Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 80


__ADS_3

POV Author


Dio masih asyik menikmati suapan demi suapan makanan dari tangan Ayu. Rasa makanan terasa lebih enak lagi kalau disuapin Ayu.


"Yu, pakai udang saus padang sekarang." reques Dio seenaknya memilih menu untuk disuapi.


"Ih makan aja sendiri! Bewel deh." gerutu Ayu mulai sebal dengan ulah Dio.


"Gak boleh gitu kalau nyuapin suami. Harus ikhlas. Mau rejekinya tambah banyak gak?" Dio memakan kembali suapan berisi udang saus padang.


Ayu tertegun dengan perkataan Dio.


Suami? Apa kami masih berstatus suami istri sampai saat ini? Aku kan sudah pergi meninggalkan Dio 3 tahun silam. Apa Ia masih menganggapku istrinya? Lalu apakah Dio juga sudah menikah dengan Sheila juga seperti permintaan Papa Putra dulu?- Ayu.


Begitu banyak pertanyaan dalam pikiran Ayu membuatnya terus menjulurkan tangannya ke arah Dio walaupun sudah tidak ada nasi lagi.


"Melamun aja Neng. Mikirin apa sih?" perkataan Dio membuyarkan lamunan Ayu.


"Oh gak kok." Ayu berusaha menyembunyikan segala pertanyaan yang mengusiknya. Ia kembali menyuapi Dio.


"Pasti mikirin perkataan aku tadi kan? Memang benar kan? Kita kan memang belum bercerai. Jadi kita masih suami istri." jawab Dio santai sambil memakan suapan nasi dari tangan Ayu.


"Aku gak mikirin itu kok."


Dio kembali tersenyum. "Yu... Yu... Ucapan sama mata kamu gak singkron. Kamu bilang gak mikirin tapi mata kamu keliatan banget kalau lagi mikirin. Kamu tuh bukan pembohong ulung Yu."


Ayu memanyunkan bibirnya. "Iya deh, aku memang bukan pembohong ulung kayak kamu."


"Ih kapan aku pernah bohongin kamu? Aku mah jujur. Cuma bilang cinta aja yang belum ke kamu. Pakai kepiting sekarang Yu." Dio seenaknya saja request ganti menu.


"Tau ah makan aja sendiri. Dasar Don Juan brengsek." Ayu meletakkan piring makan Dio dan meminum es teh manisnya. Hatinya kesal entah karena apa.


"Mau lanjut nyuapin atau aku cium lagi?" ancam Dio.


Ayu mendengus kesal. "Mau makan sendiri atau aku sama Kevin pulang?" gertak Ayu tak mau kalah.

__ADS_1


"Ha...ha...ha..." Dio tertawa terbahak-bahak. "Kamu tambah cantik deh kalau ngambek begitu. Makin cinta deh aku sama kamu."


Wajah Ayu kembali memerah. Seenak dan semudah itu Dio bilang cinta. Padahal dulu aja selalu nama Sheila yang Ia bilang paling Ia cinta.


"Aku beneran pulang nih!" ancam Ayu lagi.


"Yaudah ayo. Aku juga ikut." kata Dio tak mau kalah.


"Ih mau ngapain coba ikut-ikut? Emangnya diajak?" Ayu memasang wajah juteknya.


"Ya ikutlah. Seorang suami mah harus selalu bersama istri dan anaknya kemanapun mereka pergi."


"Dasar nyebelin!" kata Ayu setelah tak lagi punya kata-kata untuk melawan Dio.


Kembali suasana hening. Secepat itu dari romantis-romantisan berubah jadi perang dingin. Namun Dio gak mau pertemuan pertama mereka setelah 3 tahun terpisah berakhir dengan rasa sakit hati diantara mereka. Karena rasa sakit hati itu biasanya datang dari orang yang paling dekat dengan kita, bukan dari orang lain.


Dio melirik Kevin yang masih tertidur pulas. Dio pun bangun dari duduknya dan duduk di samping Ayu. Di sandarkannya kepalanya di bahu Ayu.


"Aku kangen kalian. Gak ada satu hari pun dalam 3 tahun ini aku berhenti memikirkan kalian. Bagaimana keadaan kalian? Kalian sudah makan atau belum? Kalian tinggal dimana? Ada yang jahatin kalian atau enggak. Siapa yang kalian mintai tolong kalau ada masalah? Dan masih banyak kekhawatiran tentang kalian setiap harinya. Semakin bertambah banyak pertanyaan. Mau nyari kalian gak tau nyari dimana? Mau bayar detektif, uang dari mana?"


Dio menyeka air mata yang berhasil lolos dari sudut matanya. "Aku baru mampu menyewakan rumah untuk Budi ngontrak di depan rumah orang tua kamu. Berharap suatu hari kamu pulang dan aku bisa ketemu kamu lagi. Tapi orang tua kamu selalu di Jakarta, kalau begitu kamu dimana? Aku coba bujuk Papa Mama kamu. Hampir setiap minggu aku selalu datang tapi mereka menutup rapat mulut mereka tentang kamu."


