
"Baretta" gumam Marsya bersamaan dengan Ansel. Baretta adalah kekasih Vano yang selalu sabar sekali pun berulang kali dikhianati oleh Vano. Dan karena orang tuanya, Baretta selalu berpindah pindah sekolah.
"Ansel, sekarang kamu duduk. Dan kamu Maria, silahkan kamu berpindah tempat duduk" kata Bu Nazma. Ansel duduk di samping Marsya. Sedangkan Maria, ia duduk di tempat duduk yang sebelumnya ditempati oleh Ansel.
"Perkenalkan namamu setelah itu kamu duduk di samping Maria" kata Bu Nazma pada Baretta.
Baretta tersenyum manis pada semua siswa dan siswa yang ada di dalam kelas. "Namaku Baretta Willson. Kalian bisa memanggilku dengan panggilan, Baretta. Aku murid pindahan dari Amerika"
Setelah memperkenalkan diri, Baretta bergegas duduk di samping Maria. Jenni tersenyum ramah pada Maria. Saat Baretta hendak duduk, ia melihat Marsya tengah tersenyum padanya
"Kamu di sini?" tanya Baretta pelan.
"Iya, senang bertemu denganmu Baretta" balas Marsya.
"Buka buku kalian halaman 231, baca dan tanyakan dibagian mana yang kalian tidak pahami" kata Bu Nazma.
Semua siswa dan siswi mulai membaca apa yang dijelaskan pada halaman 231. Waktu yang diberikan hanya 15 menit. "Apa ada yang ingin bertanya?" tanya Bu Nazma.
Marsya mengangkat tangannya. Melihat Marsya mengangkat tangan, Baretta dan Ansel membulatkan mata mereka. Setahu Ansel, Marsya belum terlalu memahami apa yang ia baca. Dan Baretta, yang ia tahu Marsya adalah murid yang lambat loading.
Marsya mulai mengutarakan apa yang tidak dipahaminya. Bu Nazma tersenyum lalu menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Marsya. Proses belajar mengajar berjalan dengan lancar. Seperti biasa, tugas sekolah akan selalu ada seusai mata pelajaran.
----
Marsya dan kawan-kawan sedang duduk di kantin. "Ansel, kenapa hari ini Karina tidak ke sekolah?" tanya Marsya.
Neon dan Maria terlihat sedang menunggu jawaban dari Ansel. Sedangkan Haikal terlihat santai. "Karina sudah diberhentikan dari sekolah" jelas Ansel dengan pelan.
"Apa!!" Neon, Marsya dan Maria nampak terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Mendengar suara besar dari ketiganya, siswa dan siswi yang ada di kantin menoleh menatap ke arah mereka.
"Apa alasannya?" tanya Maria penasaran.
Ansel melihat disekeliling lalu mendekat. "Maria hamil" balas Ansel pelan.
"Apa!!" Neon kembali membulatkan matanya. "Apa kamu tahu nama pria yang melakukan itu?" tanya Neon pelan.
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan si pendiam namun bersifat bejat. Aku ingin menelannya hidup hidup. Bisa bisanya dia membiarkan aku kembali dengan wanita yang sudah dia hancurkan!!" ketus Ansel.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Neon lagi.
"Dia sendiri yang memberitahuku. Jika kamu tidak percaya, kamu tanyakan langsung padanya" balas Ansel.
Marsya semakin dibuat bingung. Ia tidak tahu siapa pria yang dimaksud oleh Ansel dan Neon. Namun, rasa penasaran itu ia urungkan saat mendengar percakapan Ansel dan Neon.
"Jangan bilang kalian saling kenal namun berpura pura tidak saling mengenal?" tanya Marsya menyelidik.
"Aku, Neon dan Haikal serta Maria, kami berempat saling mengenal. Dan kami tidak bermaksud membohongi kamu" jelas Ansel.
"Apa!!" Marsya membulatkan matanya. Ia menatap tajam Neon dan Ansel. Sedangkan Haikal dan Maria, mereka berdua hanya duduk santai menyaksikan teman-temannya.
"Ansel, jangan bilang mereka---" Marsya tak melanjutkan kalimatnya saat Ansel mengangguk lebih dulu.
