
Aku berlari tanpa tujuan. Mencoba menjauh dari apa yang aku lihat tadi, terlalu sakit jika harus jatuh kembali. Melihat ia yang ternyata tak pernah berpaling dariku. Hanya menganggap aku sebagai istrinya, namun hatinya masih tetap untuk Clara. Tersenyum lembut sambil mencium pelan kekasihnya, membuat aku sakit sampai tak bisa menangis lagi.
Ternyata semuanya benar, apa yang selama ini menjadi tanda tanyaku benar-benar terjawab oleh arus yang aku lalui. Terlalu berharap dan berusaha untuk menjaga percayaan sehingga membuat aku lupa akan fakta yang sebenarnya. Suami yang berubah lembut bukan berarti juga merubah perasaanya padaku.
'Selamat kamu masuk ke perangkapnya kembali. Mencintai sebelah tangan, hingga jatuh terlalu dalam pada perasaanmu. Sampai kamu lupa akan fakta yang sebenarnya, bahwa dia tetap mencintaiku dan membuatmu jatuh kedalam kesengsaraan.'
Kata-kata yang di bisikkan Clara terus terngiang-ngiang mengikuti kemana aku pergi. Aku terduduk ditepi pantai yang jauh dari orang-orang. Menangis sejadi-jadinya,
"RYAN! GUE BUTUH LO!"
Saat ini aku benar-benar menginginkan keberadaan Ryan. Keberadaan yang menghantar rasa hangat pada diriku. Aku merindukannya, aku menginginkannya.
"RYAN!!!" teriaku di udara lepas.
Bahkan saat ia yang terlalu mesra dengan kekasihnya tidak menyadari aku yang terus menatapnya dari luar.
"Bahkan dia ngga angkat telpon aku," suara lirihku yang menatap nanar ke arah ponsel digenggamanku.
Aku akan mengambil keputusan yang terbaik. saat ini, biarkan aku memutuskannya dengan sedikit memberontak dari takdir,
"Aku akan menghilang."
"Dan mari kita berpisah."
•••
"Ma, bangun."
"Ma, bangun."
Wanita yang dibangunkan oleh gadis kecil itu menggeliat, merubah posisinya membelakangi sang putri.
"Papa!" teriak gadis kecil itu.
Mendengar panggilan dari putri kecilnya ia bergegas, memasuki kamar dan melihat putrinya yang sudah memasang wajah cemberut.
Pria itu menggendong putri kecilnya. "Kenapa sayang?"
"Mama nda mau angun. Ena cape," cemberutnya.
Pria itu mencubit gemas pipi chubby gadis kecil itu. "Ya udah papa bangunin."
Pria itu berjalan, mendudukan diri di tepi kasur dengan putri kecilnya dipangkuan.
"Arin, bangun!" ucapnya seraya menggoyangkan lengan Arin lembut.
"Ngghhh," racau Arin yang menepis pelan tangan pria itu.
Geram dengan tingkah laku sang Mama. Gadis kecil itu berdiri di atas kasur, meloncat-loncat sehingga tubuh Arin ikut terpental-pental ke atas.
"Sayang. Nanti badan mama sakit," ucap pria itu menarik pelan putrinya.
"Abis mama nda angun," cemberutnya.
"Ya udah, ena turun dulu. Biar papa bangunin mama."
Pria yang dipanggil Papa itu membantu putrinya untuk turun dari kasur, ia mendekati wajahnya ditelinga sang istri. Berbisik hingga membuat mata Arin terbelalak dan langsung duduk.
"Apasih," protes Arin yang mengucek-ngucek matanya.
"Ko mama langsung angun?"
"Tadi ena angunin. Mama nda mau," protesnya tidak terima.
"Mau tau papa bilang apa ke mama sampe bangun gitu?" goda pria itu melirik Arin.
"Apa pa?"
"Papa bilang ka--"
Belum selesai mengucapkan kalimatnya Arin sudah lebih dulu melemparkan bantal ke arah wajahnya.
"Udah sana! Hus Hus. Mama mau mandi," usir Arin.
