Nikah Muda

Nikah Muda
ATC. Season 2. Ep 36


__ADS_3

Usai memutuskan panggilan telepon dengan Ibunya, Marsya berjalan menuju pintu utama. Berharap yang datang adalah suaminya, Ansel.


Cek--lek... (Pintu terbuka)


"Kakak...!!" Marsya berhambur memeluk kedua saudara kembarnya. "Hiks... hiks... hiks... kenapa kakak baru datang menjenguk ku" tanyanya terisak.


Deva dan Vano tersenyum. "Adik ku yang katanya sudah pintar, dan sangat pandai memasak ternyata masih sangat cengeng" ledek Vano mencubit pipi cubby adiknya.


Marsya yang tadinya menangis kembali kesal. Yang benar saja Vano mengatainya cengeng. "Kakak!!" ketus Marsya manyun.


"Apa kamu tidak mau mengajak Kakak masuk?" tanya Deva tersenyum. Sejak tadi Marsya tidak mengajak saudara kembarnya masuk ke dalam rumah.


"Hehehe. Ayo masuk Kakak ku yang tersayang" balas Marsya tertawa kecil.


Deva dan Vano masuk ke dalam rumah, ketiganya duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Deva melihat di sekeliling, ia nampak sedang mencari seseorang, siapa lagi kalau bukan sahabatnya sekaligus adik iparnya. "Sya, di mana suami kamu?" tanya Deva.


"Ansel di Perusahan" balas Marsya singkat.


"Sya, kakak dengar info dari seseorang. Dia berkata bahwa kamu dan Ansel akan bercerai. Apa itu benar?" tanya Vano memastikan.


Marsya menunduk, wanita itu tak dapat menahan bulir bening yang sudah siap membanjiri pipinya. Seketika tangisnya pun pecah. "Hiks... hiks... hiks... kakak. Aku tidak ingin bercerai dengan Ansel. Tolong bantu aku..." ungkap Marsya sesenggukan.


"Marsya, maafkan kakak. Kakak ingin membantumu tapi kamu yang membuat kesepakatan itu. Jika kamu betul betul mencintai suami mu, maka temui dia dan katakan padanya bahwa kamu mencintainya" ujar Deva.


"Kakak dengar, sebentar lagi Ansel akan ke Amerika untuk melanjutkan studynya di sana. Dan pekan depan, dia akan datang untuk mengurus surat perceraian kalian berdua" timpal Vano.


"Jadi Ansel akan menceraikan aku" batin Marsya.


"Sya, jika kamu tidak ingin bercerai dengannya, sekarang juga kamu temui dia di Bandara" kata Deva.


"Benar apa kata kakak. Ayo kita ke Bandara" ujar Marsya sembari menyeka air matanya.


"Kakak tidak bisa ikut, karena kakak harus ke rumah Nenek" kata Deva.


"Kak Vano bisa kan temani aku ke Bandara?" tanya Marsya.

__ADS_1


"Sayang, maafkan kakak. Kak Vano juga tidak bisa temani kamu. Kakak juga harus ke rumah Nenek" kata Vano.


Marsya menghela napas kasar. "Baiklah. Ini masalah rumah tanggaku maka aku akan menyelesaikannya seorang diri" kata Marsya menguatkan dirinya.


Deva dan Vano pamit pada Marsya, keduanya berjalan keluar lalu masuk ke dalam mobil. Setelah kedua kakaknya pergi, Marsya berlari ke dalam kamar untuk mengambil dompet dan ponselnya. Kemudian keluar dari rumah untuk mencari taxi.


"Taxi...!" teriak Marsya saat satu Taxi melewatinya. Taxi berhenti, Marsya kembali berjalan sedikit berlari lalu masuk ke dalam Taxi.


"Ke Bandara" kata Marsya pada supir Taxi. Taxi melaju dengan kecepatan tinggi. Tak membutuhkan waktu lama, Marsya pun sampai di Bandara.


Sementara di tempat lain, tepatnya di Perusahan. Ansel dan Sarlin sedang bersiap-siap ke Amerika. Saat mereka hendak keluar dari ruangan, terdengar dering ponsel milik Sarlin. Sarlin mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan dari bosnya.


"Iya, aku dan Ansel baru saja mau ke Bandara"


"Ow iya, aku akan beritahu Ansel"


Sarlin menatap Ansel, Ansel membalas tatapan Sarlin dengan raut wajah yang penuh tanya. "Kita tidak jadi ke Amerika karena ayahmu yang akan ke sana" jelas Sarlin.


