Nikah Muda

Nikah Muda
ATC. Season 2. Ep 31


__ADS_3

Maria menghampiri seorang pria yang sangat ia kenal. Pria itu sedang membeli pakaian bayi perempuan dan laki-laki. "Untuk siapa?" tanya Maria.


"Maria, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Haikal tanpa menjawab pertanyaan Maria.


"Belanja sesuatu" balas Maria tersenyum. "Itu buat siapa?" tanya Maria sembari menunjuk pakaian bayi yang dipegang oleh Haikal.


Haikal tersenyum. "Kamu tahu sendiri Kak Marchela. Ini pula tugas yang diberikan padaku. Untuk babynya yang tinggal beberapa hari lagi akan hidup bersama kita di dunia inu" jelas Haikal.


"Bantuin aku cari pakaian anak perempuan dan laki-laki" pintah Haikal sembari melihat-lihat baju bayi.


Maria membantu Haikal memilih pakaian bayi untuk putra dan putri kak Marchela. Setelah selesai, Haikal dan Maria ke kasir membayar belanjaan mereka. Haikal dan Maria keluar bersamaan menghampiri Neon dan Marsya.


"Neon, aku numpang di mobilmu ya" kata Haikal lalu membuka pintu mobil. Maria dan Haikal pun masuk ke dalam mobil.


Neon melihat Karina dan Ansel masuk ke dalam pusat perbelanjaan. "Marsya, bukannya itu Ansel dan Karina" ucap Neon sebelum menyalakan mesin mobil.


Marsya, Haikal dan Maria menoleh, mereka melihat Karina dan Ansel sedang memasuki pusat perbelanjaan.


"Ansel pasti menemani Karina membeli perlengkapan bayi" batin Marsya.


"Ayo jalan, kita tidak perlu mengurusi mereka. Kalian kan tahu sendiri, Ansel dan Karina pernah pacaran" kata Marsya.


Mendengar itu, Neon kembali menyalakan mesin mobilnya. Mobil perlahan bergerak menjauh dari pusat perbelanjaan. Dalam perjalanan, Marsya terlihat baik-baik saja.


Di dalam pusat perbelanjaan, Ansel sedang menemani Karina membeli pakaian bayi. Saat bersamaan Karina mendapatkan satu notifikasi pesan. Karina mengambil ponselnya, tubuhnya gemetar saat membaca pesan yang di kirim oleh pria yang menghancurkan masa depannya.


"Ansel, antar aku pulang sekarang" pintah Karina. Matanya mulai berkaca kaca.


"Karina, kamu kenapa?" tanya Ansel bingung.


"Tolong antar aku pulang" pintah Karina lagi.


Ansel membawa Karina keluar dari pusat perbelanjaan. Keduanya berjalan menuju parkiran mobil lalu masuk ke dalam.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin dia tahu kalau aku hamil" batin Karina.


Tak membutuhkan waktu lama, Karina dan Ansel sampai di rumah. Karina turun dari mobil begitu pun dengan Ansel. Ansel mengantar Karina sampai di depan pintu.


"Karina, aku pamit pulang ya" pamit Ansel.


"Iya, Ansel. Terima kasih sudah menemaniku" kata Karina yang berusaha terlihat santai.


"Jika ada sesuatu jangan sungkan untuk menghubungiku atau Marsya" ujar Ansel lalu masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi menjemput Marsya.


----


Ansel mengambil ponselnya mencoba mengirim pesan suara pada Marsya. "Sya, apa kamu masih di apartemen Maria?"


"Tidak, aku di rumah sekarang. Nene lagi di jalan menuju ke sini dan Dady lagi di rumah"


"Sepuluh menit lagi aku sampai di rumah"


Sepuluh menit kemudian, Ansel tiba di rumah. Ia membuka pintu mobil lalu keluar dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, ada Marsya dan Dady Angga.


"Dari mana kamu?" tanya Angga. Angga menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Aku menemani Karina jalan-jalan. Dady kapan sampai?" tanya Ansel mengambil tempat di samping istrinya.


"Ow iya Dady lupa kalau kamu dan Karina berpacaran. Bagaimana keadaan Karina sekarang?" tanya Angga.