Pria itu menggendong putrinya berlari meninggalkan macan betina yang sebentar lagi akan mengamuk.
•••
Pria tadi adalah Ryan, seseorang yang selalu mencintaiku dengan tulus dan Alena, Gadis kecilku dengan Bisma. Ya, lima tahun setelah kejadian itu. Aku memutuskan untuk menghilang tanpa memberi tau siapapun, terlalu sakit hingga aku harus mencoba melawan takdir. Walau awalnya berat untuk pergi meninggalkan rasa sakit demi bertahan hidup, aku bangkit dengan dibantu Ryan yang selalu di sampingku tanpa pernah meninggalkan aku sedikit pun.
Alena, ia yang sebenarnya menjadi alasan kuat aku bertahan hidup. Dua hari setelah aku tiba di Jepang. Aku dinyatakan positif hamil, dan itu yang semakin menguatkan aku untuk tetap bertahan hidup. Gadis itu, mengingatkan aku pada Bisma, setiap inci wajahnya benar-benar mencetak bentuknya. Hanya saja sifat Alena yang mengikutiku.
Alena mengetahui bahwa Ryan bukanlah ayah kandungnya, tapi anak baik itu tidak pernah menuntut untuk bertanya siapa ayahnya, karena ia bilang memiliki Ryan sebagai ayahnya sudah lebih dari cukup.
Sangat lama untuk memulihkan hatiku kembali, hingga aku dan Ryan memutuskan menikah saat Alena berusia tiga tahun. Ryan yang mencintaiku dengan tulus dan tak pernah meninggalkanku yang membuat hatiku lebih cepat untuk membaik.
Hari-hari yang aku lalui saat memutuskan untuk ikut dengan Ryan di Jepang memang sulit. Aku yang kembali merasakan trauma harus merepotkan Ryan yang mengurusku. Terlebih lagi saat itu Aku sering menyendiri dan enggan untuk tersenyum, dan lambat-laun berubah karena dia yang selalu membuat aku jatuh pada pesonanya.
"Punya ena!"
"Punya papa!"
Kebisingan yang dihasilkan oleh Ryan dan Alena membuyarkan nostalgiaku.
"Punya papa titik!"
"Ini cucu ena papa!"
*susu
"Heh!" Aku menggebrak meja dan membuat mereka menatapku takut.
"Ngga anak! Ngga bapak sama aja!" ketusku.
"Ini lagi bapaknya. Bukannya ngalah malah cari ribut sama anaknya!"
"Itu--"
"Apa mau bantah?!" potongku.
Ryan menggelengkan kepalanya, "Ya udah diem." perintahku
"Udah buruan makan. Abis ini kita packing barang buat besok."
•••
Arin sedang duduk membereskan pakaian yang akan di bawanya kembali ke Indonesia, ya akhirnya Arin memutuskan untuk kembali mengikuti Ryan yang sedang memiliki tugas di sana.
Sebenarnya, arin cukup takut jika harus kembali lagi. Tapi Ia juga tidak ingin terlalu larut dalam pahitnya masa lalu, yang berlalu cukup dijadikan pelajaran untuk kehidupan kedepannya. Ya mau bagaimanapun, Arin harus melihat kedua orangtuanya. Sudah lama rasanya sejak tiga tahun lalu ia bertatap muka langsung saat hari pernikahannya, dan biasanya ia juga hanya mengobrol via video call.
Arin pikir, dulu Bisma tidak akan mencarinya. Tetapi ternyata, satu minggu Arin menghilang Bisma sudah mencarinya kemana mana. Bahkan ia mencari Arin ditempat favoritnya, selalu bolak-balik ke rumah Arin hanya untuk memastikan Arin pulang. Mama Arin bilang, keadaan Bisma saat itu sungguh sangat memprihatikan. wajahnya yang tampan tidak dapat ia urus lagi, badannya yang tegap kurus karena tidak makan tepat waktu. Namun, Orangtuanya juga sepakat untuk menyembunyikannya Arin dari Bisma.
