Nikah Muda

Nikah Muda
Bersama


__ADS_3

Sudah satu bulan sejak kepergian Ryan. Hidup Arin sedikit mulai berubah, teman yang biasa bersamanya sudah pergi jauh ke negeri sakura. Arin sudah mulai terbiasa sendiri, ia bahkan mulai bersikap dingin pada siapapun yang mendekatinya.  Tujuannya datang ke kampus terasa berat. Ia yang biasanya lebih senang menghabiskan waktu bersama Ryan di kampus. Mulai malas dan lebih memilih untuk absen.


Perubahan sikap Arin juga membuat perubahan sikap pada Bisma, ia yang biasa asik berkutat dengan pekerjaannya lebih memilih untuk banyak menghabiskan waktu agar Arin tidak memikirkan Ryan lagi.


"Dek, gimana kalau kita jalan?"


Arin yang fokus membaca novelnya menghentikan pandangannya dan beralih menoleh Bisma.


"Kemana mas?" tanya Arin yang kembali membaca novelnya.


"Kemana ya?" gumam Bisma yang memutar bola matanya ke atas seraya berfikir.


"Honeymoon gimana?"


"Ngga," jawab Arin singkat.


"Honeymoon aja ya dek."


"Ngga."


"Iya?"


"Ngga."


"Iya"


"Ngga."


"Iya."


"Ngga."


"Iya"


"Ngga."


"Iya."


"Iya."


'Eh?'


"Oke. Berarti iya," ucap Bisma tersenyum puas.


"Engga ya mas," tolak Arin penuh penekanan.


"Tadi jawabnya iya."


"Itu keceplosan."


"Ingat, tidak boleh menarik kata-katanya kembali."


Arin menatap Bisma nyalang. Tidak setuju dengan kesempatan yang ia ambil tadi, "Ya udah." pasrah Arin.


•••


Tujuan utama mereka menghabiskan waktu akhir pekan bersama. Menghabiskan dengan darmawisata dan diselingi bulan madu.


"Packing semuanya dek," titah Bisma yang asik mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.


"Ngga deh mas. Males," jawab Arin yang tengah berselonjoran di kasur.


Bisma berhenti dari aktivitasnya, berdiri mendekati Arin dan memeluknya hangat.


"Apasih mas," protes Arin memukul pelan lengan Bisma.


"Lepasin."

__ADS_1


"Gini dulu bentaran," protes Bisma memejamkan matanya.


Arin yang merasa hangat enggan untuk berkomentar lagi, ia memilih diam dan menikmatinya. Ditatapnya wajah Bisma dari setiap inci tanpa tertinggal satu bagian pun. Kulit putih pucat, hidung kecil yang mancung, alis tegas, dan mata tajamnya, menggambarkan sosok Bisma yang selama ini terkenal Killer. Arin Masih sedikit tidak menyangka, bahwa guru yang dulu sering ia sumpah serapahin kini menjadi suaminya.


Ia tersenyum kecil, mengusap seluruh bagian wajah Bisma dengan jempolnya. Merasa sedikit terganggu, Bisma membuka matanya menatap Arin yang terdiam dengan wajah polosnya.


"Andai aja waktu bisa diputar," gumamnya kecil.


"Kenapa?" tanya Arin.


"Mas mungkin udah ngerasain hal nyaman kaya gini, dari lama banget."


Arin mendelik malas, "Ya karena bapaknya. Ngga mau kenalan lebih dalem sama saya."


"Kok bapak lagi," protesnya menyentil bibir Arin pelan.


"Keceplosan pak. Udah ih ngga usah ganti embel-embel. Ribet banget pake Mas-Adek," protes Arin.


"Biar romantis. Kamu ngga mau jadi couple goals tahun ini?"


"Males."


Bisma yang geram memeluk Arin erat. "Mas, ini ngga bisa napas!"


"Kalau ngga bisa napas mati dek."


