
Hi Semua!!!! Inget, jangan lupa vote ya cantik dan ganteng, jangan kasih kendoooorrr 😘😘😘😘.
Aku menengadahkan kepalaku ke langit. Menatap bulan purnama yang bersinar amat terangnya. Beberapa bintang kecil menemaninya menerangi gelapnya malam. Indah.... Indah jika melihat keindahan malam ini bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita balik. Bukan dengan orang yang hanya menganggap sebagai seorang teman.....
Plakk.... Aku memukul dengan sekuat tenaga nyamuk yang menggigit di betisku. Lumayan melampiaskan kekesalanku hari ini. Tadi siang emaknya terus malam anaknya merongrong minta aku tetap tinggal.
Krucuk...krucuk... perutku berbunyi kencang. Ah, benar-benar tidak bisa diajak kerja sama nih perut. Kan aku jadi gak keliatan keren jadinya. Daritadi udah mendengarkan ucapan Dio dengan dingin eh malah nih perut bunyi.
Dio udah gak kuat nahan ketawanya. Wajahnya yang beberapa saat lalu sangat serius dan penuh dengan permainan kata-kata yang malah bikin aku pusing bukannya terbuai sekarang malah tertawa ngakak.
"Tuh kan laper. Makanya dari tadi aku ajak makan pake gak mau sih!"
"Gak nafsu makan!" Aku masih tidak mau menurunkan egoku. Tapi.... krucuk...krucuk... ah perut sialan ini bunyi lagi.
Dio makin tertawa ngakak. "Kamu ini ya, ucapan sama perut beda. Udah ayo kita pergi makan!"
Dio berdiri lalu mengulurkan tangannya padaku, berharap aku menggenggam tangannya seperti biasa namun aku bangun dan melenggang pergi dengan acuh.
Dio berlari mengejar langkahku. Dengan mensejajari langkahku Ia kembali mengajakku ngobrol. "Mau makan apa kita?"
"Makan hati!" Kataku pedas.
"Mau dipedesin apa dikecapin?" Ih malah tambah bikin aku kesel nih tuyul satu.
"Dipotek-potek terus diinjek-injek terus kasih kucing!" Aku memeragakan menginjak sesuatu lalu menendangnya.
"Wakakakakaka.... Kucing emangnya makan hati?"
Aku berhenti melangkah. "Hmm... bener juga. Kucing emang gak makan hati. Tapi Tuyul Burik yang suka makan hati!"
"Ha..ha..ha... kosakata apalagi coba itu, emang kamu pernah liat tuyul burik? Liat tuyul aja pasti belum pernah apalagi liat yang burik?!"
Terus aja ketawa.. terus... Kamu tuh yang tuyul burik!
Aku memanyunkan bibirku. Dasar laki-laki yang gak peka! Cewek tuh lagi ngambek bukan dibaik-baikin malah dibikin tambah kesel!
"Ayo naik! Tadi katanya laper. Malah cemberut aja dari tadi." Dengan kesal aku naik ke atas motor.
"Nih helmnya pake." Dio memberikan helm untuk kupakai.
"Gak mau! Udah mau sampe rumah. Males pake helm!"
"Yaudah." Dio menggantungkan helmku di pengait motor. "Gak pegangan?"
"Ogah!" Tawa Dio kembali terdengar. Ia pun menjalankan motornya sambil sesekali masih tertawa. Apa yang lucu coba?
Motor Dio berhenti di depan tukang nasi goreng. "Mau makan apa, Yu?" Aku tetap duduk di motor, malas untuk turun.
__ADS_1
"Nasi goreng gila. Yang pedes pake banget."
"Siap." Dio lalu ke penjual nasi goreng dan memesan 2 buah nasi goreng gila. Satu sedang dan satu lagi pedas.
Dio kembali lagi ke motor menunggu pesanan kami siap. Ia mengambil sebatang rokok dan hendak menyalahkannya kembali. Langsung aku ambil dan kupatahkan lalu kubuang.
Bukannya sadar emang lelaki tak peka ini malah mengambil lagi satu batang rokok dan mulai menyalahkannya lagi. Aku hendak mengambilnya kembali namun ternyata Dio lebih sigap. Ia menjauhkan rokoknya agar tanganku tak sampai.
"Yey... gak kena...." Brukk... aku memukul punggung Dio dengan kesal.
Dio tidak marah dengan yang kulakukan. Ia malah tersenyum kepadaku dan menarik tanganku dan mengarahkan ke pipinya. "Pukul yang banyak, Yu. Tampar pipi aku juga boleh. Setiap hari kamu mau pukul juga gak apa-apa. Asalkan kamu tetap di sisi aku"
Aku berusaha melepaskan tanganku yang dipegang Dio sejak tadi. Tak ada senyum di wajah Dio seperti sebelumnya. Wajahnya sangat serius sekarang.
"Mas! Nasi gorengnya udah mateng nih. Ntar aja lanjutin berantemnya di rumah!" Teriak abang penjual nasi goreng.
"Ah elah gangguin aja nih Abang." Dio melepaskan tanganku dan mengambil pesanan nasi goreng kami.
Dio menaiki motornya dan membawaku pulang ke rumah. Ia tak banyak bicara lagi. Hanya diam.
Sesampainya di rumah, Dio menyiapkan dua buah piring untuk kami makan beserta sendok dan air minum, pekerjaan yang biasanya aku lakukan.
