
Marsya kembali ke tempatnya, mempersilahkan Karina untuk duduk. Pandangan Marsya tak bisa lepas dari Ansel dan Karina. Terlebih lagi Karina dan Ansel selalunya saling melempar senyum.
"Apa anak yang dikandung Karina adalah anak Ansel? Jika bukan, kenapa Ansel menatap Karina seperti itu" batin Marsya.
"Selamat pagi" sapa Bu Nasida lalu masuk ke dalam kelas.
Bu Nasida mengambil buku absen, mengabsen satu persatu murid muridnya. Setelah selesai mengabsen, proses belajar mengajar dimulai. Semua murid aktif dalam pembelajaran. Seperti biasa, tugas sekolah tidak pernah terlewatkan. Dan kali ini, Marsya, Maria, Ansel dan Karina kembali satu kelompok.
"Ibu mau kalian semua aktif dalam mengerjakan tugas kelompok. Jika ada salah satu dari kalian yang tidak membantu dalam mengerjakan tugas, Ibu minta kalian melapor atau jangan isi namanya di slide kalian" tegas Bu Nasida.
"Baik, Bu" balas semua siswa dan siswi bersamaan.
Terdengar bunyi bel jam istrahat, Bu Nasida ke luar dari kelas. Di depan pintu, ada Neon dan Haikal yang tengah menunggu Marsya dan Maria.
"Ada apa dengamu? Sejak gadis itu pindah ke sekolah kita, kamu sering datang di kelas ini" kata Neon, ia tidak paham dengan perubahan sikap Haikal.
"Itu bukan urusanmu!" ketus Haikal, ia berjalan masuk ke dalam kelas menghampiri Maria dan Marsya.
"Senior, kenapa kalian selalu ke sini?" tanya Marsya, hampir setiap hari Haikal dan Neon akan selalu mendatangi kelas mereka.
"Karena kalian berdua di sini" balas Haikal santai. Ia duduk di atas meja milik Marsya.
"Ansel, Karina, ayo kita ke kantin" ajak Marsya.
Haikal dan Neon saling tatap sembari menaikkan salah satu alis mereka. "Apa kamu dan-----" Haikal tidak melanjutkan pertanyaannya saat Marsya mengangguk.
"Maaf Marsya, kami tidak bisa gabung bersama kalian" balas Karina.
Marsya menatap Ansel sejenak. "Aku percaya pada Ansel. Mungkin Karina tidak tahu kalau aku mengetahui apa yang ia sembunyikan" batin Marsya.
"Ansel, kami ke kantin dulu" kata Marsya berlalu pergi meninggalkan semua teman-temannya.
Maria dan Neon serta Haikal berlari kecil mengejar Marsya. "Marsya, apa kamu cemburu?" tanya Maria meledek Marsya.
"Cemburu!!" Marsya membulatkan matanya. "Untuk apa aku cemburu" kata Marsya.
"Anak kecil yang sok tahu itu kamu" timpal Neon melingkarkan tangannya di leher Maria.
"Senior!!" pekik Maria saat Neon memperkuat lingkaran tangannya.
Siswa dan siswi yang menatap ke arah mereka. Sebagian dari mereka merasa takjub dengan kedekatan senior dan junior dan ada juga yang merasa irih dengan kedekatan mereka.
__ADS_1
--
Marsya mengambil tempat di kursi yang sering mereka tempati. "Maria, kamu yang pesan" kata Marsya. Kali ini moodnya tidak bagus. Marsya masih memikirkan Ansel dan Karina.
"Kenapa Ansel diam saja, apa dia menyembunyikan sesuatu dariku. Bukankah aku dan dia sudah sepakat bekerja sama untuk membantu Karina" batin Marsya.
Neon dan Haikal tersenyum kecut, mereka memiliki ide untuk mengerjai Marsya. Keduanya mengurungkan niat mereka saat melihat Marsya melipat kedua tangannya di atas meja lalu menenggelamkan wajahnya di sana.
"Marsya, apa kamu punya masalah?" tanya Neon yang duduk di samping Marsya.
"Tidak ada, senior. Aku tidak punya masalah" balas Marsya.
"Marsya, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Haikal.
Marsya mendongak menatap Haikal. "Mau menanyakan apa?" tanya Marsya. Ia memperbaiki gaya duduknya.
"Apa hubunganmu dengan Ansel? Aku rasa hubungan kalian bukan sebatas saudara" tanya Haikal.
