
Arin terbangun dari tidurnya. Terduduk dengan nyawa yang seratus persen belum terkumpul, Arin menoleh ke kanan dipandanginya wajah dirinya dicermin samping kasur. Melihat ada yang berbeda dan,
"Loh. Ko kaya abis diperkosa sih?!"
Rambut yang acak-acakan dan baju yang sedikit terbuka menggambarkan Arin yang seperti korban pemerkosaan.
"Pak, bapak abis perkosa saya ya?!" Arin mengguncang kuat tubuh Bisma. Ia ingin meminta penjelasan dengan keadaannya yang sekarang.
Bisma menggeliat, merenggangkan kedua tangannya ke atas dan perlahan membuka matanya.
"Kamu ngomong apa? Berisik." racaunya yang kembali menutup mata.
"Ko Penampilan saya acak-acakan gini pak?"
"Terus?" tanya Bisma singkat.
"Bapak perkosa saya?"
Bisma berbalik membelakangi Arin, "Ngapain harus perkosa kamu kalo ngajakin dengan cara sama sama mau aja bisa."
Arin menggaruk tengkuknya, "Pak seriusan ini. Aw--" Arin mengaduh karena terasa sakit pada bagian pinggulnya.
Dia diam sejenak, membelalakkan mata kaget.
"Arin udah ngga perawan?"
Terdengar tangisan Arin yang memekakkan telinga Bisma. Ia tersadar dan langsung duduk menatapi Arin panik,
"Kamu kenapa dek?"
"Huweee. Bapak tega banget sih merawanin saya, saya kan masih kuliah."
Bisma yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Arin, menggaruk kepalanya. Bingung dengan apa yang barusan dibilang Arin.
"Ini kamu kenapa dek. Tenang dulu coba," ucap Bisma menenangkan Arin.
"Ini penampilan saya kenapa? Ko kaya orang abis di perkosa. Terus pinggul saya kenapa sakit?"
Bisma menggaruk kepalanya, berfikir sejenak. "Oh itu. Salah kamu sih dek, tidurnya kaya arah jarum jam sampe jatuh gitu."
"Ngga-- ngga mungkin gitu!" bantah Arin.
"Ya emang gitu. Soal kenapa penampilan kamu kaya abis diperkosa gitu, mas cuma nyicip dikit doang ko," jelas Bisma tersenyum puas.
•••
Bisma sedang mandi dan Arin punya sedikit waktu untuk membersihkan kamar villa sebelum pergi mencari sarapan di luar. Saat sedang asik membersihkan meja dan berbagai macam yang berantakan Arin menemukan sebuah plastik putih berisi kotak kecil didalamnya.
Arin mengambilnya, mengeluarkan kotak tersebut dan mengamati setiap bagian yang mencuri perhatian Arin.
'Ini yang dibeli mas Bisma tadi malem.'
Bisma keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. berjalan ke arah Arin sambil mengusap rambutnya menggunakan handuk kecil.
"Mas ini kotaknya bertuliskan 'bubble gum'. Tapi ko isinya balon ya?" tanya Arin yang menunjukkan barang yang ia anggap balon ke hadapan Bisma.
Bisma buru-buru menarik barang yang dipegang Arin tadi. Menyembunyikannya dibalik badannya.
__ADS_1
Bisma melirik ke Arin gugup. "Itu-itu,"
Arin menatap Bisma penasaran menunggu ia menjawabnya.
"Oh! itu permen model balon? Iya mas iya?!" tanya Arin riang.
Bisma melirik plastik dan kotak yang ada dibelakang Arin. Mengambilnya buru-buru dan pergi meninggalkan Arin.
"MAS!"
•••
Namaku Ayrin Syalwa Kamila, seorang mahasiswi manajemen semester 5. Beberapa tahun lalu aku terlibat dalam perjodohan paksa dan terlibat kekerasan fisik batin yang dilakukan suamiku. Tapi syukurlah suamiku sudah seratus persen berubah, hanya berubah tapi belum mencintaiku. Beberapa tahun belakangan ini ia juga terlihat makin harmonis dan makin romantis Walaupun kadang aku berfikir untuk menyerah karena ia yang belum bisa mencintaiku. Padahal aku sudah terlalu mencintainya, sangat mencintainya.
Pertengkaran kecil juga sering terjadi, aku yang keras kepala dan dia yang mudah emosi sering melibatkan kami dalam kesalahpahaman. Aku juga sudah mulai terbiasa dan bisa menerima tingkah anehnya. Mulai dari dia yang sering emosi setiap pagi, terlalu posesif pada diriku, terlalu kekanak-kanakan, dan terlalu dingin.
