Nikah Muda

Nikah Muda
ATC. Season 2. Ep 27


__ADS_3

Ansel membulatkan mata saat mengetahui kebenaran tentang kehamilan Karina. Dan Karina, wanita itu terus menunduk dan tidak memiliki keberanian untuk menatap sang dokter maupun Ansel.


"Dok, apa aku tidak salah dengar?" tanya Ansel memastikan.


Dokter tersenyum mendengar pertanyaan Ansel. "Istri Bapa sedang mengandung dan usia kandungannya sudah empat bulan" balas sang dokter.


"Apa! Empat bulan.." lagi-lagi Ansel semakin dibuat tak percaya. Jika usia kandungan Karina sudah empat bulan, maka Karina telah mengandung sejak pertemuan mereka di sekolah.


Dokter kembali tersenyum. "Iya Pa, usia kandungan istri Bapa sudah menginjak bulan ke empat"


Ansel, untuk membuat pikirannya tenang. Pria itu mengajak Karina pulang ke rumah. Dalam perjalanan, keduanya terus diam dengan pikiran masing-masing. Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di rumah. Karina maupun Ansel keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Keduanya duduk di sofa tanpa saling menatap.


"Anak siapa yang kamu kandung?" tanya Ansel.


Karina menggeleng tak tahu. "Aku juga tidak tahu Ayah dari anak ini" balas Karina dengan bulir air mata yang kini membasahi pipinya.


Ansel mengusap wajahnya dengan kasar. Bukan jawaban itu yang ia ingin dengar. "Kenapa kamu tidak tahu Ayah dari anak yang kamu kandung" ujar Ansel terlihat kesal.


Tangis Karina semakin menjadi jadi. Menatap sayu pria yang kini terlihat frustasi. "Ansel, tolong bantu aku mencari tahu Ayah dari anak yang aku kandung" pintah Karina sesegukan.


"Ceritakan padaku awal mula kejadian hingga kamu seperti sekarang" kata Ansel menatap Karina.


Flashback On/Club malam kota Jerman


Terdengar musik DJ yang begitu menggelegar. Orang-orang nampak bahagia dengan kegiatan mereka masing-masing. Di meja paling sudut, Karina dan Ellen sedang duduk sembari menatap orang-orang yang sedang berhura hura. Ellen mengambil satu botol anggur lalu menuangnya di gelas.


"Karina, ayo kita bersulang" ujar Ellen, sahabat Karina.


"Bersulang!!" teriak Karina dengan girang. Karina meneguk anggur yang dituang oleh Ellen. Begitupun dengan Ellen, ia meneguk minuman yang ada di dalam gelas yang ia pegang.


"Ellen, kenapa kepala ku terasa pusing?" tanya Karina saat pandangannya mulai buram. Tak membutuhkan waktu lama, Karina kehilangan kesadarannya. Selang beberapa detik, seorang pria datang membawa Karina pergi.


Pukul 01:00, di hotel bintang 5 Kota Jerman, Karina mengerjap, ia melihat di sekelililing, kamar yang ia tempati adalah kamar yang pernah ia tempati sebelumnya. Tangis Karina pecah saat menyadari dirinya tanpa busana. Disela sela tangisnya, Karina berkata.

__ADS_1


"Momy, Dady, aku kembali hancur" ujarnya sembari memeluk kedua lututnya.


----


Seminggu setelah kejadian, Karina kembali ke Club. Ia duduk di kursi yang sering ia tempati duduk. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang tak lain adalah Ellen. Karina beranjak dari duduknya berjalan menghampiri Ellen.


"Ellen, aku merindukanmu" ujar Karina berhambur memeluk Ellen.


Ellen terperanjat saat mendapatkan pelukan yang tiba-tiba. "Ka--karina" gumam Ellen terbata bata.


"Ellen, ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat berbeda?" tanya Karina. Karina nampak bingung dengan perubahan sikap Ellen.


"Ponselku rusak, Karina. Ini aku baru selesai memperbaikinya. Kamu datang dengan siapa ke sini?" tanya Ellen.


