Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 12


__ADS_3

POV Ayu


Pekerjaan kantorku semakin menumpuk saja. Rasanya tubuhku letih sekali. Mungkin terlalu lelah karena kejadian semalam dan juga kurang tidur makanya aku kerjanya slow.


"Tumben Yu kerja ngantuk banget. Kayak pengantin baru aja." Aku tersentak kaget dengan perkataan Mbak Dewi, bagaimana Dia bisa tahu? Aku langsung memasang senyum menanggapi ucapannya sebagai lelucon.


"Gak bisa tidur Mbak. Kemarin minum kopi di cafe eh malamnya mataku kering banget, jadi begadang deh." Alasanku masuk akal kan?


"Yaudah sana cuci muka biar seger lagi. Jangan sampai lembur karena banyak kerjaan." Saran Mbak Dewi.


"Iya Mbak." Aku mengikuti perkataan Mbak Dewi dan langsung ke toilet untuk cuci muka.


Toilet di jam kerja memang sepi. Mereka sibuk dengan kerjaannya sendiri sampai untuk pipis pun ditahan. Padahal itu berbahaya dan bisa menyebabkan infeksi saluran kemih.


Aku mencuci mukaku. Air dingin membuatku lebih segar. Kuambil tissue dan mengeringkan air di wajahku. Untunglah make-up ku waterproof jadi tak gampang pudar.


Kupandangi wajahku yang terlihat lelah. Kantung mata yang menghitam masih terlihat padahal sudah kututupi dengan concealer. Hari ini aku memakai kemeja putih dan scraf motif bunga. Kubuka scraf untuk merapikan posisinya. Terlihat beberapa bekas kissmark tertinggal disana.


Tak hanya di leher, di beberapa bagian tubuhku pun ada bekas perbuatan Dio semalam. Kupasang kembali scraf tersebut agar tidak ada yang melihat kissmark dan menggunjingkannya.


Aku teringat kejadian semalam. Bagaimana pada akhirnya aku melakukan lagi hubungan suami istri dengan Dio untuk kedua kalinya. Bedanya adalah kali ini kami melakukannya dengan kesadaran penuh tidak mabuk seperti sebelumnya.


Aku patah hati semenjak Dewa meninggalkanku. Karena itulah aku tidak menolak saat Dio memancingku. Huft... kubuang nafas panjang... Terlihat murahan sekali aku ini.


Apakah Dio akan melakukannya lagi nanti? Bagaimana kalau Ia akan menagih haknya padaku terus menerus? Bagaimana kalau akhirnya aku hamil anaknya?


Aku menggelengkan kepalaku mengusir segala bayangan buruk yang mungkin akan terjadi. Tenang. Aku harus berpikir jernih.


Aku tidak mau memiliki anak dengan Dio karena tidak ada cinta diantara kami. Aku yakin Dio berpikir hal yang sama. Dia-kan laki-laki, pasti memikirkan yang enaknya saja. Toh semalam saja Dia bilang hubungan kami sebatas merried with benefit. Huh.


Kulihat jam di tanganku. Jam 12 kurang 5 menit. Kuputuskan langsung keluar istirahat daripada balik ke ruangan. Aku tidak mau makan bareng yang lain, takut mereka banyak bertanya padaku.


Kulangkahkan kakiku menuju apotek yang ada di mall samping kantor. Langkahku dengan pasti mengambil 2 paket pil KB untuk stok selama 2 bulan ke depan. Aku langsung buru-buru membayar sebelum ada teman kantorku yang melihatku membeli pil KB.


Setelah membayar aku kembali lagi ke ruanganku dan makan siang sendirian saja dengan bekal yang kubawa.


********


POV Dio


"Yu... kamu liat chargeran Hp aku ga?" teriakku karena Ayu sedang mencuci baju di kamar mandi dan pintunya terkunci.

__ADS_1


"Ada di dalam nakas samping tempat tidur."


Aku pun langsung menuju tempat yang Ayu tunjukkan. Kubuka laci pertama di nakas. Benar ternyata Ayu yang memindahkan karena chargeranku ada disana.


Aku mengambil chargeran tersebut namun mataku menatap pil KB yang juga ada disana. Pil tersebut sudah ada yang kosong, artinya Ayu sudah meminumnya.


Berarti benar, Ayu tidak menginginkan memiliki anak dariku. Entah mengapa ada rasa kecewa yang melintas di hatiku. Apakah aku mengharapkan Ayu akan mengandung anakku?


Kumasukkan lagi pil KB tersebut di dalam nakas. Aku lalu mencharge Hp-ku yang lowbath. Tak lama Ayu keluar dari kamar mandi dengan bajunya yang basah sehabis membilas cucian.


"Ketemu gak?" tanyanya.


"Ketemu." jawabku datar. Aku merasa kecewa jadi aku lebih baik tidak banyak bicara.


"Dio, bantuin aku nyapu dong. Aku capek nih dari pulang kerja belum istirahat. Rumah juga berantakan banget." pinta Ayu padaku.


Aku melihat wajahnya yang kelelahan dan ada kantung mata menghitam di wajahnya. "Iya. Nanti aku pel sekalian." kataku kasihan dengannya.


"Nah gitu dong. Makasih ya."


"Hmm."


Setelah rumah rapi aku lalu mandi dan langsung tidur. Aku berbalik badan dan memunggungi Ayu. Lebih baik aku tidak banyak melakukan kontak dengannya daripada aku terbakar nafsu lagi. Toh Ayu juga tidak mau punya anak denganku.


