Nikah Muda

Nikah Muda
Kegelapan


__ADS_3

Aku tidak tau bahwa orang tuaku dan orangtuanya akan mengunjungi kami pagi ini. Untunglah tidak ada kejadian yang membuat mereka curiga dengan keadaanku.


Kini semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga. Semuanya terlihat asik bertanya dan menebak bagaimana kehidupan bahagia kami selama menikah.


'Bahagia?'


Kata-kata yang sudah lama tidak aku rasakan.


"Kapan kalian akan memberikan kami cucu?" tanya Mamaku.


"Arin masih semester satu. terlalu cepat untuknya Ma," jawab pak Bisma.


"Bisakah kamu mengambil kuliah cepat Arin?" tanya Mertuaku.


"Itu terlalu membebankannya. Biarkan ia merasakan dunia perkuliahnya Ma," jawab pak Bisma.


Dia orang yang ahli dalam berdrama. Kepada keluargaku dan keluarganya ia dapat bersikap baik. seolah-olah menjagaku dengan baik, Memperhatikan dan mencintaiku, tapi yang ia lakukan saat ini semata hanya mencari perhatian keluarga kami.


"Arin, apa kamu sakit nak? Kenapa dari tadi hanya diam?" tanya Mamaku.


Aku tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Mama. "Arin ngga apa-apa,"


•••


"Pak. S-sakit, tangan saya sakit. Pak lepasin,"


Pria berwajah datar itu menarik paksa istrinya sehingga meninggalkan bekas cengkraman yang memerah. Seperti orang yang kesetanan Bisma menarik dan membawa Arin ke kamarnya.


Semua terjadi karena kesalahpahaman, Ryan hanya membantu Arin yang terjatuh ketika berlari di koridor kampus. Entah kenapa ia bisa tahu dan menarik paksa Arin saat ia baru sampai dirumah.


Arin meringis merasakan sakit ditangannya. Bendungan air matanya tak dapat ia tahan lagi, ia menangis sambil memohon tapi tak digubris oleh suaminya.


"Pak!"


Bisma seperti tak perduli dengan tangisan dan panggilan Arin, ia mendorong kasar Arin untuk masuk ke dalam gudang yang gelap. Ia menguncinya didalam ruang gelap tanpa cahaya sedikitpun.


"Pak! Saya mohon pak! Saya takut gelap!"


Bisma memukul Pintunya kuat, "Ini hukuman karena kamu tidak dapat menghargai saya sebagai suamimu!"


Arin mengalami phobia kegelapan. Ia tidak bisa berada diruang gelap, saat berada di kegelapan Arin selalu memikirkan hal buruk. Bahkan ia dapat berfikir tentang sesuatu yang mengakhiri hidupnya.


Terlalu lelah berteriak dan mengedor-gedor pintu. Arin duduk tersadar di pintu. Kakinya lemas, tangisnya tak dapat ia hentikan. Ia meringkuk berharap Bisma akan membukanya.


Kilasan memori tentang Bisma yang selalu membentaknya dan menyiksanya membuat ia menutup kedua telinganya seperti orang ketakutan. Keringatnya mengalir,


"Aku takut."


•••


Bisma merasa aneh dengan dirinya. Entah kenapa jika ia melihat Arin bersama Ryan, emosinya meluap.

__ADS_1


'Apa aku cemburu? Ngga mungkin'


Bisma mengeluarkan benda persegi kecil yang sedari tadi bergetar dari saku celananya. Diliriknya nama yang tertera dilayar ponselnya ternyata Farhan -- sahabatnya yang menelpon.


"Hallo?"


"*******!" umpat Farhan dari sebrang sana.


Bisma mengernyit heran, menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan kembali mengecek siapa yang meneleponnya. Farhan, benar yang menelponnya adalah sahabat karibnya.


"Maksud lo apa?"


"Dimana *******?!"


"Gue lagi disekolah, lo kenapa kaya orang kesetanan gila?!"


"LO EGOIS BISMA! LO EGOIS! ARIN YANG NGGA ADA SANGKUT PAUTNYA SAMA MASA LALU LO, HARUS MENDERITA DENGAN ULAH LO!"


Bisma terdiam. Memikirkan kemana arah pembicaraan ini mengarah,


"Bentar, bentar. maksud lo apaansih?!"


"ARIN DEPRESI KARENA KEEGOISAN LO *******!"


•••


Derap langkah kaki Bisma memenuhi seisi rumah. Bisma berlari gelisah melihat orangtuanya dan orangtua Arin sudah ada disana. Kakinya melangkah cepat menuju kamar yang sudah dipenuhi oleh beberapa orang.


Kalimat itu, kalimat yang terus terngiang-ngiang di pikiran Bisma.


Menyesal? Kata itu seakan menusuk dalam hati Bisma. Tapi tidak mungkin Arin yang telah menderita dibuatnya akan memaafkannya dengan sangat mudah.


Bugh!


Sebuah pukulan keras mendarat dipipi Bisma. Pukulan itu didapat dari sang Ayah. Ayahnya yang menatapnya dengan nafas memburu,


Bryan mencengkram leher sang anak.  "Apa yang telah kau perbuat Bisma?! Aku menyuruh kau menikahinya untuk menjaganya. Tapi Kau malah menghancurkannya!"


