
Maria menatap jari manis Marsya. Ada cincin yang tersemat di sana. "Marsya, itu cincin nikah kan?" tanya Maria penasaran.
Deg! Marsya terkejut saat ia melihat ada cincin di jari manisnya. "Kenapa bisa ada cincin di jari manisku" batin Marsya.
Mendengar pertanyaan itu, Ansel membuka cincin yang ia kenakan dan menyembunyikan cincin miliknya di saku celana sekolah yang ia kenakan.
"Ini bukan cincin nikah, ini cincin pemberian dari saudara kembarku saat aku ulang tahun di tahun lalu" balas Marsya dengan senyum.
Terdengar dering telepon dari ponsel Marsya. Layar ponsel menyala, Marsya melihat nama Kak Vano dipanggilan video yang ada di Aplikasi Watshap. Dengan segera, Marsya menjawab panggilan video dari saudara kembarnya.
"Kakak!!" teriak Marsya tanpa sungkan dan malu terhadap siswa dan siswi yang ada di kantin.
"Adiku yang cantik dan bodoh apa kabarmu?" tanya Vano dengan nada mengejek.
"Tidak tahu!" ketus Marsya. Lagi-lagi Vano menyebutnya bodoh.
"Allini..." seru Marsya saat melihat Allini merampas ponsel Vano.
"Marsya, aku merindukanmu. Cepat pulang ke London, Kak Deva dan Kak Vano begitu jahil. Mereka sering menjahiliku" rengek Allini yang disambut tawa oleh Deva dan Vano.
"Aku pasti pulang. Aku titip saudara kembarku padamu dan untuk saudara kembarmu, aku pasti menjaganya" balas Marsya dengan girang.
Neon yang penasaran dengan wajah cantik Allini, memilih merampas ponsel Marsya. "Halo cantik, boleh kenalan?" tanya Neon dengan senyum.
"Wah.. tampan sekali" gumam Allini.
Marsya meletakan ponselnya di atas meja, sehingga wajah mereka bisa dilihat oleh Allini, Deva dan Vano. Begitupun dengan Allini, ia menjauhkan ponsel milik Vano sehingga wajah mereka bisa dilihat oleh Marsya dan kawan kawan. Mereka pun mulai berkenalan lewat video call. Marsya memutuskan panggilan saat pesanan mereka telah diantar di meja yang mereka tempati. Mereka mulai melahap menu yang mereka pesan. Saat sedang asik makan, terdengar bunyi bel sekolah. Marsya dan teman-temannya bergegas masuk ke kelas.
"Senior, cepat lari sebelum kalian terlambat" ujar Maria.
"Oke" balas Neon dan Haikal bersamaan.
Haikal dan Neon mempercepat langkah kaki mereka. Sedangkan Maria dan Marsya serta Ansel, ketiganya masuk ke dalam kelas dan duduk di tempat duduk mereka masing-masing. Di dalam kelas, semua siswa dan siswi mulai membuka buku cetak mereka, karena sebentar lagi guru yang mengajar di jam kedua akan segera datang.
"Karina di mana?" batin Marsya.
Selang beberapa detik, Karina masuk bersamaan dengan Bu Nasida. Wajah Karina terlihat pucat, ia terlihat seperti orang yang sedang sakit.
"Ansel, Ibu minta kamu antar Karina pulang" pintah Bu Nasida.
__ADS_1
Ansel melirik Marsya yang dibalas anggukan oleh Marsya. "Baik Bu" balas Ansel sembari beranjak dari tempat duduk. Ansel mengambil tas milik Karina lalu menuntun Karina keluar dari kelas.
Proses belajar mengajar di mulai. Marsya terlihat begitu fokus, ia tidak mau berpikiran negatif terhadap Ansel. Ia percaya dan sangat yakin dengan janji yang Ansel ucapkan.
Di luar kelas, Karina menatap Ansel yang menuntunnya ke mobil. "Apa tidak ada kesempatan untukku?" tanya Karina.
"Tidak ada lagi, Karina. Aku memberimu kesempatan tapi kamu melanggarnya" balas Ansel.
Sesampainya di parkiran, Ansel membukakan pintu mobil untuk Karina. Setelah Karina masuk, Ansel kembali menutup pintu mobil. Ia berjalan lalu duduk di kursi kemudi. Mobil perlahan bergerak meninggalkan area sekolah.
