
Angga dan Ansel menghampiri Marsya di meja makan. Keduanya tersenyum saat Marsya tersenyum ke arah mereka.
"Maafkan Dady yang membuatmu menunggu lama" kata Angga mengambil tempat di depan menantunya. Sedangkan Ansel, ia duduk disamping istrinya.
"Tidak masalah Dady, ayo kita makan" balas Marsya tersenyum ramah.
Angga, Ansel dan Marsya memulai makan malam bersama. Setelah selesai, Angga menatap Marsya dan tersenyum padanya.
"Menantu dady sangat pandai memasak. Makanannya sangat enak" Angga memuji masakan menantunya. Pujian itu bukan untuk membuat menantunya bahagia melainkan kenyataan bahwa menantunya pandai memasak.
"Hehehehehe. Aku akan selalu memasak untuk Dady, memasak makanan yang sangat enak" kata Marsya tersenyum.
"Sya, aku dan dady ke ruang keluarga dulu. Jika kamu sudah selesai membersihkan piring kotor temui kami di ruang keluarga" ujar Ansel tersenyum ramah pada istrinya.
Marsya mengangguk paham, ia mengangkat piring meletakannya di westafel cuci piring, kemudian mencucinya hingga bersih. Setelah selesai, Marsya menghampiri suami dan mertuanya. Ia mengambil tempat di samping suaminya.
"Marsya, Dady ke Jerman untuk menyerahkan perusahaan Dady pada Ansel. Mulai besok sepulang dari sekolah, Ansel akan bekerja di perusahan" jelas Angga.
"Dan Dady mau tanya, apa kamu masih tidak memiliki niat untuk belajar mencintai suami kamu?" tanya Angga menatap menantunya.
Marsya menunduk. "A--aku-- aku dan Ansel sudah sepakat untuk memulai dari awal. Hanya saja, sampai sekarang aku belum mencintai Ansel. Ansel selalu dekat dengan Karina, aku tidak suka melihatnya bersama Karina" balas Marsya dengan jujur.
"Ansel, kamu sudah dengar kan apa yang dikatakan istrimu. Dady serahkan semuanya padamu, jika kamu benar-benar menginginkan istrimu maka jangan terlalu dekat dengan Karina. Semakin kamu dekat dengan Karina maka semakin sulit untuk kamu bisa bersama istrimu" jelas Ansel.
"Aku paham dan akan aku usahakan" balas Ansel.
"Sekarang kalian masuk ke kamar, bicarakan bagaimana baiknya agar hubungan kalian tidak berantakan" ujar Angga beranjak dari duduknya.
Di sofa, tinggal Ansel dan Marsya. Ansel menatap istrinya sejenak. "Sya, ayo kita ke kamar" ajak Ansel. Marsya mengikuti langkah kaki suaminya lalu masuk ke dalam kamar. Keduanya berjalan menuju balkon dan duduk di sana.
"Sya" panggil Ansel menatap sayu istrinya.
Marsya menatap manik mata suaminya. "Maafkan aku" kata Marsya. Matanya mulai berkaca kaca.
Ansel menarik tangan istrinya, membawanya dalam dekapan hangat. "Aku yang harusnya meminta maaf padamu. Aku memintamu untuk memberiku kesempatan tapi aku juga yang mengingkari kesempatan itu" kata Ansel.
"Sya, apa yang harus aku lakukan? Aku mencintaimu dan menginginkanmu tapi janji untuk membantu Karina membuatku dilema. Apa yang harus aku lakukan, Sya?" tanya Ansel.
__ADS_1
"Jika memang seperti itu maka mari kita jalani seperti sekarang. Silahkan kamu bantu Karina dan aku, aku akan menjalani hari hariku dengan biasanya" balas Marsya.
Marsya melepas pelukan suaminya. Ia beranjak dari balkon lalu masuk ke dalam kamar. Dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berbaring miring membelakangi tempat tidur suaminya.
Ansel menghampiri istrinya dan berbaring menghadap istrinya. Saat istrinya mulai terlelap, Ansel mendekat lalu mencium puncak kepala istrinya. "Aku tahu aku salah. Mulai besok, aku akan menjauh dari Karina" batin Ansel.
