
Jam 6 pagi. Aku terbangun setelah semalaman tidur dalam pelukan Dio. Kulihat Ia tertidur pulas layaknya seorang bayi.
Siapa yang menyangka, pria berdada bidang dengan wajah yang bisa memikat hati siapapun yang melihatnya ini memiliki suatu kekurangan? Siapa yang menyangka bahwa anak seorang pengusaha terkenal nan kaya raya bahkan memiliki gangguan kejiwaan yang obatnya tidak bisa dibeli dengan semua harta yang mereka miliki?
Mungkin mereka kaya raya namun miskin kebahagiaan. Khayalan-khayalan akan hidup indah jika kaya raya seperti kisah dongeng justru dibuat untuk memenuhi hasrat bermimpi banyak orang. Pendapat kalau kaya raya pasti bahagia justru salah. Justru jika tidak diuji Tuhan dengan uang, maka akan diuji dengan hal lain yang lebih berat lagi.
Ujian gak mesti tentang uang. Ada yang melalui anak, pasangan, mertua maupun kesehatan. Tinggal kita dapatnya yang mana. Semua pasti kebagian. Rata. Gak ada satu pun manusia yang hidup tanpa ujian sama sekali.
Contohnya naik sepeda, kalau belum jatuh belum bisa jago mainnya sampai kebut-kebutan. Begitupun tujuan Tuhan memberikan ujian, untuk membuat makhluknya kuat menghadapi tekanan hidup yang makin berat.
Ujianku mungkin bukan masalah keluarga. Papa dan mama adalah pasangan paling harmonis yang pernah kulihat. Ujian tentang uang juga tidak, karena walau Papa karyawan biasa namun kami hidup berkecukupan dengan gaya hidup sederhana.
Ujianku adalah tentang pasangan. Pasangan yang masih belum jelas apakah akan memilihku atau tidak. Ah sudahlah, tak perlu dipikirkan. Aku gak boleh stress nanti pingsan lagi.
Aku mengambil Hp di atas nakas. Tanganku mencari tahu apa itu Anxiety Disorder. Anxiety Disorder adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perasaan khawatir, cemas, atau takut yang cukup kuat untuk mengganggu aktivitas sehari-hari
Contoh gangguan kecemasan yaitu serangan panik, gangguan obsesif-kompulsif, dan gangguan stres pascatrauma.
Stress? Iyalah. Punya Papa killer kayak Papa Putra siapa juga yang gak bakalan stress? Dulu aku pikir Papa baik, dengan tegas Ia meminta Dio bertanggung jawab terhadapku. Eh setelah tau ada udang dibalik bakwan yang Ia rencanakan hilanglah sudah image baik dirinya di mataku.
Benci? Iya awalnya. Namun Mama selalu mengajarkanku untuk memaafkan orang lain walau Ia sangat menyakitiku. Toh dengan membenci Papa Putra tidak akan merubah keputusannya juga.
Kutaruh kembali Hp di atas nakas. Bersebelahan dengan Hp milik Dio. Sebenarnya aku penasaran apa isi di dalam Hpnya. Sama seperti wanita lain yang penasaran apa isi Hp pasangannya. Mungkinkah ada chat mesra dengan lawan jenis di luar sana?
Jaman sekarang makin edan. Justru suami orang diperebutkan. Kenapa? karena saingannya cuma satu yaitu istri sahnya. Sedangkan cowok single justru tidak diperebutkan karena saingannya banyak.
__ADS_1
Rasa penasaran mengenai kejadian kemarin menghinggapiku. Aku tahu password Hpnya adalah tanggal ulang tahunku. Kutepis rasa penasaran di pikiranku. Ah untuk apa? Biarlah kutunggu Dio yang menceritakan semuanya.
Kuangkat tangan Dio yang sejak percintaan panas semalam terus saja memelukku dan menaruhnya pelan-pelan agar tidak membangunkannya. Lagi-lagi aku harus memunguti pakaian kami yang berserakan dimana-mana. Dio kalau sudah nafsu membuncah, seenaknya saja melepas dan melemparkan pakaian kemana saja. Tak apa sih toh kami akan langsung tertidur karena kelelahan tanpa ingat memakai pakaian lagi.
