
Semua mengantar Kakek ke peristirahatan terakhirnya, tangis Sinta dan keluarga mengiringi kepergian Kakek saat tanah mulai menutupi jenazah Kakek. Fahri memeluk Sinta yang hampir jatuh ke tanah, andai saja Fahri tidak sigap memeluk Sinta, pasti Sinta tersungkur ke tanah.
Selepas pemakaman Kakek, semuanya kini menuju pulang ke kediaman orang tua Sinta dan malamnya langsung mengadakan Tahlilan untuk mendoakan mendiang sang kakek. Sinta tak henti-hentinya menahan kesedihannya atas kehilangan sang Kakek yang sangat dia cintai. Mama Dina dan Bella terus memberi dukungan kepada Sinta agar lebih sabar dan ikhlas dengan kepergian Kakek. Bahkan selama tahlilan berlangsung, Bella tak beranjak dari sisi Sinta.
"Yang sabar, kak," tutur Bella kepada Sinta seraya mengelus punggung Sinta.
Selesai Tahlilan, Papa Surya dan anggota keluarganya pamit pulang. Sedangkan Fahri akan menemani Sinta sampai hari ke tujuh.
"Nak, Mama sama yang lainnya pulang dulu. Kamu yang ikhlas atas kepergian Kakek," ucap Mama Dina seraya mengelus bahu Sinta.
"Iya, Ma. Maaf Sinta nggak bisa ikut menemani Mama pulang," timpal Sinta sambil menyeka air matanya.
" Nggak apa-apa, sekali lagi yang ikhlas ya." Mama Dina menatap Sinta dengan pandangan teduh dan Mama Dina memeluk Sinta dengan penuh kasih sayang.
"Kak, kami pulang dulu." Pamit Bella sembari memeluknya berharap dengan memeluk Sinta bisa memberi ketenangan.
"Iya, hati-hati di jalan," balas Sinta.
Kini semua rombongan Papa Surya meninggalkan kediaman orang tua Sinta. Sinta masih berdiri memandangi mobil sampai tak terlihat olehnya.
"Ayo masuk." Ajak Fahri kepada Sinta. Sinta pun mengangguk dan mengajak Fahri menuju kamarnya.
Kini keduanya sudah berada di kamar. Fahri bingung mau ganti baju, pasalnya dia tak membawa baju ganti.
"Mas nggak nggak bersih-bersih dan ganti baju."
"Mas kan nggak bawa baju ganti, niatnya kan cuma mau melamar kamu aja."
"Aku akan bilang sama sepupuku, mau pinjam bajunya. Mas tunggu ya!."
Sinta keluar mencari sepupunya dan mengatakannya kalau ia mau pinjam baju untuk suaminya. Setelah mendapat pakaian untuk Fahri, Sinta kembali ke kamar.
"Mas, ini bajunya," ucap Sinta sembari menyodorkan pakaian untuk Fahri.
Fahri menerimanya dan segera membersihkan diri dan berganti pakaian, setelah itu Fahri keluar dari kamar mandi dan melihat Sinta sedang memandang foto Kakeknya.
__ADS_1
"Sayang!"
Sinta mendongak menatap Fahri sendu, Fahri mengambil foto Kakek dan meletakan di atas nakas. Fahri duduk di samping Sinta, lalu menarik tubuh Sinta untuk di peluk.
"Jangan terus menerus menangisi Kakek. Kakek sudah tenang di alam sana, yang perlu kita lakukan hanya mengikhlaskan kepergian Kakek dan mendoakan Kakek agar di tempatkan di sisi Allah," tutur Fahri seraya mencium pucuk kepala Sinta.
"Iya, Mas."
"Sekarang kita istirahat, kamu pasti lelah."
Fahri dan Sinta sudah merebahkan tubuhnya di kasur, ada rasa canggung dari keduanya. Pasalnya ini pertama kali tidur bersama lawan jenis, Fahri mengubah posisi tidurnya dan menarik tubuh Sinta agar mendekatinya, lalu Fahri merengkuh tubuh Sinta.
"Tidurlah."
Sinta membalas memeluk Fahri dan segera tidur. Kini keduanya sudah tertidur saling memeluk dan saling memberi kehangatan.
***
Waktu terus berlalu, berganti bulan. Kini usia kandungan Bella sudah memasuki sembilan bulan.
Meskipun Bella banyak permintaan aneh, Aditya tetap menjadi suami yang siaga. Membuat Bella semakin manja kepadanya, bahkan Aditya tak mau kehilangan momen pertumbuhan si kembar yang masih dalam perut Bella.
"Hubby..."rengek Bella.
"Kenapa sayang!"
"Aku ikut ke Bali ya."
"Nggak boleh, sayang. Usia kehamilan kamu sudah masuk sembilan bulan, lagian aku ke Bali bukan untuk liburan. Aku kan ke Bali untuk bantu Papa kerja buka cabang baru di sana."
Bella melengos dan pergi ke balkon. Aditya menghela nafasnya, melihat Bella tengah merajuk. Aditya segera mendekati Bella dan memeluknya dari belakang seraya mengelus perut Bella.
"Sayang, jangan marah dong," ucap Aditya lembut.
Bella mendengus samar, lalu memutarkan tubuhnya menghadap ke Aditya.
__ADS_1
"Kamu kan ke balinya bakal lama, nanti kalau aku sudah mau melahirkan kamu nggak ada gimana dong!," tukas Bella.
"Kita berdoa saja, semoga kamu melahirkannya pas aku sudah balik lagi ke sini. Lagian aku ke Bali cuman dua Minggu."
"Lagian kenapa Papa ngajaknya kamu bukan Bang Fahri," sungut Bella.
"Karena Abang nggak pernah tertarik dengan usaha Papa, maka dari itu Papa akan menyerahkan usaha Papa kepadaku."
"Tapikan---, ya sudahlah mau bagaimana lagi." Pasrah Bella.
"Aku janji akan secepatnya menyelesaikan urusanku di Bali, biar bisa menemani kamu lagi." Aditya mengelus pipi chubby Bella.
Dan hari itu juga, Aditya berangkat ke Bali bersama Papa Surya. Bella yang biasanya selalu bersama Aditya kini Bella sudah di serang rindu. Bella merebahkan tubuhnya di kasur dan memiringkan tubuhnya menghadap ke tempat di mana biasanya Aditya tidur di sampingnya. Bella mengelus sisi kasur itu dan jatuh tertidur.
Sayup-sayup Bella mendengar suara dering handphonenya, Bella meraba nakas mengambil handphonenya yang terus berdering. Bella tersenyum saat tahu siapa yang menelponnya.
"Halo..."
"Halo juga sayang, lagi ngapain?"
"Tiduran, sudah sampai?"
"Sudah, ini lagi di hotel. Baru sampai."
"By, kangen."
"Baru beberapa jam, sudah kangen aja."
Bella mendengus mendengar perkataan Aditya, " Emang nggak boleh aku kangen sama suamiku sendiri," sungut Bella.
" Tentu saja boleh,sayang."
Pembicaraan mereka terus berlanjut, Bahkan dalam sehari ini saja, Bella sampai beberapa kali menelpon Aditya. Saking rindunya Bella terhadap Aditya.
Bella tengah terduduk di kasur, kini untuk pertama kalinya Bella merasa kesepian dan malam ini dia harus tidur tanpa ada Aditya di sampingnya.
__ADS_1
Bella rindu Aditya, rindu pelukannya, rindu wangi tubuhnya.