
Hari ini adalah hari yang di nanti oleh Fahri dan Sinta, mereka akan melangsungkan acara lamaran di kediaman Sinta. Bahkan keluarga dari Sinta menerima kedatangan keluarga Papa Surya dengan tangan terbuka.
Fahri yang mengenakan batik sangat kontras dengan kulitnya. Begitupun dengan Sinta yang sangat cantik dengan kebaya silver dengan rok batik yang sama dengan pakaian yang di kenakan oleh Fahri.
Keduanya tersenyum sumringah saat kedua orang tua Sinta, menerima Fahri sebagai calon mantunya. Setelah saling sapa dari kedua belah pihak, Fahri dan Sinta kini saling tukar cincin.
"By, mereka sangat serasi ya," tutur Bella. Pandangan Bella tak lepas dari dua sejoli yang kini tengah memamerkan cincin ke hadapan para tamu.
"Iya, aku sangat bahagia melihat Abang sudah mendapatkan tambatan hatinya. Semoga mereka selalu langgeng dan mampu menjalani mahligai rumah tangga yang akan Abang bina bersama Kak Sinta."
Aditya menarik tangan Bella dan menautkan jemarinya ke jemari Bella, lalu membawa tangan Bella ke bibirnya untuk di cium. Bella tersenyum menatap wajah Aditya yang selalu mampu membuat hatinya meleleh.
Selesai tukar cincin, kini giliran menentukan tanggal pernikahannya. Para orang tua saling tukar pendapat soal tanggal yang cocok untuk Fahri dan Sinta, setelah saling berdebat soal tanggal pernikahan. Kini Fahri dan Sinta akan menikah sekitar tiga Minggu lagi, di karenakan Kakek dari Sinta yang sering sakit-sakitan dan juga takut tidak bisa menyaksikan pernikahan cucunya.
"By, kita samperin mereka."Ajak Bella kepada Aditya. Aditya pun mengangguk setuju.
"Kak, Selamat ya. Akhirnya Kak Sinta akan jadi Kakak iparku," ucap Bella seraya memeluk Sinta.
"Iya, aku sangat bahagia karena Mas Fahri sudah melamar Kakak."
"Semoga selalu di lancarkan sampai hari H," sambung Bella.
"Amin....,"jawab Fahri dan Sinta bersamaan.
"Ayo-ayo, makan dulu!" Suruh Tantenya Sinta kepada keluarga Fahri.
"Ayo, kita makan dulu," ajak Sinta kepada Bella dan Aditya.
Saat tengah menikmati makan, tiba-tiba Kakeknya Sinta memegang dadanya. Beliau sedikit menundukkan tubuhnya saat dadanya terasa sakit.
"Aah...."
Ringis kakeknya Sinta seraya menekan dadanya, dan itu membuat semua orang panik. Papanya Sinta yang bernama Pak Agus segera menghampiri nya.
"Kenapa,Pak?," tanya Pak Agus yang ikut memegangi dada Kakek.
"Sakit..." lirihnya.
Nafas Kakek pun mulai tak teratur, membuat Pak Agus langsung di landa panik." Cepat bawa Kakek ke rumah sakit!," titah saudara Pak Agus.
"Tolong bantu saya mengangkat tubuh Kakek," seru Pak Agus.
__ADS_1
Pak Agus dan saudaranya mengangkat tubuh Kakek keluar dan segera membawanya ke rumah sakit. Semua yang berada di sana terlihat sangat cemas dan panik melihat Kakek Sinta yang kesakitan di dadanya.
"By, semoga Kakek kak Sinta nggak kenapa-napa," ucap Bella yang juga ikut panik.
"Iya..."
Sedangkan Sinta yang tak tenang, hanya bisa menangis dan berharap kakeknya baik-baik saja.
"Mas...,"panggil Sinta.
"Kenapa?" Fahri menatap wajah Sinta yang sendu.
"Kakek gimana?, apa Kakek akan baik-baik saja," lirih Sinta.
"Kita berdoa saja, semoga Kakek baik-baik saja." Fahri menggenggam tangan Sinta berharap bisa memberi dukungan agar Sinta tak sedih.
Sinta menghela nafasnya, Sinta benar-benar sangat mencemaskan keadaan kakeknya yang kini sudah di bawa ke rumah sakit.
