
Marsya beranjak dari tempat tidur menuju dapur. Wanita itu tidak mau berlama-lama dengan suaminya. Entah karena sifat jahil suaminya atau karena sifat mesumnya.
"Karena Ansel. Bibir seksiku kembali ternoda yang kedua kalinya" gumam Marsya. Lalu mengambil bahan-bahan yang akan dimasak. Menu sarapan pagi kali ini yaitu roti yang dicelupkan kecampuran telur, susu dan kayu manis lalu dipanggang dan dinikmati dengan sirup mapel.
-----
Marsya menyajikan Armer ritter pfannkuchen di atas meja. Lalu duduk menatap menu pagi yang ia buat.
"Sejak aku ke Jerman, Ibu dan Ayah tidak mengirimkan aku uang. Mana uang ditabunganku tinggal sedikit. Aku harus menghemat sekarang" gumam Marsya.
"Marsya... Marsya..." teriak Ansel dari dalam kamar.
"Itukan Ansel" gumam Marsya berlari masuk ke dalam kamar. Ia membulatkan mata saat mendapati suaminya tengah telanjang dada.
"Dasar keparat!!" pekik Marsya sembari menutup mata, menggunakan kedua telapak tangannya.
"Hahahaha" tawa Ansel pecah saat ia berhasil mengerjai istrinya. "Buka matamu" titahnya.
"Aku tidak mau, kamu pasti akan menodai mataku lagi!" ketus Marsya.
Ansel menghampiri istrinya yang tengah berdiri di depan pintu. Ia tersenyum menyeringai mengerjai istrinya. "Buka matamu" titah Ansel.
"Tidak mau! Kamu dekat denganku kan!!" ketus Marsya lagi.
"Buka matamu" titah Ansel lagi.
Untuk yang ke tiga kalinya, Marsya menuruti perintah suaminya. Wanita itu membuka mata indahnya. Saat matanya terbuka, Ansel kembali menjahilinya. Dan kali ini bukan lagi telanjang dada melainkan morning kiss. Ansel mendaratkan ciuman singkat di bibir istrinya.
"Ansel!!" pekik Marsya. Ia berlari mengejar suaminya. "Dasar laki-laki otak mesum!!" teriak Marsya.
"Hahahahaha. Itu pelajaran untukmu yang tidak patuh" ujar Ansel mengelilingi meja makan.
"Ampun Marsya ampun!!" mohon Ansel saat Marsya mengambil pisau mengarahkan ke arah Ansel.
"Jika tidak mau mati maka mendekatlah" kata Marsya ngos ngosan.
"Kamu harus janji untuk tidak menghukumku. Jika kamu menghukumku maka aku tidak akan ke sekolah" kata Ansel sebelum menghampiri Marsya.
__ADS_1
"Iya, aku tidak akan melakukan itu" balas Marsya lalu duduk di kursi.
"Sya, ayo kita makan. Setelah itu kita mandi lalu berangkat ke sekolah" ujar Ansel mengambil tempat disamping Marsya.
-----
Sekolah
Ansel dan Marsya turun dari mobil berjalan menuju kelas. Keduanya berhenti saat Karina menghadang mereka.
"Karina, aku ingin berbicara denganmu" kata Ansel.
Karina mengangguk lalu menarik tangan Ansel. Keduanya berjalan menuju belakang sekolah. Sesampainya di belakang sekolah, Ansel dan Karina mulai berbincang bincang.
Di tempat lain, Marsya melanjutkan langkahnya menuju kelas. Ia tidak mau bersikap gegabah yang nantinya membuat orang-orang tahu kebohongan mereka. "Aku percaya pada Ansel, dia tidak akan melakukan hal itu lagi di sekolah" batin Marsya.
Saat Marsya hendak melangkah masuk ke dalam kelas, terdengar suara nyaring yang begitu familiar, siapa lagi kalau bukan Maria. Marsya berbalik mencari arah suara, ia tersenyum saat melihat Maria berjalan ke arahnya.
"Di mana senior?" tanya Marsya. Setahu dia, Maria dan senior tinggal di Apartemen yang sama.
