Nikah Muda

Nikah Muda
SEPULUH


__ADS_3

"Mau ke kantin bareng?" tawar Ryan. Arin mengangguk semangat menjawab tawaran Ryan.


"Ngomong-ngomong, Anya mana?"


Arin melirik ke kiri-kanan mencari keberadaan sahabatnya itu. "Hilang Kayaknya," jawab Arin.


"Udah ah, ayo."


Arin menggandeng tangan Ryan dan menariknya keluar kelas. Berjalan di koridor membuat Dua sejoli yang asik bergandengan tangan mendapat tatapan iri dari para kaum jomblo.


Berjalan sambil bergandengan ke kantin terasa sangat cepat, tanpa disadari ternyata mereka sudah sampai dan harus melepas genggamannya.


"Mau pesan apa? Gue traktir."


Mata berbinar-binar Arin langsung terpancar ketika mendengar kesempatan uangnya tidak akan keluar sepeserpun. "Beneran??"


"Iya," jawab Ryan yang mengusap rambut Arin.


"Yeay. Kalo gitu gue pesen apapun boleh ya?" belum sempat Ryan menjawab. Arin sudah lebih dulu berlari kesana-kemari mencari makanan yang ia mau.


Tidak butuh waktu lama, Arin sudah mendapatkan semua yang ia mau. Ryan yang melihat tingkah Arin hanya menggeleng sambil terkekeh.


"Duduk disini," ajak Ryan.


Arin duduk dan langsung menyantap makanannya tanpa menawarkan Ryan.


"Hati-hati ntar keselek," peringat Ryan.


Arin tidak menggubrisnya dan lanjut melahap makanannya.


"Tumben tadi lo telat?"


"Pagi-pagi cari angkutan umum ribet."


"Kalo gitu pulang-pergi, bareng gue aja gimana?"


Uhuk...uhuk!!!


Arin terkejut mendengar tawaran Ryan. Ia yang kebetulan sedang mengunyah malah tersedak pentol. Ryan langsung buru-buru mengambil minum dan memberikannya pada Arin, "Lo kenapa tapir?"


"Uhuk.. uhuk.. so-soryy." Arin langsung menghabiskan minuman yang diberikan Ryan tadi.


"Huh lega.."


Ryan mengusap-usap punggung Arin untuk meredakan rasa kaget saat tersedak tadi, "Kalo makan ngunyah dulu tapir. Bukan langsung ditelan."


"Ya maap."


Brak!!!


"Arin!" Anya yang datang entah darimana menggebrak meja dan membuat Arin kembali terkejut.


"Lo apa-apaansih. Ngagetin aja," sewot Arin.


"Gue dari --- " wajah Anya berubah menjadi malu-malu.


"Idih, lo kenapa? tumben lo malu-malu gitu. Biasanya juga malu-maluin."


Brak!!!


Anya kembalk menggebrak meja dengan ekspresi kesal, "Ganggu suasana hati gue lagi berbunga-bunga aja lo!"


"Kenapa dah?"


"Gue-- aw malu," Anya memilin rambutnya malu-malu. Wajahnya memerah, entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Are you okey Anya?" tanya Ryan yang mengecek suhu tubuh Anya dengan telapak tangannya.


"Hari ini.." ucap Anya greget.


"Gue..."


Arin dan Ryan hanya menatap lawan bicaranya heran. "Kalo di gantung-gantung gini mending ngga usah ngomong!"


"Arin, tunggu dulu. Dengerin!" rengek Anya.


"Jadi, tadi itu gue ngga sengaja nabrak pak Bisma. Berhubung gue yang salah, gue minta maaf dan bujuk pak Bisma buat makan diluar sebagai tanda permintaan maaf gue."


"Gue ikut dong!"


"No! Ini kencan Arin, mana bisa orang ketiga masuk!"

__ADS_1


"Kalo gitu, Ryan ayo kencan!"


Uhuk..uhuk!!!


"Eh Lo ngga apa-apa?"


"Ngg-ngga, ngga apa-apa."


Arin membantu Ryan dengan menggosok punggungnya lembut. Tangan lembut yang mengusap punggungnya membuat jantungnya berdegup kencang.


"Kencan....? Oke."


Seketika mata Arin berbinar. Ia menganggukkan kepalanya semangat. Ryan mendaratkan tangannya lembut di kepala Arin berniat untuk mengusap namun terganggu karena deheman seseorang,


"Ekhem.." deheman yang seketika membuat bulu kuduk Arin berdiri.


Ragu-ragu ia menoleh kebelakang melihat sosok yang membuat mood paginya hancur.


"Pacaran di sekolah? Point minus 20," tegur Bisma yang berlalu sambil menatap nyalang ke arah mereka.


"Apa-apaan!"


"*******! Makan cilok, makan seblak. Jantan ****** ngga ada ahlak!"


Mendengar perkataan Arin, semua cowo yang berada di kantin langsung menatapnya.


"Apa mau marah? Sini!" Teriak Arin yang mengundang rasa ingin baku hantam seluruh siswa.


***


Sudah satu Minggu lebih aku tinggal bersama pak Bisma. Sudah satu minggu lebih juga aku menghadapi sifat anehnya.


Setiap pagi adalah atmosfer yang menyeramkan. Seperti tinggal dengan beruang yang sedang Melakukan hibernasi dan tidak ingin diganggu gugat. Aku tidak berani membangunkannya, tidak berani mengajaknya berbicara. Terkadang saat sesekali aku mengajaknya bicara, semua lontaran kata yang ia ucapkan begitu menyakitkan. Entah ia sadar atau tidak, setiap kata-katanya begitu membuat aku merasa sakit.


"Berisik!"


Aku hanya membuka pintu kamar pelan tapi ia merasa begitu terganggu.


