Nikah Muda

Nikah Muda
SATU


__ADS_3

Ayrin Syalwa Kamila atau yang biasa dipanggil Arin, Gadis cantik berperawakan tinggi ini kini tengah menatap dirinya di pantulan cermin. Ia sedang memoleskan make up natural ala dirinya sebelum berangkat sekolah.


Pagi ini Arin datang lebih cepat dari biasanya karena ia belum sempat mengerjakan tugas dan berencana untuk mengerjakannya di sekolah.


Sebenarnya Arin adalah salah satu dari murid yang terkenal malas untuk mengerjakannya tugas. Jika guru-guru menanyakan alasan mengapa ia tak membuat tugas 1001 alasan sudah disediakan oleh Arin. Tapi tidak berlaku untuk satu orang guru, Jika guru lain percaya dan memaafkan Arin, Tapi guru ini tidak akan bisa percaya dengan alasan Arin. Bahkan ia akan menjemur atau menyuruh Arin membersihkan toilet sekolah. Arin Kapok, ia tidak rela jika harus hitam karena dijemur atau bahkan tangannya harus kotor terkena kuman toilet.


"Pagi Ma,"


"Pagi Pa,"


Arin menyapa kedua orangtuanya lalu mencium pipi keduanya.


"Pagi sayang," balas Mama Arin.


"Ma, Arin sarapan di sekolah aja ya. Arin buru-buru."


"Kenapa kok buru-buru sayang? Tumbenan banget," tanya mama Arin.


"Mau ngerjain tugas. Arin lupa kalo ada tugas hehehe."


"Jangan dibiasakan, kamu itu udah SMA. Bikin tugas apa susahnya si sayang. Kalo ga bisa kan bisa belajar sama temen-temen atau sama Mama. Giliran nonton Drakor aja kamu rela begadang," Nasehat Papa Arin.


"Tadi malamkan Arin ga enak badan pa. Arin langsung ketiduran. Lupa deh kalo ada tugas," jawab Arin beralasan.


Arin itu jago berasalan, jago ngeles. Padahal tadi malam ia menonton Drakor kesukaannya sampai bergadang.


"Ya udah Arin berangkat dulu Pa, Ma. Assalamualaikum."


Arin pamit dan tak lupa sebelum berangkat ia mencium punggung tangan kedua orangtuanya.


***


"Pagi gaes," sapa Arin bersemangat.


Ia begitu bersemangat menyapa semuanya tanpa sadar kalau ternyata kelasnya masih kosong. Ia adalah penghuni pertama yang datang. Sekarang jam masih menunjukkan pukul 6 lewat. Arin datang begitu pagi, begitu cepat, dan begitu bersemangat.


Arin jalan menunju bangkunya yang terletak paling belakang -Definisi deretan murid termalas.


Arin mengeluarkan semua bukunya. Hanya mengeluarkan, tidak mengerjakan. Arin akan mengerjakan tepatnya menyalin semua tugas punya Anya -Sahabat Arin-.


"Pagi Arin," sapa seseorang.


Arin yang tengah asik berkutik dengan ponselnya langsung menoleh ke sumber suara.


"Pagi juga Ryan," balasnya sambil tersenyum lebar.


"Tumben dateng pagi-pagi. Takut dimarahin pak Bisma lagi ya?"


"Ya gitu deh. Gue tu ga mau jadi item gara-gara dijemur. Mending ngerjain tugas matematika 100 soal. Daripada dijemur panas-panas."


"Bagus deh kalo lo sadar. buahahahah"


"Dih malah ketawa."


Arin kembali fokus pada ponselnya. Ia sedang asik men-stalk akun bias-nya.


"Arin!" Teriak seseorang dari depan pintu.


Arin mengenal suara itu. Seseorang yang sedari tadi dinanti oleh Arin.


"Ga usah teriak-teriak. Sini cepetan!" Arin melambaikan tangannya mengisyaratkan untuk segera ke arahnya.


Anya berlari dan langsung duduk di samping Arin. Lalu buru-buru mengeluarkan tugas yang lebih dulu diselesaikannya dan menyodorkannya pada Arin.


"Nih."


"Huwa makasih beb. Tambah sayang deh," ucap Arin mencium pipi Anya.


Anya hanya mengelap wajahnya kasar. Mengekspresikan rasa jijiknya.


