Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 19


__ADS_3

Masih POV Dio....


Huft bosen bikin model furniture. Baru laku 1 pc sudah membuat semangatku kendor. Sabtu malam biasanya kuhabiskan membuat furniture namun rasa bosan tiba-tiba melandaku.


Aku menghampiri Ayu yang biasanya lagi menonton drama korea kesukaannya. Dan benar saja. Sambil ngemil chiki Ia asyik menonton.


"Loh kok bukan drama Korea seperti biasanya? Tunggu, itu blue film ya? Kok ada adegan kewongnya? Hayo kamu ketahuan ya lagi nonton blue film?"


Aku langsung duduk di samping Ayu dan mengambil chiki di tangannya.


"Ini film Fifty Shades of Gray. Masa gak tau sih? Ini lebih ke romantis daripada blue film. Ya agak semi sih filmnya. Tapi bagus kok." Ayu mengambil lagi chiki yang sedang kumakan.


"Nanti kalau kamu abis nonton itu terus kepengen gimana?"


"Pengen apa? Pengen punya laki kayak gitu yang romantis abis maksudnya?" tanya Ayu pura-pura tidak tahu.


"Ya bukan. Maksudnya pengen yang kayak di film berakhir di kasur gitu, gimana?"


"Ih kamu aja yang mesum, aku mah biasa aja. Gak kayak pemikiran kamu yang ngeres." Ayu masih santai memakan chikinya sambil menonton TV.


"Yu, emang aku gak romantis kayak gitu ya?"


"Gak tau atau pura-pura gak tau?" tanya balik Ayu.


"Ya gak tau. Setau aku tuh aku tipikal cowok yang romantis deh." kataku pede.


"Masyaaaa??? Bodo."


"Ngomong kayak gitu lagi aku cium nih!" ancamku.


"Au ah. Udah sana mainan furniture lagi. Gangguin aku lagi mandangin ketampanannya Jamie Dornan aja deh."


"Keganggu soalny aku lebih tampan ya dari Dia?" ledekku lagi.


"Au ah."


Melihat Ayu yang bersikap cuek dan asyik dengan tontonannya sendiri aku pun mencari perhatian dengan tiduran di pangkuan Ayu.


"Ih ngapain sih?" protesnya.

__ADS_1


"Lagi sedih nih. Hibur dong." kataku bermanja ria.


"Sedih kenapa? Diomelin sama atasan lagi?" Aku menarik tangan Ayu agar mengusap-usap rambutku. Awalnya Ayu malas tapi akhirnya pasrah dan mengusap lembut kepalaku. Ah nyamannya di posisi seperti ini.


"Furniturenya gak laku." kataku pesimis.


"Kan udah laku 1. Itu udah lumayan untuk awalnya." Ayu benar-benar menghibur aku ternyata.


"Ya itukan 2 bulan lalu lakunya. Sekarang gak ada yang laku lagi."


Ayu menghela nafas mungkin menambah stok sabarnya dalam menghadapiku.


"Namanya memulai usaha tuh gak langsung instan. Sabar aja. Rajin saja promosi siapa tahu ada yang pesan lagi." kata Ayu menguatkanku.


"Kadang aku berpikir apa yang Papa katakan padaku benar adanya Yu. Sejak awal Papa bilang kalau rancangan furniture aku jelek. Lebih bagus menjalankan perusahaannya saja. Aku sudah ketergantungan sama Papa. Apa yang bisa aku lakukan tanpa bantuan Papa?" inilah kelemahan terbesarku dan Ayu tahu benar itu.


"Kalau kamu saja tidak percaya diri dengan hasil karya kamu bagaimana orang lain akan percaya?" Ayu mengusap lagi rambutku. Kali ini sambil menyuapiku chiki juga. Tuh kan, Ayu tuh sebenarnya perhatian sama aku hanya gengsi saja.


"Kamu harus sering support aku kayak gini ya, Yu."


"Iya kalau aku masih ada di sisi kamu." jawab Ayu dengan santainya. Tapi aku tahu ada kegetiran dalam nada suaranya.


"Kan kamu akan segera menikahi Sheila. Sudah 3 bulan Sheila pergi dan 3 bulan lagi Ia akan kembali dan kalian akan segera menikah deh."


"Pokoknya aku gak mau kamu kemana-mana, Yu. Kamu harus tetap di sisi aku. Sampai kapanpun aku gak akan menceraikan kamu." aku memeluk Ayu seakan takut kehilangannya. Ayu membiarkan saja aku memeluknya.


"Kamu gak boleh egois. Kalau kamu memilih salah satu diantara kami. Kalau kamu memilih dua-duanya maka kamu akan menyakiti kami berdua."


