Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 62


__ADS_3

Suara ketukan palu berpadu dengan gergaji kayu dan suara semprotan cat seakan sudah menjadi lagu di tiap weekendku. Pengerjaan pesanan Pak Dhana sudah mencapai 60%. Progress yang amat cepat dan bernilai bagus.


Setiap pengiriman ke cluster perumahan yang Pak Dhana bangun selalu mendapat pujian. Motif yang kreatif disertai dengan penggunaan kayu yang berkualitas membuat Pak Dhana tak henti berdecak kagum.


Pujian untuk Dio sudah tak terhitung lagi. Ada saja yang Ia puji. Dibilang motifnya gak pasaran lah. Dibilang ukirannya haluslah. Dibilang hasil catnya rata dan glowing lah. Pokoknya Pak Dhana selalu puas.


Rencana kedepannya malah Pak Dhana akan merenovasi total rumah tinggalnya dengan seluruh furniture buatan Dio. Aku tak henti bersyukur dengan semua rejeki yang Tuhan berikan padaku dan Dio.


Teman-teman Dio pun amat solid. Mereka juga nyaman bekerja di rumah kontrakan kami. Mereka bilang kami sudah layaknya sebuah keluarga. Merintis suatu usaha dari nol sampai sudah mulai berkembang seperti sekarang.


Tak mau kehilangan pelanggan selain Pak Dhana, pengerjaan pun dibagi lagi. Ada yang ditugaskan mengerjakan pekerjaan luar karena sudah mulai banyak pesanan yang datang dari warga sekitar dan dari mulut ke mulut.


Tidak dipungkiri promosi dari mulut ke mulut juga lumayan efektif untuk mendongkrak penjualan. Pembeli pun sadar, ada harga namun ada kualitas.


Pembeli yang awalnya merasa wow dengan harganya lalu mundur teratur sekarang kembali lagi. Mereka melihat saat furniture yang dikerjakan sudah dalam tahap finishing dan hasilnya melebihi ekspektasi mereka.


Jelas saja bagus karena Dio memastikan kualiti kontrol setiap produk secara mendetail. Ia tak mau mahakaryanya ada yang fail dan membuat pembelinya kecewa.


Sebelum furniture akan dikirim, aku akan bertindak sebagai fotografer. Tanpa ada studio yang membuatnya indah. Hanya halaman depan rumah dengan pemandangan sisa kayu bekas gergaji dan bantuan sinar matahari hasil fotoku pun lumayan bagus.


Aku sudah mencetak seluruh hasil fotoku dalam bentuk hard cover. Jadi setiap pembeli yang datang bisa melihat-lihat secara langsung hasil produksi yang sudah jadi.


Selain sudah melakukan pembukuan dengan lebih mendetail dan terperinci, aku juga melakukan strategi pemasaran. Aku mengupload foto furniture dan melakukan promosi melalui akun sosial media seperti instagram. Tak lupa aku memasukkannya ke dalam online shop terkenal.


Namanya merintis usaha dari awal. Dari merangkak sampai akhirnya bisa berlari pasti butuh banyak usaha. Banyak cobaan. Banyak halangan. Aku dan Dio bisa melewatinya.


Hmm... masih dalam tahap melewati sih lebih tepatnya. Rasanya waktu 24 jam sehari saja tidak cukup. Pulang kerja kami pun masih harus mengurusi bisnis.


Dio mengecek kualitas barang yang akan dikirim, sedangkan aku menghitung biaya produksi sampai biaya pengiriman barang. Kadang kami tidur sudah larut malam sedangkan besok pagi harus bekerja lagi di kantor.


Seharusnya Papa Putra bangga dengan Dio. Jelas sekali Dio mewarisi bakatnya dalam merintis suatu usaha. Bukannya dukungan yang Dio dapatkan tapi malah ancaman dan tekanan yang menguras emosi jiwa.


Aku sudah selesai menyelesaikan pekerjaan rumahku. Rumah sudah rapi dan bersih. Biasanya aku lanjut memasak, namun takut mual seperti tadi pagi aku pun mengurungkan niatku.

__ADS_1


Aku memutuskan hendak bergabung dengan Dio Cs sambil merekap pengeluaran biaya. Baru sepuluh menit aku berkutat dengan bon dan kalkulator aku mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah kami.


Sebuah mobil Alphard putih. Mobil yang biasa dipakai oleh Mama Lia. Hatiku deg-degan, apakah Mama datang seorang diri atau bersama Papa. Kalau bersama Papa maka badai akan segera datang.


Ternyata Mama datang seorang diri dan hanya ditemani dengan supir. Aku menghembuskan nafas lega. Ah kupikir aku sudah siap menghadapi Papa mertuaku, ternyata aku juga masih ciut nyali.