Agar itu tidak menggoyahkan Arin sedikitpun, Arin tidak ingin kebodohannya itu kembali menghantarkan pada rasa sakit yang hanya meninggalkan luka lama yang sama.
"Melamun trus!" teriak Ryan tepat di telinga Arin.
__ADS_1
"Romantis dikit dong bro. Dulu aja ngomong lembut. Nyenyenye," ketus Arin.
Ryan duduk memeluk Arin dari belakang dan memposisikan kepalanya di pundak Arin.
"Lepasin. Ngga enak kalo Alena liat," ucap Arin memukul pelan tangan Ryan yang melilit di pinggangnya.
"Masih mikirin dia?"
"S-siapa?" tanya Arin yang tidak menatap mata Ryan.
"Hmm? Siapa ya?"
Arin memberontak dalam pelukan Ryan seraya memukul pelan tangan sang suami agar mau melepaskannya. "Udah sana, ganggu!"
"Ngga masalah kalau kamu masih pikirin dia tentang masa lalu kamu. Asal, jangan pernah kamu menepatkan dia di hati kamu dan berpaling dari aku yang bisa mencintai kamu dan Alena tulus," Arin yang memberontak diam mendengar ucapan Ryan.
Ryan memejamkan matanya, masih dengan posisi memeluk dan menyenderkan kepalanya di pundak sang istri. Arin terdiam, untuk apa ia masih berbalik melihat masa lalu yang gelap jika masa depannya saja sudah menanti dengan cahaya yang begitu terang.
"Ma-maaf."
Ryan mendongak menatap Arin yang menunduk. "Percayalah. Rasa cinta aku buat kamu dan Alena tulus. Aku ngga pernah minta macem-macem, karena aku cuma pengen. Kalian jangan pergi dan tetap di sisi aku, tetap kaya gini sampai maut meminta kita kembali," bisik Ryan.
Tiba-tiba Alena datang membuka pintu kamar kasar, "PAPA SAMA MAMA MAIN PELUK-PELUKAN KO NDA AJA ENA?!" teriaknya.
Arin langsung memukul-mukuli tangan Ryan yang berada di pinggangnya. "Lepasin!" pinta Arin.
"Karena papa sayang mama," jawab Ryan yang menatap anaknya mengejek.
"Papa nda sayang ena?!" Tanyanya yang memukul-mukul kepala Ryan.
Ryan melepaskan pelukannya, berusaha menangkis pelan tangan kecil Alena.
"Engga."
"Papa jahat!" tangis Alena pecah.
Arin yang pusing melihat tingkah laku keduanya. Hanya diam sambil memijat pelipisnya.
"Ngga paham lagi sama jalur pikir bapaknya," gumam Arin memijat pelipisnya.
•••
Aku berjalan menggenggam tangan kecil Alena. Menatap sekeliling, sudah banyak perubahan selama lima tahun ku tinggalkan pikirku.
'Akhirnya, aku kembali.'
Akhirnya setelah lima tahun aku tak kembali ke tanah airku, aku kembali memijaknya walaupun sebentar. Gugup rasanya, mengingat apa yang akan terjadi selama aku disini nanti.
Selama di Indonesia kami akan menginap dirumah Ryan agar saat dia kerja nanti aku bisa menemani ibu mertuaku.
Alena menggoyang-goyangkan tanganku, "kenapa sayang?"
"Mau ke toilet," pintanya.
Aku melirik Ryan yang sedang menelepon seseorang, menyentuh lengannya dan memberi isyarat dengan gerakan mulutku lalu Ia mengangguk tanda mengizinkannya.
Aku menggenggam tangan kecil putriku, berjalan menuju toilet.
"Arin!"
"Arin!
Aku berhenti, mencoba kembali mendengarkan seseorang yang memanggil namaku. Ku lirik kiri kanan tapi tidak ada satupun yang aku kenali.
"Disini ******!" ucapnya yang memukul kepalaku menggunakan botol minum.
Aku memegang kepalaku yang dipukulnya tadi, melihatnya dengan mulut terbuka, "Al-alvin."
Aku memukul mulut Alvin, menarik tangan anakku dan menutup telinganya. Alvin yang melihat aku menarik Alena, memperhatikan anakku dengan tatapan herannya.