"Please, Yu. Jangan suruh aku memilih. Aku gak bisa. Kamu istri aku. Sampai kapanpun kamu tetap istri aku." kataku keukeuh.


Aku kembali menghela nafas berat. "Sudahlah, Dio. Kita sudah membahas masalah ini sejak 3 bulan lalu dan kita masih belum mencapai kesepakatan. Pernikahan kita belum terdaftar dan masih nikah siri. Cukup dengan kamu mentalak aku maka berakhir sudah pernikahan kita. Lakukanlah."


"Gak. Aku gak akan melakukannya. Aku gak mau. Aku kan janji akan bertanggung jawab sama kamu, Yu." Aku masih memeluk Ayu dengan erat tak mau kulepaskan.


"Kita lihat saja nanti keputusan kamu setelah Sheila pulang. Aku yakin kamu akan tetap menikahi Sheila."


Kali ini aku terdiam karena perkataan Ayu ada benarnya. Ya, aku memang pecundang. Aku tidak bisa memilih salah satu diantara mereka.


Ayu melepaskan pelukanku. "Udah ah gerah. Sana bikin furniture lagi, jangan gangguin aku nonton." usir Ayu seakan ingin mengakhiri pembahasan kami yang tak kunjung mendapat jalan keluar.

__ADS_1


"Yu, aku mau dong dicium kayak di film itu. Yang hot gitu." aku lalu memajukan bibirku hendak menyosor Ayu namun Ayu malah menyumpal mulutku dengan chiki banyak-banyak.


"Udah makan aja yang banyak ya, jangan ngeres tuh otaknya."


"Huh pelit. Yaudah kalau cium gak boleh berarti ngelakuin yang kayak di film itu boleh kan?" Aku masih usaha terus. "Udah lama nih Yu adik kecilku tidak silaturahmi ke kamu."


"Iiihhh Dio, kamu mupeng banget sih. Udah sana ke belakang." kata Ayu sambil mendorong tubuhku agar menjauhinya. Aku tetap bertahan dengan posisiku. Jadilah kami saling dorong-dorongan sampai akhirnya tenaga Ayu kalah jauh dibandingku dan Ia terjungkal ke belakang dengan posisi aku diatasnya.


"Mau ngapain liat-liat? Sana ke bela-" cup. Aku cium bibir Ayu cepat sebelum Ia melanjutkan perkataannya.


"Iih-" cup. Aku cium lagi bibirnya.


"Ngomong lagi aku lakuin yang lain nih!" ancamku.


"Aku gak ta-" Aku langsung mencium Ayu dengan penuh nafsu. Sudah lama sekali rasanya aku tidak menikmati bibir manis miliknya.


Aku tahu selama ini aku menahan nafsuku. Apa yang aku lakukan sekarang justru membangkitkan sesuatu yang selama ini kutahan. Benar saja, sekali aku mulai aku tidak mau berhenti.


Aku terus menciumi Ayu seakan aku tak akan menciumnya lagi esok hari. Ayu yang awalnya diam saja akhirnya membalas ciumanku juga. Bibir kami saling berpagut.


Merasa mendapat sambutan dari Ayu aku pun seakan diijinkan melakukan hubungan yang sudah 2x kulakukan sebelumnya. Kali ini aku tidak bisa menahannya.


Aku meraba setiap tubuhnya. Ciumanku pun turun ke lehernya dan kutinggalkan sedikit jejak disana. Jejak kepemilikan yang hanya aku yang boleh meninggalkannya di sana.


Kubelai lembut kulitnya dan mulai meraba dadanya. Ayu menyukainya dan terdengar suaranya menikmati setiap sentuhanku. Aku kembali mencium bibirnya. Ayu kembali dibuai oleh ciumanku dan tak sadar kalau Aku sudah melucuti pakaiannya.


Kulepaskan ciumanku lalu beralih meninggalkan banyak jejak di tubuhnya lagi. Biarlah mulai besok Ayu akan memakai scrafnya lagi kalau keluar rumah.


Aku pun kembali melakukan hubungan suami istri dengannya. Hal yang selama ini sudah kutahan akhirnya aku lepaskan. Kulihat Ayu juga menikmati hal ini. Sampai akhirnya Aku berbaring lemas di sampingnya.


Aku tersenyum menatapnya. Kucium pipinya dan keningnya. Lalu kubelai lembut wajahnya.


"Gimana Yu, enakkan praktek kan daripada nonton?" tak lupa senyum jahil menghiasi wajahku.


"Ih rese." Aku pun mendapat beberapa cubitan di perutku.


Aku tahu bagaimana menghentikan cubitan Ayu. Aku mencium bibirnya kembali dan akhirnya kami melakukannya lagi untuk kedua kalinya. Ah menang banyak aku.


"Makasih ya Yu."

__ADS_1


__ADS_2