"Apa Dady tidak tahu kalau Ansel dan Karina sudah putus dan Karina sedang mengandung" batin Marsya.


"Dia baik-baik saja. Dady, Marsya, aku ke kamar sebentar" pamit Ansel beranjak dari sofa dan masuk ke dalam kamar.


Terdengar kalakson mobil. Marsya keluar untuk melihat siapa yang datang. "Nene...!" sorak Marsya berhambur memeluk Liana.


"Cucu Nene sudah besar sekarang" kata Liana, ia berjalan masuk ke dalam rumah lalu duduk di samping Angga.

__ADS_1


"Angga, sejak kapan kamu di Jerman? Kenapa kamu tidak ke rumah Ibu lagi" tanya Liana.


Angga tersenyum. "Aku belum lama sampai Bu, aku pasti ke rumah Ibu" balas Angga dengan ramah.


"Kalian semua harus datang. Dua bulan lagi kenaikan kelas. Ibu mau kamu dan Allini serta Rian dan keluarganya harus ke Jerman. Ibu mau kita berkumpul di sini" kata Liana. Ia sudah menganggap Angga sebagai putranya.


"Iya Bu, kami pasti datang" balas Angga. Ia memeluk Liana lalu menangis di dalam pelukan Liana.


"Ibu, aku merindukan istriku. Izinkan aku memeluk Ibu agar rinduku berkurang" kata Angga sesegukan. Sejak meninggalnya Kaira, dan sejak Liana serta suaminya tinggal di Jerman, Angga selalu membawa anak kembarnya di rumah Liana. Di sanalah, Angga mendapatkan kasih sayang seorang Ibu lagi.


"Kamu pria hebat yang memperjuangkan satu wanita lalu setia padanya. Ibu salut dengan kesetiaanmu, sekalipun istrimu sudah lama meninggal dan anak-anak mu sudah besar, tapi kamu masih bersikukuh hidup sendiri tanpa pendamping" kata Liana mengelus pundak Angga.


Ansel keluar dari kamar, ia melihat Angga menangis memeluk Liana. "Nene, Dady kenapa?" tanya Ansel.


"Dady merindukan Momy jadi Dady menangis" balas Marsya.


Ansel terdiam saat mendengar jawaban Marsya. "Apa sesakit itu kehilangan seorang istri yang dicintai?" batin Ansel.


Ansel mengambil tempat disamping istrinya. "Dady, jika Dady ingin menikah, aku akan setuju dengan keputusan Dady" kata Ansel bersunggu sunggu.


Angga melepas pelukannya dan menatap tajam putranya. "Ringan sekali kamu berkata seperti itu. Dady bukan pria bodoh sepertimu yang melukai hati istri demi wanita lain. Sekalipun Momy sudah tiada, Dady akan tetap setia padanya" ujar Angga.


"Andai aku punya suami seperti Dady" gumam Marsya. Liana dan Angga terkekeh mendengarnya sedangkan Ansel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, Liana pamit untuk pulang sedangkan Angga, ia memilih masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang sering ia tempati bersama mediang istrinya.


Di dalam kamar, Angga terisak menatap foto istrinya. "Kaira, salahka jika aku merindukanmu. Kini, di rumah ini, putramu tinggal bersama istrinya. Kaira, datanglah dalam mimpiku agar rinduku sedikit berkurang. Aku merindukanmu, Kaira" kata Angga sembari mengelus bingkai foto istrinya saat sedang mengandung anak kembar mereka.


Di saat bersamaan, Ansel menyaksikan apa yang dilakukan dadynya. "Sebesar itu kah cinta dan kasih sayang Dady terhadap Momy" batin Ansel.


"Dady" panggil Ansel.


Angga menyeka air matanya. Berbalik menatap putranya. "Ada apa?" tanya Angga tersenyum.

__ADS_1


"Ayo makan, Marsya sudah menyiapkan makanan" kata Ansel.


Angga tersenyum, ia berjalan menghampiri putranya. "Jangan sakiti hati istrimu. Dia wanita yang patut kamu hargai dan yang harus kamu lindungi. Dady tidak ingin melihat menantu Dady sedih" kata Angga sembari memegang kedua pundak putranya.


__ADS_2