"Senior!!!" teriak Marsya. Ia menatap tajam Neon dan Haikal.
"Hahahahaha" tawa Neon dan Haikal bersamaan.
Marsya membulatkan mata dengan mulut yang terbuka. Mendengar kenyataan bahwa Maria dan kedua seniornya berteman dengan Ansel. Dan sikap mereka selama ini hanyalah acting semata. Marsya mencubit kedua pipinya, berharap apa yang ia dengar hanyalah mimpi.
"Aww!!" jerit Marsya. "Ya Tuhan, ternyata aku tidak mimpi" gumam Marsya.
Ansel terkekeh. "Sya, apa kamu lupa. Di London aku adalah seniormu. Nilaiku begitu bagus hingga aku tidak perlu aktif di kelas 3. Aku sekelas denganmu hanya untuk menjagamu" jelas Ansel.
"Sekarang semuanya sudah jelas. Berhenti menanyakan Karina karena Karina sudah aman sekarang" ujar Ansel.
"Beritahu aku siapa pria yang menghancurkan masa depan Karina. Jika tidak, aku tidak akan memaafkan kalian" ancam Marsya.
"Aku yang melakukannya" jawab Haikal.
"Apa!!" lagi-lagi Marsya membulatkan mata. "Bagaimana bisa?" tanya Marsya lagi.
Flashback On/Club malam Kota J
__ADS_1
Haikal dan dua bodyguard sedang duduk sembari meminum anggur. Pandangannya tertuju pada wanita yang sudah lama ia incar, wanita itu adalah Karina. Haikal berbisik pada salah satu bodyguardnya untuk memanggil sahabat dari Karina yang bernama Ellen. Body guardnya pun menghampiri Ellen, lalu menyelipkan sebuah kertas yang berisi pesan.
Ellen mulai menjalankan aksinya. Menuangkan obat tidur di minuman Karina. Saat Karina membuka mata, ia sudah berada di hotel bintang 5 yang ada di Kota Jerman. Kejadian itu bukan hanya sekali, Haikal selalu menjebak Karina lewat Ellen. Dan Ellen, demi uang ia rela menjerumuskan sahabatnya sendiri.
"Maafkan aku Karina, ini adalah satu satunya cara agar kamu tidak pergi lagi" gumam Haikal saat ia merebahkan tubuhnya di samping Karina. Haikal akan pergi, sesaat sebelum Karina bangun.
Flashback Off
"Kamu pria bejat yang pernah aku kenal. Aku tidak menyangkah, diammu menyimpan nafsu" ujar Neon tersenyum licik.
"Stop! Jangan bicarakan itu lagi. Rasanya aku mau muntah mendengarnya" seru Marsya. Ia bergidik geli mendengar cerita mesum ketiga pria yang ada dihadapannya.
"Marsya, jangan bilang kamu dan Ansel belum mela--" Marsya mengumpat mulut Maria.
"Apa kamu sudah gila!" ketus Maria.
Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa, bunyi bel jam pulang telah terdengar. Semua siswa dan siswi bersorak girang. Mereka keluar dari dalam kelas menuju gerbang sekolah.
"Baretta..." panggil Marsya.
Baretta menoleh menatap Marsya. "Ada apa Marsya?" tanya Baretta.
"Kamu pulang dengan siapa?" tanya Marsya.
"Aku dijemput oleh supir ayahku. Kamu pulang dengan siapa?" Baretta balik bertanya.
"Marsya pulang bersamaku" balas Ansel yang tiba-tiba datang.
"Tumben kalian berdua akur" ledek Baretta.
Ansel dan Marsya terkekeh mendengarnya. "Ya begitulah, kadang benci menjadi cinta" balas Ansel tersenyum.
"Marsya, Ansel, aku pulang duluan, supir ayahku sudah datang. Sampai jumpa besok" kata Baretta sembari melambaikan tangannya pada Ansel dan Marsya.
Ansel dan Marsya tersenyum. Berjalan menuju mobil lalu masuk ke dalam. Mobil perlahan bergerak meninggalkan area sekolah. Di perjalanan, Ansel melirik Marsya yang tengah menatap jauh keluar jendela.
__ADS_1
"Sya, apa kamu masih belum mempercayaiku?" tanya Ansel.