"Dady sangat aneh!" umpat Ansel.


"Kakak, ayo kita pulang. Aku yakin, kakak pasti merindukan anak dan istri kakak" kata Ansel tersenyum pada Sarlin.


"Ayo" balas Sarlin. Sarlin dan Ansel berjalan keluar dari perusahaan. Di perusahaan, tinggal mereka berdua. Semua pegawai sudah pulang, karena jam kantor sudah selesai.


Sesampainya di parkiran. Ansel dan saling berpisah karena masing-masing dari membawa mobil dan alamat rumah mereka tidak searah. Ansel masuk dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya.


"Percuma saja aku pulang, toh aku dan Marsya akan tidur terpisah. Apa aku harus bermalam di Apartemen Neon" gumam Ansel sembari menyetir.


Saat Ansel sedang berkelut dengan pikirannya, terdengar notifikasi watshap. Ansel mengambil ponselnya, membaca pesan yang baru saja masuk. Senyum terukir diwajahnya saat ia membaca pesan yang menyejukan hatinya.


"Apa mereka sudah gila" gumam Ansel. Ansel melajukan mobilnya menuju apartemen sahabatnya, yaitu Neon. Tak membutuhkan waktu lama, ia pun sampai di apartemen.


Apartemen


"Deva, Vano, kalian di sini juga" Ansel nampak membulatkan mata, saat tahu Neon mengenal Deva dan Vano.

__ADS_1


"Apa kabar, Ansel?" tanya Vano.


"Seperti yang kamu lihat. Bdw, sejak kapan kamu mengenal Neon?" tanya Ansel menyelidik.


Ansel bertanya pada Vano namun Neon yang membalasnya. "Aku mengenal Deva dan Vano saat Marsya melakukan Video Call di sekolah. Kemudian, saat aku ke kampus, aku bertemu mereka berdua di sana" jelas Neon.


"Jadi kalian satu kampus?" tanya Ansel memastikan.


Deva, Vano dan Neon mengangguk. "Bukan hanya kami bertiga, Haikal pun satu kampus dengan kami" balas Neon.


"Kenapa kalian tidak memberitahuku...!" ketus Ansel.


"Setahu aku, kamu sudah jadi bos sekarang. Untuk apa lagi kamu kuliah" ujar Neon dengan enteng.


"Hey bro. Itu perusahan dadyku bukan milikku. Aku ingin membangun usaha daru hasil keringatku sendiri" jelas Ansel.


"Itu lebih bagus lagi. Bukankah kamu bisa meminta paman untuk menggajimu dan gaji yang kamu dapatkan, kamu jadikan modal untuk membuka usaha" jelas Deva.


"Sepertinya kalian tidak suka aku kuliah di kampus yang sama dengan kalian" kata Ansel dengan lesuh. Pembicaraan mereka terhenti saat Vano dan Neon mendapatkan pesan masuk.


"Kak Deva, jangan beritahu Nene jika aku pergi bersama Maretta" kata Vano pada saudara kembarnya.


"Deva, Ansel, aku juga mau keluar dengan Maria. Jika kalian ingin tetap di sini maka silahkan kalian beristrahat di kamar" ujar Neon.


"Apa kalian berdua tidak bisa bermalam minggu dengan kami!" ketus Deva.


"Maaf bro, aku bukan jomblo sepertimu" balas Neon meledek.


"Dasar bedebah!!" gerutu Deva. Ia beranjak dari duduknya. "Ansel, aku pulang duluan"


"Hati-hati di jalan" sambung Neon.


Deva kembali ke rumah neneknya, sedangkan Vano dan Neon, keduanya sedang bermalam minggu bersama pacar mereka. Di apartemen, tinggalah Ansel seorang diri. Ia ingin kembali ke rumah, bercengkrama dengan istrinya.


"Kenapa hubungan rumah tanggaku seperti ini" gumam Ansel sembari menyandarkan kepalanya di sofa.

__ADS_1


Saat memejamkan mata, satu notifikasi masuk. Ansel membuka mata lalu membaca pesan yang baru saja masuk. Dengan semangat yang memuncak, Ansel mengambil kunci mobilnya menuju parkiran mobil. Tak lama, pria itu pun sampai di parkiran lalu masuk ke dalam mobil.


__ADS_2