Baju Dio sudah kutaruh di atas nakas. Jika Ia ingin memakainya kalau bangun nanti. Bajuku langsung kemasukkan ke dalam keranjang baju kotor. Aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Membersihkan tubuhku sambil menghitung berapa banyak jejak digital eh jejak kepemilikan yang Dio tinggalkan di tubuhku.
Di dadaku ada 5 dan ya ampun lagi-lagi di leher. Kenapa sih Dia demen banget bikin aku pakai concealer? Besokkan aku kerja dan harus ketemu nasabah! Huh dasar rese!
Selesai mandi aku kembali berjibaku ke dapur. Membuatkan cemilan gorengan untuk teman-teman Dio seperti biasanya. Kalau hari biasa aku tidak sempat membuatkan mereka gorengan. Hanya menyediakan termos air panas dan kopi sachetan saja. Cemilannya aku menugaskan Yono membeli di luar tentu setelah kuberi uang sebelumnya.
Hari ini aku mau buat risol. Kulit risolnya sudah selesai kubuat. Tinggal isiannya saja. Aku sudah memotong sayuran dan bawang, tinggal menumisnya saja. Kutuangkan minyak ke atas penggorengan lalu memasukkan bawang setelah minyak panas. Kutunggu sampai harum baru memasukkan sayuran yang sudah kupotong kecil-kecil.
Harum bawang yang ditumis mulai merasuki hidungku. Biasanya aku suka harumnya namun kok aku mual sih? Kumatikan api kompor lalu berlari ke kamar mandi di dalam kamar.
Hueeekk...hueeekkk.... Aku memuntahkan isi dalam perutku. Hanya air putih yang keluar karena aku belum sarapan hanya baru minum air putih saja.
Aku memelototinya. Hilang sudah mualku. "Ih pakai baju dulu dong!"
Dio sepertinya baru tersadar dan melihat tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun. Dio tersenyum malu. "Lupa Yu. Panik liat kamu muntah-muntah pagi-pagi. Kamu gak apa-apa?"
"Udah mulai morning sickness kayaknya. Aku mual pas lagi numisin bawang."
"Yaudah aku yang lanjutin. Mau buat apa sih?"
"Mau buat isian risol. Cuma numis aja. Aku udah potong-potong sayuran. Tinggal pakai garam, gula sedikit, lada bubuk dan kaldu ayam. Bisa gak?"
__ADS_1
"Bisa tenang aja. Udah kamu istirahat aja di kamar." Dio bangun namun langsung kucegah.
"Eeeh... mau kemana? Pakai baju dulu. Jangan bilang kamu mau masak gak pakai baju deh!"
"Ya mau ambil handuk Yu. Mau mandi dulu. Kamu kenapa sih? Masih terbayang-bayang semalam ya?"
"Ih apa sih.Yaudah mandi aja nanti aku ambilkan handuknya."
Aku baru hendak meninggalkan Dio ketika Ia menarikku dan membisikkan sesuatu di telingaku. "Kamu semalam hot banget Yu. Adek aku katanya mau lagi nanti malam ya."
"Dasar mesum!" Aku keluar kamar mandi sambil menutupi wajahku yang memerah malu. Ah Dio bisa banget buat wajah aku blushing.
Aku mengambilkan handuk Dio dan menggantungnya di pintu kamar mandi. Aku lalu membereskan tempat tidur sambil menunggu Dio keluar kamar mandi. Baju ganti Dio pun sudah kusiapkan. Celana pendek dan kaos warna gelap. Pakaian kerjanya di rumah agar tidak kotor kena cat saat kerja membuat furniture.
Aku memainkan Hpku menunggu Dio selesai mandi. Tak lama Ia keluar kamar mandi dan dengan seenaknya membuka handuknya di depanku. Aku pura-pura asyik bermain Hp untuk menutupi rasa maluku.
"Liat mah liat aja Yu. Gak apa-apa kali. Kalau mau lanjutin yang semalam sekarang juga boleh."
Brukk.. kulemparkan sebuah bantal tepat mengenai wajah Dio. "Mesuuuummm!"
Dio tertawa sambil nyengir. Dengan suara sok di keren-kerenin Ia berkata. "Tapi suka kan?"
*****
Suka gak?
__ADS_1
Kalau suka vote yang banyak dong. Mulai kendor lagi nih votenya.