
Kini Arin dan Anya tengah berada di kantin. Berlari 50 keliling membuat Arin seperti tidak menapakkan kakinya di atas bumi.
"Anya! Kaki gue rasanya mau copot. Itu guru ngga punya otak banget sih, Masa nyuruh siswi secantik gue lari 50 keliling, mana ngga boleh berhenti. Biadab banget!"
Arin berteriak kecil sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Eh seharusnya lo malu teriak-teriak di kantin gini!"
Anya malu dengan tingkah Arin. Ia terus-terusan berteriak tanpa memperdulikan tatapan mata seisi kantin.
"Seharusnya lo yang ngga usah ngelamun pas pelajaran doi. Udah tau galak gitu."
"Belain aja terus, belain."
Drrrt!
Arin buru-buru mengambil ponselnya. Ia melihat ada sebuah pesan masuk dari bar lockscreen ponselnya.
Sampis Kadal
Temui saya sesudah pulang sekolah.
Ia memutar bola matanya malas. Arin Benar-benar malas untuk berurusan dengan seseorang yang tidak ia minati.
"Arin! Itu kakak kelas yang gue ceritain! Ganteng kan?" Anya menatap Cowo yang ia tuju itu malu-malu.
"Dih apaan sih lu. Liat yang bening aja langsung lupa dataran," sindir Arin.
"Daratan ******!" Anya memukul pelan kepala Arin dengan botol minum.
"Sakit!"
Arin berdiri lalu pergi meninggalkan Anya. Ia pergi meninggalkan Anya bukan karena malas menanggapi Anya tapi karena Bell masuk sudah berbunyi.
"Eh dewi uler tungguin gue!" Teriak Anya yang langsung berlari mengejar Arin.
***
"Anya. Gue kebelet," Bisik Arin risih. Ia sudah tidak kuat karena sedari tadi menahannya.
__ADS_1
"Tinggal permisi aja susah banget sih ******."
Arin menggoyang-goyangkan lengan Anya dengan ekspresi memohon, "Takut sendirian, Temenin."
"Mana boleh ***** ini masih jam pak Bisma."
"Anya! Ayrin! Apa yang sedang kalian bicarakan? Apa kalian tidak melihat saya sedang menjelaskan materi."
'******!'
"Ma-maaf pak."
"Kamu kalau mau ke toilet pergi saja sendiri."
"Eng- iya pak." Arin buru-buru berdiri dan pergi ke toilet dengan tergesa-gesa.
***
Arin menatap dirinya di depan cermin. Menatapnya intens dengan tatapan tajam. Raut wajahnya mengekpresikan rasa kesal yang hampir meledak.
"Gue mulu gue mulu!" Misuh Arin.
"Awas aja ya lo Sampis Kadal. Gue bakal bikin lo berlutut di hadapan gue! Sambil mohon-mohon buat minta jatah!" Arin menunjuk-nunjuk dirinya di depan cermin. Berbicara layaknya seorang Antagonis yang sedang merencanakan hal buruk.
"Rooftop aja deh."
Arin berlari mengendap-endap keluar, ia melirik ke kiri dan kanan dengan was-was takut jika ada seseorang yang melihatnya. Dirasa udah aman, Arin langsung berlari ke tangga untuk menuju Rooftop.
"Aman!" ucapnya menghembuskan nafas lega.
"Tiduran satu jam bolehlah ya."
Arin duduk di sofa yang tidak terpakai. Membersihkannya dari debu, dan kemudian berbaring.
"Enak bener angin sepoi-sepoi, mantep dah."
Arin kemudian memejamkan matanya perlahan, rasa kantuknya sudah datang.
"Bangun!" Tegur seseorang menggoyang-goyangkan tubuh Arin.
__ADS_1
Arin tidak bergeming sedikitpun, ia masih terpejam tanpa merasa risih.
"Bangun!"
Seseorang tadi menyemburkan air ke arah muka Arin.
"Banjir! Banjir!" Refleks Arin yang langsung panik.
Seseorang tadi menatap Arin dengan intens. merasa suasana yang tidak bagus, Arin terdiam menunduk.
"Ini sekolah, digunain buat belajar. Bukan buat tidur."
"Ma-maaf kak,"
"Kelas berapa?"
"11 MIPA 9."
"Kamu saya beri sanksi."
"Ja-jangan dong kak," mohon Arin.
"Tidak ada komentar."
"Kak, please." mohon Arin dengan wajah memelas.
"Oke, kali ini saya lepasin. Cepat kembali ke kelas kamu,"
Arin langsung berdiri bersiap-siap untuk pergi, "oke, makasih kak Iqbaal."
Sesampainya di kelas. Kelas begitu sepi hanya tersisa satu makhluk hidup yang membuat Arin kesal hari ini.
Kelas begitu sepi karena sekarang sudah waktunya jam olahraga dan semua siswa-siswi tengah berganti pakaian.
"Dari mana saja kamu? Ke toilet dari 20 menit yang lalu."
"kan dari sini ke toilet butuh waktu juga. Trus di toilet saya juga harus ngantri sama yang lain, mau balik juga butuh waktu."
"Ke toilet ngantri kamu kata toko sembako. Lagian toilet di sekolah bukan cuma satu," ucap Bisma berlalu meninggalkan Arin yang lagi kicep.
__ADS_1
"Oh iya," Bisma berhenti di ambang Pintu. Arin langsung berbalik badan menatap punggung Bisma.
"Nanti saya tunggu kamu di ujung jalan. Saya tidak ingin orang lain melihat kita pulang bersama."