Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 13


__ADS_3

Tanpa kusadari kami sudah sampai di halaman rumah. Dio mematikan motornya, aku lalu turun dan melepaa helm.


"Sst....sst...cuy...bantuin bawain dong!"


"Iiih! bawa sendiri kenapa sih, gak peka banget orang lagi sedih juga." omelku.


"Sedih kok gak kelar-kelar. Udah bantuin angkatin dulu nanti nangisnya dilanjutin di dalem. Malu keliatan tetangga!"


Dengan memanyunkan bibir, kuambil 3 buah kantong plastik dan membawanya ke dalam rumah. Sampai di dapur aku langsung membereskan barang belanjaan kami, Dio pun ikut membantu.


"Yu laper nih."


Semenjak menikah dengan Dio, aku seperti memiliki bayi yang harus diurus. Suka merengek kalau lapar, persis banget kayak yang Dio lakukan.


"Kan aku abis nangis, masa lagi patah hati disuruh masak sih?!" protesku.


"Terus kalau kamu patah hati aku gak makan gitu? Oh iya tadi kan aku beli daging slice kita grill kayak di restaurant-restaurant mahal yuk."


"Boleh tuh. Aku lihat ada panggangan dan kompor kecil di dapur. Aku siapin dulu ya. Kamu bantuin juga."


"Iya. Aku rapihin meja di ruang TV ya. Kita makan disana aja."


Acara sabtu sore kami adalah makan grill. Seru juga sih. Hiburan bagi kaum kere kayak kami berdua. Sebenarnya aku ada uang gaji tapi Dio menolak. Dio bilang kita hidup dengan seadanya gaji miliknya saja. Gaji hasil kerjaku di tabung saja.


Hari ini Dio lebih banyak bicara dibanding kemarin-kemarin yang diam melulu. Aku curiga Dio marah karena mengetahui aku mengkonsumsi pil KB. Habis mau bagaimana lagi? Kami kan menikah karena khilaf dan tanpa cinta. Kasihan dong anak kami nanti lahir dengan orang tua yang tidak saling mencintai?!


"Nih makan. Udah matang nanti gosong." Dio meletakkan daging yang sudah matang di panggang ke piring kecil milikku.


"Makasih." aku pun memakan daging pemberiannya.


"Yu."


"Hemm."


"Gaji aku kecil kan?" Dio merasa malu dan tidak percaya diri.


"Gak masalah sih. Kita kan cuma berdua. Cukup-cukup aja buat hidup kita." Aku menyadari kesalahan dari ucapanku karena Dio langsung diam kembali.

__ADS_1


"Jadi karena itu ya kamu tidak mau hamil anakku dan mengkonsumsi pil KB?" Aku menatap wajah Dio yang menyiratkan suatu kekecewaan padaku.


"Bukan karena itu. Aku tidak mau anakku lahir dari orang tua yang tidak saling mencintai. Itu saja. Bagiku mau seberapa besar gaji yang kamu berikan disitu ada rejeki buat kita berdua, pasti akan cukup."


Dio tersenyum mendengar perkataanku. "Aku pikir kamu tidak mau punya anak dariku karena gaji aku kecil dan tidak yakin bisa membiayai anak kita. Baiklah kalau itu mau kamu. Aku ikut saja."


"Nah gitu dong. Kalau kamu ada yang gak suka dari aku tuh bilang. Jangan malah mendiamkan aku kayak kemarin. Kita kan gak tau bagaimana jalan pikiran orang." omelku. Aku memang ceplas-ceplos orangnya. Kalau gak suka pasti aku akan bilang. Aku juga mau Dio bersikap seperti itu.


Sejak kami berumah tangga, kedua orang tua kami sepakat akan melepas kami mandiri tanpa bantuan mereka. Ini sebagai hukuman atas perbuatan kami dulu. Jadi aku dan Dio harus saling support demi kami juga kedepannya nanti.


"Iya. Aku kan memang begitu orangnya. Aku janji bakalan berubah kok."


"Bagus." Aku mengacungkan kedua jempolku untuknya.


"Yu, itu tadi Mamanya Dewa?"


"Iya." Aku masih menikmati daging yang ternyata enak juga pakai resep Dio.


"Kamu harusnya bersyukur Yu."


"Bersyukur kenapa? Orang aku habis disemprot Mamanya Dewa kok bersyukur?"


Aku terbayang wajah Mama Dio. Mama Lia memang lembut dan sangat baik. Aku teringat bagaimana dulu Ia mendukung pernikahan kami dan menguatkanku menghadapi ujian ini.


