Nikah Muda

Nikah Muda
ENAM


__ADS_3

Sampis Kadal


Bunda meminta saya untuk mengajak kamu jalan-jalan. Bersiaplah, 15 menit lagi saya akan disana.


Arin menghempaskan ponselnya ke kasur setelah mendapatkan pesan singkat dari Bisma. Hari ini, waktunya Arin untuk menghabiskannya dengan rebahan.


"Tidur ajalah."


Arin menghempaskan tubuhnya ke kasur, kembali memejamkan mata menikmati nikmatnya rebahan.


"Arin!"


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu yang cukup kuat.


"Apa sih," gerutu Arin. Ia berjalan gontai menuju Pintu.


"Apasih ma?" tanyanya yang sudah membukakan pintu.


"Itu ada Bisma."


"Bilangin, kapan-kapan aja."


Arin hendak menutup pintunya kembali, tetapi ditahan oleh Mamanya. "Ini perintah," tegas Mamanya.


"Arin ngga mau Ma."


Mama Arin langsung berlalu meninggalkannya tanpa mendengarkan penolakan sang Putri. Ia menutup pintunya kasar, mau tidak mau Arin harus menuruti ajakan Bisma.


Lima belas menit cukup untuk ia menyiapkan diri, kemudian Arin menghampiri Bisma yang sudah menanti.


"Cuma lima belas menit makan diluar," peringatnya yang berlalu keluar rumah.


Bisma yang melirik Arin kemudian berdiri, menyalami Mama Arin dan berpamitan pergi.


***


"Saya sudah menyiapkan segala keperluan untuk kita nanti."


Aku melirik ke arah Pak Bisma, ia menjelaskan semuanya dengan wajah datar tanpa rasa penolakan sedikit pun.


"Saya tidak ingin menikah,"


Aku menyeruput minumanku dengan sekali hisapan. Ku buang botol minum itu ke sembarang arah dan berjalan meninggalkan pak Bisma yang masih duduk di bangku taman.


Aku terhenti karena pak Bisma manahan tanganku, "Kamu sudah memutuskannya, anggap saja ini hanya sebuah status. Kita menikah, tapi kamu masih bebas untuk Melakukan apapun."


"Tapi mau gimana pun. Ini pernikahan pak, saya ngga mau main-main."


"Saya juga tidak mau!"


Nada bicara pak Bisma sedikit membentak, Aku terkejut dan spontan tidak berkutik.


"Setelah kita menikah, anggap saya hanya seseorang yang menjagamu. Tidak perlu melakukan apapun."


Drrttt!


Ponselku berbunyi, aku mengalihkan perhatianku, mengeluarkan ponsel dari tas yang aku sandangin.


From: Bebek Anya


Arin! Gue liat pak Bisma lagi ditaman bareng cewe! Sakit banget hati gue rin!


Seketika badanku menegang. Aku tidak berani menoleh kebelakang, firasatku mengatakan bahwa Anya kini berada dibelakang dan tidak bisa melihat karena posisi aku yang membelakanginya.

__ADS_1


Aku langsung berjalan menarik tangan pak Bisma. Berjalan sambil menutupi wajahku dengan tangan.


"Ka-kamu kenapa?"


"Ikut aja pak."


***


"Arin!" sapa Anya yang berlari ke arahnya.


"Kenapa?"


"Hari ini. Gue bikinin nasi goreng buat pak Bisma. Gimana-gimana?" tanya Anya yang memperlihatkan isi bekalnya pada Arin.


"Wih, kelihatannya enak nih. Cicip dong," pinta Arin yang berusaha mencapai kotak bekal Anya.


"No!"


Arin mengerucutkan bibirnya, "pelit banget."


"Arin, kemarin kok lo ngga bales chat gue?"


Arin mengerutkan keningnya heran, "kapan?"


"Semalem. Waktu gue bilang, gue liat pak Bisma bareng cewe lain."


"It-itu baterai ponsel gue low."


Anya memasang wajah cemberutnya, ia rasa tidak ada kesempatan untuk mendekati Pak Bisma.


"Kalo pak Bisma udah punya pacar gimana?" tanya Anya pesimis.


"Ngga bakalan. Makanya langsung trobos."


