
2 minggu yang lalu.
Hari ini, aku akan bertemu sosoknya, sosok yang akan menjadi suamiku. Keluarga kami dan Keluarganya berencana akan makan malam disalah satu restoran. Aku harap, apa yang akan menjadikan keputusanku adalah yang terbaik. Aku harap, semoga saja.
Kini Aku berdandan dengan make up yang super natural dan hanya menggunakan dress putih selutut. Ku tatap diriku dipantulan cermin, tersenyum seolah yang kutatap bukan diriku. senyum itu, senyuman yang dipantulan cermin bukan senyum kebahagiaan. Namun, senyum yang harus ku paksa agar terlihat natural.
"Arin semangat. Semoga aja nanti Arin dijodohin sama Ceo muda kayak dicerita-cerita oke." Tanpa sadar aku tersenyum lebar hingga menitikkan air mata.
"Arin, Kamu harus semangat. Ga boleh nangis, masa nangis sih."
Aku berusaha menyemangati diriku yang sebenarnya membutuhkan support dan dukungan dari orang sekitar.
"Arin ayo sayang nanti kita telat," ucap Mama. Ku pandangi Mama yang tersenyum melihatku,
"Anak Mama, sekarang sudah besar ya," Mama mengusap pipiku, ku lihat matanya menitikkan air.
Mama benar-benar sulit untuk melepaskanku, ditambah lagi aku adalah anak satu-satunya. Tapi apapun keputusan yang telah diambil, semua juga demi masa depan ku.
***
Waktu sudah menunjukkan jam pertemuan, kami sedang dalam perjalanan untuk ke tempat yang dituju. Namun, aku sangat gelisah, benar-benar gelisah. Seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Perasaan apa ini? Gugup karena akan bertemu seseorang itu? Atau apa?
"Kamu kenapa sayang?" tanya Papa.
Aku terkejut, Papa melirikku dari arah kaca mobil.
"Eng- engga apa-apa Pa," aku menjawab dengan gugup.
"Tenang aja, camer kamu ngga galak kok sayang,"
"Bu-bukan itu Ma,"
"Udah-udah sekarang kamu siapin mental kamu selama 3 menit. Karena kita udah sampe," ucap Papa.
'Ha? Apa? U-udah sampai?'
***
3 menit bukan waktu yang lama. Aku benar-benar berusaha menyiapkan mental selama 3 menit tadi, tapi tetap saja aku gugup.
Kami duduk di sebuah meja yang telah dipersiapkan oleh keluarga Adirajada.
Eh? Apa? Adirajada? Kenapa terasa Familiar? Itu seperti. . .
"Maaf apa kami membuat kalian menunggu terlalu lama?"
Deg..
Keluarga itu..
Dan sosok itu..
Bisma Side Story
Aku hanya diam tak berkutik, hari ini Keluargaku akan bertemu keluarga yang telah menyepakati perjodohan ini.
Aku terus memikirkan seperti apa anak SMA yang akan menjadi istriku nanti? Apa dia akan seperti anak SMA pada umumnya? Atau dia yang memiliki banyak kasus disekolah? Atau bahkan dia yang ansos? Atau pansos? Ini Benar-benar membuatku penasaran. Bahkan namanya saja aku tidak tau, bukannya aku berniat untuk tidak tau. Tapi Mama lah yang menutup semuanya, bahkan ketika aku bertanya siapa namanya? Dimana ia bersekolah? Bagaimana wajahnya? Mama hanya membalas "Nanti setelah bertemu tanyakan semua hal yang ingin kamu tanyakan padanya."
Sesampainya di restoran, kami langsung menghampiri mereka. Aku melihat arah pandangan mama, ada 3 orang yang menepati meja paling besar sepertinya wanita paruh baya itu Mama dari calonku, yang pria paruh baya itu Papanya dan sepertinya gadis yang menggunakan dress putih itu adalah calon ku.
Dia menunduk sepertinya sedang melamun, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Mama langsung buru-buru menghampiri mereka,
"Maaf apa kami membuat kalian menunggu terlalu lama?" Mama menanyakan hal itu setelah kami berada tepat di depan mereka.
gadis itu spontan melihat kami dan
Deg...
Kenapa harus dia--
***
Arin terkejut dan spontan langsung berdiri, dia menatap keluarga yang kini berada dihadapannya dengan tatapan gugup.
"Tidak, kami juga baru sampai. Ayo duduk," Nita --Mama Arin-- langsung mempersilahkan keluarga tersebut duduk.
"Apa ini Arin? Benar-benar Cantik, tidak berubah sama sekali, masih tetap cantik seperti dulu," puji Ola --Mama Bisma-- yang duduk disebelah Arin.
Arin hanya tersenyum canggung menghadapi situasi ini.
