Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 61


__ADS_3

"Jangan lupa dikasih lada bubuk!"


"Iya, Sayang... Tenang saja. Aku kan udah jago kayak chef di hotel terkenal."


"Iya...iya..."


Aku sedang mengawasi Dio melanjutkan pekerjaanku menumis yang tadi kutinggalkan karena mual. Dengan hidung yang terus menghirup wangi aromaterapi aku mengawasi sambil duduk di kursi makan.


Dio lumayan bisa memasak. Mungkin karena terbiasa mandiri jadi menumis bukanlah hal yang sulit untuknya.


Hasil tumisan yang Dio masak pun sudah jadi. Ia memberikannya padaku. "Bisa ngelanjutin bikin risolnya gak? Kalau masih mual biar aku saja yang membuatnya."


"Bisa kok tenang saja. Kamu siapkan halaman depan saja dulu. Dirapihkan. Nanti teman-teman kamu keburu datang."


"Oke. Aku tinggal dulu ya. Kalau mual jangan dilanjutkan ya." Dio mengusap kepalaku lembut.


"Iya."


Dio pun meniggalkanku membuat risol. Ia merapikan halaman depan agar teman-temannya bisa bekerja dengan nyaman. Menyapu halaman yang masih ada sisa kayu bekas di gergaji.


Aku melanjutkan membuat risol sambil memasak air panas untuk mereka membuat kopi. Tak lupa aku membuatkan Dio sarapan juga. Roti bakar isi telur dan daging ham. Aku melakukan tiga pekerjaan sekaligus demi menghemat waktu.


Perempuan memang multi talent. Bisa melakukan 3 pekerjaan sekaligus dalam satu waktu. Air panas matang, sarapan siap dan risol juga matang. Aku memanggil kembali Dio yang masih di halaman depan.


"Dio. Ayo sarapan dulu."


"Iya."


Dio mencuci tangan di halaman depan lalu mengukutiku masuk ke dalam rumah. Kami pun sarapan bersama.


"Jangan lupa nanti obat dan vitaminnya kamu minum ya." pesan Dio sambil mengambil setangkup roti.


"Iya."


Dio memakan sarapannya. "Sebenarnya nasi goreng buatan kamu lebih mantap Yu daripada sarapan roti isi ham kayak gini."


"Tadinya aku mau buat nasi goreng tapi aku takut mual lagi kalau lagi menumis. Akhirnya aku buat roti saja." Aku juga memakan roti isi ham milikku.


"Bakalan puasa makan nasi goreng kamu nih selama setahun. Hiks... sedih."


Aku menyunggingkan senyum. "Tenang saja. Kan perempuan akan melewati fase mual muntahnya pada semester kedua. Ya kira-kira saat kehamilanku mencapai usia 4 minggu. Jadi kamu gak perlu puasa sampai setahun kok."

__ADS_1


"Oh gitu ya. Aku baru tahu. Aku pikir sampai kamu lahiran nanti akan mual. Nanti aku akan banyak browsing deh seputar kehamilan. Biar pengetahuanku lebih banyak."


Kami melanjutkan sarapan kami dalam diam. Aku mau bertanya tapi ragu. Tapi rasa penasaranku amatlah besar.


"Dio."


"Hmm..." Dio asyik menikmati susu cokelatnya.


"Gak ada yang mau kamu katakan sama aku?"


Dio mengernyitkan dahinya bingung. "Oh. ada."


"Apa?" tanyaku dengan penasaran


"Aku sayang kamu!"


Aku langsung memasang wajah bete. Dio tau kemana arah pembicaraanku kenapa malah bilang kayak gitu sih.


"Au ah. Nyebelin."


"Loh kok ngebelin? Kan aku emang sayang sama kamu!"


"Kamu tau arah pembicaraan aku kemana, io."


Aku hanya mengangguk dan tak lagi bertanya. Caby? Sejak kapan Dio menciptakan nama itu? Lucu juga.


"Aku ke depan lagi ya. Mau buat ukiran baru."


"Iya." Aku tak langsung bangun. Aku masih terngiang-ngiang nama Caby. Kamu cocok nak pakai nama Caby dari Papa.


Suara ribut pertanda teman-teman Dio sudah tiba menyadarkanku dari lamunan. Aku harus mempersiapkan cemilan dan air panas serta kopi. Rutinitas setiap hari.


Aku mengantarkan cemilan terlebih dahulu, lalu termos air panas dan terakhir gelas dan kopi. Aku pernah membaca kalau ibu hamil tidak boleh mengangkat yang berat-berat. Tidak apa-apa bolak balik asalkan semuanya beres dan tidak membahayakan janinku.