Bisma membaringkan Arin dalam pelukannya, menggelitik perut sang istri seraya bercanda. Arin yang merasa geli memberontak dalam pelukan Bisma "Kya-- mas udah, mas udah. Geli."


"Bantuin packing dulu," tawarnya yang masih menggelitik perut Arin.


Arin ngos-ngosan menahan geli diperutnya. "Iyaiya,"


Bisma berhenti dan melepaskan pelukannya, "oke sepakat."


Ia berdiri, menduduki diri dilantai mengambil beberapa baju yang kembali dimasukannya ke dalam koper, "Ayo bantuin."


"Males."


•••


Tujuanan liburan yang mereka pilih, berlibur ke pantai sambil menikmati pemandangan yang indah. Arin yang sudah lama tidak berlibur dan merilekskan diri, merasa seperti anak kecil yang lupa dengan kekejaman dunia.


"Jangan lari-lari nanti jatuh," ucap Bisma memperingati Arin yang tengah berjalan mengekori Arin yang tidak bisa diam.


Arin berjalan, mengayun-ayunkan kaki menendang air ombak yang datang membasahi kakinya.


"Mas sini!" teriaknya memanggil Bisma yang hanya diam di tepi pantai sambil memperhatikan gerak-gerik Arin.


Arin berjalan, mendekati Bisma yang lebih betah memandangnya daripada bermain bersamanya. Ia datang menarik sang suami ke arus ombak kecil yang mendekat.


"Mas cobain deh, seru!"


Arin berjongkok memandangi kepiting kecil yang berjalan miring.


"Eh-- eh. Itu kepitingnya pincang apa gimana? Ko jalannya miring gitu."


Arin mengambil salah satu kepiting kecil tadi, meletakkannya di depan dan membenarkan posisi kepiting itu agar berjalan lurus. Dirasa sudah benar Arin melepas kepiting tadi.


"Loh ko masih miring?! Pincang semua ya kepitingnya?"


Bisma yang bosan dengan kebodohan istrinya mendekat dan ikut berjongkok di samping Arin.


"Kepiting jalannya emang miring dek. Bukan pincang," jelas Bisma.


"Ngga tuh. Buktinya tuan krab jalannya lurus-lurus aja," sewot Arin.


"Itu kartun dek." Bisma mengusap kasar rambut Arin berharap agar kebodohan istrinya sedikit berkurang.

__ADS_1


"Bedanya apa. Seharusnya kalo kartun mereka juga harus buat sesuai realita dong."


Bisma menatap Arin geram, "Kamu maunya apasih?"


"Bakso hehe."


•••


"Dek, mas mau belanja ikut ga?" tanya Bisma memperhatikan Arin yang tengah menatap Langit malam di balkon vila.


"Ngga mas," jawab Arin tanpa menoleh.


Bisma mengangguk bersiap keluar, pergi ke supermarket terdekat.


"Mass~~" teriak Arin.


Merasa mendengar samar-samar suara memanggil namanya, Bisma kembali membuka pintu dan melirik dari celah pintu. "Kenapa?"


"Mau, Bakso."


Bukannya menjawab Bisma malah langsung menutup pintunya, "Kebiasaan." gumam Arin.


Arin yang masih setia melihat bintang-bintang yang bergelantungan di langit menatapnya bahagia. Membayangkan Bisma yang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Arin dan mulai bersikap lembut. Arin bersyukur, dengan takdir yang selama ini telah diikutinya tanpa berniat untuk memberontak. Lambat-laun semua membaik sehingga tidak perlu mengkhawatirkannya.


Soal Ryan, Arin masih memikirkannya. Tapi Arin juga tidak mau untuk terlalu bersedih, kata Ryan kebahagiaannya adalah kebahagiaan Ryan jadi Arin harus bisa membahagiakan dirinya.