5 menit lagi


Bell masuk akan berbunyi. Arin sudah selesai lebih dulu menyalin tugasnya.


"Gue berharap pak Bisma ga masuk."


"Jangan gitu dong. Guekan butuh asupan cogan hari ini."


"Noh cogan, tu cogan, itu juga cogan," ucap Arin sambil menunjuk setiap teman laki-laki nya.


"Dih cogan apaan!"


"Kira-kira pak Bisma udah punya pacar belom ya?" Lanjut Anya.


"Mana gue tau. Lagian apaansih suka kok modelan om-om gitu mana galak lagi."

__ADS_1


"Biarin yang penting cogan."


"Se-"


Ucapan Arin terhenti ketika melihat sosok bertubuh tinggi dan berwajah datar masuk ke kelasnya.


'Bukannya ngucap salam atau nyapa. Main nyelonong masuk aja tu orang' batin Arin.


"Tolong ketua kelas kumpulkan semua tugas yang saya beri tempo hari."


Itu Bisma Adirajada Argani. Guru yang terkenal Killer, berwajah datar, bersifat dingin seperti es. Setiap mengajar bukannya mengucap salam atau menyapa para murid ia malah melontarkan kalimat keramatnya terlebih dahulu. Ia juga takan pernah lupa untuk memberi tugas rumah sebanyak mungkin.


Semua siswa akan begitu senang jika Bisma tidak hadir untuk mengajar. Tidak akan ada tugas rumah, dan tidak akan ada Razia untuk hari itu. Tapi yang diharapkan semuanya begitu sulit terkabulan. Bisma guru yang paling rajin datang bahkan dari awal ia mengajar Bisma sama sekali tidak pernah mengambil cuti.


Ryan -Ketua kelas- berkeliling mengumpulkan semua tugas Matematika yang diberikan tempo hari.


"Ada yang tidak mengerjakan?" Bisma melirik semua murid dengan teliti. Mereka hanya diam berusaha untuk pura-pura melakukan sesuatu agar mata mereka tidak bertemu dengan Bisma.


"Baiklah kalo tidak ada," lanjut Bisma.


Bisma menjelaskan materi pelajaran hari ini. Arin memang sangat tidak menyukai pelajaran Matematika baginya itu terlalu membuat otaknya kopong tak berisi akibat berfikir terlalu keras.


Mata Arin menatap Bisma tapi pikirannya berada jauh entah kemana.


"Ayrin."


Arin hanya diam, pikirannya sedang melayang entah kemana, ia tak fokus dan tak tau apa yang sedang terjadi dikelas.


"Ayrin Syalwa Kamila," tegur seseorang dengan tegas.


Anya yang menyadari situasi langsung menyenggol lengan Arin agar sadar.


"Arin lo dipanggil pak bisma," bisik Anya


"KENAPASIH! GANGGU ORANG LAGI MENGHAYAL AJA LU ****!"


Tiba-tiba Arin berdiri dan melontarkan kalimatnya tanpa melihat situasi.


Arin yang sadar dengan situasi langsung buru-buru menutup mulutnya. Ia sangat malu bisa-bisanya ia berteriak di depan seorang guru yang terkenal killer.


"Keluar!" Tegas Bisma yang menunjuk Arin mengisyaratkan keluar.


Arin membungkuk, "Pak maafin saya."


"Keluar! Keliling lapangan 50x!" Tegasnya.


"Membantah? Beralasan? Ditambah 80!"


Arin langsung buru-buru berjalan keluar. Ia tidak mau hukumannya bertambah. Saat berjalan tepat di hadapan Bisma, Arin menatap guru matematikanya itu tajam. Bisma yang tidak peduli hanya berbalik badan menghadap papan tulis.


"Baik kita lanjutkan," ucap Bisma mengambil kembali alih perhatian.


***


"Dua.. belas... huft..!"


Arin terduduk ditengah lapangan  Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menetralkan kembali detak jantungnya.


"38 putaran lagi!" Teriak seseorang dari belakang punggungnya.


Arin menoleh melihat sumber suara itu.


"Cape pak!" ketus Arin.


"Saya tidak peduli. Itu hukuman untuk siswi yang melanggar aturan."


"Loh saya salah apa pak?" tanya Arin tidak tahu diri.


