Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 26


__ADS_3

Aku tarik selimut pelan-pelan agar tak membangunkan Dio. Gerakanku hampir tidak ada suaranya namun tiba-tiba. Bruk.. tangan Dio melingkar di pinggangku. Ia pun mendekatkan tubuhnya sampai akhirnya kami berdekatan.


"Lama banget Yu mandinya? Aku kan lama nungguin kamunya." wah ternyata Dio belum tidur dan masih menungguku.


"I..iya. Tadi kena air bikin badan seger banget makanya aku sekalian pakai body scrub biar tambah seger." kataku beralasan.


Kupikir Dio akan kembali tidur karena lelah dengan pekerjaan dan perjalanan ke Semarang namun ternyata tidak. Dio malah semakin mendekatkan tubuhnya padaku.


"Hmm.... wangi vanila... aku suka banget Yu."


"He..he... iya. Tidurlah sudah malam. Kamu pasti lelah." taktik terakhir pun kugunakan. Menyuruhnya tidur dengan alasan agar tidak kecapean.


"Iya nih. Tadi aku udah ngantuk banget. Tapi setelah mencium wangi vanila dari kamu mataku seger lagi nih. Memang ya efek nasi goreng kambing yang kamu kasih tadi tuh kuat banget. Sekarang aku jadi pengen lanjutin yang tadi di kamar mandi gak jadi Yu. Bolehkan?"


Aku diam. Semoga dengan diamnya Aku Dio mengurungkan niatnya. Ah bodohnya aku kenapa tadi pakai body scrub segala? Hal ini malah bikin Dio makin seneng dan seger. Bodoh Ayu. Bodoh....


"Bolehkan, Yu?" pertanyaan kedua sekaligus pernyataan karena tanpa jawaban dan persetujuanku Dio menyusupkan tangannya dibawah kepalaku dan membalikkan posisiku agar kami berhadap-hadapan sekarang.


"Hmm?" pertanyaan ketiga langsung diajukan sebelum menunggu jawabanku. Aku yang awalnya menutup mata perlahan membuka mataku. Cahaya redup dari lampu tidur membuatku bisa melihat wajah Dio.


Tampan. Jauh lebih tampan dari Dewa, mantan pacaraku yang sudah kuanggap paling tampan. Ini malah lebih tampan lagi. Bola matanya yang berwarna cokelat seakan memberiku pertanda bahwa aku akan aman selama berada disisinya.


Aku terus memandang dengan takjub laki-laki yang kini menjadi suamiku. Alis matanya yang tebal. Hidungnya yang mancung dan bibirnya yang... ya Tuhan... sexy menurutku.

__ADS_1


Dio mengangkat tangannya dan mulai membelai lembut pipiku. Ah aku suka sekali kalau Dio melakukan ini. Pasti wajahku sudah bersemu merah. Perlahan aku mengangkat tanganku dan menggenggam tangannya. Bukan untuk menghentikannya membelai wajahku namun aku ingin terus menggenggam tangannya seakan aku takut tangan ini akan pergi dan tak akan membelai lagi wajahku.


Sekarang Dio yang terus memandangiku. Kami saling pandang dengan pikiran kami masing-masing. Sebuah pikiran melintas di otakku. Aku telah menolak ajakan Dio di kamar mandi tadi. Bagaimana kalau Dio benar-benar menjalankan ancamannya dan melakukannya dengan wanita lain di luar sana. Aku yakin dengan ketampanannya akan banyak wanita yang mengantri untuk ditidurinya bahkan tanpa bayaran sekalipun.


Aku menggeleng pelan. Alhasil Dio menyipitkan matanya seolah bertanya apa yang kupikirkan. Kemudian Dio menyimpulkan sendiri arti menggelengku adalah aku menolak ajakannya.


Sorot matanya menyiratkan kekecewaan. Perlahan Ia menurunkan tangannya yang tadi membelai wajahku. Oh tidak. Bukan itu maksudku. Aku bukan mau menolak lagi untuk kedua kalinya. Sumpah aku tadi tidak berpikir begitu. Rasanya aku ingin berteriak menyuarakan isi hatiku. Namun aku malu. Aku kan perempuan.


