
Hari ini tepat 3 tahun usia pernikahanku dengan Pak Bisma. Usia pernikahan yang sudah cukup lama bersama tetapi, belum bisa saling mencintai. Ah ralat bukan belum bisa saling mencintai, namun ia yang belum bisa membalasnya. Aku ingin merayakannya tetapi pak Bisma memiliki tugas di luar kota sehingga tidak bisa bersamaku.
"Apa besok aja ya? Kan mas bisma pulangnya ntar malem," gumamku yang tengah jongkok sambil berfikir.
"Eh engga! Malem ini aja!"
Aku langsung bergegas ke kamar, mengambil tas dan jaketku. Aku akan pergi membeli bahan-bahan untuk makan malam nanti dan membeli kue.
•••
Setelah membeli semua bahan-bahan masakan. Aku berniat untuk menelepon dan bertanya kabar pak Bisma. Ditinggal dua hari saja sudah membuat aku merindukan wajah dinginnya.
"Hallo mas?"
Terdengar samar-samar suara gerasa-gerusu, "Ha-hallo?"
Aku mengernyit heran, mendengar ia yang gugup tiba-tiba.
"Lagi dimana mas?"
"Lagi di penginapan, bentar lagi mas pulang."
"Beneran?" tanyaku riang.
"Iya, tapi sampainya lumayan malam."
"Ngga apa-apa. Arin tungguin."
"Ngga usah ditungguin nanti kamu cape.
"Ngga apa-apa mas."
__ADS_1
"Keras kepala banget sih dek,"
"Biarin. Eh udah dulu ya mas."
Belum sempat ia membalasnya aku sudah lebih dulu mematikan telepon dan memasukkan ponselku ke dalam jaket. Kemudian berjalan mengambil langkah menuju toko kue.
•••
Arin memasak makanan dengan riang sesekali ia bersiul bahkan bernyanyi mengekspresikan rasa bahagianya. Tiga tahun menikah bukan waktu yang singkat, berbagai goncangan dan badai yang menerpa membuat Arin belajar menjadi dewasa.
Walau Bisma tidak pernah menyatakan cinta pada Arin, ia yakin pria berwajah dingin itu sudah menepati Arin dihatinya. Entahlah apa yang membuat pria itu belum bisa menerima Arin sepenuhnya. Terkadang mengingat hal itu membuat Arin sakit, pikirnya lambat-laun semua akan membaik. Tapi hati Arin yang berusaha untuk tegar tidak sekuat yang dibayangkan. Hatinya rapuh, terlalu rapuh untuk kembali jatuh. Apalagi mendengar apa yang dikatakan oleh wanita iblis itu, membuat Arin terus berpikiran buruk dan kadang mengiyakan kebenaran ucapannya.
Beri tau Arin, apa yang harus ia lakukan lagi. Mencintai seseorang adalah menaruh seluruh kepercayaan kita padanya, mau bagaimanapun ia mencintai Bisma, tapi hatinya terlalu goyah untuk percaya.
Mengingat mereka yang sudah lama bersama tapi Bisma tidak bisa berpaling sedikitpun padanya. Hanya dengan bersikap lembut bukan berarti ia mencintai Arin. Bahkan Bisma sesekali meracau dan memperhatikan foto Clara yang membuat Arin semakin sulit untuk percaya.
'apa mas Bisma masih berhubungan sama wanita iblis itu?'
•••
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi Bisma belum juga pulang dan menghubungi Arin lagi. Saat sore tadi Bisma sempat memberitahu Arin bahwa ia akan tiba pukul 8 malam. Tapi sudah satu jam lebih dan Arin belum mendapat kabar dari Bisma.
Ia terduduk di meja makan. Memperhatikan gerak-gerik jarum jam yang masih menunjukkan pukul yang sama. Arin sudah berdandan cantik, menggunakan dress navy dan ber-make up simple. Cocok untuk penampilan kencan.
Ting!
Suara notifikasi ponselnya membuyarkan lamunannya. Ia tersenyum bersemangat, berharap Bisma yang menghubunginya.
From: +62876XXXXXX
Temui aku di cafe Ry romantic dan kamu akan melihat semua jawaban yang ada dipikiranmu.
__ADS_1
•••
Disinilah aku sekarang, disebuah cafe yang dikatakan oleh nomor tak dikenal tadi. Entah apa yang membuat aku mengikutinya, yang jelas saat aku membaca pesan itu aku langsung menyambar tasku dan berlalu mengikutinya. Ini seperti terhipnotis oleh tanda tanya yang tersimpan dipikiran ku.
Aku mengedarkan pandanganku, mencari sosok itu. Tapi tidak terlihat, cafe ini sepi tidak ada siapapun kecuali meja yang sudah tersusun rapi di tengah-tengahnya, memiliki dekorasi yang romantis dan tulisan anniversary di dindingnya. Aku berjalan mendekati meja tadi membaca name tag yang berada di atas mejanya.
Bisma Adirajada Argani.
Itu nama suamiku. Apa dia membuat surprise untukku? Senyuman bahagia terukir di bibirku. Aku senang, ternyata dia sosok yang sangat romantis. Pergi ke luar kota dan datang dengan memberi pesan dari nomor asing hanya untuk memberikan aku surprise.
"Maaf mba."
Aku menoleh ke arah pelayan yang berbicara tadi. "Iya?" tanyaku.
"Cafe ini sudah dibooking dan tidak ada satupun orang yang boleh masuk kecuali bapak Bisma Adirajada Argani," jelasnya sopan.
"Tapi saya istrinya."
Dia terlihat kaget, menunduk sopan. "Ta-tapi-- maaf mba. Saya benar-benar harus melakukan perintah, mba tidak boleh masuk. Karena cafe ini sudah dibooking dan tak seorangpun diberbolehkan masuk."
Aku mengernyit heran. Mungkin maksudnya aku di perbolehkan masuk jika suamiku datang. Jadi aku tidak perlu khawatir.
"Baiklah," balasku dan berlalu keluar cafe.
Aku berdiri di depan melihat meja tadi dari balik dinding kaca cafe. Sangat romantis hingga hatiku terasa sangat gugup. Apa suamiku akan mengatakan cintanya? benar-benar tidak terduga.
Aku mengambil ponselku, mencoba untuk menelpon pak Bisma tapi tidak di angkat. Mataku masih asik menatap meja tadi dari luar cafe, memperhatikannya hingga mataku menatap dua orang insan yang masuk kedalam cafe itu.
Memperhatikannya sampai ponsel yang berada ditelingaku terjatuh.
"Mas Bisma-- Clara--?"
__ADS_1