Dua hari menghilang dari pandangan Arin, ternyata Ryan sudah memutuskan untuk pindah kuliah di Jepang. Negara yang sebenarnya telah menjadi targetnya sejak dulu, tapi berubah alih karena ingin berada di dekat Arin. Ryan terlalu mencintainya dengan tulus sehingga Arin sendiri tidak dapat membalasnya dengan apapun. Pria yang baik untuk wanita baik juga. Arin selalu beranggapan begitu, berdoa agar kelak Ryan akan mendapatkan wanita yang lebih baik dan cocok untuknya.


Tiba-tiba seluruh lampu mati dan sekeliling gelap. Terkejut dengan situasi Arin langsung meringkuk menutup matanya erat.


"Ge-gelap," lirih Arin. Matanya sudah mulai terasa hangat, hingga buliran air mata jatuh dari pelupuk matanya.


"M-mas."


Arin masih meringkuk dan terus bergumam memanggil nama Bisma. Tubuhnya mulai mengigil, seketika bayangan-bayangan buruk mulai menggerogoti pikirannya.


"Udah jangan takut mas disini."


Pelukan hangat yang menyambar tubuh Arin mendapat respon dan mulai terasa rileks. Arin memeluk Bisma yang datang sambil memeluknya dari belakang. Masih setia menutup matanya dan enggan untuk membuka. Bisma menggendong Arin, membawanya ke atas kasur dan mendudukinya perlahan.


"Udah tenang. ada mas," ucapnya seraya membelai rambut Arin.


"Takut," lirih Arin.


"Sebentar lagi lampunya bakal nyala. Tadi mas udah datengin Pak Ujang."


Selang beberapa menit terdiam dengan keadaan hening dan gelap. Lampu menyala, ternyata Arin yang diam dikarenakan sudah tertidur pulas dipelukan Bisma. Ia membenarkan posisi istrinya, membaringkannya perlahan dikasur dan menarik selimut hingga membuat Arin tetap hangat.


•••


Aku berjalan pulang dengan terburu-buru bahkan beberapa belanjaan yang sudah aku niatkan dari vila sudah lupa untuk membelinya. Entahlah firasat ku tidak enak tentang Arin. sesampainya di vila keadaan gelap, sepertinya mati lampu. Aku mendatangi penjaga vila yang sedang berjalan mendekatiku, ternyata ada gangguan pada listriknya dan akan segera diperbaiki.


Aku berlari masuk ke kamar, dugaanku benar. Istri kecilku meringkuk sambil ketakutan. aku berjalan mendekatinya, bediri dibelakang dan mendekap hangat ia dipelukan ku.


"Udah jangan takut mas disini."


Aku merasakan badannya yang semula mengigil perlahan tenang. Ku gendong ia ke kasur, mendudukinya perlahan yang enggan melepaskan pelukannya. Aku duduk memangkunya, membiarkan dia agar sedikit tenang.


"Takut," lirihnya.


Kata-kata itu mengingatkan kejadian tempo lalu. Saat mendengarnya aku semakin bersalah karena tidak bisa menjadi suami ya baik, padahal dia susah menjadi istri yang baik untukku.


Aku sudah mulai terbiasa dengannya, aku sudah mulai terasa deg-degan bila di dekatnya. Aku rasa aku sudah mulai Mencintainya, aku rasa aku sudah mulai tidak bisa hidup tanpanya.


Lampu sudah mulai menyala, kutatap ia yang ternyata tertidur di pelukanku. Pantas saja semua terasa hening, dan tidak terdengar racauannya. Aku membaringkannya perlahan, menarik selimut hingga sedadanya.


Ku tatapi setiap inci wajahnya. Sangat indah, sangat indah sampai aku lupa untuk mengedipkan mataku. Aku mendekati wajahku padanya menepis jarak hingga hidungku dan hidungnya menyatu. nafasku mulai memburu, hingga tanpa sadar aku sudah menempelkan bibirku di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2