__ADS_1
"Apa ini? Ke-kenapa harus pak Bisma?" -Batin Arin.
"Sepertinya kalian tidak perlu dikenalkan ya. Sudah saling kenal kan?" tanya Mama Arin sambil tersenyum.
Arin hanya menunduk sambil tersenyum canggung.
"Apa ini semua udah direncanain?" -Batin Bisma & Arin secara bersamaan.
"Ayo kita makan dulu, setelah ini baru kita berbicara keintinya," ucap Papa Bisma Mempersilahkan.
Bisma Melirik Arin yang duduk tepat disampingnya, posisinya yang sebelah kanan Arin, dan mamanya disebelah kiri Arin.
"Sepertinya, sumpah serapah kamu waktu itu. Jadi kenyataan ya Ayrin Syalwa Kamila?"
***
Apa-apaan Dia ini, benar-benar membuatku merinding. Bisikannya benar-benar sukses membuat bulu kudukku berdiri. Tapi, bagaimana dia tau? Aku sering menyumpah serapah kan dia.
Aku menoleh ke arahnya dengan ragu-ragu, tatapnya kepadaku seperti seseorang yang sedang merencanakan sesuatu. Buru-buru aku menoleh ke arah semula, pura-pura tidak mengerti apa maksudnya.
Selesai makan, semuanya masih asik bercanda gurau, sesekali aku hanya tersenyum merespon keadaan. Aku ingin pulang, ingin tidur dan tidak akan bangun selamanya. Tapi, jangan dulu aku masih memiliki banyak dosa yang harus kutebus. Jangan dulu, aku harus hidup dengan tenang dan matipun dengan tenang.
***
Ayrin Syalwa Kamila, dia ini dari ribuan siswa disekolah hanya dia yang sering memiliki kasus dan berurusan dengan ku. Benar-benar tidak terduga.
Aku terus meliriknya, sepertinya dia risih. Tapi ini kesempatan yang bagus untukku mengerjai siswi yang selalu menyumpah serapahku dengan kata-kata yang menjadi Boomerang dalam hidupnya.
"Sepertinya, sumpah serapah kamu waktu itu. Jadi kenyataan ya Ayrin Syalwa Kamila?" bisiku pelan tepat ditelinganya.
Dia merespon dengan cukup terkejut, walaupun itu tidak jelas tapi aku tahu. Aku menatapnya terus menerus, ah dia menoleh melihatku.
'Sepertinya ini bakal menarik'
Saat aku senyum, dia langsung menoleh ke arah lain. Pura-pura tidak menyadari bahwa aku berada di sampingnya. Benar-benar Menarik.
***
"Pernikahannya akan dilaksanakan sesudah Arin ujian untuk kenaikan kelas, 2 Minggu cukup untuk menyelesaikan semuanya. Bagaimana Arin, Bisma? Apa kalian setuju?"
Arin dan Bisma terdiam, sama-sama memikirkan bagaimana kedepannya. Arin tampak bimbang, pernikahan ini terlalu cepat, banyak yang harus dipersiapkan terutama hati.
"Bisma ikut aja tan, gimana Arin nya."
"Bagaimana Arin?" tanya Mama Bisma.
"Arin setuju aja tan, bagaimana yang terbaiknya."
"Kalau begitu, sesudah Arin ujian kita akan melaksanakan Akadnya," ucap Mama Bisma tersenyum bahagia.
Arin berdiri dari tempat duduknya. "Kalau begitu Arin permisi ke toilet sebentar,"
Setelah mendapatkan izin Arin buru-buru pergi ke toilet, sebenarnya alasan kenapa ia pergi bukan ingin ke toilet hanya saja ia ingin pergi jauh dari situasi itu untuk sementara. Sesampainya di toilet Arin hanya berdiam, sampai kapan dia menghindari situasi ini, dia harus keluar mecari cara agar cepat kembali ke rumah.
Arin keluar dari toilet tanpa Melihat jalan, ia terlalu fokus untuk merapikan ujung dress-nya yang terlalu kusut hingga dia
Bruuk...
"Aaww.." aduh Arin.
"Loh Arin?" tanya orang itu. Arin langsung menoleh ke arah orang yang ia tabrak tadi.
"Ketua kelas?"
"Kebiasaan, diluar gue bukan ketua kelas jadi panggil Ryan. kalo disekolah baru dah gue ketua kelas," jelasnya sambil membantu Arin berdiri.
"Lo gapapa?" tanya Rian khawatir.
"Ga kok, gapapa. Maaf tadi gue ga liat liat."
"Iya gapapa, ngomong-ngomong lo lagi ada acara? Tumben dandanan lo cakep gini," goda Rian.
"Gue emang cakep, mau dibegimanain pun tetep cakep," balas Arin mengibaskan rambutnya.
