Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 42


__ADS_3

POV AYU


"Ayuuuuuuuuuu...." teriak Tari, Rini dan Erna kompak memanggilku setelah aku istirahat makan siang dengan Dio.


"Iya. Kenapa Mbak? Kompak banget teriaknya." aku baru saja hendak menaruh dompet di tas ketika mereka bertiga menghampiriku. Kehebohan yang mereka buat mengundang perhatian rekan satu timku.


"Yu, tadi siapa yang sama kamu di lobby?" Mbak Erna yang bertanya duluan padaku.


"Yang makan di kantin juga sama kamu, Yu. Itu siapa?" Mbak Tari gantian yang bertanya.


"Memangnya kenapa ya?" tanyaku heran sambil mengerutkan keningku.


"Siapa cowok ganteng yang pergi kamu temuin dan makan siang bareng di kantin? Kenalan kamu?" Mbak Rini juga ikut bertanya.


"Cowok ganteng?" siapa ya? Aku mengingat-ingat yang mereka bicarakan siapa.


"Yang pakai jaket kulit dan kemeja biru itu loh. Tadi kan kita bertiga heboh ngomongin mereka." Mbak Tari menjelaskan ciri-cirinya.


Hmm... kayak ciri-ciri Dio deh. Oh jadi mereka dari tadi heboh karena Dio? Bodohnya aku tidak menyadari.


"Oh yang tadi aku temui Mbak?"


"Iya." jawab mereka kompak.


Aku gak rela nih kalau mereka sampai ngejar-ngejar Dio.


"Itu pacar aku, Mbak." Gak tau aja mereka kalau itu suami sah aku. Eh masih siri sih nikahnya karena belum didaftarin di KUA.


"Hah? Pacar kamu Yu? Kok kamu gak bilang sih, dari tadi kan kita heboh ngomongin." gerutu Mbak Erna.


"Maaf Mbak. Aku juga gak tau kalau Dia bakal dateng. Ternyata tadi Dia ketemu klien di bawah terus ngajakkin aku makan siang." aku mulai jago berbohong nih.


"Kamu beruntung banget sih Yu punya pacar ganteng kayak gitu. Ah kalau pacar aku seganteng itu sudah kuciumin terus sampai jontor bibirku." Mbak Tari yang memang pertu alias perawan tua itu tak malu menggambarkan khayalannya padaku. Gak tau aja kalau justru Dio yang suka nyosor sama aku sampai kadang bibirku bengkak diciuminya.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan Mbak Tari.


"Kerja dimana Yu pacar kamu? Anak orang kaya ya?" Mbak Erna memulai sesi menyelidiki.


"Kerja jadi staff biasa Mbak di PT XX." aku tak perlu pamer kalau Dio adalah anak tunggal pemilik Putra Group.


"Udah lama, Yu pacaran sama Dia?" kok makin kepo ya mereka?


"Baru 5 bulan, Mbak."


"Wah masih mesra-mesranya ya. Kamu kenal dimana, Yu?" Mereka bertiga sudah mengambil kursi dan duduk di depan kursiku. Mbak Dewi hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


"Ehmm... di cafe Mbak pas lagi nongkrong." kebohongan kedua. Memang benar ya kata orang, sekali kamu berbohong maka kamu akan membuat kebohongan berikutnya sampai akhirnya kebohongan tersebut akan menjadi bom waktu yang tinggal menunggu waktu meledaknya saja.


"Sudah...sudah.... Mbak-mbak cantik... Bubar yuks ngerumpinya. Udah jam kerja nih. Ayu mau saya kasih kerjaan lagi. Maaf ya...." Mbak Dewi ibarat dewi penolongku untuk lepas dari Geng Jojogaba alias Jomblo Jomblo Gak Bahagia. Aku melemparkan pandangan penuh terima kasih pada Mbak Dewiku tersayang.


"Iya, Mbak." Geng Jojogaba pun bubar jalan. Bubar Grakkkk!!!


Aku akhirnya bisa bernafas lega. Makanan yang tadi kusantap dengan nikmat saat makan siang rasanya membuat perutku mual jadinya gara-gara baru sampai ruangan sudah langsung diintrogasi.


