi debat mereka.


"Makasih banyak ya Neng. Pisang gorengnya enak, bakwan enak dan terakhir mie rebusnya juga enak. Kita kebanyakan makan nih dibanding kerjanya." Pak Ari berbasa basi denganku.


"Syukurlah kalau enak dan semua suka. Besok balik lagi ya semuanya. Bantuin Dio ngerjain kerjaannya."


"Siap, Yu." Mereka pun pulang setelah merapikan alat-alat.


Aku membawa semua piring kotor dan mencucinya di dapur. Dio membantuku mengangkutinya.


"Aku saja yang cuci piring." Dio menawarkan bantuannya.


"Gak usah. Kamu mandi sana. Udah bau acem."


"Ah masa sih?"


"Iya, udah sana mandi." aku masih sibuk dengan cucian piringku.


"Mandiin dong."


"Pakai sabun cuci piring mau?" aku mengambil spons cuci piring dan mengancam Dio akan memandikannya dengan spons tersebut.


"Ih gitu Dia mah. Yaudah aku mandi dulu. Habis ini kita jalan-jalan ya. Malam mingguan kayak orang-orang."


"Kemana?" Dio tak menjawab pertanyaanku dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2