"Makan dulu, Yu. Ini pesanan kamu, kata abangnya yang karetnya ijo yang pedes." Dio menyerahkan nasi goreng milikku yang sudah Ia bukakan dan ditaruh di piring. Dio juga membuka nasi goreng miliknya.
"Stop!" Dio menghentikan gerakannya ingin menyuap nasi ke mulutnya.
"Tuker."
"Apanya?" Dio mengernyit heran.
"Nasi gorengnya tuker." Aku menyodorkan kembali piring nasi goreng milikku pada Dio.
"Kan punya kamu yang pedas. Kenapa mau tuker sama punya aku?"
"Pokoknya tuker!" Aku memanyunkan bibirku.
"Tapi kan kamu tadi mintanya yang pedas, Yu. Ini udah aku beliin yang pedes, kenapa malah minta yang gak pedas? Kamu tahu sendiri kalo aku gak begitu doyan pedas."
"Yaudah kalau gak mau tuker aku gak jadi makan." Aku baru saja mengangkat pantatku hendak bangun dan masuk kamar ketika Dio akhirnya mengalah.
"Tunggu. Iya ini aku tuker. Yang penting kamu makan. Seharian kamu gak makan nanti sakit." Dio menukar piring kami. "Makanlah."
Senyum kemenangan terukir di hatiku. Yes. Rasakan kekuatan seorang perempuan kalau lagi ngambek. Emang enak???
Aku menyuap nasi goreng gila yang terkenal enak di lingkungan rumahku. Aku memakannya dengan lahap. Lapar sekali sejak semalam aku males makan. Suapanku terhenti kala kulihat Dio sejak tadi tidak memakan nasi goreng yang awalnya milikku itu.
"Kok gak dimakan?"
__ADS_1
"Pedes, Yu. Perut aku gak kuat makan pedes." Kata Dio berkilah.
Merasa tak puas dengan jawaban Dio aku pun kembali melancarkan seranganku. "Yaudah kalau kamu gak mau makan aku juga gak mau. Biar aku muntahkan saja semua yang baru aku telan ini!"
"Yah jangan atuh, Yu. Mubazir."
"Kamu juga mubazir kalau gak makan nasi goreng yang pedas itu!" Aku menunjuk nasi goreng yang awalnya milikku namun tak disentuh sama sekali oleh Dio.
"Iya... iya... Aku makan sekarang. Kamu juga lanjutkan makan kamu."
Aku kembali melanjutkan makanku sambil sesekali melihat Dio yang makan nasi goreng dengan kepedesan. Wajah putih mulusnya memerah bak kepiting rebus. Bibirnya megap-megap dan bolak-balik minum air putih. Walau sadar perbuatanku jahat tapi aku tertawa dalam hati.
Akhirnya nasi gorengku habis sudah. Makan sambil menertawai Dio rupanya membuatku makan banyak tak bersisa. Aku pun sampai bersendawa saking kenyangnya.
Kulirik piring nasi goreng Dio. Tinggal seperempatnya saja namun Ia sudah tidak kuat melanjutkannya lagi. Aku mengambil piringnya dan beriniasiatif mencucinya.
********
Suara flush toilet mengganggu tidurku. Jam 3 pagi. Kulihat tempat tidur di sampingku kosong. Apa yang Dio lakukan malam-malam begini di kamar mandi?
Dio keluar dari kamar mandi dengan wajah lemas. Ia memegangi perutnya sejak tadi dan mendudukkan tubuhnya di tempat tidur.
"Kamu kenapa?"
"Pake nanya lagi. Ya diare lah!" Kata Dio dengan judesnya.
"Ya kan aku gak tau. Udah minum obat belum?"
"Belum. Kamu sih tadi nuker nasi goreng punya kamu sama aku. Aku kan gak kuat makan makanan terlalu pedas!" Gerutu Dio sambil mengusap perutnya yang kembali bergejolak. "Aduh, mules lagi nih." Dio berlari lagi ke kamar mandi.
Tak tega dengan yang Dio alami aku pun membuatkan teh tawar hangat yang agak kental. Mama mengajarkanku kalau diare minum teh tawar untuk meredakan sakitnya. Aku mengambil dua buah obat diare lalu membawanya ke kamar.
Dio sudah tiduran di tempat tidur. Aku menaruh teh dan obat di atas nakas lalu menepuk bahunya. "Minum obatnya dulu." Dio bangun dan mengambil air teh dan obat yang kuberikan lalu meminumnya.
"Buka kaos kamu."
"Buat apa? Aku lagi gak mau main, Yu."
Pletak.. sebuah sentilan kulayangkan ke jidat Dio. "Jangan ngeres. Aku mau pakaikan minyak kayu putih ke perut kamu."
"Oh." Dio pun membuka perutnya. Aku membalurkan minyak kayu putih ke perut Dio lalu meratakannya.
"Makasih ya, Yu."
"Panas ya perutnya?"
Dio mengangguk. "Iya, panas banget."
__ADS_1
"Sama dong kayak hati aku. Sejak kemarin rasanya panaaaass banget. Ngedenger omongan kamu di taman malah makin bikin hati aku makin panas. Tapi kasihannya aku, gak ada minyak kayu putih, teh tawar dan obat yang bisa membuat hatiku yang panas menjadi adem lagi." Aku menutup minyak kayu putih dan kembali ke tempatku tidur. Membiarkan Dio merenungi kembali setiap perkataanku.