"Melamun di jam pelajaran, mengatakan hal yang tidak pantas kepada guru, tidak dapat menjawab dengan benar pr yang saya berikan, menggunakan warna lipstick yang berlebihan, menggunakan sepatu berwarna putih, menatap sinis ke arah saya, membantah ketika diberi hu--"


"STOP PAK STOP!" potong Arin menatap Bisma tajam.


Arin kemudian berdiri berlari perlahan untuk melanjutkan hukumannya.


Bisma tersenyum puas melihat Arin, "Bagus. Ketika saya kembali. Kamu harus sudah selesai."


***


"Li..maaa," tubuh mungil Arin ambruk di tengah lapangan.


"Arin! Arin!" panggil Cowo yang berlari mendekatinya.


"Lu gapapa?"


Arin melihat Cowo itu dengan tatapan menyipit, "Gapapa."

__ADS_1


"Lu jangan mati dulu rin!" seru Cowo itu menepuk-nepuk pipi Arin.


"Apasih! Gue masih hidup!" ucapnya menepis tangan cowo itu.


"Ryan, gue haus....! A--AIIR A--IR.. AIR."


"IYA! IYA! JANGAN MATI DULU RIN. INI AIR," Ryan memberi minuman botol yang ia beli tadi.


Arin langsung mengambilnya kasar, meminumnya tanpa menyisakan setetes air pun.


"Ryan. Bawa gue ke uks tolong, kaki gue mau patah rasanya," keluh Arin.


Ryan langsung menggendong Arin,


"Lingkari tangan lo di leher gue. Ntar jatoh," peringat Ryan.


Arin langsung melingkari tangannya di leher Ryan. Ryan yang menggendong Arin dengan bridal style  tidak peduli dengan tatapan mata sepanjang koridor sekolah.


"Gantengnya pacarku.."


"AWW.."


"Gantengnya pacarku.."


"AWW.."


"Tak jemu-jemu aku memandangmu.."


Mendengar lantunan lagu yang berasal dari mulut teman-temannya. Ryan berhenti, menatap tajam ke arah Anya, Astra dan kawan-kawan sekelasnya.


"Diraba-raba berdiri, bulu romaku.."


"Diremas-remas tanganku, copot jantungku


Dibisik-bisik kupingku, kena kumismu..."


Nyanyi Anya yang bergoyang dengan santainya di depan kelas bersama teman-temannya.


"TARIK MANG!!" teriak Astra.


"Ga mau pulang maunya digoyang! Ga mau pulang maunya digoyang!" Seru yang lain.


"Dibelai-belai rambutku, Tresno Sliramu


Katanya Tresno Sliramu..." Ledek Anya yang membelai rambut Astra.


"KATANYA DARLING I LOVE YOU!!!" Seru semuanya kompak.


"Bubar lo semua!!!" Kesal Ryan yang menendang mereka satu persatu. Arin yang berada digendongnya hanya terdiam dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus.


"L-lo gapapakan rin? Lo ga demam kan? Muka lo merah," panik Ryan.


"Udah buruan ke uks!!!" seru Arin mengalih perhatian.


***


"Gimana kaki lo udah enakan?" tanya Ryan yang memberikan segelas air hangat ke Arin.


"Udah," angguk Arin.


"Mau makan?" Tawar Ryan.


Arin menggeleng, "Ngga Laper."


"Yakin?" Arin mengangguk yakin menjawabnya.


"Oke."


Hening, ruangan itu mendadak hening. Terlihat ada kecanggungan diantara keduanya.


"An-anu Ryan--"


"Sudah selesai?" potong Bisma yang tiba-tiba masuk.


Arin memutar bola matanya malas. "Udah,"


"Yakin?" tanya Bisma.


"Beneran Pak! Ini lihat! Kaki saya udah merah, rasanya udah mau copot!" geram Arin.


"Oke, lain kali tolong jangan melanggar lagi atau kamu--"


"Iya-iya," potong Arin yang tidak menatap wajah Bisma.


"Lain kali, jika orang tua berbicara tatap wajahnya dan gunakan tutur bahasa yang lembut." Bisma berlalu meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Lo sama pak Bisma ngga pernah akur dah kayaknya," tanya Ryan heran.


'Andai aja lu tau Yan. Gue sama pak Bisma itu...'


__ADS_2