
⚘⚘⚘⚘Tuh kan vote dan likenya kendoooorrr lagi... Up nya makin lama nih kalo votenya kendooor... Kencengin lagi ya... cuzzz ⚘⚘⚘⚘
POV Ayu
"Biar aku saja yang cuci piringnya. Kamu mandi saja sana. Sudah malam. Mau mandi pakai air hangat gak?"
"Gak usah. Pakai air dingin aja biar seger. Aku mandi dulu ya." Dio mengambil handuk yang tergantung di jemuran handuk lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Aku membereskan bekas makan malam sepiring berdua kami. Mencuci piring dan gelas dan menaruhnya di rak piring. Tak lupa aku mematikan lampu dapur dan memeriksa apakah semua pintu sudah terkunci.
Aku kembali ke kamar setelah menyikat gigi di washtafel. Sudah kebiasaanku menyikat gigi sebelum tidur.
Tak lama Dio keluar dari kamar mandi. Seperti biasa, hanya dengan handuk yang dililitkan ke pinggangnya. Entah mengapa aku meneguk sedikit air liurku melihat pemandangan itu, padahal aku sudah sering melihatnya selama 6 bulan ini.
Dio mengambil kaos oblong dan boxer kotak-kotaknya. Pakaian yang membuatnya nyaman saat tidur. Ia pun ikut berbaring tidur di sebelahku.
"Yu." Dio menepuk lengannya. Itu kode. Ia meminta aku menaruh kepalaku disana. Aku menurut saja.
Dio mencium keningku dan memelukku erat. Aku dapat mencium harum tubuhnya sehabis mandi. Wangi yang 'cowok banget' menurutku.
Dio lalu melepaskan pelukannya dan membelai lembut rambutku. Aku mau bertanya namun aku ragu. Aku menunggu saja sampai Dio menceritakan semuanya padaku.
"Yu."
"Hmm...."
"Kalau seandainya.... aku.... " Dio tidak meneruskan ceritanya.
"Kalau kamu kenapa?" tanyaku setelah Dio tak juga melanjutkan perkataannya. Aku penasaran apa yang mau Ia katakan.
Dio menghela nafas berat. "Bagaimana menurut kamu kalau aku enggak seperti yang kamu lihat?"
Aku mengangkat wajahku agar bisa melihat wajah tampannya. Terlihat keraguan di mata cokelatnya. Apa yang coba Ia katakan?
"Maksud kamu apa?"
Mata Dio menerawang jauh menatap langit-langit kamar yang sudah kuhias dengan sticker glow in the dark. Dio mengalihkan pandangannya dan mulai menatapku.
"Kalau aku punya penyakit misalnya?" tangan Dio mengelus wajahku dan terus menelusuri lekuk wajahku.
"Penyakit? Kamu sakit? Sakit apa? Mau ke dokter sekarang?" aku tak bisa menyembunyikan kepanikanku sekarang. Dio sakit apa? Kenapa Ia tidak bilang padaku sebelumnya kalau Ia sakit. Apa sakitnya parah? Apa Dia akan sempat melihat anaknya nanti. Hush... aku mengusir pikiran buruk di otakku. Pasti Dio akan baik-baik saja.
"Sst... Tenang dulu. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja kok."
__ADS_1
Aku menghela nafas lega. Selamat. Aku batal jadi janda di usia muda. Hufft.....
Dio menyunggingkan senyumnya. Aku tahu ekspresiku tadi berlebihan. Aku merutuki kebodohanku. Aku memang suka spontan dalam melakukan sesuatu tanpa kupikirkan terlebih dahulu.
Wajah Dio kembali serius. "Aku senang sekali melihat kamu memperhatikanku. Aku bukan sakit fisik Yu, tapi sakit mental."
Aku mengerutkan kedua keningku. "Sakit mental? Psikopat? Schizophrenia? Kepribadian ganda? Bipolar?"
Wajah Dio yang semula serius langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ih jahat!" Aku memukul dada Dio yang tak juga berhenti tertawa. "Aku tuh khawatir tau!"
Dio menghapus air mata yang keluar dari pelupuk matanya setelah tertawa ngakak. "Maaf... maaf... Kamu asli lucu banget."
"Gak lucu tau. Aku lagi khawatir eh kamu malah ketawa begitu!" Aku memanyunkan bibirku sebal.
Muach.... Dio mencium bibirku cepat dan lembut.
"Ih kamu-" Dio mencium kembali bibirku. Kali ini dengan lembut dan **********. Aku memejamkan mataku dan menikmati ciuman lembutnya.
Tak lama Dio kembali tertawa dan melepaskan ciumannya. "Ih nyebelin!" Aku memukul lagi dadanya. Kesal dengan ulahnya aku membalikkan tubuhku dan memunggungi Dio. Gak tau sikon banget. Dasar laki-laki gak peka!
Dio berhenti tertawa. Ia memelukku dan melingkarkan tangannya di perutku. Ia mengusap lembut perutku. "Aku sakit, Yu. Sakit yang bisa membuat kamu dan orang di sekelilingku malu."