"Kalo gitu lo bantuin gue ya? Bantuin tanyain pak Bisma udah punya pacar apa belom."


"Kok lo gitu sih? Sekali doang. Ya ya ya?"


"Engga!"


"Ya?"


"Engga!"


"Engga?"


"Ya!"


"Oke setuju!" seru Anya antusias.


"Eh maksud gue bukan itu!"


"Ngga nerima penolakan! Pokoknya nanti lo harus tanyain oke!"


Anya begitu bahagia sampai tidak bisa membuat Arin berkutik. Ia hanya pasrah, untuk kali ini ia akan menuruti Anya. Toh, hanya menanyakan apakah Pak Bisma memiliki pacar bukanlah perkara yang sulit.


"Si datar datang! Duduk semua!" instruksi Jaya.


Semua murid berhamburan duduk di bangku masing-masing. Saatnya pelajaran membosankan dimulai, bahkan saat Bisma baru menunjukkan wajahnya saja sudah membuat seluruh murid menguap.


"Saatnya kuis," ucap Bisma tanpa aba-aba.


"HAAA??" teriak seluruh murid.


"Tidak terima? Semuanya dapat nilai E!"

__ADS_1


Braak!!!


Arin menggebrak meja kemudian berdiri,


"Apa-apa nih?! Ngga bisa gitu dong pak! Masa mau kuis mendadak gini!" protes Arin.


"Ayrin Syalwa Kamila, E!" ancam Bisma yang mengambil buku Nilai.


Arin bungkam, ia duduk perlahan sambil menatap sinis ke arah Bisma.


"****," umpatnya pelan.


"Apa ****? Sejenis kamu?" tanya Bisma yang berjalan mendekati Arin.


"Sa-saya bilang Baby pak, salah denger tuh bapak. Heheh," jelas Arin yang berusaha mengelak dari tatapan Bisma.


"Oke semua, keluarkan kertas!"


Waktu sudah menunjukkan untuk istirahat, seluruh murid sudah meninggalkan kelas yang kosong dan berpindah keramaian di titik kantin. Tapi, Arin dan Anya masih asik berdebat di dalam kelas. Bisma yang masih berada disekitar mereka tidak menanggapi perdebatan mereka.


"Gue bakal pergi, lo harus tanyain ini ke pak Bisma. Oke?" bisik Anya.


"Ta--"


Anya berjalan meninggalkan Arin dan pergi mendekati Bisma yang masih sibuk merapikan lembar jawaban kuis tadi.


"P-pak."


Bisma menoleh menatap Anya yang menunduk Malu-malu. Ia mengangkat alisnya, bertanya alasan Anya memanggilnya.


"An-anu. Bapak ngga makan siang?"


"Sebentar lagi."


"Ka-kalau gitu, ini saya bawa bekal buat bapak."


Anya menunduk, sambil mengarahkan bekalnya di depan Bisma. Arin yang melihat kegugupan Anya cekikikan.


"Buat saya?" tanya Bisma yang tampak ragu-ragu mengambil bekalnya.


Anya mengangguk cepat, ia masih setia menunduk.


"Sepertinya semut lebih menarik daripada saya ya?"


"Eh engga. An-anu, hehe." Anya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, wajahnya memerah.


"Ka-kalau gitu saya permisi dulu pak. Jangan lupa dimakan ya pak."


Anya pergi meninggalkan Arin dan Bisma berdua. Arin yang masih duduk di bangkunya hanya pura-pura mengabaikan hal tadi.


"Ekehem.."


Arin berdiri berjalan ragu, ia ingin mendekati Bisma. Tapi hatinya menyuruh untuk keluar.


"P-pak?"


Bisma tidak menanggapi panggilan Arin. Ia masih fokus memeriksa beberapa lembaran kertas.


"Saya cuma mau nanya. Bapak sudah punya pacar?"


Bisma mendongak menatap Arin yang berdiri dihadapannya.


"Ma-maksud saya bukan gitu-- ini--"


Bisma kembali fokus dengan lembaran kertasnya, "Saya hanya melayani pertanyaan seputarĀ  pelajaran."

__ADS_1


Arin mendengus kesal. Tampaknya, ia tidak akan mendapatkan jawabannya saat ini.


"Jawab sesudah pulang sekolah pak."


__ADS_2