Tidak. Aku harus mencegah Dio kecewa lagi. Aku tak mau pikiran burukku tadi sampai kejadian. Aku tidak mau sampai Dio melampiaskan dengan wanita diluar sana yang antri mengejar dirinya.


Secara spontan aku memajukan tubuhku dan mencium lembut bibir sexynya. Agak kaget dengan reaksiku yang tiba-tiba, Dio pun akhirnya membalas ciumanku. Kulihat seulas senyum diantara ciumannya yang lembut.


Tangan Dio pun kembali terangkat dan membelai lembut wajahku lagi sambil tak melepaskan ciuman kami. Ada yang berbeda. Kali ini aku yang menginginkannya. Bayangan ketakutan Dio meninggalkanku membuatku lebih semangat menciumnya.


Kami terus saling ciuman lembut dan akhirnya mulai memanas saat hawa nafsu sudah mulai menguasai kami. Dio pun mencium leherku dan berlama-lama di sana. Aku melarangnya membuat kissmark disana karena akan terlihat saat aku memakai kebaya besok. Ia pun menurut dan aku membebaskan Ia membuat kissmark dimanapun yang Ia suka asalkan tidak ada yang akan melihatnya.


Malam pun makin larut dan kami makin hot saja. Aku yang juga terbakar nafsu melakukan kembali hubungan suami istri kami. Bedanya kali ini aku sangat menikmatinya, tidak seperti sebelumnya. Sampai akhirnya Dio berbaring di sebelahku karena kelelahan.


Kami saling tersenyum. Ternyata tidak buruk juga jika melakukannya dengan ikhlas. Toh aku tidak dirugikan apapun kalau melakukannya. Aku kan istrinya. Kalau hamil gimana? Tenang, aku selalu minum pil kb sebelum tidur. Aku tak pernah lupa itu.. ha..ha..ha...


Dio masih menatapku. Ah mata cokelat itu indah sekali. "Yu, besok-besok aku belikan nasi goreng kambing buat kamu yang banyak ya. Aku suka deh kalau kamu agresif kayak gini."


Aku cubit perutnya yang tanpa sehelai benangpun. Dio pun mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Aku kan ngomong jujur Yu."


"Tapi gak usah dipertegas juga kali. Yaudah besok-besok aku gak mau lagi nih." aku sok-sokan ngancem.


"Ish... gitu aja ngambek. Aku suka kok. Makanya aku mau beliin kamu nasi goreng kambing lagi buat kamu. Kan karena aku suka. Jangan ngambek dong."


"Iya." jawabku pendek.


Dio membelai lagi wajahku. Aduh jangan gitu dong, Dio. Aku kan lemah kalau kamu melakukan hal itu apalagi mata kamu menatapku seperti itu. Please...


Aku tahu apa yang akan dilakukan Dio. Melihat dari gelagatnya pasti Ia akan mengajakku melakukan babak kedua. Aku heran darimana staminanya berasal. Tak ada rasa lelahnya sama sekali.


Benar saja Dio sudah mendekatkan lagi tubuhnya dan mulai menciumku lagi. Dan kami melakukannya lagi. Hasil akhirnya adalah kami ketiduran karena kelelahan.


Suara alarm yang semalam kupasang tak sia-sia. Aku pun terbangun. Rasanya aku belum lama tidur namun sudah harus bangun lagi. Huft... apa boleh buat. Aku harus bangun pagi dan membantu Tante Irma di halaman belakang. Kalau aku kesiangan bisa jadi omongan.


Dengan malas aku bangun dari tempat tidur. Pakaian kami berserakan di lantai. Kuselimuti Dio yang masih tertidur lelap. Takut udara pagi yang dingin akan membuatnya sakit.


Kupunguti satu per satu baju di lantai dan melipatnya. Belum kotor bisa dipakai nanti malam. Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan sekujur tubuhku.


Benar saja dugaanku. Melarang Dio membuat kissmark di leher menyebabkan banyaknya yang Ia buat di tempat lain. Kali ini aku tersenyum. Aneh. Kok aku senang ya dengan perbuatannya kali ini? Apa aku mulai menyukainya? Sejak kapan?


*******

__ADS_1


Done. Aku Up 3x hari ini. Mana nih votenya? Vote yang banyak ya biar masuk 10 besar (he..he..he.. ngarep)


__ADS_2