"Tingkat kepedean lu emang udah ngga normal,"
"Yeu dikata gue dah gila apa."
"Jawab dulu pertanyaan gue, lo disini ngapain?"
"Ya makanlah. Emang orang ke restoran ngapain? Mau tidur?"
"Eh iya sih" Ryan menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
__ADS_1
"Lo sendiri ngapain disini? Mau kencan sama nenek-nenek kantin yang lo incer itu?"
"Gila ya lo, yakali gua yang tampan ini kencan bareng nenek-nenek."
"Kali aja *****, sangking kaga lakunya lo jadi harus sama nenek-nenek."
"Serah lo, eh temen gua udah pada nungguin tuh. Gue duluan," Ryan pamit dan menghilang dari pandangan Arin.
Baru saja Arin merasakan lega karena keluar dari situasi tadi, tapi malah dikembalikan ke situasi itu.
"Arin," panggil Bisma.
"Loh bapak ngapain disini?"
Bisma hanya menatap Arin tanpa menjawab pertanyaannya. Lalu berjalan mengabaikan Arin.
'Apaansih tadi manggil, terus main cabut gitu aja.' -batin Arin
Arin mengikuti Bisma yang keluar dari restoran tersebut,
'eh tunggu? Ngapain aku ikutin?' -batin Arin.
Sadar karena Arin berhenti mengikutinya, Bisma pun menoleh ke arah Arin.
"Orang tua kamu ada urusan mendadak dan langsung pulang, jadi saya disuruh anterin kamu."
"Kok Mama ga bilang," gumam Arin.
Bisma hanya melihat Arin dengan tatapan datar.
"Mau pulang atau tidak?"
Arin tersadar dari lamunannya, "Tungu sebentar pak, saya mau ambil tas saya di dalem."
"Ini tas kamu," Bisma melemparkan tas kecil Arin yang sedari tadi ia bawa dengan sigap Arin langsung menangkapnya.
"Sejak kapan sama bapak?"
Bisma tidak menjawab pertanyaan Arin dan langsung menuju parkiran mobil.
"Gila, bukannya dijawab malah ditinggalin," Arin langsung mengikuti Bisma yang sudah jauh.
***
Hening, sedari tadi hanya suara ac mobil yang terdengar. Arin benar-benar benci situasi seperti ini, dia tipikal orang yang bosan dengan keheningan. Ingin mengajak orang yang ada didekatnya ini berbicara, tapi tadi saja pertanyaannya hanya diabaikan.
'Ini si bapak ga ada inisiatif pengen hidupin musik?'
"Pak, jadi sebe--"
"Jangan panggil saya bapak, saya bukan bapak kamu."
"Bapak kan guru saya ya wajar saya panggil bapak."
"Saya tidak pernah mengganggap kamu murid saya. Lagian saya tidak sudi punya murid modelan kamu. Jadi saya bukan guru kamu."
"Iyain aja sih terserah bapak, ntar kalo di ajak debat malah bengek udah tua soalnya."
Bisma hanya menatap Arin datar, "Umur saya masih 22 tahun. Saya masih muda dan belum pantas dipanggil bapak."
"Owh aja sih pak. Saya ga nanya tuh," ucap Arin tanpa menoleh ke arah Bisma.
Bisma hanya menatap Arin geram, murid yang selalu membuat darahnya naik, apa benar orang yang disampingnya ini akan menjadi istrinya kelak? Apa ini tidak akan membunuhnya secara perlahan?
"Pak, saya mau nanya tolong jangan dipotong," ucap Arin menoleh ke arah Bisma yang fokus menyetir.
"Jadi bapak udah tau siapa yang akan dijodohkan dengan bapak? Terus bapak sering jahilin saya karena ini? Kayak di film-film gitu. Iya kan pak?!"
"Kamu terlalu banyak nonton drama," ketus Bisma.
"Saya ga tau kalau kamu yang mau dijodohkan dengan saya."
"Bapak bohong! Pasti bapak tau, tapi bapak pura-pura ga tau dan malah memata-matai saya iyakan? Makanya bapak ngajar disekolah saya?"
'Dosa apa saya kalau kalau orang modelan dia bakal jadi istri saya?'
Bisma hanya tersenyum kecut menanggapi Arin, "Overdosis sinteron," gumam Bisma.
"Pak," panggil Arin Ragu. Bisma hanya menatapnya sekilas karena sedang fokus menyetir.
"Sa-saya udah punya orang yang saya kagumin sejak lama," ucap Arin ragu. Ia menunduk dan memainkan jarinya.
"Ooh bagus dong, saya juga punya orang yang saya kagumi sejak lama."
__ADS_1
"Siapa pak?" tanya Arin Antusias.
"Bu Ani."