
Arin masih dalam tahap pemulihan, sudah tiga hari ia mengurung diri. Tapi dokter memaksa untuk selalu menemui dan mengajaknya berbicara, sehingga perlahan Arin mulai membaik dan bisa diajak bicara walau hanya dengan Ryan dan Dokter. Ya, Arin hanya mau berbicara dengan Ryan dan sesekali merespon Dokter yang bertanya tentang keadaannya.
Ryan sudah mengetahui yang sebenarnya, betapa terkejutnya dia mengetahui bahwa Arin yang dicintainya sudah lebih dulu menjadi istri orang. Menyakitkan saat mengetahui keadaan Arin yang sudah tak lagi seperti Arin yang ia kenalin, Terlalu sakit hingga Ryan sendiri merasa tak pantas untuk menjadi pelindung Arin yang lemah.
"Hari ini mau makan apa hm?" tanya Ryan lembut membelai rambut surai Arin.
Arin menempelkan telunjuk didagunya, berfikir sejenak untuk menu makan hari ini. "Makan? Hm?"
"Mau bakso!" jawabnya dengan nada manja.
"Yang lain," tolak Ryan.
"Mau--- Ryan aja gimana?" tanyanya yang mengedipkan mata manja.
"Yaudah nih," Ryan mengarahkan lengan kanannya tepat di depan bibir Arin, yang langsung disambut gigitan kuat dari sang pelaku.
Ryan spontan membelalakkan matanya, mendorong pelan kening Arin agar melepaskan gigitannya. "S-sakit Arin,"
Arin yang meninggalkan jejak gigi di tangan Ryan langsung tersenyum puas. "Perfect," tawanya riang.
Tiba-tiba Pintu kamar terbuka pelan tanpa adanya ketukan, menampilkan sosok yang ditakuti Arin sambil membawa nampan berisi makanan.
Ryan yang melihat pria itu berjalan mendekati mereka menatap tidak suka dan langsung menggenggam tangan Arin.
"Untuk saat ini biarkan saya bicara dengan istri saya," tukas Bisma.
Ryan berdiri mendekati Bisma dan tersenyum remeh padanya. "Istri? Bukannya calon istri anda yang kemarin?" tanya Ryan sarkas.
"Itu bukan urusan anda." tegas Bisma dengan mata nyalang.
"Tentu saja urusan sa--"
"Ryan," panggil Arin.
Ryan menoleh ke arah Arin, "kenapa sayang?"
"Ngga apa-apa. Ryan pasti cape ngurusin Arin, Ryan istirahat dulu ya," jawabnya tersenyum lembut.
"Tapi--"
"Ngga apa-apa. Ryan kan bentar lagi ada jadwal. Nanti terlambat."
Ryan melirik jam yang menempel ditangannya. Tepat, sebentar lagi ia akan ada makul.
"Yakin?" tanyanya memastikan.
"Hmm," angguknya.
Ryan melirik Bisma ragu. Ia tidak ingin meninggalkan Arin, tapi ia juga tidak ingin jika harus absen lagi. Ryan mengambil tasnya, mendekati Arin dan mengusap lembut rambutnya.
"Makan yang teratur, nanti Ryan balik lagi ya." ucapnya yang mendapat anggukan kecil dari Arin.
Ryan menatap Bisma nyalang. Berjalan, mendekati dan memegang pelan bahu Bisma, "Jangan lengah. Saya bisa saja mengambil Arin tanpa harus menariknya pak." bisik Ryan tepat di telinga Bisma.
Ia Berlalu dan meninggalkan keadaan hening dikamar itu. Arin yang sudah melihat hilangnya punggung Ryan dari hadapannya, berbaring membelakangi Bisma dan menarik selimutnya.
"Arin," panggil Bisma.
Arin tidak mendengarkannya, ia berusaha untuk memekakkan telinganya. menutup paksa matanya, berusaha mengabaikan dan tidak ingin mendengarkannya.
"Makan dulu," titahnya yang duduk di tepi kasur.
Lagi-lagi Arin tidak meresponnya dan masih setia dengan posisinya. Bisma meletakkan nampan yang ia pegang di atas meja. Mendekati Arin dan memegang lengan Arin lembut.
"Arin, bisa mas mengajak kamu bicara sebentar?"
__ADS_1
'Mas?'
"Cuma sebentar. izinkan mas menebus semuanya, Izinkan mas memulai semuanya dari nol, izinkan mas mengajak kamu untuk membangun rumah tangga yang harmonis."
Terdengar samar-samar isakan tangis Arin. Ia berusaha menahan tangisnya tetapi malah lolos, ia masih diam tak bergeming. Bisma mengelus rambut surai Arin, menyisipkan rambut arin agar wajah istrinya terlihat jelas.