"Guys.... ngopi dulu kita." Dio memanggil semua teman-temannya merapat ke kursi depan rumah tempat aku menghidangkan cemilan dan kopi.


"Wah ibu hamil ini sigap loh. Gak lemes kayak ibu-ibu lainnya yang lagi hamil muda. Gak mabok Neng?" tanya Pak Budi.


"Udah mulai mabok sih Pak tadi pagi."


"Dikit lagi mulai ngidam nih. Selamat nyari makanan yang aneh-aneh ya, io." Yono mulai menggoda Dio.

__ADS_1


"Santai. Sekarang kan ada order online. Tinggal pesen lewat aplikasi, gampang itu." Dio mencomot sebuah risol lalu memasukkannya ke mulutnya.


"Iya kalau ngidamnya cuma makanan doang. Kalau kayak istri saya mah kamu gak bisa pesen atau beli langsung." Pak Ari juga ikut menimpali.


"Memang ngidamnya apa Pak?" pertanyaan Anto mewakili rasa penasaranku.


Pak Ari menyeruput kopi hitamnya dengan santai. Tak peduli dengan kami yang penasaran dengan jawabannya.


"Istri saya tuh ngidam pengen ngelus rambut Pak Lurah. Coba itu kalian bayangkan."


"Loh kok bisa?" tanya aku dan Dio berbarengan.


"Weits sabar dong. Nunggu Pak Ari kelarin ceritanya dulu. Pak Ari cepet ngapa ceritanya. Pake dilama-lamain lagi. Kita kan penisirin." Budi sudah mulai tak sabaran.


Pak Ari tertawa melihat ketidaksabaran kami yang mendengarkan. "Dulu tuh waktu hamil anak pertama di kampung saya ada pemilihan lurah baru. Masih muda. Ganteng dan gagah. Istri saya menjadi salah satu pendukung dan memilih lurah tersebut. Jadilah Dia sebagai tim sukses untuk kalangan ibu-ibu. Pak Lurah yang diusung pun terpilih dan menjabat sebagai lurah baru. Bersamaan dengan hamilnya istri saya."


"Awal kehamilan enak banget Dia gak mabok, gak pusing, gak mual dan gak pernah ngidam. Saat bulan kedua mulai deh tuh ngidamnya. Katanya pengen ngelus-ngelus kepalanya Pak Lurah."


Kami tertawa ngakak dengan cerita Pak Ari. Dio yang masih penasaran langsung menanyakan kelanjutan ceritanya. "Terus Bapak turutin gak?"


"Turutin lah, io. Bapak kan gak mau anak Bapak nanti ileran. Akhirnya Bapak datengin deh tuh Pak Lurah sama istri Bapak. Bilang kalau istri lagi hamil dan ngidam pengen ngelus-ngelus kepala Pak Lurah."


"Pak Lurahnya mau Pak?" aku akhirnya yang bertanya karena penasaran.


"Untungnya mau, Neng. Pak Lurah masih inget istri saya yang pernah jadi tim suksesnya. Untuk membalas budi akhirnya tiap pagi saya bawa istri saya ke rumah Pak Lurah buat ngusap-ngusap kepalanya."


"Selama berapa lama Pak ngidam kayak gitu?" Dio bertanya dengan raut khawatir apakah kelak Ia akan mengalami hal seperti itu.


"Sebulan, io."


"Ya Tuhan.... Yu... Please.... Jangan ngidam macem-macem kayak gitu ya. Kalau mau ngidam makanan nanti aku beliin. Asal jangan yang aneh-aneh kayak gitu ya." Dio langsung menghampiriku dan mengelus perutku yang masih rata.


"Caby, kasihan sama Papa ya. Jangan minta yang aneh-aneh ya, Nak. Kasihan Papa ya Nak. Oke?"


"Wuahahahahahha... Udah ketakutan duluan Dia. Tadi aja sombong mau pesen pakai aplikasi. Pesen deh tuh ngusap kepala Pak Lurah pakai aplikasi." Yono puas sekali menertawakan Dio.


"Yu, ngidamnya ngusap kepala aku aja ya. Aku ikhlas deh." Dio mengeluarkan jurus puppy eyesnya padaku. Namun aku langsung menangkisnya.


"Ih memangnya aku yang mau? Ini mah ngidam si Caby bukan aku yang mau. Weekkk."


Aku masuk ke dalam dan meninggalkan Dio yang masih diledekkin sama teman-temannya. Ah senangnya hatiku mendapat perhatian Dio.

__ADS_1


******


Aku percepat nih Up nya walau lagi family time. Kalian juga perbanyak ya Vote dan likenya. 😘😘😘😘


__ADS_2