
Sesampainya di bengkel,Aditya langsung memarkirkan mobilnya di depan ruko.
"Bell...bangun,kita sudah sampai di bengkel."ucap Aditya sembari mengelus lengan Bella.
"Hmm.."suara parau Bella dan mengerjapkan matanya lalu dia mengedarkan pandangannya.
"Sudah Sampai..."kata Bella.
"Iya...ayo turun."
Aditya dan Bella turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam bengkel.
"Hai bang,gimana keadaan bengkel."tanya Aditya.
"Aman bro,,,,"sahut Bang Edo seraya mengacungkan jempolnya.
"Kalau gitu aku ke dalam dulu."sambung Aditya yang langsung melangkahkan masuk ke ruang kerjanya dan ternyata Bella sudah berada di dalam sedang tiduran di sofa panjang sembari memainkan gawainya.
Aditya langsung duduk di kursi kerjanya dan mengecek buku pemasukan dan juga mengecek apa saja yang harus dia beli untuk melengkapi bengkelnya.Saat sedang serius, Aditya melirik Bella tengah cengar-cengir memandangi handphonenya.
Aditya yang penasaran langsung menghampiri Bella dan berdiri di sampingnya."Lagi lihatin apa sih.."tanya Aditya kepo.
Bella mendongakkan kepalanya sebentar dan kembali fokus dengan handphonenya untuk melihat utub.Bahkan Bella tak menjawab pertanyaan Aditya,Bella masih kesal sama Aditya dan sekarang Bella juga melakukan hal yang sama yaitu mendiaminya saat dia berbicara.
Karena tak di respon,Aditya jongkok dan mengelus pucuk kepala Bella,"Ya sudah kalau kamu masih nggak mau bicara sama aku,aku mau lanjut kerja lagi,ya..."ucap Aditya halus dan bangkit dari jongkoknya.
"Kalau butuh sesuatu tinggal panggil saja,aku ada di depan."sambung Aditya yang meninggalkan Bella di ruang kerja sendirian.Aditya memakai baju khusus buat kerja di bengkel dan memulai pekerjaannya memeriksa kendaraan pelanggannya.
***
Hari ini Fahri sedang meninjau proyek,dia ditemani oleh seketarinya dan juga karyawan baru yang kemarin di rekrutnya termasuk Dewi.Fahri tengah menjelaskan apa saja proyek yang mereka garap kepada karyawan baru.Di sana Dewi tak henti-hentinya mengagumi ketampanan Fahri,bahkan Dewi sedang berusaha untuk mendekatinya dari dia membawakan kopi ke ruang kerjanya dan juga kadang Dewi selalu membawakan makanan untuk Fahri,tapi dari semua usaha Dewi tidak membuat hati Fahri tergerak.
__ADS_1
Fahri masih memendam rasa cintanya kepada Bella,meskipun sudah berusaha untuk melupakannya.Hanya dengan kesibukannya dia bekerja bisa mengalihkan perasaan sakit hatinya.
Saat sedang menjelaskan semuanya dari arah atas ada benda yang cukup besar jatuh dan di bawahnya Dewi tengah berdiri.Fahri yang melihat benda itu akan menimpa Dewi,Fahripun bergegas lari ke arah Dewi.
"Awas..."teriak Fahri.
Fahri langsung mendorong tubuh Dewi hingga Dewi terdorong dan menabrak tembok saat benda itu terjatuh.
Brakk
Tubuh Fahri tertimpa benda tersebut membuat beberapa luka di di tubuh Fahri.Semua yang berada di sana menjerit histeris saat benda itu jatuh menimpa atasan mereka,Neta sekretaris Fahri langsung berlari mendekati Fahri dan melihat keadaan Fahri.
Untungnya Fahri masih tersadar dan segera di bawa ke rumah sakit yang tidak jauh dari sana.Sesampainya di rumah sakit,Fahri langsung di tangani dengan cepat.
"Sus,tolong panggilkan dokter Sinta."ucap salah satu suster yang tengah membersihkan darah Fahri.
"Baik..."ucapnya tegas.
Tok tok tok
"Ayo,kita segera ke sana."tukas Sinta yang bergegas ke arah UGD.
Sesampainya di UGD,Sinta mengernyitkan dahinya saat melihat lelaki yang tergolek di ranjang pasien.
"Fahri.."gumamnya.
Sinta langsung memeriksa keadaan Fahri dan melihat luka Fahri.Untungnya saat kejadian Fahri menggunakan helm bangunan untuk melindungi kepalanya sehingga kepalanya tidak ada yang terluka,hanya beberapa bagian tubuhnya yang terluka cukup parah.
Setelah mengobati luka-lukanya,Fahri di bawa ke ruang rawat oleh suster dan di haruskan opname untuk beberapa hari,karena bagian tangannya cidera dan juga luka yang lainya.
Tap Tap Tap
__ADS_1
Derap langkah seseorang memasuki ruang rawat Fahri, senyuman terbit saat melihat Fahri sedang berada di ranjang pasien.
"Gimana keadaan kamu..."tanya Sinta sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Sinta.."cicit Fahri.
"Iya,ini aku Sinta."seraya mengeluarkan stetoskopnya untuk memeriksa keadaan Fahri.
"Keluarga kamu belum ada yang datang?"tanya Sinta sembari memeriksa dada Fahri.
"Mungkin sebentar lagi."tukas Fahri yang memandang wajah Sinta yang terlihat berbeda dengan terakhir bertemu,mungkin karena dia menggunakan baju dokternya membuat Sinta terlihat lebih berbeda.
Tok tok tok
"Permisi pak.."Dewi menyembulkan kepalanya di balik pintu.
Dewi langsung masuk dengan perasaan bersalah, gara-gara dia Fahri jadi terluka dan harus di rawat di rumah sakit.Dewi tak datang sendiri,dia datang bersama karyawan yang lainnya.
"Gimana keadaan Pak Fahri."ucap Dewi.
"Seperti yang kamu lihat."sahut Fahri.
Dewi menggigit bibir bawahnya karena merasa bersalah."Maaf pak, gara-gara Bapak menolong saya membuat Bapak jadi seperti ini.Sekali lagi saya minta maaf."ungkapnya tulus.
"Iya,lagian itu bukan salah kamu.Jadi jangan merasa bersalah."timpal Fahri seraya memberi senyum kepada Dewi.
Tidak lama Aditya dan Bella datang ke ruang rawat Fahri dengan wajah yang sangat kacau apalagi Aditya yang wajahnya masih ada noda oli.
"Bang..."seru Aditya di gawang pintu.
Semua orang yang ada di sana langsung menengok ke arah Aditya dan Bella.Aditya yang sangat khawatir dengan keadaan Fahri langsung melangkah cepat ke ranjang Fahri dan menanyakan keadaannya.Begitupun Bella mendekat ke ranjang Fahri tapi Bella berdiri di samping Sinta.
__ADS_1
"Maaf pak,kalau gitu kami permisi dulu."timpal salah satu karyawan baru.Dan merekapun beriringan keluar dari ruang rawat Fahri,Dewi yang berjalan terakhir hanya menatapnya sendu.