Nikah Muda

Nikah Muda
Iblis bertopeng malaikat


__ADS_3

Bisma memasuki kamar dan mendapati Arin yang tengah tertawa melihat sesuatu di ponselnya.


'Apa yang menarik sehingga membuatnya tertawa.'


Merasa sedang diperhatikan Arin pun melirik sekilas ke Arah Bisma yang masih berdiam diri di depan pintu kamar.


"Bapak ngapain liatin saya? Naksir?" timpal Arin yang tidak memperhatikan lawan bicaranya.


Bisma berjalan ke arah kamar mandi tanpa menjawab ucapan Arin.


"Kebiasaan," guman Arin yang menatap punggung Bisma sinis.


Beberapa menit kemudian Bisma keluar dengan wajahnya yang basah, sehabis cuci muka. Ia memperhatikan Arin yang lagi-lagi masih asik berkutat dengan benda mati berbentuk persegi itu.


"Tidur. Besok kamu sekolah," peringat Bisma.


Arin melirik Bisma yang terbaring disampingnya, "Saya juga tau besok sekolah. Ga perlu diingetin pak." ketus Arin.


Bisma memutar badannya menghadap Arin, "Tidak perlu memanggil saya dengan embel-embel Bapak. Karena kita buk-"


"Terus saya harus manggil bapak apa? Mas? Sayang? Suamiku? Abang? Atau Separuh nafasku? Ngga perlu ganti embel-embel, Toh kita cuma sebatas Guru-Murid," potong Arin yang kemudian berdiri dan membawa bantalnya keluar kamar.


Bisma menatap kepergian Arin bingung. Pasalnya Arin tidak pernah berbicara seketus tadi.


•••


Hari ini adalah hari kelulusan ku. Bertepatan dua bulan aku menjadi istri dari seorang Bisma Adirajada Argani. Selama dua bulan menjadi istrinya, aku sering mendapatkan perilaku kasar bahkan ucapan yang tidak mengenakan dihatiku. Bahkan Ia sering pulang larut malam, dan memarahiku jika telat membuka pintunya.


Orang tuaku dan orang tuanya hanya mengetahui keadaan kami yang baik-baik saja. Aku rasa seorang Bisma tidak dapat disebut sebagai seorang guru. Ia pintar, tapi sifat buruknya benar-benar tidak dapat dicontoh dengan baik. Walaupun kami menikah secara paksa, tapi ia tidak bisa sedikit pun bersikap baik atau berbicara dengan lembut kepadaku.

__ADS_1


Aku benar-benar tersiksa, orangtuanya yang memohon agar aku menikah dengan anaknya tetapi justru anaknya lah yang perlahan seperti ingin membunuhku. Aku selalu bersikap baik sebagaimana istri memperlakukan suaminya dan mengurus dengan baik. Tapi semuanya hanya seperti bayangan. Aku yang tidak pernah dianggap benar, aku yang tidak dapat dipandang dengan lembut.


Aku terbilang masih terlalu muda untuk menjadi seorang istri, tapi aku dapat mengerti dengan posisiku yang sekarang. Aku rasa, aku tidak pernah berbuat salah padanya. Penderitaan yang ia alami karena menikah dengan ku adalah paksaan orangtuanya. Kenapa ia justru membuat aku seperti hama yang mengganggunya. Ingin rasanya menceritakan hal ini pada orangtuaku, tapi aku tidak dapat membuat senyum mereka yang mengetahui bahwa aku pura-pura bahagia seketika luntur.


Tidak ada teman yang dapat diajak bersandar, tidak ada teman yang dapat ku tumpahkan segala keluh kesah yang aku rasakan. Tetapi, menangis dan marah pada diri sendiri adalah hal yang terbaik untuk saat ini.


Berbicara soal perceraian, pernikahan kami hanya berlaku dua tahun atau ketika papanya sembuh ia akan menggugat cerai aku. Tapi, itu tidak terbukti. Papanya sudah dinyatakan sembuh sekitar satu bulan lalu, dan itu saatnya aku menuntut untuk segera digugat. tapi ia malah mengabaikan dan bilang bahwa ia tidak ingin papanya mengetahui hal ini dan sakit kembali.


Aku sudah tidak tahan dengan semua perlakuannya. Aku ingin kembali merasakan kebahagiaanku. Aku ingin kembali bebas.


•••


"Kamu bisa nggak sih ngurus kaya gini?!"


Arin spontan mengangguk, mengambil pecahan kaca yang berceceran di lantai


Bisma meminta Arin untuk membuatkannya Kopi, tapi Arin salah memasukkan gula dan berakhir memasukkan garam ke kopi milik Bisma.


Bisma yang menatap Arin mendecih kesal dan berlalu meninggalkan Arin di dapur.


Buliran air mata milik Arin terjun bebas tanpa henti. Ia terisak-isak, terlalu pagi untuk menangis lagi pikirnya.


Arin sudah mengumpulkan semua pecahan kaca tadi. Ia bangkit berniat membuangnya ke tempat sampah. Namun Arin melirik ke arah ruang keluarga, melihat keberadaan Bisma yang berkutat dengan laptopnya.


Arin tersenyum kecil. Tangannya mengambil piring kotor bekas sarapan tadi lalu menaruhnya di wastafel.


Ia berjalan ke arah taman belakang. Mendudukkan diri di ayunan sambil meresapi sinar pagi yang masih menyengat.


Buliran air matanya mengalir lagi tanpa diberi instruksi. Terlalu sakit baginya untuk bersama seseorang yang membuatnya menangis.

__ADS_1


"Kenapa Arin sekarang jadi cengeng. Kemana Arin yang dulu mendapatkan gelar fakgerl," lirihnya sambil tertawa sinis.


Arin mengusap air matanya gusar. Untuk saat ini bukan waktu yang tepat menangis dan memikirkannya beban hidupnya. Untuk saat ini yang terpenting adalah menyiapkan semua keperluannya yang sebentar lagi akan menjadi mahasiswi.


•••


"Udah siap buat jadi mahasiswi?"


"Hmm," jawab Arin yang mengangguk antusias. Ryan tersenyum melihat tingkah lucu Arin yang tengah meminum susu kotak.


Kini mereka sedang berada di sebuah cafe, Ryan yang mengajak Arin untuk makan-makan dan diteraktir oleh Ryan sebagai perayaan mereka karena memasuki universitas yang sama.


Mereka bercanda gurau melepaskan semua kepanikan selama mendaftar masuk universitas, melepaskan semua seperti tanpa beban yang mengganjal. Terlebih lagi Arin, ia seperti lupa dengan masalah yang selama ini dihadapinya. Walau sesaat tapi Arin bersyukur bisa merilekskan pikirannya dari beban hidupnya.


Ryan menatap Arin yang melamun. "Arin," panggilnya lembut.


"Hm?" balas Arin tersadar.


"Cerita aja kalau lu butuh sandaran. Gua siap kapanpun lu butuh,"


Entah apa yang membuat buliran air itu turun kembali dari ujung kelopak mata Arin membuat Ryan buru-buru mengusapnya lembut.


"Kenapa hm?" tanya Ryan lembut.


"Ngga apa-apa," jawab Arin sedikit tersenyum.


•••


"Itu cuma masa lalu, lu ngga berhak buat ngungkitnya balik, Bisma."

__ADS_1


"Gue berhak ngungkitnya berhak, Gue berhak buat renggut semuanya."


__ADS_2