"Ya enggaklah Yu. Mana mungkin aku nikahin Sheila. 3 tahun lalu aja aku pilih kamu. Aku mah teguh sama pendirianku. Emang kamu yang labil, pisah dari aku langsung lari ke Guntur." sindir Dio. Ia memang sengaja mau memancing Ayu. Ia mau tahu bagaimana hubungan Ayu dan Guntur selama ini.


Ayu menggoyangkan bahunya memberi isyarat agar Dio mengangkat kepalanya. "Hubungan aku dan Guntur tuh hot abis. Penuh romansa dan bunga-bunga kalau cerita sinetron mah."


"Kalau bohong tuh jangan ketinggian Yu. Udah tau kamu gak bisa bohong. Mau bikin aku cemburu? Coba aja. Kalau kamu manas-manasin aku nanti aku cium bibir kamu disini biar diliatin orang-orang terus kita viral deh. Mau?"


Ayu bergidik membayangkan ancaman Dio. Ancaman tersebut lebih menyeramkan dari pada ditodong pistol atau disandera dengan pisau di leher.


"Yaudah makan lagi sana. Tapi makan sendiri. Aku juga mau makan." Ayu kembali mengalihkan topik pembicaraan. Ingat satu hal, Dio tuh gak boleh ditantangin bisa beneran dilakuin ancamannya nanti.


"Takut ya? Yaudah nanti aja deh ciumnya di rumah." Dio dengan santainya kembali duduk di kursinya semula.


"Rumah? Rumah siapa?" tanya Ayu bingung.

__ADS_1


Dio mencuci tangannya di air kobokan yang tersedia di meja. Dia melanjutkan memakan kepiting dengan santai. Membiarkan Ayu menunggu jawaban dari pertanyaan yang Ia ajukan.


"Ya rumah kamu lah. Rumah siapa lagi?"


"Kamu mau ke rumah aku? Ngapain?"


"Ya mau ngineplah. Mau tidur dimana coba aku malam ini? Anak buahku udah pulang semua. Aku kan gak tau jalan pulang ke rumah Pak Ari." jawab Dio santai.


"Emangnya aku ijinin?" Ayu ikut melanjutkan makannya. Berdebat dengan Dio membutuhkan banyak energi.


Dio sedang memikirkan serangan balasan untuk perkataan Ayu ketika dewa penolongnya datang. Kevin mengerjapkan matanya. Ia langsung duduk dan melihat keadaan sekitar.


"Uncle Ganteng." panggil Kevin pada Dio.


Dio menyudahi makannya dan mencuci tangannya. "Daddy. Kevin kan udah janji mau manggilnya Daddy."


"Oh iya. Kev lupa. Daddy kita dimana?"


"Kok gak nanya sama Mommy kita lagi dimana? Malah nanyanya sama Daddy?" Ayu mulai cemburu karena Kevin mengalihkan perhatiannya pada Dio.


"Sama anak aja cemburu, Yu. Tenang aja aku cuma milik kamu seorang kok. Gak usah cemburu gitu ah." Dio menggendong Kevin dalam pangkuannya. "Di restoran Sayang. Kevin mau makan cumi goreng tepung gak? Enak loh. Daddy suapin ya."


Ayu hanya memperhatikan saja kedekatan Dio dan Kevin. Ternyata memang benar ya, hubungan darah lebih kentak dari hubungan lainnya. Buktinya mereka berdua belum lama bertemu langsung sudah dekat. Seperti ada ikatan batin diantara keduanya.


Dio menyuapi Kevin dengan amat telaten. Ayu tak pernah tahu kalau Dio menyukai anak kecil. Kevin pun makan dengan lahap, padahal kalau Ayu yang menyuapi setelah dikeluarkan nada 7 oktaf baru deh Kevin mau buka mulut. Belum lagi makannya diemuut. Bikin kesal emak-emak aja.


"Kev doyan sayur gak?" tanya Dio sambil menyuapi Kevin makan.


"Doyan Daddy."


"Good. Oh iya, Daddy nanti malam nginep di rumah Kevin boleh kan?" Dio membujuk Kevin untuk memuluskan rencana yang tadi ditentang Ayu.


"Boyeh, Daddy. Daddy bobo cama Kevin?"


"Iya dong. Bobo sama Kevin. Nanti gantian bobo sama Mommy juga." Dio mengerling penuh kode pada Ayu. Tinggallah Ayu yang mencibir kesal dengan propaganda yang Dio lakukan.

__ADS_1


"Aciik. Bobo cama Daddy... Bobo cama Daddy... yey..." cibiran kesal Ayu berganti senyuman melihat kebahagiaan Kevin. Ia tak mau merusak kebahagiaan Kevin hanya demi keegoisannya semata. Sudah tugasnya lah sebagai orang tua memberikan kebahagiaan untuk anaknya, walau dalam bentuk sekecil apapun. Biarlah Kevin merasakan kasih sayang Daddynya yang selama ini tak pernah Ia rasakan. Kevin gak pernah bertanya siapa Daddynya, namun dari sorot mata Kevin, Ayu bisa tahu anak itu amat merindukan memiliki ayah seperti anak lain.


⚘⚘⚘⚘⚘Cuma mau bilang... Vote yang banyak ya... 🥰🥰🥰🥰⚘⚘⚘⚘⚘


__ADS_2