Mama Lia memasuki halaman rumah kami sambil ditemani supir pribadinya yang tergopoh-gopoh membawakan barang bawaan Mama. Aku bangun dan berjalan menghampiri Mama.


"Sehat, Ma?" tanyaku sambil mencium tangan Mama Lia dan bercipika-cipiki dengannya.


"Sehat Sayang. Kamu dan calon cucu Mama gimana? Sehatkan?"


"Sehat dong Ma. Ayo masuk ke dalam Ma."


Setelah mencuci tangannya Dio datang menghampiri dan mencium pipi Mamanya tersayang.


"Mama kok gak bilang sama Dio kalau mau datang?" Dio menggandeng tangan Mama Lia dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Mama pun duduk di ruang tamu. Aku membuatkan teh manis hangat dan kue brownies yang kemarin aku pesan online.


Kulihat Mama melirikkan matanya pada Dio. "Tenang aja Ma. Ayu udah tau kok. Dio udah ceritain kalau kemarin Dio kumat di rumah Mama." Dio menghapuskan kekhawatiran di wajah Mama.


"Jadi kamu sekarang sudah tau, Yu. Bagaimana menurut kamu tentang kondisi Dio?"


Aku tersenyum. Aku tahu kekhawatiran Mama. Sebagai seorang Ibu, Ia takut anaknya tidak akan diterima oleh istrinya jika memiliki gangguan psikologis seperti itu.


"Gak apa-apa Ma. Mama gak usah khawatir. Ayu bisa terima keadaan Dio kok Ma. Toh gak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Bahkan seorang pangeran sekalipun pasti ada kekurangannya."


Mama tersenyum lega. "Makasih ya Sayang. Kamu mau nerima keadaan anak Mama apa adanya. Mama bangga punya menantu kayak kamu." setetes air mata haru menetes di pelupuk mata Mama.


Aku menghampiri Mama Lia dan memeluknya erat. Aku tahu Mama butuh dukungan. "Mama tuh Mama hebat." pujiku disela pelukan kami.


Aku melepaskan pelukan setelah Mama lebih tenang dan kembali ke tempat dudukku semula.

__ADS_1


"Oh iya. Mama lupa. Mama bawakan susu hamil buat kamu. Diminum ya. Bagus ada asam folatnya buat pertumbuhan otaknya. Mama bawakan buah dan stok makanan yang tinggal kamu goreng saja."


"Makasih banyak Ma. Mama tahu saja kalau Ayu sudah mulai mual."


"Iay, Ma. Ayu sudah mual kalau menumis masakan. Kalau tinggal menggoreng saja Dia sih bisa." Dio ikut menimpali.


"Wah Mama berarti feelingnya benar dong. Sehati kita Yu. Tenang saja nanti akan Mama bawakan lagi makanan yang banyak dan bergizi buat kalian ya."


"Asyik! Lumayan irit uang bulanan. He..he..he..."


"Loh kok kamu yang kegirangan, io? Dasar Bapak rumah tangga. Udah mulai kenal istilah irit ya kamu. Dulu aja kerjaannya pakai kartu Mama seenaknya. Tinggal gesek aja, Mama yang bayar tagihannya deh."


"Ya itukan dulu, Ma. Sekarang Dio udah lebih dewasa."


"Iya... iya.... Mama percaya." kami pun tertawa bersama.


Tak lama Mama terdiam. Ia teringat sesuatu. Raut wajahnya pun berubah serius. Aku dan Dio menangkap perubahan di wajahnya tersebut.


"Ada apa, Ma?" tanya Dio penuh kekhawatiran.


"Maaf, bukan Mama mau merusak kebahagiaan kalian hari ini. Tapi...."


"Tapi kenapa, Ma?" tanyaku mulai cemas.


"Sebaiknya kalian bersiap-siap. Mama sangat kenal dengan watak Papa. Papa tidak akan mudah menyerah dengan keputusannya begitu saja. Mama takut Papa merencanakan sesuatu yang kurang baik buat kalian."


"Memang Papa merencanakan apa, Ma?" tanya Dio.


"Mama gak tau, Nak. Papa menyembunyikan semuanya dari Mama. Sikap Papa sejak kamu pulang semalam mencurigakan. Mama gak berani bertanya. Papa sangat ketus sama Mama sejak pertengkaran kami kemarin. Berhati-hatilah kalian. Kalau Mama bisa, akan Mama bantu sekuat tenaga."


"Mama tenang saja. Doakan saja kami berdua bisa kuat menghadapi semuanya ya."


"Tentu Sayang. Doa Mama menyertai kalian."

__ADS_1


********


Ayo Vote dan like yang banyak mumpung hari senin nih. Kalau votenya banyak bisa naik ratingnya. Yuka vote yang banyak ya 😘😘😘


__ADS_2