Nikah Muda

Nikah Muda
ATC. Season 2. Ep 35


__ADS_3

Di hari minggu nanti. Marsya, Maria dan Maretta, mereka berencana menghabiskan akhir pekan di Englischer Garten.


"Maria, Marsya, aku duluan. Besok pagi jangan lupa jemput aku" kata Maretta lalu turun dari mobil.


"Iya bawel" ketus Maria.


"Marsya, jangan suka diam, nanti cantiknya hilang" ledek maria sambil mencubit pipi cubby Marsya.


"Bikin kesal deh...!" ketus Marsya seraya mengelus pipinya yang dicubit Maria. Dalam perjalanan pulang, Marsya tak henti-hentinya menatap ponsel miliknya. Ada pesan balasan yang ia tunggu, yaitu balasan pesan dari suaminya. Jujur saja, Marsya masih bimbang dengan perasaannya sendiri.


"Marsya, kamu kenapa?" tanya Maria serius.


"Maria" panggil Marsya, ia menatap Maria dengan mata yang mulai berkaca kaca.


"Iya. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Maria menatap Marsya sejenak lalu menatap lurus ke depan.


"Aku bimbang dengan perasaanku. Apakah rasa yang yang menghampiriku adalah cinta atau sekedar mengasihi. Setiap kali aku melihat Ansel meneteskan air mata, hatiku terasa sakit dan aku ingin tinggal bersamanya" ungkap Marsya berkaca kaca.


Maria merasa iba mendengarnya. "Apa kamu takut kehilangannya?" tanya Maria.


"Aku tidak mengerti" balas Marsya sesenggukan, ia tidak paham soal perasaan.


"Di saat Ansel pergi atau mengatakan akan pergi, apa kamu merasa takut kehilangannya?" tanya Maria yang dibalas anggukan oleh Marsya.


......🍁🍁......


Perusahan


"Maafkan aku, Sya. Aku belum bisa pulang sekarang" gumam Ansel sembari meletakan ponselnya di atas meja kerjanya. Lalu kembali melanjutkan pekerjaan yang harus dia kerjakan. Beberapa menit setelahnya, Ansel mengambil ponselnya dan menghubungi asisten ayahnya, yang kini menjadi asistennya. Tak membutuhkan waktu lama, asistennya pun datang menghampirinya.


"Pesan dua tiket untuk Kakak dan Aku. Dady baru saja mengirim email dan meminta kita untuk melakukan meeting dengan klien yang di Amerika" jelas Ansel. Ansel memanggil kakak pada Sarlin karena pria itu menghargai orang yang lebih tua darinya.


"Baik bos besar" balas Sarlin tersenyum.


Ansel terkekeh mendengarnya. "Sekarang kakak kembali bekerja. Jika ada sesuatu, katakan saja padaku" kata Ansel tersenyum ramah pada asistennya. Sarlin membalas senyum dari bosnya lalu keluar dari ruangan sang bos.

__ADS_1


Ansel kembali menatap ponselnya, membaca pesan yang di kirim oleh istrinya. Ia ingin membalas pesan dari istrinya tapi niatnya ia urungkan.


......🍁🍁......


Maria memarkirkan mobilnya di depan rumah Ayah mertua Marsya. "Marsya, katakan pada Ansel jika kamu mencintainya. Rasa yang kamu simpan bukan mengasihi melainkan cinta. Ungkapkan perasaanmu sebelum Ansel pergi" kata Maria sebelum menyalakan mesin mobilnya.


Marsya mengangguk. "Iya Maria. Hati-hati di jalan" balas Marsya tersenyum menatap temannya.


Maria menyalakan mesin mobilnya. Mobil perlahan bergerak meninggalkan kediaman Angga. Sedangkan Marsya, ia memilih masuk ke dalam rumah menuju kamar. Sesampainya di kamar, Marsya mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa menit setelahnya, wanita itu ke luar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Ia berjalan mengambil ponselnya, berharap pria yang berstatus suaminya membalas pesan darinya.


"Apa Ansel tidak mau mempertahankan hubungan ini lagi?" batin Marsya. Bulir bening seketika menetes membasahi pipinya.


...--...