Lutut Bisma mulai terasa lemas. Ia terduduk menangis, bersujud memohon pada ayahnya.


"Ma-maafkan Bisma pa-"


"Kau seharusnya meminta maaf pada istrimu dan orangtuanya! Mereka menitipkan anaknya demi kehidupan kita! Kau menghancurkannya Bisma!" Ayah Bisma berteriak dengan keras.


Ayah Arin mengepalkan tangannya bersiap ingin menghajar menantunya yang tidak berguna ini. Namun ditahan oleh sang istri, yang terbaik bagi mereka sekarang. Tetap tenang menunggu Arin yang tengah ditangani oleh dokter psikiater.


"Arin, sudah makan?" tanya dokter psikiater itu lembut.


Bisma melihat Arin dengan mata terluka. Menyesal dan menyesal itu yang ia rasakan sekarang. keegoisannya untuk membalaskan dendam yang tidak ada kaitannya dengan Arin membutakan hati nuraninya.


Ia terlalu terpaku oleh masa lalu yang melibatkan ia dalam keterpurukan, Arin gadis itu tidak ada sangkut-pautnya. Masa lalu ia hanya berurusan dengan Alvin sepupu Arin. Bahkan Arin sendiri tidak mengetahui bahwa Bisma dan Alvin saling mengenal, Alvin juga tidak tahu bahwa yang menjadi suami sepupunya adalah Rivalnya saat merebutkan hati Clara.

__ADS_1


Clara yang pergi meninggalkan Bisma dan lebih memilih Alvin. Membuat Bisma menyimpan dendam dan melampiaskannya pada orang yang tidak bersalah. Bisma mencintai Clara, cinta yang membuat ia berubah menjadi seorang iblis.


Awalnya Bisma tidak tahu bahwa Arin adalah sepupu dari Alvin. Ia masih bersikap biasa saja. Namun, dua minggu setelah menikah Bisma mengetahuinya. Entahlah saat mengetahui hal itu membuat Bisma kehilangan hatinya dan mulai bersikap kasar pada Arin.


"KAU LIAT DIA ANAK BRENGSEK!"


"AKU BISA SAJA MEMBUNUHMU. JIKA AKU TAK INGAT KAU ADALAH ANAKKU!"


Beberapa pukulan itu kembali ia dapatkan dari Ayahnya. Bahkan sudut bibirnya yang tadi belum mengering, kembali dibanjiri darah segar.


"Sudahlah hentikan," isakan tangis Mama Arin membuat semuanya berhenti.


Bisma berjalan mendekati Arin yang masih menatap keluar jendela diam dengan tatapan kosong.


"Apa saja yang ingin Arin lakukan hari ini?"


Arin menoleh dan tersenyum ke arah dokter itu. Ia kembali menunduk dan memainkan jari-jemarinya.


"Arin ingin bertemu Ryan," lirihnya.


"Ryan siapa dia?" tanya dokter Lembut.


Dokter itu kembali bertanya pada Arin. Hampir tiga jam lebih ia berinteraksi dengan pasiennya, untungnya Arin termasuk ke dalam depresi yang ringan hingga mudah untuk pulih kembali.


"Ryan itu seseorang yang Arin cintai! Arin mencintainya. Tapi..." Jawabnya antusias dan perlahan terdengar lirih.


"A--arin tidak bisa bersama Ryan."


"Apa Arin senang bersama Ryan?"


"Ya. Arin senang, dia selalu ada. Bahkan dia selalu membelikan Arin bakso, es krim, susu kotak. Arin suka," jawabnya yang kembali antusias. Senyum manisnya merekah.


Semua orang disana bernafas lega. Sedikit demi sedikit Arin sudah bisa diajak berkomunikasi. Tadi Arin ditemukan oleh Farhan yang berniat untuk mampir kerumah sahabatnya itu, namun yang ia dapati hanya pintu terbuka tanpa orang. Saat Farhan masuk ia sudah melihat Arin meringkuk ketakutan.


"Lalu siapa Bisma?"


Seketika Senyumnya memudar. Ia kembali terdiam melirik ke kiri dan kanan dengan was-was.


"A-Arin takut gelap," isakan tangisnya kembali.


Mama Arin shock. Pasalnya Arin sangat takut dan Trauma dengan kegelapan.


Dokter memegang lalu mengelus tangan Arin lembut agar ia tenang dari rasa paniknya.


Bisma yang tidak tahan melihat istrinya berjalan mendekati, ia berdiri di depan Arin dengan betis sebagai tumpuanya. Bisma mendongak menatap wajah Arin yang menatap dirinya ketakutan.


Bisma menggenggam tangan Arin lembut. Menatapnya sendu, "Ma-maafkan aku Arin. Maafkan aku," tangis Bisma pecah.


"Aku salah, aku egois. Aku meluapkan semua rasa dendam ku pada mu. Maafkan aku Arin, maaf karena aku membuat mu menderita. Maukah kau memaafkan ku Arin?"


Tidak kunjung mendapat respon dari Arin yang menatapnya kosong. Bisma berdiri, "Bisakah kita memulainya dari awal Arin?"

__ADS_1


__ADS_2