
"Arin," panggil Astra lantang.
"Ha? Apaan?" Sautnya yang berdiri di depan pintu kelas.
Astra berjalan menghampiri Arin dan menarik tangannya paksa. "Gua mau cerita,"
Anya yang melihat seperti akan ada gosip terbaru, mengikuti langkah Arin dan Astra yang berjalan ke arah belakang kelas.
"Ikutan dong," pinta Anya. Arin melambaikan tangannya mengisyaratkan Agar Anya menyusul ketempat nya.
"Ada gosip apa?" tanya Anya penasaran dan duduk di sebelah Arin.
"Jadi gini," potong Astra.
"Lu keluyuran. jalan sama laki-laki lain, pulang-pulang hamil, terus gua yang tanggung jawab. Nafkahi lu, kasih makan lu, ngurusin anak lu--
"Ha? Apa? Arin hamil anak Astra?!" Teriaknya lantang yang mencuri perhatian seisi kelas.
"Ap-apa? Arin l-lu hamil?"
"Ga nyangka."
"Eh beneran aja lu anak sepolos Arin hamil?"
"Idih jijik banget."
"Astra maksud lu apa ngehamilin Arin?!"
Seperti virus yang menyebar hanya dengan sekali bersin. Berbagai lontaran anak kelas memenuhi kelas. Berbondong-bondong seluruh siswa mendekati Arin dan Astra yang berada di pojok belakang kelas. Arin yang bingung hanya mengernyit heran melihat kebodohan teman-temannya.
__ADS_1
"Ada apa ribut-ribut? Duduk ditempatnya masing-masing," tegas Bisma yang baru masuk.
"Itu pak. si Arin hamil anak Astra," ceplos Ladya.
Semuanya terdiam, raut wajah Bisma susah untuk ditebak. Seperti mengekspresikan heran, tidak acuh, atau kaget.
Arin menoleh ke arah Astra. Mengisyaratkan Astra untuk menjelaskan situasi yang dipenuhi dengan kebodohan teman-temannya. "Jelasin bro," tutur Arin santai.
"Apasih goblog. Orang gua sama Arin lagi bahas kucing," jelas Astra yang kemudian berlalu meninggalkan teman-temannya dengan ekspresi kecewa.
•••
"Mau nonton atau makan?" Tanya Ryan yang berdiri di parkiran sekolah.
"Non-- eh makan aja deh," jawab Arin bersemangat.
"cuma satu?"
Ryan memasangkan helm ke kepala mungil Arin, "Iya." Balasnya singkat.
"Ini belum bener helmnya," ucap Arin berusaha membenarkan letak helmnya.
Ryan menepis sedikit jarak diantara mereka berdua, membantu Arin memasang helmnya dengan benar.
Pipi Arin berubah menjadi merah merona, tersipu malu dengan perlakuan sang Ketua kelas.
"Kecil banget sih pala lu," ejeknya. Seketika Arin langsung menatapnya tajam.
"Ryan," panggil Arin yang menahan tangan Ryan.
__ADS_1
Arin menatap lembut mata Ryan. "Nikita Mirzani, Nikita Willy, Nikita gini-gini aja? Ga ada niatan mau nikahan gitu?" gombal Arin.
Ryan mengarahkan telunjuknya tepat di dahi Arin, lalu mendorong telunjuknya lembut.
"Bisa aja lu. Belajar dari mana?" tanya Ryan yang berdiri tegak pinggang.
Ia mengembangkan senyumnya, "Dari Ryan."
"Eh Ryan tau ga?" Lanjut Arin mengembungkan pipinya gemas.
"Ga usah digituin. Gua gigit juga nih, hm apa?" ucapnya mendongak dan ikut mengembungkan pipinya menatap Arin.
"Pendek banget sih. Ini cewe yang tingginya cuma 155 doang mending jadi tower smarpren aja sono," Goda Ryan
"Heh," tegur Arin tidak terima.
"Serius," lanjutnya kesal.
"Yaudah, silahkan dilanjutkan bu boss."
"Tau ga penyebab ga bisa tidur itu apa?" Tanya Arin serius.
Ryan terdiam memikirkan jawaban yang benar, "insomnia?" tebaknya.
"Bukan, penyebab gabisa tidur itu terlalu banyak menahan rindu hehe. Makanya Arin ga pernah tidur, karena terlalu berat menahan rindu ingin bertemu kakanda Ryan," jelas Arin Dramatis.
Malas menanggapi gombalan-gombalan tidak bermutu Arin, Ryan menaiki motornya dan bersiap akan pergi.
"Buset bro gua sih owh aja," jawab Ryan yang membentuk jarinya seperti huruf 'O'.
__ADS_1