
Pak Bisma melemparkan sebuah map dan pena tepat dihadapan ku secara kasar.
"Tanda tangani itu," ketusnya.
Aku mengerutkan kening heran, ku ambil map yang ia lemparkan tadi dan membacanya dengan seksama. "Apa ini?" Tanyaku.
"Sebuah perjanjian. saya ingin setelah dua tahun menikah kita berpisah," jelasnya dengan wajah datar.
'Perjanjian? Dua tahun? Apa aku kawin kontrak?'
"Tapi bagaima--"
"Saya yang akan meyakinkan kedua orang tua saya. Mungkin, secepatnya setelah Papa saya sembuh kita urus berpisahan ini," potongnya dan berlalu meninggalkanku.
'Dia hanya ingin meyakinkan orang tuanya. Bagaimana dengan orang tua ku?'
Saat ini aku tidak ingin terbebani oleh pernikahan yang tidak bisa membuat aku biasa. Aku harus berusaha untuk fokus agar dapat lulus dengan baik.
Untuk sementara ini aku tidak berniat menandatangi nya. Ku ambil map dan pena tadi, berjalan dan menyimpannya di laci meja.
•••
Aku butuh kisi-kisi untuk ujian matematika besok. Bagaimana caranya agar aku dapat melihat tanpa harus meminta padanya.
aku mengendap-endap menuju ruang tempat kerja pak Bisma. Hari ini ia sedang keluar tidak tau kemana, yang terpenting aku tidak ingin tahu kehidupannya. Sesampainya didalam ruangan itu, aku mengacak-acak mejanya mencari soal yang akan dijadikan untuk ujian besok.
"Mana, mana, mana," monologku yang terus mengacak-acak mejanya.
"Apa yang sedang kamu cari,"
Bagai tersambar petir, aku terdiam tanpa bergerak ataupun menoleh kearahnya. Skak mat. Ia pulang lebih cepat dari perkiraanku.
"An-anu pak. Sa-saya lagi cari pena, saya kehabisan pena," ucapku beralasan.
"Gimana pena kamu bisa habis. Pena nya kamu makan?" Tanyanya ketus.
Aku memutar bola mataku malas. "Tintanya ******," gumamku.
"Suami sendiri kamu katain ****** gitu. Kamu punya akhlak tidak?"
"Kok bapak nyolot?!"
Ia memasang ekspresi datarnya. Berjalan mendekatiku, sehingga aku tersudut di tembok.
Ia menepis jarak kami dan mendekatkan wajahnya pada wajaku. Aku terdiam menutup kedua mataku. "Kerjakan ujian kamu secara Jujur Ayrin," bisiknya.
"Kenapa merem? Saya tidak akan mencium kamu," ketusnya menyeringai.
__ADS_1
Aku rasa pipiku sudah memerah seperti kepiting rebus. Aku mendorong pak Bisma berniat berjalan keluar meninggalkannya.
"Saya hanya ingin memperingatkanmu Ayrin tentang satu hal. Selama pernikahan ini berjalan, sebaiknya kau menjaga hatimu," suara baritone Pak Bisma menghentikan langkahku. Aku menoleh padanya, ia telah melarangku.
'Untuk Mencintainya'
•••
Aku mendudukkan diri di kursi taman sekolah dengan rileks. memejamkan mata sesaat untuk menghilangkannya beban yang sudah terlalu menumpuk dalam otakku. Ujian hari ini terbilang cukup sukses, walaupun ada sedikit hambatan karena Pak Bisma yang mengawasinya.
Terdengar samar-samar suara langkah kaki mendekat, mungkin hanya orang lewat pikirku. Tetapi suara langkah kaki itu terhenti, berat rasanya jika harus membuka mata jadi aku mengabaikan hal yang tidak penting ini.
"Bangun!" Ryan memukul pelan kepalaku dengan botol minum.
Aku membuka mataku malas. "Males,"
Ryan menyodorkan botol minum yang ia pegang padaku. "Malah males, nih minum."
