Nikah Muda

Nikah Muda
ATC. Season 2. Ep 34


__ADS_3

Tiga bulan kemudian


Ansel telah lulus SMA, dan Marsya sudah berada di tinggkat tiga. Sesuai janji mereka, bila dikenaikan kelas nanti dan Marsya masih belum mencintai suaminya, maka Ansel akan menerima keputusan istrinya, yaitu bercerai.


Cuaca malam begitu dingin, hujan lebat mengguyur Kota Jerman. Di rumah, Marsya sedang duduk di sofa menatap suaminya yang tengah sibuk dengan komputernya.


"Ansel" panggil Marsya.


"Hmm" balas Ansel tanpa menatap istrinya.


"Maafkan aku yang belum sepenuhnya membuka hati untukmu" kata Marsya.


"Lalu bagaimana? Apa kamu ingin bercerai?" tanya Ansel. Pria itu terlihat sedang menahan bulir air mata. Usahanya selama dua bulan lebih, ternyata sia-sia.


"Jika perceraian yang kamu inginkan maka akan aku kabulkan" kata Ansel. Ansel beranjak dari kursi kerjanya, mengambil jaket dan kunci mobil. Ia keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil. Mobil perlahan bergerak meninggalkan rumah.


Di dalam rumah, Marsya nampak menangis terisak isak. Ia bimbang dengan perasaannya. Apakah rasa yang ia simpan adalah cinta atau sekedar rasa kasihan.


"Ansel" gumam Marsya saat bunyi petir terdengar menggelegar. Rasa cemas menghampirinya. Marsya mengambil ponselnya, mencoba menghubungi suaminya namun nomor suaminya diluar jangakauan.


"Kenapa perasaanku tidak tenang" gumam Marsya.


Waktu begitu cepat berlalu, Marsya melirik jam dinding dan waktu sudah menunjukan pukul 03:22 pagi. "Ansel di mana? Kenapa dia belum pulang juga" batin Marsya.


Marsya beranjak dari ranjang, ia masuk ke dalam kamar yang dulu ia tempati. Berharap Ansel ada di sana. Saat ia membuka pintu, air matanya kembali menetes. "Ansel di mana" batinnya.


Pukul 05:31 AM


Marsya menggeliat lalu melirik di sampingnya, lagi-lagi suaminya tidak ada. Marsya terlihat mengambil napas dalam-dalam. Menggeser bedcover lalu turun dari ranjang. Berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Apa Ansel marah padaku?" batin Marsya sambil berdiri di bawah sower. Menyalakan keran air dan membiarkan air mengguyur tubuhnya.


Marsya keluar setelah merasa tubuhnya kembali terasa segar. Di atas nakas terdengar ponsel berdering, Marsya mendekat melihat siapa yang menghubunginya.

__ADS_1


"Maria" gumam Marsya. Lalu menjawab panggilan dari Maria.


"Halo Sya, tunggu aku dan Maretta di rumah. Ansel meminta aku untuk menjemputmu" kata Maria.


"Oke, aku tunggu kalian di rumah" balas Marsya. Marsya dan Maria mengakhiri panggilan telepon.


Hampir dua puluh menit Marsya menunggu. Terdengar kalakson mobil dari luar. Marsya berlari menghampiri Maria dan Maretta. "Ayo jalan" kata Marsya.


-----


Sekolah


Penampilan Maria tak seculun dulu lagi. Ia terlihat cantik saat tidak mengenakan rambut palsu dan kaca mata besar. Maria dan Marsya serta Maretta keluar dari mobil. Ketiganya bergegas masuk ke kelas.


"Marsya, kamu kenapa?" tanya Maretta saat melihat Marsya nampak murung di kursi.


"Iya. Sejak tadi kamu nampak tak bersemangat" timpal Maria.


"Aku bingung dengan perasaanku sendiri" balas Marsya. Ia melipat kedua tangannya di meja, menenggelamkan wajahnya di sana.


"Aku tidak suka guru baru itu! Dia terlihat kejam" kata Maria.