"P-pak. Sudah setengah tujuh pagi, nanti bapak terlambat. Saya sudah siapkan sarapan, saya berangkat dulu." aku berdiri didepan pintu menunggu respon dari pak Bisma.


Walau aku menikah dengan keterpaksaan, menyiapkan sarapan sudah menjadi tanggung jawabku. Aku hanya tidak ingin membuat kesalahan, dan berusaha mengikuti arus kehidupanku yang sebenarnya.


Dia duduk dan menatap tajam ke arahku. "Cih," decihnya ketika melihatku.


"Sialan," umpatnya yang kemudian berdiri.


"Hari ini kamu berangkat sendiri. saya tidak ingin berangkat bersamamu."


Sejak awal menikah aku memang sudah berangkat sekolah sendiri, jadi ini tidak terlalu dipermasalahkan. Lagian, kapan dia pernah mengantarkan atau menawarkanku untuk pergi bersama.


Aku berlalu pergi meninggalkannya, menikah dengan orang yang sudah berumur benar-benar merepotkan.


"Arin!"


Aku masih berada di ruang makan jadi aku dapat mendengar jelas panggilannya. Aku menoleh menatap ia yang baru turun dari tangga.


"Bapak ngga kerja?"


"Saya hari ini mau cuti."


"Tumben?"


"Ngga usah banyak tanya."


"Orang saya ngga nanya," sarkas Arin.


"Ini. tolong berikan tugas ini ke teman-teman kamu." Pak Bisma memberikan setumpuk lembaran kertas padaku.


Aku mengambilnya dan meletakkannya dalam tasku, "Bapak mau kemana?"


"Ada urusan keluar kota," jawabnya yang menguap dan menggaruk kepalanya.


"Ya udah saya berangkat pak."


Aku menyandang tasku, "tunggu." panggilannya.


"Kenapa pak?"


"Biar saya antarkan," tawarnya.


"Ngga perlu," tolakku dan berlalu meninggalkannya.

__ADS_1


Langkah kakiku tiba-tiba terhenti, aku menoleh ke belakang ternyata pak Bisma menahan tasku. "Lepasin pak," berontak ku.


Bukannya melepaskan, ia malah menyeret tas dan tubuhku.


"Saya antarkan."


Ia membukakan pintu mobil untukku, dan mendorong paksa agar aku masuk. Mau tidak mau aku pasrah dan menerima dengan lapang hati tawarannya.


"Pasang seatbelth-nya," titahnya.


"Males pak."


aku menoleh keluar jendela. Tapi rasanya sedikit risih, "bapak ngapain?"


Aku sedikit terkejut. wajah pak Bisma terlalu dekat denganku, Bahkan aku bisa merasakan deruan nafasnya. Apa dia mau menciumku? Beberapa detik saling diam dan tatap-tatapan akhirnya pak Bisma menjalankan niat awalnya yang ingin memasangkan sabuk pengaman untukku.


Cklik!


"Saya cuma mau memasangkan seatbelth."


Aku hanya terkekeh canggung. Malu, karena aku berpikir terlalu jauh soal tadi. Pak Bisma kembali fokus dan menjalankan mobilnya menuju sekolah.


"Pak."


"Ganti embel-embel kamu."


"Om?" panggilku iseng.


dia tidak menggubrisnya, raut wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.


"Mas?"


"Hm"


Dia langsung merespon panggilanku. Apa dia ingin aku memanggil dengan embel-embel itu? Kenapa rasanya sedikit geli.


Selama perjalanan hanya aku yang bersuara, bahkan pak Bisma hanya menjawabnya sesekali dengan kata 'Ya'. Apa salahku memiliki suami yang berbanding terbalik dengan tipeku.


"Turun," titahnya.


"Kenapa di depan sekolah pak?"


"Tidak ada yang akan melihat."


"Tapi?"


"Turun."


Aku langsung bergegas turun, terlalu lama berdebat di dalam mobil malah akan membuat orang-orang mencurigai aku yang turun dengan mobil--


"ARIN!"


Aku melihat Ryan yang berjalan menghampiriku. Ia tersenyum dan mengusap lembut rambutku.


Bisma side story.


"bapak ngapain?"


Aku terdiam menatap manjk matanya yang indah. Ia terlalu sulit diajak kerjasama sehingga aku harus memasangkan sabuk pengaman padanya. Wajahku terlalu dekat sampai aku bisa merasakan aroma redvelvet dari dirinya.


Cklik!


Aku mendorong tubuhku dan kembali duduk.


"Saya cuma mau memasang seatbelth."


Jantungku berdegup kencang saat manik mata kami beradu. Entahlah, aku rasa ini hanya karena aku gugup bukan karena sesuatu yang tidak mungkin.


Selama perjalanan ia yang terus-menerus mengoceh tanpa henti. Aku tau dia tipe orang yang banyak bicara, tapi aku tidak bisa merespon semua perkataannya karena aku tidak bisa menetralkan detak jantungku.


"Turun," titahku sesampai di depan sekolah.


"Kenapa di depan sekolah pak?"


Aku lupa, padahal tadi aku hanya berniat mengantarkannya sampai gang. Ini semua karena aku yang tidak fokus dan malah terlalu banyak berfikir.


"Tidak ada yang akan melihat."


"Tapi?"


"Turun."

__ADS_1


Menyuruhnya turun cepat akan lebih baik.  Ia langsung turun dan pergi tanpa berpamitan padaku. aku masih melihatnya yang berjalan masuk, namun ia berhenti karena ada seseorang memanggilnya. Aku melihat gerak-gerik mereka berdua dan entah kenapa saat laki-laki itu menyentuh kepala Arin. Aku merasakan sesak dan panas pada hatiku.


"Sial."


__ADS_2