
POV Ayu
Aku menggerakkan tubuhku yang terasa remuk redam. Dio seperti tidak ada puasnya semalaman menerjangku. Aku bisa ngerti sih. 3 tahun lamanya Dio 'puasa' makanya sekalinya sudah tersalurkan pasti akan liar.
Aku mematikan alarm Hp yang sengaja kusetel untuk berbunyi jam 5 pagi. Hoaammm... aku masih mengantuk. Baru 2 jam aku tertidur. Rasanya ingin tidur lagi namun sebagai seorang ibu rasanya tidak mungkin.
Aku harus menyiapkan sarapan untuk Kevin yang terbiasa sarapan pagi sehabis mandi. Aku juga harus menyiapkan bekal untuk Dio bawa kerja. Kalau aku tidak bangun sekarang lantas siapa yang akan mengerjakannya?
Aku jadi ingin kembali jadi anak gadis Mama sebelum menikah. Bangun tidur tinggal sarapan. Lapar pulang kerja tinggal makan tanpa perlu masak terlebih dahulu.
Ah memang paling enak deh tinggal sama orang tua. Gak pusing mikirin tagihan. Gak pusing mikirin makanan sehari-hari. Gak pusing ngurusin anak yang gak bisa diem.
Setelah mandi aku langsung berjibaku dengan pekerjaanku. Sarapan kesukaan Kevin adalah telur mata sapi. Aku membuka kulkas milik Dio. Isinya lengkap ternyata. Pasti Mama Lia punya andil di dalamnya.
Aku memeriksa apa yang ada di dalamnya. Lumayanlah ada stok nugget jadi aku tinggal menggoreng saja. Ada daging slice juga. Aku berniat membuatkan Dio daging teriyaki untuk bekal makan siangnya nanti.
Aku melirik jam dinding yang sengaja aku taruh di dapur agar tidak lupa waktu saat memasak. Sudah jam setengah 6. Aku harus membangunkan Dio kalau tidak Ia akan terlambat ke kantor.
"Dio... bangun! Udah siang." Aku menepuk pelan lengan Dio agar bangun dari tidurnya.
Dio menguap lalu meregangkan tubuhnya. Membuat selimut yang tadi kuselimuti ke tubuhnya terangkat dan memperlihatkan barisan perutnya yang six pack. Rasanya tak pernah puas aku memandangi tubuh Dio yang berbentuk dan dipenuhi otot dimana-mana.
Tanpa aku sadari tanganku menyentuh perutnya yang six pack. Aku memainkannya seperti sedang bermain diatas tuts piano.
"Geli, Yu."
Aku langsung menarik tanganku karena kaget Dio tiba-tiba terbangun.
"He..he..he... kamu udah bangun ternyata. Cepatlah mandi nanti kamu kesiangan." Aku beranjak bangun namun Dio menarik tanganku sampai aku terjatuh di pelukannya.
"Peluk dulu. Masih mau bobo."
"Udah siang. Jangan jahil! Nanti kamu telat!" Aku memukul tangan Dio yang melingkar dengan nyamannya di pinggangku.
Bukannya melepaskan tanganku Dio malah makin erat memelukku. "Gak boleh cuti aja nih? Masih pengen kekepan sama kamu."
"Gak boleh. Baru kerja 2 bulan di kantor Papa udah mau cuti. Gimana kata karyawan kamu nanti? Udah cepat bangun aku mau bangunkan Kevin dulu."
Dio akhirnya mengalah. Dia pun melepaskan pelukannya padaku. "Mau pakai baju warna apa?"
"Terserah. Aku mau mandi dulu." Dio pun melenggang dengan santai ke dalam kamar mandi tanpa menutupi tubuhnya dengan sehelai benang pun. Dan aku masih saja menutup mataku saat melihatnya padahal aku sudah sering melihatnya tanpa busana tapi masih saja merasa malu.
__ADS_1
Aku menyiapkan kemeja dan jas untuk Dio pakai. Kaus kaki dan dasi pun aku siapkan. Tak lupa bekal makan siang aku taruh dalam tempat makan. Tak lama Dio keluar kamar mandi dan tugasku pun dimulai. Memakaikan dasi dan membantu mengeringkan rambutnya.
Suami gantengku pun sudah siap berangkat kerja. Suara tangisan Kevin membuatku langsung berlari ke kamarnya.
"Mommy!" tangis Kevin.
Aku menghampiri Kevin dan memeluknya. Mungkin Kevin belum terbiasa dengan suasana kamar yang baru karena itu Dia menangis mencariku. "Apa Sayang? Mommy disini kok. Ayo bangun. Kita anterin Daddy berangkat kerja."
Aku menggendong Kevin dan sesekali menciumi aroma tubuhnya yang menurutku acem-acem syedep dan bikin ketagihan menciumnya. Dio sudah duduk di meja makan dan sedang sarapan.
"Daddy." Kevin langsung pindah dari gendonganku ke pangkuan Dio.
"Kevin sudah bangun ya? Pinter anak Daddy bangunnya pagi loh. Ayo mamam dulu. Kevin mau makan pakai apa?"
"Pake teyon."