"Siapa?" tanyanya menujuk Alena.
"Manusia," ketusku.
"Iya gue juga tau ini manusia. Maksudnya anak siapa Arin," ucapnya geram.
"Anak iblis?" celetuknya.
Aku yang geram kembali menampar pelan mulutnya. "Anak gue, yakali anak iblis!"
Dia tersenyum menatap anakku yang menatapnya dingin.
"Hai adik manis. Ikut om yuk?"
Alena hanya membalas tatapan dari alvin dengan sinis, "Mama! Ena udah nda kuat!"
"Ga kuat? Kan om belum ngapa-ngapain,"
Aku memukul kepala Alvin kuat, "Bang, kasian anak gue masih polos. Tolong jangan dinodai."
Aku langsung berlalu meninggalkan Alvin dan menarik Alena ke toilet, putriku sedari tadi sudah bersusah payah menahannya tapi malah dihalangi oleh setan yang kesasar di bandara.
...
Aku berjalan menggenggam Alena, ku lirik ke arah Ryan dan Alvin yang sedang mengobrol.
"Loh kok?" tanyaku heran.
"Jadi ini ya. Ryan yang sering lu ceritain dulu?" tanyanya yang melirik Ryan intens.
"Udah ngobrol kan? Udah tau dong ******," ketusku.
"Bisa banget lu jatuh cinta sama macan betina kaya gini," ujar Alvin pada Ryan.
"Bisa banget lu jatuh cinta sama wanita iblis sampe bikin gue sengsara," ketusku.
"Soal itu--"
"Udah lupain aja. Bang gue udah pegel-pegel, mending lu balik sono. Gue mau balik, besok ketemu dirumah Mama," potongku.
"Ya udah, pokoknya lu hutang cerita sama gue. Jangan mentang-mentang gue ga dideket lu selama 5 tahun, lu malah seenaknya ngga ngabarin gue."
Aku kembali menggenggam tangan Alena. "Iya. Udah kita pergi,"
"Duluan bang," ucap Ryan.
"Jagain adek gue tolong yan."
"Beres."
•••
Kami memilih untuk naik taksi. Selama perjalanan aku hanya terdiam, menatap kota yang sudah banyak berubah. Sementara Alena dan Ryan tidak henti-hentinya berbicara. Bahkan aku yang mendengarnya saja lelah,
"Papa. ena mau jalan-jalan," pinta Alena.
"Mau kemana? Disney land?" tawar Ryan.
"Mau!" jawabnya girang.
__ADS_1
Ngomong-ngomong soal Alena, ia fasih dalam berbahasa Indonesia karena aku dan Ryan tidak pernah menggunakan bahasa Jepang dirumah. Tapi Alena juga fasih dalam berbahasa Jepangnya.
"Rindu?" tanya Ryan padaku.
"Sedikit."
"Besok mau kemana?"
Aku melirik Alena, "terserah Alena aja."
"Ya udah. Disney land ya sayang," ucap Ryan mengusap rambut Alena.
"Yeaaay!"
Dua puluh menit menempuh perjalanan. Akhirnya kami sampai di rumah mertuaku. Aku turun memperhatikan keadaan yang tidak berubah sejak pertama kali aku menginjak rumahnya. Aku menggeret dua koper dan mengekori Ryan yang sedang menggendong Alena.
"Mama," panggil Ryan.
"Oma!" panggil Alena yang turun dari gendongan Ryan dan Berhambur ke pelukan neneknya.
Aku berjalan mendekati mertuaku, menyalami dan menyium pipi beliau.
"Mama. Apa kabar?" tanyaku basa-basi.
"Sehat," jawabnya.
"Kalian gimana? Baik-baik aja kan selama disana."
"Nda baik!" potong Alena.
"Loh kenapa?" tanya beliau yang mensejajarkan dirinya dengan Alena.
"Papa celing pulang malam. Mama cama ena di lumah cendili, takut."
*sering *sama *dirumah *sendiri
Beliau melirik anak laki-lakinya yang tersenyum. "Ryan lembur ma," jelasnya.