"Apa aku jujur saja" batin Marsya.
"Aku dan Ansel--" Marsya tak melanjutkan kalimatnya saat Maria datang tiba-tiba.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu!" ketus Maria saat Haikal dan Neon melotot padanya.
"Bukannya kalian menyuruhku memesan makanan" balas Maria sembari duduk di kursi.
"Kamu pesan makanan atau tidur di dapur" timpal Haikal.
"Dua duanya" balas Maria singkat, ia malas berdebat dengan Haikal maupun Neon.
Pesanan datang, Marsya dan ketiga temannya mulai mencicipi makanan mereka. Setelah selesai, mereka berempat kembali ke kelas. Di kelas, ada Ansel dan Karina yang sedang bergurau. Melihat pemandangan indah di hadapannya, Marsya memilih keluar dari kelas.
"Senior...!" panggil Marsya.
Haikal dan Neon menoleh. "Kamu kenapa?" tanya Haikal.
"Tidak, aku tidak kenapa napa" balas Marsya tersenyum.
"Kenapa kamu meninggalkan aku sendirian" kata Maria yang tiba-tiba datang menyentil jidat Marsya.
"Karena kamu terlalu suka menyaksikan apa yang kamu lihat di dalam kelas" balas Marsya.
__ADS_1
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Haikal. Ia berdiri di depan kelas.
Terdengar bunyi bel masuk, Haikal dan Neon masuk ke kelas mereka. Sedangkan Maria dan Marsya membalikan badan menuju kelas mereka. Marsya dan Maria duduk di kursi, keduanya membuka buku cetak lalu membacanya.
Ansel melirik Marsya yang tengah serius membaca buku. "Aku yakin, Marsya pasti kesal melihatku dekat dengan Karina" batin Ansel.
Guru yang mengajar di jam kedua pun datang, proses belajar mengajar kembali dimulai. Semua siswa dan siswi aktif dalam pembelajaran. Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Bunyi bel pulang kembali terdengar, Marsya dan Maria beranjak dari duduknya menuju parkiran.
"Marsya..."
Terdengar seseorang memanggil Marsya, Marsya dan Maria menoleh. Di depan kelas, ada Ansel yang tengah berdiri tersenyum ke arah mereka. Selang beberapa detik, Karina ke luar dari kelas lalu berdiri di samping Ansel. Keduanya berjalan menghampiri Marsya dan Maria.
"Ada apa Ansel?" tanya Marsya.
"Sya, kamu tunggu aku di apartemen Maria. Nanti aku jemput kamu di sana. Maria, aku titip Marsya padamu. Jaga dia baik-baik" kata Ansel.
"Kamu mau ke mana?" tanya Marsya lagi.
"Aku dan Ansel mau ke suatu tempat. Jadi, dia tidak bisa mengantarmu pulang" timpal Karina.
"Jika seperti itu, kamu tidak perlu menjemputku. Nanti aku pulang sendiri di rumah" balas Marsya tersenyum.
"Baiklah, hati-hati jika kamu pulang nanti" kata Ansel.
Marsya mengangguk. Kemudian, ia dan Maria berjalan menuju depan sekolah untuk menunggu bus. Sedangkan Ansel dan Karina, keduanya berjalan menuju parkiran mobil.
Terdengar bunyi kalakson mobil yang berulang ulang. Marsya dan Maria menoleh ke belakang, keduanya nampak geram saat tahu siapa pemilik mobil yang dengan sengaja ingin memecahkan gendang telinga mereka.
"Jangan bergaya di depan kami!!" seru Maria.
Neon terkekeh mendengarnya. "Cepat masuk" titahnya.
Marsya dan Maria masuk ke dalam mobil, mobil perlahan bergerak meninggalkan area sekolah. Di perjalanan, Maria berbisik di telinga Marsya. Marsya tersenyum kecil saat mendengar apa yang dibisikan Maria.
"Neon, bisa kamu temani kami ke pusat perbelanjaan? Ada sesuatu yang mau aku beli" tanya Maria.
"Bisa" balas Neon singkat.
----
Pusat perbelanjaan
__ADS_1
Maria turun dari mobil lalu masuk ke dalam Mall. Ia mulai mencari apa yang ia ingin beli. Sedangkan Marsya dan Neon, mereka memilih tunggu di dalam mobil. Saat Maria hendak membayar barang belanjaannya, ia melihat seseorang yang ia kenal.
"Kenapa mereka bisa berada di sini" gumam Maria.