Pukul 17:00 PM


Marsya mengerjap lalu melihat tubuhnya, masih dengan balutan handuk. Menangis tersedu sedu membuatnya mengantuk hingga ia tertidur pulas tanpa mengenakan baju terlebih dahulu. Dengan malas, Marsya beranjak dari tempat tidur kemudian mengenakan baju. Setelah selesai, ia keluar dari kamar menuju dapur.


"Perutku minta diisi" gumam Marsya sembari mengelus perutnya. Ia membuka kulkas untuk mengambil beberapa bahan makanan yang bisa dimasak. Yaitu daging cincang yang sudah dicampur telur, tepung dan bawang. Menu yang ia masak yaitu Falscher hase.


"Aku hubungi saja, toh dia masih berstatus suamiku" gumam Marsya. Lalu menghubungi Ansel.


"Kenapa dia tidak menjawab panggilanku!" ketus Marsya dan kembali menghubungi Ansel.


"Halo Sya, ada apa?" tanya Ansel.


"Kamu di mana. Kenapa tidak pulang ke rumah?" tanya Marsya tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


"Aku di perusahan dan sebentar lagi mau ke Amerika" balas Ansel.


"Hallo, hallo, hallo. Akhh sial!! Dia memutuskan panggilan!!" umpat Marsya.


"Tunggu. Tadi dia bilang mau ke Amerika. Apa dia benar-benar akan pergi?" gumam Marsya. Ia kembali terlihat lesuh. Makanan enak di atas meja serasa tak berasa lagi.


"Akhhh!! Aku benci jatuh cinta...!!" Marsya berteriak kencang, dia terlihat frustasi.

__ADS_1


Prankk!! Marsya membuang semua makanan yang ada di atas meja. Matanya kembali berkaca-kaca. "Aku benci jatuh cinta" pekik Marsya.


...--...


Perusahan


"Kenapa ponselku pakai acara mati!" ketus Ansel menatap ponselnya yang kehabisan daya.


"Masuk" kata Ansel saat mendengar ketukan pintu dari luar. Selang beberapa detik, Sarlin masuk dengan berkas ditangannya.


"berkas sudah aku kirim lewat email, dan jam keberangkatan kita pukul 19:00 PM. Kita sampai larut malam jadi aku sudah pesan kamar hotel untuk kamu" jelas Sarlin.


Ansel tersenyum. "Kakak sangat jenius. Pantas saja Dady mempercayai kakak" puji Ansel.


Sarlin terkekeh. "Aku tidak sejenius Angga dan kamu, kalian berdua sangat hebat" puji Sarlin. "Hubungi aku jika ada yang salah dalam berkas yang baru saja aku kirim lewat email" ujarnya.


"Baik kakak. Jangan lupa hubungi istri dan anak kakak, beritahu mereka jika kakak menemani aku ke Amerika" ujar Ansel.


"Itu pasti. Oh ya, jangan lupa beritahu istrimu jika kamu akan ke Amerika. Takutnya, saat kamu kembali nanti, istrimu akan menendangmu tidur diluar" jelas Sarlin menahan tawa.


"Hahahahaha, dia tidak akan mengusirku. Jika pun itu terjadi, aku akan berusaha masuk lewat jendela kamar" balas Ansel tersenyum.


...--...


Rumah


"Ibu, aku kangen Ibu dan Ayah" gumam Marsya saat melakukan panggilan suara dengan ibunya. Kata rindu hanya untuk mengelabui orang tuanya agar orang tuanya tidak curiga, jika ia sedang menangis karena masalah rumah tangganya.


"Ibu dan Ayah juga sangat merindukanmu. Ibu punya kabar gembira untuk kamu. Satu minggu lagi, Ibu dan Ayah akan pindah ke Jerman"


"Benarkah Ibu!!" sorak Marsya girang sembari menyeka air matanya.


"Benar Sayang. Apa Deva dan Vano sering datang menjengukmu?"


"Kaka Deva dan Kak Vano? Tunggu Ibu, jangan bilang saudara kembarku melanjutkan studynya di sini?" tanya Marsya.

__ADS_1


"Ibu, sudah dulu ya. Ada orang datang, aku tidak tahu siapa" kata Marsya berjalan menuju pintu utama.


__ADS_2