
Marsya menatap bayangan Ansel di cermin. "Awalnya aku menyesal tapi sekarang sudah tidak" balas Marsya lalu kembali mengeringkan rambut Ansel.
"Apa itu tandanya kamu sudah mulai menerimaku?" tanya Ansel.
"Entahla" balas Marsya singkat. Usai mengeringkan rambut suaminya. Marsya kembali ke tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di sana lalu memejamkan mata indahnya.
Ansel menghampiri istrinya yang tengah berbaring di atas tempat tidur. Ia melihat Marsya telah hanyut dalam tidurnya. Ansel tak ingin mengganggu tidur nyenyak istrinya, ia pun merebahkan tubuhnya di samping sang istri hingga pagi menyapa.
-----
Pagi hari
Ansel menggeser selimut yang menutupi tubuhnya, bergegas turun dari ranjang menuju dapur. "sya, kamu masak apa?" tanya Ansel. menghampiri Marsya.
"Seperti yang kamu lihat" balas Marsya sembari meletakan piring yang berisi roti panggang di atas meja.
Ansel duduk di kursi begitupun dengan Marsya. Keduanya sarapan pagi sebelum ke sekolah. Setelah selesai, Marsya mengangkat piring kotor.
"Cepat mandi, kita harus ke sekolah dan usahakan hari ini kita membantu Karina" kata Marsya. Ansel mengangguk paham. Ia beranjak dari duduknya meninggalkan Marsya di dapur.
"Aku harus mencari tahu pria bejat yang menghancurkan masa depan Karina" batin Marsya. Lalu bergegas masuk ke dalam kamar.
"Sya, cepat mandi" kata Ansel yang baru saja ke luar dari kamar mandi.
"Iya!" ketus Marsya. Lagi-lagi Ansel telanjang dada di depan Marsya. Marsya mengambil pakaian seragamnya, membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Ansel tersenyum saat melihat Marsya mengerucutkan bibir. Senyum itu menghilang saat Marsya kembali jahil.
"Marsya...!!" teriak Ansel saat Marsya menarik handuknya.
"Hahahahaha" tawa Marsya pecah di dalam kamar mandi. Di luar kamar mandi, Ansel sedang mengumpat.
Usai mandi, Marsya bersiap siap di dalam. Lalu keluar dan duduk di meja rias. Merapikan rambutnya dan tak lupa mengoles bedak di pipinya. Setelah selesai, Marsya menghampiri Ansel di ruang keluarga.
"Suamiku yang mesum, ayo kita ke sekolah " ajak Marsya sembari menarik tangan Ansel.
Ansel membulatkan mata saat mendengar kata suami mesum. "Siapa yang mengajarimu menyebut kata- kata itu?" tanya Ansel tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
__ADS_1
"Aku membaca novel dan ada seorang pria yang sifatnya sama persis denganmu. Istri dari pria itu memberi julukan pada suaminya. Dan kamu mau tahu apa julukannya, suami mesum" jelas Marsya.
"Tunggu" kata Ansel.
Marsya menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap Ansel. "Ada apa?" tanya Marsya menaikkan sebelah alisnya.
"Apa kamu sudah bisa memahami apa yang kamu baca?" tanya Ansel.
Marsya tersenyum lalu mengangguk. "Semalam, aku bangun di pukul 02:01. Aku kembali membaca soal dari Bu Nasida, aku membacanya berulang ulang. Setelah aku merasa aku sudah bisa, aku membuka aplikasi Novel lalu membaca salah satu novel yang menurutku sangat bagus" jelas Marsya.
"Aku senang mendengarnya. Sya, kamu harus rajin membaca dan membaca. Ingat! Jangan hanya novel yang kamu baca" kata Ansel mengacak ngacak rambut istrinya.
"Ansel! Rambut ku!" ketus Marsya.
----
Sekolah
Marsya turun dari mobil, begitupun dengan Ansel. Keduanya berjalan saling berpegangan tangan. Terdengar suara nyaring dari arah belakang, siapa lagi kalau bukan si culun Maria.
Maria berlari kecil menghampiri Ansel dan Marsya. "Ansel, apa kalian berdua sudah baikan? Tumben berpegangan tangan" kata Maria menyelidik.
Marsya tertawa kecil, begitupun dengan Ansel. "Kamu terlalu memperhatikan orang" balas Ansel, ia mencopot kaca mata milik Maria.
"Ansel...! Berikan kaca mataku!!" pekik Maria, ia berlari mengejar Ansel.
"Tidak mau..." seru Ansel.
Brukk... Maria menabrak Neon yang tiba-tiba lewat. "Maafkan aku senior" kata Maria menunduk.
"Jangan berpura pura lagi, aku tidak suka" kata Neon lalu pergi meninggalkan Maria.
Maria diam mematung, mencerna kalimat yang baru saja Neon katakan. "Apa maksudnya?" gumam Maria.
"Maksud Neon, dia tidak suka melihatmu berpura pura cupu seperti sekarang ini" timpal Ansel.
"Benarkan. Haruskan aku merubah penampilanku?" tanya Maria, ia merasa pusing memikirkannya.
__ADS_1
"Itu harus" timpal Marsya melingkarkan tangannya di pundak Maria.
"Kalian berdua sok tahu" ledek Maria. Maria mengambil kaca matanya namun kaca matanya jatuh.
"Kaca mataku!!" pekik Maria saat senior wanita menginjak kaca mata miliknya hingga pecah.
"Eh cupu! Berani sekali kamu meninggikan suaramu!" bentak wanita tersebut.
"Berhenti kamu memanggil temanku dengan panggilan itu..." seru Marsya. Ia tidak suka melihat sahabatnya di kata katai oleh orang lain.
"Berani sekali kalian melawanku!!" bentaknya.
Maria mendongak, menatap senior yang menatapnya sinis. Dengan kesal, Maria melepas rambut palsu yang ia pakai.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Maria. Ia merasa lelah diejek sejak kecil hingga ia SMA tingkat 2.
"Tidak mungkin" kata senior tersebut. Ia tidak percaya dengan penampilan asli Maria.
"Apa kamu yakin, Maria?" tanya Marsya.
"Ayo ke kelas, aku malas berdebat dengan wanita wanita yang sok cantik" kata Maria, ia menggandeng tangan Ansel dan juga Marsya.
Maria maupun Marsya serta Ansel duduk di kursi mereka masing-masing. Semua mata tertuju pada Maria, mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.
Marsya dan Ansel, keduanya sedang menunggu kedatangan Karina.
Terdengar bunyi bel, Marsya melirik Ansel. Ansel menaikkan bahunya, ia paham dengan tatapan Marsya. Marsya berpindah tempat duduk, ia duduk kursi sebelah Ansel.
"Apa kita ke rumahnya saja?" bisik Marsya.
"Iya, jika dia tidak sekolah hari ini maka sepulang dari sekolah kita ke rumahnya" balas Ansel.
"Woew!! Jika ada rencana ajak aku juga!" hardik Maria, ia menatap kesal Ansel dan Marsya.
"Karina" gumam Marsya saat melihat Karina berdiri di depan pintu.
Ansel dan Maria menoleh ke arah pintu, ia melihat Karina tersenyum ke arah mereka. "Apa yang terjadi padanya?" batin Ansel.
__ADS_1