Dio diam lagi. Aku biarkan Ia mengatasi masalah di hatinya sendiri. "Aku.... punya gangguan kecemasan, Yu. Anxiety Disorder namanya. Semua karena trauma masa kecilku. Apa aku..... apa aku bisa menjadi Papa yang membanggakan buat anakku kelak?"
Aku memeluknya dan menepuk punggungnya lembut. Membiarkan Ia menangis di pelukanku. Tak perlu terlalu banyak kata-kata. Aku tahu hanya pelukan hangat yang Ia butuhkan saat ini. Dengan memeluknya berarti aku memberikan support dan dukungan.
Aku tak tahu apa itu Anxiety Disorder, apa gejalanya dan bagaimana kalau kumat. Yang aku tahu selama hidup bersamaku Dio tak pernah kumat. Yang perlu aku lakukan hanya bersikap biasa saja seperti sebelumnya.
"Kamu gak malu Yu punya suami kayak aku?" tanya Dio setelah lebih tenang.
Aku menyunggingkan senyumku, mencoba mencairkan suasana. "Kenapa harus malu? Itu kan cuma secuil kekurangan kamu diantara beribu kelebihan yang kamu miliki."
"Kamu belum lihat Yu kalau aku kumat. Kamu pasti akan takut, sebal bahkan benci seperti..... Sheila."
Oh... Aku tahu kenapa Dio bicara seperti ini. Saat Dio meminta pelukanku erat aku tahu kalau ada sesuatu yang menimpa dirinya. Jadi tadi saat bertemu Sheila di rumahnya ternyata penyakitnya kumat. Dio kecewa karena melihat Sheila melihatnya dengan pandangan penuh kebencian.
"Tadi kamu kumat lagi di rumah Papa?"
Dio mengangguk.
"Dan... Sheila ada di sana juga?"
__ADS_1
Dio kembali mengangguk.
"Dan... Sheila menatap kamu penuh rasa benci?"
"Darimana kamu tahu Yu?" Dio heran kenapa aku bisa tahu semuanya.
"Kamu gak bisa bohong, io. Kamu pasti akan menyampaikan apa yang terjadi meski bukan dengan kata-kata."
"Maaf, Yu."
"Gak usah minta maaf, io. Aku tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Hal ini bukan sesuatu yang perlu aku hindari. Kalau kumat apa yang kamu lakukan? Dan aku harus melakukan apa?"
Dio mengernyitkan keningnya. Bingung dengan pertanyaanku. "Kamu gak nanya apa yang kami omongkan disana?"
"Gak perlu. Karena saat kamu kembali ke rumah ini berarti kamu memilih tidak melepaskanku." jawabku dengan yakin.
Dio tersenyum. Muach... Ia kembali mencium bibirku. Saat Ia ingin menciumku lagi aku menahannya dengan tanganku. "Jawab pertanyaanku dulu. Apa yang kamu lakukan saat kamu kumat? Dan aku harus apa?"
"Oh.... itu... aku...akan meracau tidak jelas sambil menutup kedua telingaku. Gak ada yang perlu kamu lakukan. Hanya menungguku tenang dan memberi aku air minum. Itu saja."
Aku diam sejenak dan sedang berpikir. "Oh..."
"Oh?" tanya Dio bingung.
"Iya... oh.. Emang kenapa?" sekarang aku yang bingung dengan pertanyaan Dio.
"Kamu gak jijik?"
"Kenapa harus jijik? Aku pikir kamu akan guling-gulingan di lantai. Atau buka baju sambil loncat-loncat gak jelas. Cuma meracau dan tutup telinga doang mah gak masalah. Kalau kamu sampai guling-gulingan dan loncat-loncat gak jelas itu baru masalah. Aku lagi hamil gak bakalan bisa ngejar kamu soalnya."
"Kamu mikir itu Yu daritadi?"
"Yaiyalah. Gimana bawa pulangnya coba kalau kamu kabur sambil melepas baju?"
"Kamu gak mikir kamu akan dipermalukan di depan umum kalau aku kumat?"
"Ngapain mesti malu? Toh semua orang punya kekurangannya masing-masing." jawabku dengan santainya. Aku lega kupikir Dio akan melakukan tindakan nekat lainnya. Cuma gitu aja sih gak masalah buatku. Berarti aku harus sedia air mineral dimanapun aku berada.
"Makasih ya Yu. Kamu udah nerima aku apa adanya."
"Ih apa sih. Lebay tau gak."
Dio tersenyum. Kali ini senyuman mesum yang sudah lama Ia tak keluarkan. "Kalau aku buka bajunya di depan kamu gimana? Bolehkan?"
__ADS_1
Aku belum menjawab ketika Dio menciumku bertubi-tubi. Aku lupa apa yang mau aku tanyakan dan apa yang mau tuntut dari Dio. Dio benar-benar membuka bajunya di depanku seperti perkataan Dio sebelumnya.
*****