
"Pa, please.... Kenapa malah membuat Dio mengambil keputusan sulit?" Protes Dio. Aku masih saja terpaku. Pikiranku kosong. Kenapa justru aku yang harus menanggung kerugiannya? Apakah salah menjalankan bisnis baru?
Aku mau protes tapi aku takut. Aku tak mau keadaan makin runyam. Aku melirik ke arah Dio. Tampak wajahnya kesal bercampur marah yang tak bisa Ia tutupi lagi.
"Kamu jangan pura-pura lupa, i8Ia sangat sibuk dengan karirnya sebagai model internasional makanya Ia tidak menghubungi kamu. Ingat io, sebulan lagi Sheila pulang. Kamu tidak akan bisa kabur lagi." Papa berbicara sambil menunjuk wajah Dio.
Dio mengacak-acak rambutnya. "Masa Papa menginginkan Dio melakukan poligami?"
"Lalu? Kamu mau pilih salah satu? Papa sih terserah kamu saja. Kamu mau pilih Ayu atau Sheila? Kalau Papa jadi kamu sih akan Papa pilih keduanya." Ucapan Papa langsung mendapat tatapan tajam Mama Lia. Sorot mata Mama Lia seakan memiliki kekuatan laser yang membuat Papa takut. "Tenang, Ma. Papa akan setia kok sama Mama."
"Papa kasih kamu waktu satu minggu untuk memutuskan. Kamu memiliki 3 pilihan. Pertama, kalau kamu memilih salah satu dan kamu memilih Ayu, maka perusahaan akan Papa lepas ke Om Lim. Kedua, kalau kamu pilih Sheila dan melepas Ayu, maka perusahaan akan langsung Papa serahkan sama kamu. Kamu akan langsung menjadi pemilik saham terbesar dan pemimpin perusahaan. Dan pilihan ketiga, kamu pilih dua-duanya dan kamu dapat perusahaan serta kamu bebas menjalankan bisnis kamu. Pikirkan dengan bijak." Papa menoleh ke Mama. "Ayo kita pulang, Ma. Biarkan anak kamu berpikir sebelum mengambil keputusan penting dalam hidupnya."
Papa dan Mama lalu meninggalkan rumah. Meninggalkan aku dan Dio yang masih tak bergeming. Tak ada diantara keputusan yang Papa tawarkan yang menguntungkanku. Hanya pilihan ketiga dan itu pun aku harus siap dimadu.
Aku tahu kalau aku memang tidak akan pernah sepadan dengan keluarga Dio. Perbedaan kasta kami lumayan jauh. Hatiku teramat sakit. Kenapa Aku dan Dio tidak bisa hidup tenang sebentar saja?
Entah mengapa biasanya air mata langsung mengalir deras, namun kali ini kering kerontang. Mungkin hatiku sudah siap mendengar ultimatum dari Papa. 5 bulan sudah aku selalu ditakuti dengan ancaman seperti ini. Saat ancaman ini keluar dari mulut Papa, aku biasa saja. Sepertinya aku sudah siap kehilangan Dio kapanpun juga.
"Dio....." Dio seperti tersadar dari kerumitan pikirannya sendiri.
"Yu, aku......" Dio tak melanjutkan lagi perkataannya. Ia berat dengan keputusan yang akan Ia ambil.
__ADS_1
"Gak apa-apa, io. Kamu pikirkan saja baik-baik keputusan yang akan kamu ambil. Apapun itu, aku siap. Sejak kamu bilang tentang syarat yang dulu Papa ajukan saat kita menikah dulu, maka sejak itu pula aku siap kehilangan kamu kapanpun. Aku ikhlas io apapun keputusan kamu."
Dio langsung memelukku erat. "Enggak, Yu. Semua keputusan yang akan aku ambil akan menyakitkan banyak orang termasuk kamu. Aku gak mau nyakitin kamu, Yu. Aku sayang sama kamu. Kita udah ngejalanin semuanya dari nol bersama. Kini saat kita mulai menaiki tangga kesuksesan badai itu datang. Maafkan aku Yu...." Dio menangis sesegukan sambil memelukku. Aku menepuk pelan punggungnya, memberikan sedikit kekuatan agar Ia kuat menghadapi masalah ini.
Dio melepaskan pelukanku. Ia menggenggam tanganku erat. Aku melihat sorot matanya yang penuh pertimbangan.
