Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 22


__ADS_3

Aku terbangun di tengah malam karena rasa haus yang mendera. Kulihat jam di Hp-ku menunjukkan pukul 2 pagi. Aku lalu turun dari tempat tidur dan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.


Segelas air putih cukup untuk mengusir rasa hausku. Aku lalu kembali lagi ke kamar. Aku dan Dio terbiasa tidur dengan lampu tidur yang redup agar tidak terlalu gelap.


Aku baru saja hendak tidur ketika aku mendengar suara Dio. Aku berbalik badan dan mendengarnya mengigau dalam tidurnya.


"Pa...jangan...please jangan Pa..." Aku perhatikan suamiku tersebut. Sepertinya ada yang tidak beres. Tubuhnya seperti menggigil dan sesekali masih mengigau dengan perkataan yang sama.


Aku memegang keningnya. Benar saja, ternyata badannya panas. Kenapa Dio diam saja saat sakit dan tidak memberitahukanku?


Aku kembali lagi ke dapur dan membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil untuk mengompres. Tak lupa segelas air hangat untuk Dio minum.


"Dio... bangun... minum dulu." Aku mengguncangkan bahu Dio pelan. Dengan lemas Dio pun bangun.


"Kenapa, Yu?"


"Minum obat dulu. Badan kamu panas sekali." Aku lalu memberikan obat penurun panas dan segelas air hangat padanya. Dio menerimanya lalu menuruti perintahku untuk meminum obat penurun panas tersebut.


Dio memberikan kembali gelas bekas Ia minum lalu kembali tidur. "Aku gak apa-apa kok. Besok pagi juga udah sembuh. Kamu tidurlah."


"Aku kompres ya. Biar cepat turun panasnya." Aku menaruh handuk kecil yang hangat air panas di kening Dio.


Dio sudah kembali tertidur. Kubelai lembut rambut Dio. Ah sudah seminggu lebih kami tidak bertegur sapa hanya karena aku makan siang bareng Dewa. Aku menyesal sudah melakukan sesuatu tanpa seijin Dio. Aku langsung mengirimi pesan pada Dewa dan membatalkan untuk membuatkannya macaroni schottel setelah pertengkaranku dan Dio di warung bakso waktu itu.


Aku mengangkat handuk kecil tersebut dan menggantinya dengan handuk yang lebih hangat, begitu seterusnya sampai saat aku cek suhu tubuhnya sudah normal kembali barulah aku bisa tidur dengan tenang.


********


Kubuka mataku saat cahaya silau matahari sudah memasuki jendela kamar. Sudah siang ternyata. Kudengar sayup-sayup suara orang berbicara. Dio sudah bangun, dengan siapa Dio bicara?

__ADS_1


Aku keluar dari kamar dan melihat Mama mertuaku datang. "Ma. Mama sama siapa kesini?" tanyaku sambil mencium tangan Mama.


"Sama Papa. Tuh Papa di belakang sama Dio." Mama menunjuk halaman belakang rumah. Waduh terakhir kali Papa kesana kami bertengkar hebat. Kenapa sekarang Papa kesana lagi?


Aku langsung menghampiri halaman belakang dan menyapa Papa. "Pa." kucium tangan Papa yang berwajah jutek tersebut.


"Baru bangun kamu jam segini? Bagaimana bisa mengurus anak saya kalau kamunya aja bangun siang begini." omel Papa.


Sudah kuduga. Pasti Papa masih saja menaruh amarah padaku. Aku berniat diam saja tidak mau terbawa emosi seperti terakhir kali.


"Ayu semalaman jagain Dio, Pa. Dio semalam demam, Ayu yang kompresin sampai panas Dio turun." ternyata Dio membelaku. Kupikir Ia masih marah padaku.


"Jangan kebanyakan dimanja istri kamu, Dio. Sampai kamu bela segala." Papa masih saja berkata sinis.


Dio lalu berjalan ke kamar dan mengeluarkan baskom bekas kompresan semalam. "Nih, Pa. Dio bukan membela, tapi berkata kenyataan. Ini bekas kompresan semalam. Kalau bukan karena Ayu mungkin sakit Dio tambah parah."


"Sudahlah, Pa. Pagi-pagi sudah mengajak orang ribut saja. Kamu mau Mama antar ke Dokter tidak, Nak?" Mama memegang kening Dio untuk memeriksa suhu badan Dio.


"Ma, Pa. Aku buatkan sarapan dulu ya." Aku pamit ke dapur dan membuatkan sarapan untuk mereka.


Mama terlihat masih mengkhawatirkan keadaan Dio. Sementara Papa masih saja seperti bos besar yang melihat-lihat rumah kami. Furniture mini buatan Dio diangkatnya satu persatu dan diperhatikannya. Tak tahu apa yang Ia pikirkan. Wajahnya kesal namun tidak semarah dulu.