"Selama dia mengajar dengan benar maka aku yes yes saja" ujar Maretta.


"Terserah kalian berdua. Aku tidak mau mengurus guru yang ada di sekolah ini" kata Marsya.


Marsya, Maria dan Jenni. Mereka mulai diam memperhatikan guru baru mereka. Seperti guru lainnya, tiap mata pelajaran usai, maka tugas sekolah akan selalu ada.


"Tugas terus!!" ketus Maria saat guru baru mereka sudah keluar dari kelas.


"Sya, video call Allini dulu. Aku kangen Allini, sudah lama aku tidak mendengar kabarnya" ujar Maretta menatap Marsya cemberut.


Marsya tersenyum, ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Allini. Tak membutuhkan waktu lama, Allini menjawab panggilan telepon dari Marsya.

__ADS_1


"Sya...!! Aku kangen kamu. Kak Deva dan Kak Vano sudah lulus. Aku di sini sendirian" seru Allini cemberut.


"Allin...!!" seru Maretta yang tiba-tiba merampas ponsel Marsya.


"Aku benci kalian berdua. Kalian jarang menghubungiku!" ketus Allini.


"Allin, kapan ke sini lagi?" tanya Maria yang kembali merampas ponsel Marsya dari Maretta.


"Aku tidak tahu" balas Allini sedih.


"Marsya, Maretta, Maria, aku ke kelas dulu. Kalian hati-hati di situ dan jangan lupa hubungi aku tiap hari" kata Allini lalu memutuskan panggilan.


Marsya dan Maretta serta Maria memilih duduk di kelas. Mereka tidak ingin ke kantin atau ke lapangan bola basket. Tanpa Ansel, Marsya merasa sendiri. Dan tanpa Neon, Maria terasa ingin cepat-cepat lulus. Sedangkan Maretta, ia masih setia menjalani hubungan jarak jauh dengan Vano. Ya, sekalipun Vano masih dengan sifat play boy-Nya.


Marsya membuka buku cetak miliknya, begitu pun dengan Maria dan Maretta. Saat sedang membaca buku, tiba-tiba terdengar dering ponsel Maria. Maria menjawab panggilan dari Ansel. Saat mendengar Maria menyebut nama Ansel, Marsya menatap Maria.


"Ansel? Ansel menghubungimu?" tanya Marsya.


Maria mengangguk. "Apa kalian berdua sedang berkelahi?" tanya Maria menyelidik.


"Tidak, mana mungkin aku berkelahi dengannya" elak Marsya. Ia tidak ingin kedua sahabatnya tahu jika hubungannya dengan Ansel sedang tidak baik-baik saja.


"Aku senang mendengarnya" kata Maria tersenyum legah. "Ansel memintaku untuk mengantarmu pulang" lanjutnya.


"Maria, aku numpang di mobilmu. Aku tidak bebas jika pulang bersama supir ayahku" kata Maretta memohon.


"Baiklah. Hari ini aku menjadi supir kalian berdua" balas Maria.


-----


Perusahan


Ansel sedang duduk di kursi kebesarannya. Matanya menatap komputer dan jari tangannya sedang bermain main di atas keyboard. Tanggung jawab yang ia pikul sangatlah berat. Ia harus menafkahi istrinya dan mengumpulkan uang untuk Marsya kuliah. Sesuai janjinya, ia akan tetap membiayai Marsya sekali pun mereka berdua sudah bercerai.

__ADS_1


"Aku harus bekerja lebih giat lagi. Perusahan ini milik Dady, bukan milikku. Aku harus mengumpulkan uang yang banyak untuk membiayai semua keperluan Marsya. Aku tidak ingin menjadi laki-laki pengecut yang mengingkari janjinya" batin Ansel.


Ting... terdengar satu notifikasi masuk. Ansel membiarkan pesan masuk tanpa ingin membacanya. Ia memilih fokus dengan pekerjaannya dibandingkan melihat pesan masuk. Tiba-tiba, Ansel menghentikan aktivitasnya. Ia mengambil ponselnya lalu membaca pesan yang sejak tadi masuk.


__ADS_2