"Kamu tahu sendiri, aku ini wanita cupu, mana ada laki-laki yang mau jalan bersama wanita cupu sepertiku" balas Maria cemberut.
"Aku harus belajar. Jika tidak, maka aku tidak akan menggapai cita-citaku" batin Marsya. Marsya mulai membaca buku cetak yang ia bawa, selang beberapa detik, ia melihat Ansel dan Karina masuk ke dalam kelas. Keduanya mengambil tempat masing-masing tanpa suara.
"Ada apa dengan mereka berdua? Kenapa ekspresi mereka seperti itu" batin Marsya.
Lima menit telah berlalu, terdengar bunyi bel yang menandakan jam pertama akan dimulai. Semua siswa dan siswi mulai menyiapkan buku dan pulpen mereka.
"Selamat pagi" sapa Bu Nazma. Bu Nazma duduk di kursi yang ada di depan meja guru.
"Pagi Bu..." balas semua siswa dan siswi bersamaan.
Mata pelajaran pertama telah di mulai, semua siswa dan siswi membuka buku cetak mereka sesuai arahan dari Bu Nazma. Seperti biasa, setelah selesai mengajar, Bu Nazma akan memberikan tugas pada muridnya. Proses belajar mengajar berjalan dengan semestinya, waktu begitu cepat berlalu hingga bunyi bel jam istrahat terdengar nyaring di dalam sekolah.
"Haikal, Neon, apa yang kalian lakukan di depan pintu?" tanya Bu Nazma saat melihat dua pangeran tampan berdiri di depan kelas.
"Seperti biasa Ibu, kami menunggu Marsya dan Maria" balas Neon dengan ramah.
__ADS_1
Bu Nazma tersenyum lalu keluar dari dalam kelas. Semua siswa dan siswi bersorak girang saat guru mereka telah keluar dari dalam kelas. Haikal dan Neon berjalan masuk menghampiri Marsya dan Maria.
"Ayo ke kantin, aku sangat lapar" kata Neon cemberut sembari memegang perutnya.
"Ansel, apa kamu mau ikut bersama kami?" tanya Marsya.
"Kalian duluan saja, nanti aku nyusul" balas Ansel santai.
"Aku harus bersikap santai dan menjaga jarak dari Karina. Jika aku bersikap berlebihan pada Marsya maka mereka akan curiga dan Karina, bisa jadi dia akan menyakiti Marsya" batin Ansel.
Marsya dan Maria keluar dari kelas yang diikuti oleh Neon dan Haikal. Haikal menarik rambut Marsya membuat wanita itu kesal.
"Senior!!" ketus Marsya.
"Apa yang kamu sembunyikan dari kami? Cepat jujur" tanya Haikal menyelidik.
"Menyembunyikan apaan!!" ketus Marsya lagi.
"Jangan berbohong Marsya, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari kami" kata Haikal.
Untuk menghindari pertanyaan lanjutan, Masya memilih memesan makanan. Setelah selesai memesan makanan untuk dirinya dan ke tiga temannya, ia pun duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.
"Marsya, apa kamu dan Ansel---" Maria tak melanjutkan kalimatnya saat Marsya menatapnya.
"Iya, aku juga penasaran. Ansel pacaran dengan Karina tapi kenapa dia melarang kami untuk menyentuhmu" timpal Neon.
"Dan lagi, dia begitu sensitif saat melihat kami berdua mencarimu" sambung Haikal.
"Ibu dan ayahku meminta Ansel untuk menjagaku. Mencarikan aku teman pria dan wanita yang baik. Itulah sebabnya Ansel selalu menatap dan memantau gerak gerikku" jelas Marsya. Berharap mereka mempercayai jawabannya.
"Apa kamu yakin? Aku rasa jawabannya bukan itu" serga Neon.
"Boleh aku bergabung dengan kalian?" tanya Ansel yang tiba-tiba menghampiri Marsya dan kawan kawannya.
"Silahkan" balas Haikal.
Ansel mengambil tempat disamping Marsya. Sedangkan Marsya, ia terlihat santai. Ia tidak ingin ketiga temannya curiga dengan sikapnya.
__ADS_1
"Tunggu" Mata Maria terfokus di jari manis Marsya.