"Mas. temenin ke supermarket," pintaku pada suamiku yang masih asik menulis pada lembaran kertas.
"Hmm," responnya yang tidak melihatku.
"Mas. temenin ke supermarket," ulangku.
Lagi-lagi ia hanya merespon ajakan ku dengan dehemannya.
"Ya udah. adek pergi mas," pamitku berlalu meninggalkannya yang tidak melirikku sedikitpun.
•••
"Maaf ini milik saya duluan," ucapku yang masih memegang susu pisang itu.
"Tapi saya yang menggapainya duluan," ketusnya.
Aku masih berusaha untuk mendapatkannya, karena susu itu minuman favorit suamiku dan aku juga enggan untuk mencari ketempat lain.
"Maaf tapi--" ucapku terhenti.
Dia menatapku intens, aku yang melihatnya menjadi risih. Ku lepaskan susu itu, membiarkan ia memilikinya daripada aku harus berdebat dengan wanita aneh itu.
"Apa anda masih mengingat saya?" tanyanya yang melirikku sinis.
"Tidak," jawabku singkat.
Aku tidak mengenalnya, mana mungkin aku mengenal wanita aneh itu.
"Saya Clara, pacar Bisma. Senang bertemu dengan anda lagi. Nyonya Adirajada," ucapnya yang menampilkan senyum sinis.
Aku baru mengingatnya, ia wanita yang dulu bertemu denganku di cafe. Wanita iblis yang ternyata adalah mantan pacar suami dan sepupuku. Apa yang begitu tertarik sehingga mereka memperebutkannya. Benar-benar aneh.
"Senang bertemu dengan anda kembali," jawabku yang menatapnya malas dan menarik troli belanja miliku. Aku berniat untuk berjalan melaluinya, tapi ia menahan tanganku tepat saat aku sejajar disampingnya.
Ia mendekatiku, membisikkan sesuatu yang membuat jantungku berdegup kencang. Kemudian Ia melirikku sinis, berlalu meninggalkan aku yang terdiam dengan wajah kaget.
'Ngga mungkin haha.'
__ADS_1
•••
Arin tengah merapikan belanjaannya di dapur. Diliriknya sang suami yang masih asik berkutat dengan lembaran kertas dan secangkir kopi dimeja makan.
"Itu apasih mas? Lembaran soal?" tanya Arin penasaran.
"Iya," jawab Bisma singkat.
"Ngomong-ngomong, besok mas ada dinas keluar kota satu atau mungkin dua hari. Jadi ngga apa-apa dirumah sendirian?"
"Ngga apa-apa," jawab Arin singkat.
Merasa atmosfer yang berbeda, Bisma melirik sang istri yang sedang memotong buah-buahannya.
"Kenapa?" tanya Bisma.
"Ngga apa-apa," ulang Arin.
"Tapi besok mas ngga bisa pulang cepetan?"
"Ngga bisa sayang."
"Oh oke," singkat Arin yang kembali fokus memotong buah-buahannya.
Arin mendekatkan potongan buah-buahan tadi ke Bisma. Berdiri dan berlalu ke kamar, sesampainya di kamar ia mencari ponsel yang lupa ia letakkan.
Arin melirik ke arah meja rias, "Ketemu!"
Ia mengambilnya, mengecek notifikasi panggilan tak terjawab sekitar lima belas menit lalu.
"Ryan?"
Arin mencoba menelpon Ryan kembali. Selang beberapa menit menunggu akhirnya sambungan telpon tersambung. Arin tersenyum ketika mendengar suara gerasa-gerusu dari seberang telpon sana.
"Hallo?"
"Arin," panggil Ryan lembut.
Rindu, ia merindukan sosok Ryan yang selalu didekatnya. Mendengar suaranya saja sudah membuat Arin menitikkan air matanya.
"Ngga usah nangis," ujarnya yang terdengar sangat lembut.
Arin menyeka air matanya, "Engga nangis."
"Arin, gue rindu. Sakit banget rasanya. Sakit sampe gue ga tahan." Terdengar suara lirih Ryan dari seberang sana.
"Gu-gue pengen lo balik yan."
"Ada saatnya gue balik rin."
"Tapi kapan?"
"Nanti, saat hati gue udah siap buat berpaling dari lo."
"Ta-tapi--"
"Udah dulu ya. Gue cuma pengen denger suara lo sebelum tidur, have a nice day sayang."
__ADS_1
Sambungan telpon terputus. Arin menghempaskan ponselnya di atas kasur. Menarik rambutnya frustasi, "M-maafin gue yang bikin lo sakit yan."