Aku membuatkan nasi goreng dan ayam goreng untuk sarapan hari ini. Tak lupa aku menyediakan kerupuk bangka sebagai pelengkapnya.


"Ma, Pa, Dio ayo sarapan."


Mereka bertiga pun mengikuti langkahku dan kami sarapan bersama. Aku tidak banyak biasa, hanya diam saja menyimak obrolan keluarga Dio. Aku sudah biasa dianggap orang luar saat mereka sedang bercengkrama.


Aku menikmati sarapanku sambil mendengar mereka membicarakan tentang keluarga Mama yang akan mengadakan resepsi pernikahan. Mereka akan pergi ke Semarang minggu besok. Tepatnya jumat malam dan baru pulang minggu siang. Berarti menginap.

__ADS_1


"Nanti Mama yang akan pesankan tiket pesawat ya Pa. Kita ketemuan di bandara aja biar gak ribet. Kamu kerja dulu kan, Dio?"


"Iya Ma. Kebetulan akhir bulan jadi Dio gak bisa bolos. Ambil pesawat jam 10an aja Ma. Takut gak keburu kan Dio harus jemput Ayu juga."


"Aku... diajak?" tanyaku takut-takut.


"Iyalah, Sayang. Kamu diajak. Masa iya kami ninggalin kamu sendirian disini sih. Kamu jangan lupa packing ya. Nanti bawa aja kopernya ke kantor dulu karena pulang kerja langsung ke Bandara. Gimana?"


Aku tersenyum senang karena akhirnya diikutsertakan. Ah receh banget kebahagiaanku ini. "Iya, Ma. Nanti aku siapin barang-barang milik aku dan Dio." kataku dengan bersemangat.


Kulirik Papa Mertuaku yang sedang asyik menikmati sarapan buatanku. Walau tanpa ucapan pujian aku tahu kalau Papa menyukai masakanku. Itu saja sudah membuatku senang.


Mama menatapku yang tersenyum senang melihat Papa lahap makan. Kemudian mata kami saling bertatapan, Mama tersenyum penuh arti. Ah aku suka sekali dengan Mama. Tetap jadi istri yang patuh suami namun bisa merangkulku sebagai menantunya.


Setelah sarapan Papa mengikuti Dio ke halaman belakang rumah. Melihat bagaimana Dio membuat furniture yang bagus dengan wajah senang dan bersemangat. Aku di dapur dengan Mama hendak membuat donut.


"Ma, kok Papa tidak marah lagi melihat Dio mengerjakan furniture?" tanyaku penasaran.


"Bagus dong sayang. Papa memang keras orangnya. Namun kalau kita memberi pengertian sedikit demi sedikit pasti Papa akan luluh juga. Begitupun dengan masalah furniture ini. Mama menceritakan bagaimana bahagianya Dio saat membuat furniture setiap Mama pulang dari rumah kalian membuat Papa penasaran, makanya hari ini Papa ngajak Mama sepedahan ke rumah kalian. Ya untuk melihat bagaimana kebahagiaan di wajah Dio mungkin." Mama terus menguleni adonan dengan mixer tangan yang sederhana milikku.


"Itu saja sudah buat Ayu senang, Ma. Semoga kelak Papa akan menerima hobby dan passion Dio ya Ma. Ayu melihat Dio semangat kayak gitu senang banget, Ma."


Tiba-tiba aku teringat kalau belum mengukur suhu Dio pagi ini. Semalam suhunya sudah turun menjadi 37.5⁰ takut panasnya naik lagi.


"Ma, Ayu cek suhu Dio dulu ya, Ma. Takut panas kayak semalam lagi." pamitku. Aku lalu mengambil air hangat dan obat penurun panas untuk berjaga-jaga kalau Dio sakit lagi. Tak lupa termometer di kamar aku ambil juga.


"Dio, aku cek suhu kamu dulu." tanpa meminta persetujuan Dio aku mengetes suhu tubuhnya dengan termometer. 38⁰.


"Badan kamu hangat lagi. Minum obat penurun panas ini dulu sama air hangat. Biar cepet turun. Mau ke dokter tidak?"

__ADS_1


Dio mengambil obat yang aku berikan dan meminumnya dengan air hangat. "Gak usah. Nanti aja kalau masih panas." tolak Dio sambil mengembalikan lagi gelas air hangat padaku.


"Yaudah. Nanti bilang ya kalau badannya masih gak enak. Jangan kebanyakan kerja, istirahatlah agar cepat sehat lagi." aku kembali ke dapur dan mengacuhkan pandangan Papa yang melihatku sejak tadi.


__ADS_2