Aku menyendokkan nasi ke piring Kevin dan menaruh telur mata sapi diatasnya. "Telor Kev. Bukan teyon." Aku membiasakan berkata dengan jelas agar Kevin pun bicaranya lancar dan jelas.
"Iya Mommy. Teyon."
"Telor."
"Teyon."
"Telor."
Perdebatan kami mungkin tak akan kelar kalau Dio tidak menengahinya. "Ya. Oke. Mau telor atau teyon sama aja bagi Daddy. Ayo kita sarapan nanti supir Daddy keburu datang."
Aku dan Kevin pun manut. Tak lagi memperdebatkan telor atau teyon. Dan lagi-lagi Kevin sarapan dengan tenang di pangkuan Dio. Kevin tak mau aku suapi padahal aku takut sarapannya berantakan dan mengotori kemeja Dio.
"Daddy, Kevin mau icut Daddy kelja." rengek Kevin.
"Kev, gak boleh gitu. Di kantor Daddy gak ada anak kecil." aku langsung melarang sebelum rengekan Kevin berubah jadi tangisan histeris.
"Yah Mommy."
Dio tak mau membuat anak kesayangannya sedih. Ia pun langsung menghiburnya. "Nanti aja kalau Daddy libur kita jalan-jalan, oke?"
"Oce." senyum Kevin kembali menghiasi wajahnya.
Aku dan Kevin mengantar Dio sampai mobil yang menjemputnya menghilang di belokan. Kembali aku masuk ke dalam rumah dan berjibaku dengan pekerjaan baruku.
__ADS_1
Untunglah Kevin anak yang pintar. Ia asyik dengan mainannya sampai pekerjaan rumahku selesai semua. Jam 11 siang Kevin sudah mengantuk. Aku pun ikut serta tidur siang bareng. Inilah kelebihannya jadi ibu rumah tangga. Dapet bonus tidur siang bareng anak, kalau jadi karyawan kantor mana bisa?
Aku tertidur amat lelap sampai tidak mendengar suara telepon yang sejak tadi berbunyi. Setelah beberapa kali berdering barulah aku terbangun dan mengangkat telepon tersebut.
Aku: "Hallo."
Dio: "Kamu gak apa-apa kan Yu? Aku telepon dari tadi gak kamu angkat aku pikir ada sesuatu sama kamu."
Aku: "Maaf aku ketiduran di kamar Kevin. Ada apa ya?"
Dio: "Oh syukurlah. Aku pikir kamu pergi lagi ninggalin aku karena aku udah bikin kamu kerja rodi semalam." Dio berusaha menutupi suaranya yang ketakutan di balik candaannya.
Aku: "Gak kok. Aku gak bakalan ninggalin kamu lagi. Kalau aku mau pergi pasti aku bilang sama kamu. Aku cuma kecapean aja gara-gara ulah kamu semalam makanya tidurnya pules banget sampai gak denger suara telepon."
Dio: "Yaudah kamu tidur lagi biar nanti malem kamu punya kekuatan lagi."
Aku: "Ih apaan sih. Oh iya aku mau ijin ya sama kamu. Aku mau ke supermarket beli kebutuhan rumah sama Kevin."
Dio: "Berdua aja? Naik apa? Kan mobil aku belum balik masih di Palembang. Baru aja besok aku mau nyuruh Yono bawa balik kesini."
Aku: "Naik taksi berdua Kevin aja. Aku bisa kok. Aku kan biasa kayak gitu sama Kevin di Palembang."
Dio: "Enggak boleh. Pergi sama Mama aja. Kalian gak boleh pergi berduaan aja, takut kenapa-napa. Aku telepon Mama Lia dulu biar nemenin kalian."
Aku: "Jangan, io. Kasihan Mama. Malah ngerepotin Mama nantinya."
Dio: "Udah gak apa-apa. Mama juga gak ada kerjaan selain arisan kesana sini. Udah ya aku telepon Mama dulu. Jangan lupa pakai ATM yang aku kasih semalam ya. Terserah kamu mau beli apa. Oh iya aku titip beli lingerie yang seksi ya buat nanti malam."
Aku: "Pasti kamu lagi senyum-senyum sendiri nih mikirin yang enggak-enggak deh. Liat nanti aja. Kalau ada baru aku beli. Udah ya dah."
Dio: "Nanti dulu Yu."
Aku: "Apa lagi?"
Dio: "I love you."
Aku: "I love you too."
Aku memutuskan sambungan telepon kami. Sekarang aku yang senyum-senyum sendiri. Kupegang wajahku yang pasti memerah. Ah senangnya hatiku mendengar Dio mengucapkan kata I love you yang dulu kata tersebut bukan milikku, namun kini cintanya Dio hanya untukku.
⚘⚘⚘Hi semuanya! Jangan lupa vote ya mumpung hari senin vote di reset dari awal lagi. Vote yang buanyak. Oh iya sedikit cerita, aku lagi nyiapin novel baru nih. Mungkin enggak se-hot Namaku Ayu, tapi aku mau bikin yang lebih berbobot lagi. Tetap setia ya nungguin novel baruku. Luv u all 😘😘😘⚘⚘⚘🥰
__ADS_1