------
Pagi hari
Seperti biasa, Marsya akan bangun lebih dulu untuk menyiapkan sarapan pagi untuk dia dan suaminya. Dan kali ini, bukan hanya untuk mereka tapi juga untuk ayah mertuanya.
Ansel menggeliat saat mendengar bunyi alaram. "Kenapa pagi selalu cepat menyapa" gumam Ansel sembari meregangkan otot ototnya.
Ansel beranjak dari tempat tidur. Berjalan menuju kamar mandi. Tak membutuhkan waktu lama, Anse keluar dengan handuk yang dililitkan dipinggang.
Marsya sudah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan mertuanya. "Dady, apa yang akan Dady lakukan di pagi ini? Kenapa rapih sekali?" tanya Marsya menyelidik.
"Dady mau ke perusahan. Oh ya, di mana Ansel?" tanya Angga mengambil tempat di kursi yang semalam ia tempati.
20 menit telah berlalu, Marsya keluar dari kamar dengan pakaian seragam yang sudah lengkap. Di ruang keluarga, ada suami dan ayah mertuanya yang sedang duduk membaca koran.
"Dady, kami ke sekolah dulu" pamit Ansel saat melihat istrinya berjalan menghampiri mereka.
"Hati-hati di jalan" balas Angga tersenyum ramah menatap menantunya.
"Baik Dady" balas Marsya dan Ansel bersamaan.
----
Sekolah
Marsya dan Ansel turun dari mobil, keduanya jalan beriringan. Seperti yang di katakan Marsya semalam, ia akan menjalani hari-hari di sekolah seperti biasa. Membiarkan Ansel berbuat sesukanya.
"Ansel, aku duluan ke kelas" ujar Marsya berlalu pergi meninggalkan Ansel di lorong sekolah.
"Sya, tunggu..." panggil Ansel mengejar Marsya.
__ADS_1
Marsya menoleh menatap Ansel. "Ada apa?" tanya Marsya.
"A-aku-- a-aku--" Ansel terlihat gugup.
"Ansel!!" terdengar seseorang memanggil Ansel. Ansel dan Marsya menoleh. Di sana, ada Haikal, Neon dan Maria.
"Ada apa?" tanya Ansel menaikkan sebelah alisnya.
"Ikut aku sebentar" kata Haikal. Haikal dan Ansel berjalan ke belakang sekolah. Sesampainya di belakang sekolah, keduanya nampak membicarakan hal yang sangat serius.
Marsya selalu menatap pintu kelas. "Apa hubungan Ansel dan Haikal? Kenapa mereka terlihat seperti sangat akrab" batin Marsya.
"Sya, apa yang kamu pikirkan?" tanya Maria.
"T--tidak, aku tidak memikirkan apa-apa" balas Marsya terbata bata.
Maria mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya saat ia mendengar bunyi bel yang menggelegar, memenuhi semua ruangan yang ada di sekolah. Selang beberapa detik, terlihat Ansel memasuki ruangan.
"Maria, bisa kita bertukar tempat duduk?" tanya Ansel.
Belum sempat Maria menjawab, Marsya sudah lebih dulu memprotes. "Kenapa harus bertukar tempat duduk!"
"Kamu terlihat seperti ibu-ibu saat sedang marah" ledek Ansel.
"Mending aku, aku seperti ibu-ibu tapi tidak gatal. Daripada kamu, terlihat tampan tapi play boy!!" ketus Marsya.
Semua teman-teman mereka yang ada di dalam kelas menyaksikan perdebatan keduanya. Baik Ansel maupun Marsya, keduanya tak ada yang mau kalah.
"Ada apa ini?" tanya Bu Nazma yang tiba-tiba datang.
"Ini Bu, Ansel. Dia mau bertukar tempat duduk dengan Maria. Ibu, aku tidak mau duduk berseblahan dengan Ansel" ujar Marsya cemberut.
Bu Nazma tersenyum. "Marsya, apa salahnya kamu duduk dengan Ansel. Bukankah dia sepupumu" balas Bu Nazma tersenyum.
"Tapi Bu---" Marsya menghentikan kalimatnya saat ia melihat seseorang yang ia kenal.
"Selamat pagi" sapa seseorang yang suaranya sangat familiar bagi Ansel dan Marsya.
__ADS_1