"Jangan keseringan lembur. Jaga kesehatan nak," ucap mertuaku.
"Iya ma."
"Ya udah. Sana pada istirahat."
•••
Sudah satu minggu mereka di Indonesia, sudah satu minggu juga Arin tidak menjejakkan kaki keluar. Terlalu takut untuk kembali pada masa lalu, hingga untuk keluar berjalan-jalan saja ia tidak bisa.
"Ma. Ayo kita jalan-jalan," pinta Alena yang terus merengek.
"Nanti tunggu papa pulang ya sayang."
"Mau cekalang!"
*sekarang
"Alena," panggil neneknya.
"Iya oma?"
"Sini main sama oma sayang,"
Alena berlari mendekati neneknya. Berlalu ke taman belakang rumah meninggalkan Arin sendirian di kamar.
Ting!
Arin melihat sebuah nama yang tertera di layar ponselnya. Sebuah pesan masuk dari suaminya.
From: 私の夫
Aku sampai sebentar lagi. Ajak Alena buat siap-siap abis itu kita otw Disney land.
Setelah membaca pesan dari Ryan. Arin bergegas menuju taman belakang, memanggil anaknya dan bersiap-siap untuk pergi.
"Mama ngga pergi?" tanya Arin.
"Engga. Mama mau pergi sama Reyna ke rumah temen lama mama," jawab Mama.
Tit!
Terdengar dari luar suara klakson mobil.
"Mama! Itu papa ayo!" ajak Alena yang menarik tangan Arin.
"Sebentar sayang. Salam dulu sama oma."
Alena melepaskan tangannya, mendekati neneknya dan mencium punggung tangan sang nenek.
"Oma, ena plegi. Bye-bye," pamitnya yang langsung berlari keluar rumah.
Arin menyalami tangan mertuanya, "Mama. Arin pergi." Pamitnya.
"Iya hati-hati nak," balas mertuanya
•••
Mereka sudah menghabiskan waktu lebih dari satu jam di sana. Alena yang terlalu asik enggan untuk pulang dan ingin menghabiskan waktu hingga malam tiba. selama bermain Arin lebih banyak menghabiskan waktunya melirik gelisah, Takut-takut jika akan bertemu seseorang.
"Kenapa hm?" tanya Ryan yang menggenggam tangan Arin.
Arin menoleh, tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Ngga apa-apa,"
"Mama. mau es klim," pinta Alena.
Arin menatap gadis kecilnya itu, "Ayo." ajak Arin.
"Papa ke toilet dulu ya. Kamu belinya sama mama ya sayang," ucap Ryan mengusap kepala anaknya.
Alena hanya mengangguk menanggapi izin Ryan. Kemudian Ryan berlalu meninggalkan mereka.
Arin melirik sekeliling mencari toko es krim yang terdekat.
"Ayo sayang," ucap Arin yang menggenggam tangan kecil putrinya.
Alena melepaskan genggamannya, berlari lebih dulu hingga menabrak anak laki-laki yang sedang berlari juga. Untunglah mereka tidak jatuh dan hanya saling tertabrak. Arin yang melihat itu refleks berlari gelisah, mensejajarkan posisinya dengan Alena dan memutar-mutarkan badan Alena untuk mengecek keadaannya.
"Dicini mama," keluh Alena yang memegang kepalanya.
"Leo," panggil seseorang dari arah jauh.
Arin hampir lupa bahwa di sampingnya juga ada anak kecil laki-laki yang tertabrak oleh badan Alena. Arin menatap anak kecil tadi, kemudian mengelus kepalanya,
"Maafin anak tante ya nak," ucap Arin mengelus kepalanya. Anak laki-laki itu tidak merespon dengan ekspresi apapun.
Seorang pria tiba-tiba menarik anak laki-laki itu dan memeluknya erat, Arin yang kaget langsung berdiri dan menatap orang itu.
"Mama," panggil Alena yang mendekat ke arah Arin.
"Arin?"
__ADS_1
"P-Pak Bisma?"
---END---