Nikah Muda

Nikah Muda
DELAPAN


__ADS_3

"Pak, sa-saya mau bersih-bersih dulu. Bo-boleh tolong bantuin saya angkat kopernya?" tanyaku gugup.


Pak Bisma hanya melirik kearah ku sekilas. Kalau bukan karena gaun yang ku kenakan saat ini tidak ribet, aku sudah mengangkat koper itu tanpa meminta bantuannya.


Aku berjalan mendahului pak Bisma, meninggalkannya bersama dengan beberapa koper milikku.


Malam ini, malam pertama aku untuk tinggal bersamanya. Malam pertama dengan gelar sebagai 'istri orang'.


Aku melangkahkan kakiku memasuki kamar yang akan ku tempati. Melihat sekeliling kamar yang sudah tertata Rapi. Rumah ini milik pak Bisma, ia membelinya dengan tujuan hidup bahagia bersama seseorang yang ia cintai dan keluarga kecilnya kelak. Namun, kenyataannya akulah yang menepati rumah ini.


Aku berjalan terbirit-birit ke arah kasur dan Langsung menghempaskan tubuhku.


"Enaknya," gumamku yang memejamkan mata untuk merilekskan tubuh.


Tiba-tiba seseorang menghempaskan tubuhnya yang membuat aku ikut terlonjak kaget.


Aku duduk, melihat kearah pelaku yang membuat badan kecilku terambung. Pak Bisma terbaring dan memejamkan matanya.


Aku pun menarik tangan ia agar duduk. "P-pak. Ini kamar saya,"


Ia mendecih dan berbaring membelakangiku.


"Ini kamar saya," ketusnya.


"Y-ya sudah kalau begitu saya pindah ke kamar lain saja."


Aku bersiap-siap untuk berdiri tetapi gaun yang aku kenakan malah membuat aku susah,


Bruuk..


Aku terjatuh dengan posisi tertelungkup yang menyebabkan jidatku mendarat terlebih dahulu.


Sial! Gaun yang aku kenakan benar-benar membuat aku kesusahan.


Samar-samar aku mendengarkan suara tawa seseorang. Aku berdiri dengan susah payah dan melirik ke arah tersangka yang menertawakan ku.


Ia menatapku datar seolah-olah tidak takut dengan tatapan tajamku.


"Kamar di rumah ini ada tiga. kamar kamu di bawah," jelas pak Bisma tanpa melirik ke arahku.


"Bantuin saya angkat koper lagi dong pak."


Lagi-lagi ia mengabaikan dan tidak merespon ucapanku. Dosa apa yang sudah ku perbuat sehingga dinikahi oleh kulkas berjalan sepertinya. Tatapan tajam seolah-olah mengatakan 'berisik', nada ketus yang membuat orang-orang merinding mendengarkannya. Aku yakin dia bukan manusia hanya saja ular yang menjelma menjadi manusia.


Ku langkahkan kakiku untuk menunju kamar yang aku tempati. Benar-benar Gerah, aku harus mandi secepatnya.


Sesampainya dikamar aku langsung bergegas ke dalam kamar mandi. Gaun yang aku kenakan benar-benar membuat aku kesusahan. Pasalnya sekarang aku tidak dapat menjangkau resleting belakangnya, aku berusaha menjangkau agar dapat terbuka namun nihil. Tangan mungilku tidak dapat menjangkau punggungku.


"Ka-kalau minta tolong pak Bisma kan ngga enak," monologku.


"Mama-"


"Tolongin Arin Ma," rengekku.

__ADS_1


Aku keluar dari kamar mandi, namun terdengar suara Pak Bisma yang mengetuk pintu kamarku.


"Ini koper kamu," peringatnya.


Ku putar knop pintu dengan ragu-ragu, membuka perlahan sehingga terlihatlah seseorang bertubuh jangkung menanti ku di depan pintu.


Aku mengeluarkan cengiran andalan ku. Menatapnya dengan mata polos, berharap dia mau membantuku.


"P-pak. Bantuin saya boleh?" tanyaku.


Dengan responnya yang menatapku tajam. Aku yakin dia bertanya 'apa?'


Aku membalikkan badanku membelakanginya dan mundur perlahan agar mendekatinya. Semakin aku mundur ia malah semakin ikutan mundur.


'Apa bapak mikir aku mau godain dia.'


"Apa yang ka--"


"Pak. Bantu saya lepasin resleting gaun saya," potongku.


Ia merespon dengan gugup. Di sibakkannya rambut ku ke depan. Perlahan ia menurunkan resleting gaunku. saat sudah hampir setengah pinggang, aku berlari masuk dan menutup pintu.


"Terimakasih," ucapku diakhir sebelum menutup kuat pintu.