"Sebaiknya, kita berdoa agar kakeknya Sinta baik-baik saja," imbuh Papa Surya kepada orang yang ikut acara lamaran Sinta dan Fahri.
"Berdoa di mulai." Papa Surya memimpin doa untuk kesembuhan Kakek Sinta.
Kini semuanya hanya bisa menunggu kepastian keadaan kakek, tidak lama suara dering handphone Mamanya Sinta bunyi.
"Tolong ajak Sinta dan Fahri, berserta keluarganya datang ke sini. Ini permintaan Kakek." Pak Agus mengungkapkan keinginan Kakek.
"Baik, Mama akan bilang ke semuanya."
"Ya sudah, Papa tunggu." Mamanya Sinta mematikan sambungan teleponnya.
"Gimana keadaan kakek, Ma?" cecar Sinta yang sudah sangat mencemaskan keadaan kakeknya.
"Kita di suruh ke sana, atas permintaan Kakek."
***
Semua anggota keluarga Fahri sudah tiba di rumah sakit. Yang hanya di perbolehkan masuk ke dalam kamar rawat hanya Sinta, Fahri dan Papa Surya.
"Pak Surya...,"lirih Kakek.
Papa Surya mendekati Kakek, "Iya, kenapa? "
__ADS_1
" Tolong nikahkan Sinta dengan Nak Fahri hari ini juga, saya takut kalau saya tidak bisa menyaksikan cucu saya menikah di tanggal yang sudah di tentukan." Papa Surya mengangguk tanda setuju.
"Tadi saya sudah menyuruh Agus membawa penghulu untuk menikahkan Sinta dan Fahri," sambung Kakek yang terbata-bata saat berbicara.
"Iya,Pak. Bapak tenang saja. Fahri pasti akan menikahi Sinta jadi Bapak hanya fokus dengan kesehatan Bapak saja," tukas Papa Surya.
Kakek menahan sakit di dadanya yang mulai terasa sesak, Beliau berharap dapat menyaksikan cucunya menikah.Sedangkan Sinta sudah tak mampu lagi menahan air matanya yang sudah terkumpul di pelupuk mata.
"Kek, Kakek harus sembuh. Sinta mau Kakek tetap sehat. Sinta sayang sama Kakek," ucap Sinta yang terus menangis.
"Sinta, jangan nangis. Sebentar lagi kamu akan menikah dengan Fahri, lelaki yang kamu pilih. Jadi Kakek akan tenang jika kamu sudah ada yang menjaga kamu," tutur Kakek dengan tatapan teduh.
"Ayo masuk, Pak!.
Paman dari Sinta datang bersama penghulu dan juga Pak RT. Semua anggota keluarga sudah di izinkan masuk oleh dokter yang sedang bertugas. Mereka semua akan menyaksikan janji suci Fahri di hadapan penghulu. Hati Fahri berdebar-debar saat berjabat tangan dengan penghulu untuk melakukan ijab Kabul. Fahri tarik nafas panjang lalu membuangnya, untuk merilekskan hatinya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sinta Ayudira Binti Agus Salim dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
" Bagaimana para saksi,sah?"
"Sah...."
"Alhamdulillah," ucap Pak penghulu.
Sinta mencium tangan Fahri, setelah itu kedua pembelai sungkem kepada orang tua Sinta serta mendapatkan wejangan dari orang tua Sinta, lalu Fahri dan Sinta sungkem kepada Papa Surya dan Mama Dina. Terakhir Fahri dan Sinta sungkem ke Kakek.
"Kakek titip Sinta, tolong jaga dan bimbing Sinta. Jika dia salah tolong tegur juga---" Nafas Kakek semakin pendek lalu tidak lama Kakek menutup mata.
"Kek..." pekik Sinta yang sudah meneteskan air matanya.
"Kek, bangun!" seru Sinta seraya menggoyangkan tubuh Kakek.
Dokter yang memang dari tadi sudah standby segera memeriksa keadaan Kakek, lalu Dokter memandang Sinta dan Fahri seraya menggelengkan kepalanya.
" Beliau sudah tiada,"ucap Dokter.
"Kakek..." tangis Sinta pecah begitupun Mamanya Sinta.
Seketika ruangan itu menjadi kelabu atas meninggalnya Kakek, Suara Isak tangis memenuhi ruangan tersebut.Keinginan terakhir menyaksikan cucunya terkabul dan pergi dengan tenang meninggalkan semuanya.
____
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like 👍👍