******


POV Ayu


Tanpa terasa sudah 2 minggu aku dan Dio berumah tangga. Aku pikir Dio akan meminta haknya setiap hari, ternyata Ia cuek saja bahkan tidurnya pun membelakangiku.


Berumah tangga dengannya juga tidak seburuk yang aku bayangkan. Ia membantu pekerjaan rumah dan setia antar jemputku ke kantor setiap hari. Aku jarang mengobrol dengannya baik di perjalanan maupun di rumah. Dio lebih pendiam sekarang dan apa perasaanku ya kok sepertinya Dio menghindariku entah kenapa.


"Dio, besok kita ke pasar lagi?" tanyaku. Kebetulan besok weekend dan hari ini habis gajian. Dio sudah memberitahuku berapa gajinya. Lebih kecil ternyata dari gajiku. Namun yang membuat aku kagum adalah Dio memberikan semua gajinya padaku dan hanya menyisakan uang untuk ongkos dan jajan dirinya, itu pun hanya satu setengah juta saja sebulan, yang artinya 50 ribu perhari. Dapat apa uang segitu jaman sekarang?


"Terserah kamu. Mau belanja bulanan gak? Sabun cuci dan karbol untuk ngepel sudah habis juga." Dio bicara tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. Ia bilang kalau Ia mengerjakan pekerjaannya di rumah agar bisa menjemputku on time. Jadilah Ia setiap pulang kerja sibuk dengan laptopnya lagi.


"Ke Supermarket?" tanyaku senang.


"Iyalah."


"Wah boleh tentu saja." akhirnya aku tidak diajak ke pasar tradisional lagi.

__ADS_1


"Yaudah."


Yaudah? Gak ada kata-kata tambahan lagi? Cih.. pendek sekali. Dio kenapa sih? Kayak lagi marah sama aku. Huft...


Daripada bengong gak ada kerjaan lebih baik aku setrika baju deh. Lumayan dicicil. Kan besok aku mau ke supermarket. Ah receh sekali, ke supermarket saja aku sudah senang sekali.


*****


"Kita gak naik taksi perginya?" tanyaku pada Dio yang sedang mengulurkan tangannya memberikan helm padaku.


"Naik taksi melulu. Mahal. Udah naik motor aja."


Aku pun memanyunkan bibirku. Cemberut. Udah dandan kece gini malah naik motor. Gimana bawa belanjaannya coba?


"Jadi gak? Kalau gak jadi aku mau kerja lagi nih!" ancam Dio padaku.


"Iya...jadi..." dengan muka ditekuk karena kesal aku mengambil helm dan langsung naik ke motor.


Supermarket kalau habis gajian lebih ramai daripada hari biasa. Dio mengambil trolly dan mendorongnya. Aku berjalan di sampingnya dan mengambil barang kebutuhan kami lalu memasukkan ke dalam trolly belanjaan. Lagi-lagi Dio lebih banyak diam. Bahkan sampai sudah selesai belanja dan sedang membawa belanjaan ke parkiran motor.


Tiba-tiba aku melihat seseoran yang sangat kukenal. Seseorang yang seharusnya menjadi Mama Mertuaku 6 bulan lagi. Aku baru mau sembunyi namun beliau sudah terlanjur melihatku.


Mama Dewa menghampiriku. Ia menatap Dio dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Mama." Sapaku. Aku mengulurkan tangan hendak menyalaminya namun beliau malah menepis tanganku.


"Jangan panggil saya dengan sebutan Mama lagi! Kamu kan udah nikah dengan laki-laki lain." kata Mama dengan ketusnya.


Aku hanya menunduk dan merasa bersalah. Aku tahu kali ini aku memang yang salah. Menikah dengan laki-laki lain berarti aku yang meninggalkan Dewa. Wajar kalau Mamanya sangat marah padaku mengingat betapa cintanya Dewa terhadapku.


"Jadi ini suami kamu? Karena laki-laki kere kayak gini kamu tega ninggalin anak saya Dewa? Saya pikir kamu dapet yang lebih tajir, ternyata masih mending anak saya Dewa." Aku diam saja menerima kemarahan Mamanya Dewa. Sementara Dio hanya melipat tangannya di dada dan mendengarkan percakapan kami. Barang belanjaan sudah Ia taruh di gantungan motor.


"Setidaknya kalau sama Dewa kamu tinggal duduk manis di dalam mobil Fortunernya. Bukannya kepanasan diatas motor kayak sekarang. Pasti kamu menyesal ya ninggalin Dewa demi laki-laki ini?" suara Mama Dewa menyiratkan kemarahan yang besar padaku.


"Tapi sayangnya Dewa sudah lupain kamu tuh. Minggu besok Dia akan menikah. Tapi Tante gak mau ngundang kamu ya. Takut kamu nanti nangis termehek-mehek lagi. Udah ya, panas nih di luar. Kamu kok kuat ya kepanasan naik motor? Tante sih ogah." Mama Dewa lalu meninggalkanku sambil tertawa puas.


Aku menunduk saja. Air mataku tak kuasa kutahan lagi. Dio memakaikan helm padaku. "Nangisnya di motor aja. Malu banyak yang liatin."


Sambil memeluk Dio aku menangis di punggungnya. Dio tetap saja fokus mengemudi dan tak mengomeliku karena membuat jaketnya basah karena air mataku.


Ternyata Dewa akan menikah dan dalam waktu seminggu lagi. Kemanakah kata cintanya yang sejak dulu Ia selalu ucapkan padaku? Baru saja putus denganku sudah langsung menikahi wanita lain.

__ADS_1


__ADS_2