"Iya. Aku beruntung punya mertua sebaik Mama Lia. Tapi aku ngerti kok, Mama Dewa begitu kan karena kecewa sama aku. Sebelum kejadian ini baik kok sama aku." aku masih membela Mama Dewa.


"Baik kan karena kamu masih calon menantunya, kalau sudah jadi menantu kamu gak tau kayak gimana sifatnya. Tadi aja kejam banget kayak gitu."


"Ih tau ah debat sama kamu mah bikin pegel. Kamu gak ngerti sih hubungan pacaran dan keluarganya kayak gimana. Punya pacar aja enggak kan?" cibirku.


Dio menyunggingkan senyumnya. "Kata siapa aku gak punya pacar?"


"Buktinya gak pernah tuh ketemuan sama pacarnya. Tiap hari antar jemput aku. Pulangnya masih kerjain kerjaan kantor. Sabtu minggu kamu ngerjain apa tau di belakang. Masih mau ngibul kalau kamu tuh jomblo sejati?" ejekku. Memang benar begitu kegiatan Dio sejak kami menikah. Sabtu minggu Dio asyik di belakang rumah. Amplas kayu dan gergaji kayu yang aku gak tau Dia mau bikin apa.


"Pacarku lagi pemotretan di Swiss. Baru balik minggu depan." kata Dio santai sambil memanggang daging lagi.


"Cih.. gayanya... Susah banget sih ngaku kalau jomblo. Pake kegayaan punya pacar yang lagi pemotretan di Swiss segala. Memangnya Dia mau sama kamu yang cuma karyawan biasa?" lagi-lagi aku meremehkan perkataan Dio.

__ADS_1


"Yaudah kalau gak percaya." Dio mengeluarkan Hpnya dan menunjukkan foto Ia sedang bersama pacarnya tersebut. "Nih liat."


Secepat kilat aku mengambil Hp tersebut. Benar loh Dio punya pacar. Ada beberapa foto kebersamaan mereka. Cantik banget pacarnya. Aku sampai minder dibuatnya.


"Kenapa diam aja? Baru percaya kalau aku punya pacar juga?" kata Dio setelah aku mengembalikan kembali Hpnya.


"Dia artis? Udah lama pacarannya?" tanyaku pada akhirnya. Aku penasaran juga


"Model. Udah lama ikut fashion show keliling dunia sampai aku dilupain. Pacaran sudah hampir 4 tahun."


Aku kembali diam. Banyak yang aku pikirkan. Pantas saja dulu awalnya Dio menolak pernikahan kami, Ia sudah punya bidadari yang lebih cantik daripadaku.


"Ih diem aja. Cemburu?"


"Gak lah. Ngapain cemburu. Kenal juga enggak."


"Terus kenapa diem aja? Kayaknya belum lama deh kamu nyuruh aku ngomong kalau ada sesuatu eh malah sekarang kamunya yang diem aja kayak lagi nyimpen sesuatu." Dio membalikan lagi perkataanku tadi.


"Ya jujur aja, banyak pertanyaan di pikiranku saat ini."


"Yaudah tanyain aja." Dio mengambil air es dan dua buah gelas dari dapur lalu menuangkan untuknya dan untukku minum.


"Pacar kamu tahu kalau kita sudah menikah?" pertanyaan pertama aku ajukan.


"Belum tau lah. Dari kemarin Dia sibuk banget susah dihubungin." jawab Dio santai sambil meneguk air es.


"Terus gimana? Akan kamu kasih tau?"


"Iyalah. Kenapa juga harus aku sembunyikan?"


"Kamu gak takut Dia marah dan memutuskan hubungan kalian?" pertanyaan kedua.


"Tenang aja. Sheila bukan orang yang kayak gitu. Dia tipikal cewek yang gigih memperjuangkan apa yang menjadi miliknya." jawab Dio dengan santainya.


Aku mengerutkan keningku. Kalau pacarnya gigih dan merusak rumah tangga kami gimana? Aku kan sudah kehilangan Dewa. Apa aku harus kehilangan Dio juga? Aku memang tidak mencintai Dio, tapi kan kami sudah 2x melakukan hubungan suami istri? Kok kesannya kayak aku akan ditinggalkan habis manis sepah dibuang istilahnya.


"Terus rumah tangga kita gimana? Kalau Sheila menghancurkannya gimana?" suaraku terdengar agak panik. Dio yang menangkap kekhawtiran dari nada suaraku pun tersenyum jahil.

__ADS_1


"Makanya hamil anak aku. Pasti aku akan pilih kamu deh dibanding Sheila." Dio tersenyum puas melihat aku yang seperti tidak punya jalan keluar lain. Apa yang harus aku lakukan nih? Apa aku harus membuang semua pil KB itu dan hamil anaknya Dio?


__ADS_2