********


Sesuai dugaan, Dio agak telat menjemputku. Karena Ia ijin keluar saat jam istirahat pasti kerjaannya numpuk. Pasti dandanannya yang tadi siang sudah klimis dan rapi jali saat menjemputku nanti sudah kucel.


Aku menunggu di halte bus dekat kantor. Sebelumnya sudah kukabari Dio dimana aku menunggu dijemput.


Sudah bukan hal umum kalau halte bus biasa ada tukang jualan. Ada batagor, bacol (aslinya sih bakso tusuk tapi aku menyebutnya bakso colok, jangan diplesetin ke hal-hal negatif ya!) dan otak-otak.


Jalanan didepan kantor sudah mulai macet, mungkin ada buka tutup pintu masuk jalan toll. Pasti Dio akan lapar di jalan. Aku berinisiatif membeli bacol untuk cemilan di jalan. Tak lupa air mineral dingin agar tidak haus.


Bacol milikku sudah habis dan Dio masih belum datang. Segitu sibuknya kah Dia?


15 menit berlalu. Tepat jam 6 sore saat adzan maghrib berkumandang muncullah scoopy hitam milik Dio. Dengan mengenakan jaket kupluk hitam dan tas ransel Dio pun berhenti di depanku. Wajahnya tertutup masker dan helm half face.

__ADS_1


"Maaf ya Yu, aku telat banget ya jemputnya?" kata Dio dengan penuh penyesalan.


"Gak apa-apa kok. Aku tau kerjaan kamu banyak pasti datengnya telat deh." aku menerima helm yang diberikan Dio. Mungkin terlalu lelah makanya helm tidak dilempar seperti biasa.


"Ayo jalan." kataku setelah duduk di kursi penumpang.


"Ada apaan nih Yu macet banget?" jalanan memang sudah padat tadi dan sekarang makin padat.


"Kayaknya buka tutup pintu toll deh seperti biasa. Kamu lapar gak?"


"Kamu udah lapar? Mau berhenti dulu?"


"Ih aku nanya malah nanya balik. Aku beliin kamu bacol nih. Aku suapin ya." aku membuka plastik bungkusan bacol dan mengambil tusukannya.


"Bacol? Apaan tuh? Setahu aku bacol itu bahan co** wakakakaka..." pletak.. sebuah jitakan melayang di helmnya.


"Jangan ngeres deh. Bacol itu bakso colok. Enak deh. Mau gak? Kalau gak mau aku makan lagi nih."


"Mau...mau.... Jangan ngambek atuh Sayang. Aku kan becanda aja."


"Sayang... sayang... dibilang bikin aku tambah merinding aja dengernya. Aaaa..." Aku menyuapi sebuah bacol ke mulut Dio.


"Hmm... enak ya ternyata. Aku baru nyoba loh."


"Enakkan? Jajanan pinggir jalan tuh enak tau. Apalagi kalau pakai saos jorok, uh... makin enak." Aku menyuapi lagi sebuah bacol ke mulut Dio.


"Aku mana boleh Yu makan kayak gitu sama Mama. Kamu tau sendiri gimana protectnya Mama sama aku."


"Kita diem-diem aja ya jangan sampai ketahuan Mama. Aku jadi gak enak nih masa kasih makan kamu jajanan pinggir jalan." kataku merasa bersalah. Aku membukakan botol air mineral yang tadi kubeli lalu memberikannya pada Dio. "Minum dulu, io."


"Perhatian banget sih kamu Sayang, sampai minumannya pun kamu siapkan." Dio mengambil air mineral dan meminumnya dengan tangan kiri. Jalanan sungguh macet parah sampai bacol habis kami masih berjibaku dengan kemacetan.


Terlihat keringat membasahi belakang leher Dio. Kuambil tissue kering dan mengelapnya. Pasti amat lelah kalau jadi Dio, tapi Ia jalani dengan ikhlas.

__ADS_1


"Maaf ya Yu aku belum bisa ngajak kamu naik mobil. Aku janji akan bekerja keras supaya bisa menghidupi kamu dengan lebih layak lagi." Setitik air mata menggenang di pelupuk mataku. Tak perlu jawaban karena aku langsung memeluk erat pinggang Dio.


__ADS_2