"Maafkan mas yang melampiaskan semuanya ke kamu. Mas tau, setelah apa yang mas lakukan ke kamu. Kamu ngga akan mudah buat maafin semuanya, tapi mas mohon kasih mas satu kesempatan aja Arin. Untuk membangun semuanya dari nol dan belajar untuk mencintai kamu," Bisma menunduk, menyembunyikan wajah iblisnya setelah apa yang ia lakukan ke Arin.
Samar-samar terdengar suara gerasa-gerusu, Bisma yang merasa mendapat respon mendongak menatap Arin yang sudah duduk dan menunduk menatapnya.
"Saya ngga tau salah saya apa. Tapi saya mohon pak, apapun yang udah saya lakuin sampe buat bapak marah. Ma-maafin saya. Saya ngga berniat merusak hidup bapak, saya ngga berniat untuk bikin bapak marah. Apapun yang saya lakuin untuk bapak, saya tulus. Mungkin saya belum bisa jadi istri yang baik, ta-tapi saya sudah berusaha pak," ucap Arin yang disertai isakan.
Arin menangis mengingat apa yang terjadi. Ia tidak tau apa salahnya, tapi ia sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik.
"Maafin saya. Keluarga saya yang memaksa kamu untuk nikah sama saya, tapi saya yang memanfaatkan semuanya." Bisma membawa Arin kepelukannya.
"Maafkan saya. Kamu sudah menjadi istri yang baik, tapi saya yang tidak pernah menghargai kamu. Maaf karena telah berlaku egois, bisa kita ulang semuanya dari awal Arin? Saya mohon beri saya kesempatan untuk belajar mencintai kamu."
"Sa-saya," Arin menggantung kalimatnya, berfikir sejenak dan menarik nafasnya dalam.
"Saya bersedia memulai semuanya dari awal pak, saya ingin bapak belajar mencintai saya dan membiarkan saya untuk mencintai bapak,"
Arin sudah memutuskan semuanya secara matang. Dia yakin takdir seperti ini akan datang menghampirinya. Mau bagaimana Arin tidak ingin mepermainkan pernikahan, cukup menikah sekali dan hidup tanpa gelar janda.
Bisma tersenyum, memeluk Arin semakin erat. Saatnya bagi ia untuk melupakan masa lalunya, dan membuka lembaran baru untuk belajar saling mencintai.
•••
"Ini udah pagi pak, bangun."
Arin mengguncang tubuh Bisma kuat, sudah lelah dengan bisma yang tidak kunjung bangun.
Bisma menggeliat risih, dan mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. "berisik!" racaunya.
Sudah menjadi kebiasaan Bisma, jadi Arin tidak heran dan membiarkannya meracau sebal setiap pagi.
"Bangun pak," ucap Arin menarik tangan Bisma agar berdiri.
Bisma membuka matanya, menoleh dan menatap Arin tajam. "Lepas," peringatnya.
Arin menghempaskan tangan Bisma kasar. "Mandi pak. Nanti telat ngajar."
"Saya males. Saya maunya ngajar kamu aja," ucapnya yang kembali berbaring dan menarik selimutnya.
"Bangun sendiri aja ya pak. Saya buru-buru mau ngampus," Arin berjalan keluar kamar meninggalkan Bisma yang kembali tertidur.
Ia mengambil tasnya, menyiapkan keperluan yang akan di bawa ke kampus. Hari ini, kembali menjadi hari pertama Arin kuliah setelah absen selama seminggu lebih. Untungnya ia yang memiliki Ryan sebagai penyelamat dengan senang hati membantu mengabsen Arin.
•••
Dua hari sebelum kejadian itu, tepat di hari ulang tahunku Ryan menyatakan cintanya padaku. Aku tak menyangka ternyata aku tak mencintainya sendiri, dia membalas perasaanku. Bahkan perasaannya lebih besar dan tidak ada apa-apanya dibandingkan aku.
Aku mencintainya, aku ingin bersamanya. Tapi, kami tidak akan bisa bersama. Aku tidak bisa mengkhianati suamiku sendiri, meski aku belum mencintainya dan dia belum bisa menerimaku. Aku harus menjaga rumah tanggaku, aku hanya ingin menikah sekali tidak ingin bermain-main walaupun ini pernikahan terpaksa.
Berat rasanya untuk menolak karena rasa ku untuk memilikinya lebih besar daripada rasaku untuk bersama pak Bisma. tapi aku juga tidak ingin berkhianat karena keegoisanku. Biarlah, ku harap waktu bisa menjelaskan bagaimana hasil yang telah aku pilih.
Aku berjalan menuju kelas, kembali melirik sekeliling mencari Ryan yang biasanya sudah ada di depan menungguku. Tapi, ia tidak terlihat sama sekali.
'Apa Ryan belum datang?'
"Vila. liat Ryan ngga?" tanyaku pada salah satu teman dikelas.
"Ryan? Hari ini absen. Katanya ada keperluan," jawab Vila.