***


Cahaya matahari berusaha masuk melalui jendela yang menembusi pembalut pelindungnya. Suara kicauan burung yang berisik tidak bisa membangunkan masing-masing insan yang masih bergelayut dalam mimpinya.


"Berat," Racaunya yang masih tertidur.


Arin merasakan badannya hangat, seperti ada yang memeluk namun berisik karena suara dengkuran.


Arin membuka matanya perlahan, mengerjap-ngerjapkan perlahan untuk menetralkan pandangannya. Ia melirik ke arah sampingnya mengerjap-ngerjapkan matanya lagi agar dapat melihat jelas apa yang kini disampingnya.


'Terlalu dekat'


Arin merasakan hembusan nafas seseorang itu sehingga jarak mereka terlalu dekat.


'eh dekat?'


"Kyaaaa~~" teriak Arin yang mendorong badan kekar Bisma. Namun malah ia yang terpental.


"B-bapak kan tadi malam tidur di kamar bapak. Se-sekarang kenapa ada dikamar saya?"


Bisma yang masih tertidur mendecih kesal. "BERISIK!" racau Bisma kuat yang membuat Arin terkejut.


***


Suasana sekarang benar-benar menegangkan dari sebelumnya. Tatap tajam yang siap membunuh siapapun yang mengganggunya seperti memiliki slogan 'Senggol bacok'.


Sikap Pak Bisma benar-benar tidak bisa ditebak. Ia sedari tadi hanya meracau tidak jelas, mengatakan hal-hal yang membuatnya kesal sendiri.


Aku menyiapkan sarapan pagi untuknya tapi dia hanya berkomentar ini itu yang tidak penting.

__ADS_1


"Pak. ini sara--"


"Berisik!"


'Berisik, berisik, berisik. Bukan aku yang berisik, tapi dia yang ngeracau ngga jelas."


Suasana yang dapat digambarkan sekarang adalah, seorang gadis cantik yang tengah duduk menyiapkan sarapan untuk sang suami dan seorang laki-laki dewasa yang terus-menerus meracau seperti anak kecil.


"Pak, dimakan. Ga perlu komentar. Saya udah Eneng denger kata-kata bapak."


Dia menatapku tajam. Lebih tajam dari biasanya, "ka-"


Syukurlah, bunyi ponselku memotong kalimat dan mengalihkan suasananya. Aku buru-buru mengeceknya, ternyata yang menelepon sepagi ini adalah Mama Pak Bisma, seseorang yang kini juga menjadi Mamaku.


Aku menggeserkan ikon hijau yang menyetujui panggilan ini. Ku taruh benda canggih berkotak kecil itu di telingaku. Mendengar suara dentangan kecil dari seberang sana. Sepertinya Beliau juga sedang sarapan pagi.


"Hallo ma."


"Arin," saut Mama.


"Bisa sedikit menjauh dari Bisma nak," suara Mama mengecil lebih tepatnya seperti bisikan.


Tanpa terlalu banyak berfikir aku berdiri dan melihat sekilas ke arah Pak Bisma. Ia hanya memandangku acuh tak acuh. Aku Berjalan sedikit menjauh dari Pak Bisma.


"Itu--" ucap beliau ragu.


"Kenapa ma?"


"Pagi ini Bisma kelihatan baik-baik saja kan?" tanya Mama yang terdengar hati-hati.


"B-baik," jawabku ragu.


"Mama lupa memberitahu kamu tentang kebiasaan buruknya,"


"Bisma memiliki kebiasaan buruk saat pagi. Jika pagi ia selalu emosi dan meracau tidak jelas, terlebih lagi jika tidurnya terganggu. Ia akan lebih mudah emosi dan siap meluapkannya tanpa memandang siapa orang yang ia hadapi," jelas Mama.


Satu kata yang mewakili perasaanku saat ini.


'Seram'


"Iya ma. dari tadi pak Bisma ngeracau ngga jelas," aduku.


"Maafkan Mama ya sayang. Kalau begitu kamu harus bisa jadi pereda emosinya, ajarkan dia agar tidak terlalu emosian. Kalau begitu Mama tutup ya." lalu sambungan telpon terputus.


Aku berjalan kembali ke meja makan. Duduk dihadapan pak Bisma dan menatapnya dengan seksama.


Apa aku benar-benar tinggal bersama manusia? Atau tinggal dengan seekor binatang buas yang siap memakan siapapun yang mengganggunya.


"Saya tidak suka dengan cara tatapan kamu," ketusnya.


Aku buru-buru mengalihkan pandanganku.


Moodnya sudah hancur, aku tidak bisa mengganggunya jika belum siap untuk mati.

__ADS_1


__ADS_2