"Aku sendiri" balas Karina. Karina dan Ellen ke luar dari club, keduanya masuk ke dalam mobil milik Ellen. Saat diperjalanan, terlihat dua mobil sport hitam dan putih tengah menghadang jalan. Ellen menekan pedal gas mobilnya tiba-tiba. Terlihat dua orang pria keluar dari mobil menuju mobil Ellen.


"Cepat keluar!!" titah pria tersebut dengan dingin sembari mengarahkan pistol ke jendela mobil. Dengan perpaksa, Karina dan Ellen ke luar dari dalam mobil dengan tubuh gemetar.


"Bawa dia!" titah seorang pria dari dalam mobil.


Waktu menunjukan pukul 02:12, Karina mengerjap, ia membuka matanya dengan pelan. Air matanya kembali menetes saat ia menyadari apa yang telah terjadi padanya.


Saat sedang menangis, terdengar notifikasi ponsel yang berada di atas nakas. Karina mendongak, ia melihat ponselnya di atas nakas bersama dengan selembar kertas dan cek. Karina mengambil ponselnya, ia melihat ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.


"Jika kamu hamil, jaga baik-baik anak ku. Ambil cek itu untuk kebutuhanmu. Suatu hari nanti, aku akan datang menjemput kalian" isi pesan.


-----


2 bulan kemudian


Pagi hari


Karina sedang duduk di taman sekolah, ia menatap ponselnya lalu membaca pesan yang di kirim oleh pria misterius yang merenggut masa depannya. "Apa! Jadi pria itu masih sekolah!!" Karina membulatkan mata tak percaya.

__ADS_1


Flashback Off


Ansel melirik jam yang ada dipergelangan tangannya. "Karina, aku tidak janji tapi aku akan membantumu. Sekarang aku harus kembali, Marsya sendiri di rumah" ujar Ansel.


"Apa kamu tidak bisa bermalam di sini?" tanya Karina sesegukan.


"Tidak bisa, Karina" balas Ansel.


"Karina, sesuai dengan janji yang pria itu titipkan. Jaga anak yang ada di dalam kandunganmu dan tunggu dia datang menjemput kalian" kata Ansel. "Aku harus kembali, jaga dirimu baik-baik" lanjutnya.


------


Kediaman Angga


Marsya menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukan pukul 18:00 PM, namun Ansel tak kunjung datang. "Kenapa Ansel belum pulang juga" gumam Marsya. Ia terlihat mondar mandir di ruang keluarga.


Terdengar bunyi kalakson mobil di depan rumah. Marsya berlari keluar, ia melihat Ansel keluar dari dalam mobil. "Karina sakit apa? Kenapa kamu baru pulang?" tanya Marsya.


"Ayo masuk" kata Ansel menarik tangan Marsya. Keduanya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga.


"Ansel, kamu kenapa? Aku lihat kamu tidak seperti biasanya" tanya Marsya.


"Aku stres, Marsya. Apa kamu bisa membantu Karina?" tanya Ansel.


Marsya menautkan alisnya. "Bantu Karina?" tanya Marsya memastikan.


"Iya, Karina hamil dan pria yang menghamilinya adalah seorang pelajar" balas Ansel.


"Apa! Karina hamil!!" Marsya terbelalak saat mengetahui kebenaran mengenai Karina.


"Itulah kenyataannya. Bagaimana, apa kamu mau membantunya?" tanya Ansel.


Marsya mengangguk, menandakan bahwa ia setuju membantu Karina. "Ayo makan, aku sudah lapar" ajak Marsya cemberut.

__ADS_1


Ansel tersenyum melihat tingkah Marsya yang menggemaskan. "Tidak sia-sia aku menikah denganmu. Sekalipun kamu bodoh tapi kamu bisa memasak" ujar Ansel.


"Aku memang bodoh, tapi aku pandai menjaga diri" balas Marsya. Jawaban itu membuat Ansel terdiam sejenak.


__ADS_2