"Oh gitu ya. Makasih." aku tersenyum dan berlalu duduk di bangku ku.
__ADS_1
•••
Sudah berkali-kali aku menghubungi Ryan. Tapi nomornya tidak aktif, aku sedikit memiliki perasaan yang tidak enak. Ingin menyusul, tapi tidak tau harus kemana. Aku terdiam sejenak mengigit ujung ponselku berfikir kemana harus mencarinya.
'Astra!'
Buru-buru aku membuka ponselku, menekan ikon telpon dan mencari nomor Astra.
•••
Arin berlari di sepanjang trotoar jalan. Sesekali menabrak orang dan harus meminta maaf karena kecerobohannya. Ia sudah mengenal Ryan lebih dari empat tahun, tapi baru sekarang ia mau mengunjungi rumah Ryan.
Arin berhenti di depan rumah bercat hijau dan mengatur nafasnya yang memburu. Ia melihat sekeliling rumah tersebut. Sepi, rumah yang ia datangi saat ini sepi sekali.
Perlahan ia berjalan mendekati pintu dan mengetuknya.
"Permisi,"
Tidak ada sautan dari dalam rumah.
"Permisi,"
Samar-samar terdengar suara langkah kaki yang mendekat. "Iya. sebentar," saut suara seorang wanita dari dalam.
Pintu yang semula tertutup, terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya yang tersenyum ke arah Arin.
"Maaf cari siapa nak?" tanyanya Ramah.
"Apa betul ini rumah Ryan. Tante?"
"Betul. Kamu Arin nak?"
Arin terdiam sesaat, "betul tante. Saya Arin, Ryan nya ada?"
Wanita paruh baya tadi berjalan masuk. "Ayo nak masuk," ucapnya mempersilahkan.
Arin berjalan masuk melihat sekeliling dan berjalan mengikuti wanita paruh baya tadi yang duduk di ruang tamu. Wanita itu memberi instruksi yang mempersilahkan Arin untuk duduk. Arin pun duduk dan masih menatap seisi rumah itu.
"Benar dugaan Ryan. Ternyata kamu bakal datang," ucapnya tersenyum lembut.
Wanita yang dihadapan Arin kini terlihat sangat humble dan persis seperti Ryan. Sudah dapat ditebak bahwa wanita ini adalah Mama Ryan pikir Arin.
"Ryan nya kemana ya tante? Ko hari ini dia ngga ngampus?"
"Ryan--" Mama Ryan memberi jeda kalimatnya. Ia memperhatikan ekspresi Arin, takut jika ia akan bersedih.
Arin melihat mata Mama Ryan yang menyiratkan kekhawatiran. "Kenapa tante?"
"Sebentar ya." Mama Ryan berdiri, berjalan meninggalkan Arin yang masih menunggu jawabannya.
Selang beberapa menit Mama Ryan datang sambil membawa amplop putih ditangannya.
Ia memberikannya pada Arin. "dibaca," titahnya.
To: My breath.
*Cie, yang udah nyampe dirumah gue. Gimana udah ketemu camer? Haha. Ngomong-ngomong, Gimana kabar lo? Udah baikan sama Si Bisma? Udah dong ya.
Arin, sebelumnya gue mau bilang, makasih udah jadi bagian penting dikehidupan gue. makasih karena bisa bikin gue ketawa, bikin gue happy, bahkan bikin gue bergantung hidup sama lo.
Arin, gue harap lo ngga bakal sakit lagi, sehat terus ya. Lo harus bahagia, karena letak kebahagiaan gue ada di lo. Gue ga tega kalo liat lo tersakiti, tapi gue juga ga tega liat diri gue yang ngeliatin lo bahagia sama cowo lain. Saat lo pergi ninggalin gue tanpa ngasih penjelasan apapun, gue bertekad buat pergi jauh dari kehidupan lo. Tapi, ternyata susah. Susah sampe gue ga tau hidup gue kedepannya bakal gimana wkwk. Saat gue tau lo disakiti cowo lain. Rasanya itu lebih sakit daripada gue yang lo tolak. Maaf ngga bisa jadi pelindung buat lo, maaf terlalu banyak naruh harapan ke lo.
Arin, harus bahagia sama pilihan lo, gue berharap banyak sama si Bisma. semoga dia bisa jagain, ngelindungi, dan ga bikin lo nangis lagi. Saat gue pulang nanti, jangan lupa hadiahi gue sama ponakaan yang imut-imut ya. Jangan banyak-banyak, 2 lebih baik. Dan satu lagi, kalo si Bisma nyakitin lo, datang ke gue. Gue siap nerima lo gimana pun, walaupun harapan gue buat miliki lo kecil. Tapi gue bakal berusaha dan berdoa agar lo bisa berpaling ke gue.
Arin, Ryan pamit. Tolong jaga diri baik-baik.
__ADS_1
**Aku yang mencintaimu.
Ryan***---