Dengan tangan gontai aku mengambil minumnya, membuka dengan malas dan meneguknya.
"Kalau mau ngomong. Ngomong aja," titahku mempersilakan Ryan.
Aku mengangkat alis kananku melihatnya, "kenapa?"
"Ngga jadi. Bukan waktunya--"
"Ternyata disini," potong Anya yang datang bersamaan dengan Astra.
"Nih minumnya,"
"Buat lu aja. Ini gua udah ada minum," ucapku memperlihatkan botol minum yang diberikan Ryan tadi.
Astra duduk memisahkan aku dan Ryan yang bersebelahan.
"Ga baik berduaan, karena yang ketiganya setan," ucapnya yang entah kenapa mengatakan jelmaan sebangsanya dan menatapku penuh tekanan.
"Arin," panggil Astra.
Aku hanya menoleh sambil meneguk minuman tanpa menjawab dengan kata.
"Ikan Lele, Ikan Paus. aku sayang kamu-"
"Tapi boong," lanjut Astra yang tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Ku tatap Astra heran, pasalnya kenapa ia tertawa tanpa ada lelucon sedikitpun.
"Astra," panggilku.
Astra berhenti tertawa dan menoleh menatapku. Anya dan Ryan hanya memandangi kami yang entah kenapa belakangan ini menjadi gemar berpantun.
"Ikan lele, Ikan Tongkol--"
"Ga lucu kon--"
Belum selesai aku melanjutkan kalimatnya. Mulutku sudah lebih dulu mendapatkan ciuman dari telapak tangan Ryan.
Ku tepis tangan Ryan. "Asin *****,"
"Mulutnya. ga boleh ngomong gitu," tegur Ryan.
"Tau tuh. Lu sekarang mulutnya kenapa jadi gini," protes Anya memukul kepalaku.
"Gara-gara si Bisma tuh," gerutu ku.
Yang lain terdiam. Mengernyit heran dengan apa yang barusan aku ucapan.
"Ma-maksud gua-- gara-gara si Bisma bebanin matematika tadi. Gua jadi kebanyakan ngumpat liat soalnya," alasanku.
Pak Bisma
Maaf saya hari ini pulang lambat. Jangan menunggu saya.
Aku mendecih melihat pesan yang baru saja masuk.
'Apa aku pernah menunggunya? Kenapa ia terlalu pede'
Ku abaikan pesan tersebut, toh aku tau pak Bisma bukan terlambat karena pekerjaan melainkan karena ia akan berkencan dengan Bu Ani.
Bisma side story..
Awalnya aku menerima perjodohan ini dengan lapang dada. Namun, ku akui perasaan tidak bisa di bohongi. Aku menikahi Ayrin, tetapi hati ku untuk orang yang dari awal sudah menjadi pilihan ku.
Saat mendengar kabar bahwa Papa akan dioperasi dan memiliki 75% harapan sembuh. Aku bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali ke titik semula.
Berpisah, lalu menjalankan kehidupan masing-masing. Untuk apa kami saling bertahan jika akan menyakiti hati masing-masing. terlebih lagi, Ayrin masih muda, masih panjang masa depannya. Aku yakin dia juga ingin menikahi dengan seseorang pilihannya.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Berusaha mengejar waktu, hari ini aku ada janji untuk berkencan dengan seseorang. Seseorang yang sudah aku nanti cukup lama. Hingga akhirnya dia kembali, mengajak aku untuk kembali.
Aku buru-buru turun dari mobil. Melangkahkan kaki ku tergesa-gesa dan memasuki cafe. mengedarkan pandanganku mencari seseorang yang telah menanti. Dan dapat, ia melambaikan tangannya,
"Gani!" panggilnya lembut yang membuat senyumku mengembang.
__ADS_1
Ia datang menghampiri dan bergelayut manja dilengan kananku. "Aku ingin bersamamu kembali Argani."