"Kalau aku pilih pilihan pertama yakni memilih kamu, maka karyawan perusahaan Papa bagaimana nasibnya kelak? Om Lim tidak akan bisa memimpin perusahaan Papa. Ia terlalu serakah. Hanya Ia penerus perusahaan selanjutnya selain aku, karena Om Lim adalah saudara kandung Papa satu-satunya."
Dio menghembuskan nafas berat. Disekanya air mata yang menetes di pipinya.
"Keluarga Om Lim sudah berantakan karena ulahnya. Perusahaannya bangkrut karena harus membayar utang judinya di Macau. Istrinya selingkuh dan membawa pergi anak mereka. Sekarang hidup Om Lim hanya bergantung pada uang bulanan yang Papa transfer setiap bulan. Kasihan karyawan Papa jika perusahaan sampai diambil alih oleh Om Lim."
Aku mengusap air mata Dio yang kembali menetes di pipinya. Hatinya begitu lembut. Ia bahkan memikirkan orang lain saat ini.
"Maaf, Yu. Aku gak bisa ambil keputusan pertama. Kamu penting, karyawan perusahaan pun penting. Maaf....." Dio tertunduk penuh penyesalan.
Aku mengusap lembut tangannya. "Gak apa-apa, io. Aku tau posisi kamu. Aku ngerti kok."
"Jangan, Yu. Jangan ngertiin aku. Aku gak bisa mengambil sikap. Aku plin-plan. Hanya pilihan pertama yang tidak akan menyakiti kamu."
"Tapi akan membahayakan perusahaan dan ribuan karyawan. Aku juga gak mau egois. Hanya demi kebahagiaanku bagaimana dengan nasib keluarga mereka?"
__ADS_1
"Tapi pilihan kedua juga gak mungkin, Yu. Kita udah menikah, kalau aku pilih Sheila kasihan kamu!" Dio membuang wajahnya, Ia tak kuat menatapku lagi.
Aku menunduk menatapi jari jemari kami yang saling bertautan. Kami sudah terbiasa berpelukan bersama saat menghadapi setiap masalah.
"Maaf, Yu...... Tapi hanya pilihan ketiga yang bisa kupertimbangkan. Aku.... aku gak bisa kehilangan kamu, Yu. Gak bisa."
Tuhan... berat sekali cobaan yang harus kami jalani... Aku bisa apa? Semua keputusan di tangan Dio. Apa aku pergi saja dan membiarkan Dio bahagia dengan Sheila? Dengan kepergianku otomatis pilihan kedua yang akan Dio pilih. Itu yang terbaik buatnya.
"Aku yang akan mengalah, io. Aku akan pergi. Kembalilah kamu dengan Sheila. Aku ikhlas." Kali ini air mataku akhirnya menetes. Cepat-cepat kuhapus sebelum makin deras mengalir.
"Jangan, Yu..... Jangan tinggalin aku.... Kita udah ngelewatin semuanya dari nol bersama. Saat aku mulai sukses, aku mau ada kamu di sisi aku. Please.... jangan tinggalin aku, Yu." Dio bahkan berlutut di hadapanku. Kami saling berhadap-hadapan sekarang, namun aku tak berani menatap matanya.
Dio memegang wajahku dengan kedua tangannya. "Lihat aku, Yu. Kamu percaya kan kita bisa melewati semua ini bersama? Bersama Yu. Bukan kamu yang menanggungnya sendiri dengan pergi ninggalin aku. Bukan kamu yang harus bertanggung jawab Yu. Aku... aku yang akan bertanggung jawab untuk semuanya. Maaf, Yu.... tapi bisakah kamu mengijinkanku melakukan poligami?"
Aku mengangkat wajahku tak percaya. Dio beneran akan mengambil keputusan ketiga?
"Kamu mau ambil keputusan ketiga, io? Kamu mau aku berbagi kamu dengan Sheila? Gak, io. Enggak. Aku gak akan sanggup. Lebih baik aku saja yang pergi. Aku gak bisa, io....."
"Yu, aku janji akan berusaha adil untuk kalian berdua. Aku janji Yu gak akan melupakan kamu. Aku gak bisa kehilangan kamu, Yu. Kamu yang terus ada di sisiku saat aku down. Aku butuh kamu, Yu..... "
"Tapi aku gak bisa, io. Gak bisa....." Air mata sudah tak terbendung lagi. Tumpah dengan isak tangis piluku. Tak pernah terbayangkan bahwa aku akan memiliki madu dalam pernikahanku. Apa kata Mama dan Papa nanti?
__ADS_1