----
Pukul 15:30 PM.
Marsya sedang duduk di halte bus menunggu Ansel menjemputnya. "Marsya, ayo naik" kata Haikal yang tiba-tiba datang.
"Tidak perlu repot-repot senior, aku tunggu Ansel saja" balas Marsya dengan ramah.
"Ansel tidak akan datang, dia mengirimkan pesan padaku untuk mengantarmu pulang" kata Haikal.
"Bukankah kalian tidak saling mengenal. Kok bisa Ansel mengirim pesan pada senior?" tanya Marsya menyelidik.
"Aku juga tidak tahu darimana dia mengambil nomorku, jika kamu tidak percaya, kamu bisa membaca pesan yang dia kirimkan padaku" jelas Haikal sembari menyerahkan ponsel miliknya pada Marsya.
Untuk membuang rasa curiganya, Marsya menghela napas panjang kemudian tersenyum ke arah Haikal. "Ayo senior"
"Pakai helem dulu" ujar Haikal sembari mengenakan helem untuk Marsya. Marsya naik ke atas motor, motor perlahan bergerak meninggalkan sekolah.
----
Di tempat lain, tepatnya di rumah, Karina sedang mual mual. Wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya sangat lemas.
"Karina, aku antar kamu ke klinik terdekat ya" kata Ansel.
Karina menggeleng cepat. "Aku tidak mau" balasnya.
"Tapi kamu pucat sekali" ujar Ansel.
"Aku tahu, Ansel. Tapi aku tidak mau ke klinik. Cukup kamu di sini maka semuanya akan baik-baik saja" balas Karina lemas.
__ADS_1
"Karina, aku tidak bisa menemani kamu di sini. Aku punya tanggung jawab pada Marsya. Ibu dan ayahnya memberiku tanggung jawab untuk menjaganya selama kami di Jerman. Aku mohon, ikutlah ke rumah sakit agar kamu tahu apa yang terjadi pada dirimu" jelas Ansel.
"Baiklah" balas Karina.
Karina masuk ke dalam kamarnya, ia mengganti pakaian seragam yang ia kenakan. Setelah selesai, ia keluar menghampiri Ansel yang tengah duduk di ruang tamu.
"Ayo" ajak Karina.
Ansel beranjak dari sofa, berjalan mendahului langkah kaki Karina yang begitu pelan. "Karina, apa kamu butuh bantuanku?" tanya Ansel.
"Iya, Ansel. Aku tidak mampu berjalan" balas Karina.
Ansel menghentikan langkahnya, berbalik menatap Karina sejenak. "Maafkan aku Marsya, aku menggendong wanita lain" batin Ansel. Ansel menggendong Karina, membawanya masuk ke dalam mobil.
-----
Rumah
"Terima kasih senior" ujar Marsya sambil tersenyum ramah.
"Cepat masuk dan jangan lupa istrahat" titah Haikal.
Marsya mengangguk paham. "Hati-hati senior" kata Marsya saat Haikal hendak pergi.
Marsya masuk ke dalam rumah, ia meletakan tasnya di atas meja lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Berulang kali ia berusaha untuk memejamkan mata namun pikirannya selalu tertuju pada Ansel dan Karina.
"Apa yang terjadi pada Karina, kenapa Ansel belum pulang juga" gumam Marsya. Rasa kantuk menghampirinya hingga ia terlelap di sofa dengan pakaian seragam yang belum diganti.
-----
Klinik
Karina dan Ansel sedang berada di klinik terdekat. Karina terlihat gugup saat menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Dokter. Dokter memeriksa kondisi Karina dengan telaten.
"Di mana suami kamu?" tanya sang Dokter.
Pertanyaan dokter membuat Ansel melirik Karina yang kini sedang menunduk. Ansel melihat seragam yang ia kenakan, celana Jins dan baju kous oblong warna putih. "Aku bisa menyamar sebagai suaminya" batin Ansel.
"Aku suaminya, dok" balas Ansel.
__ADS_1
"Selamat ya Pa, istri Bapa hamil" terang sang dokter.
"Apa!!" Ansel membulatkan mata tak percaya.