Nikah Muda

Nikah Muda
Aku mencintaimu


__ADS_3

Bisma berdiri di ambang pintu Cafe dengan auranya yang tak bisa terbaca. Matanya menatap lurus ke arah Arin dan Ryan yang asik tertawa bahagia.


Arin yang melirik sekilas ke arah pintu cafe terkejut saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu, ia merasa keadaan saat ini seperti sang pacar mengetahui ia berkencan dengan pria lain.


Bisma berjalan ke arah mereka dengan ekspresi datarnya. Berhenti dimeja mereka dan tersenyum. "Lama tidak bertemu Ryan,"


"Pak Bisma?"


"Sendirian aja pak?" tanya Ryan yang berdiri dan menyalami Bisma. Arin hanya terdiam, menunduk dan menatap kosong ke arah jari-jarinya yang ia tautkan.


"Untuk saat ini saya sendiri. tapi mungkin sebentar lagi calon istri saya datang," jelasnya yang melirik Arin sekilas.


"Kamu sendiri disini lagi ngapain? Pacaran? atau Belajar?" tanya Bisma dengan nada pura-pura bercanda.


"Belajar mulu pak. Ya pacaran lah," canda Ryan.


"Gani," panggil seseorang yang mengundang Mereka untuk menoleh ke orang itu.


Arin yang semula menunduk spontan mendongak melihat wanita yang berjalan mendekati meja mereka, wanita itu menatap Bisma dan bergelayut manja di lengan sang empuya.


"Ryan, Ayrin. Kenalin ini calon istri saya namanya Clara,"


Ryan dan Arin bergantian menjabat tangan wanita itu. Wanita itu tanpa tidak ramah, pasalnya ketika mereka berjabat tangan wanita itu seperti buru-buru untuk melepaskannya.


"Lanjutin pacarannya," ucap Bisma yang berlalu meninggalkan mereka.


"Pacar pak Bisma bohay juga," lirik Ryan.


"Yaudah tikung aja Sono," ketus Arin.


"Cemburu?" goda Ryan.


"Engga tuh."


Ryan hanya terkekeh melihat Arin yang memasang ekspresi cemburunya.


•••


Aku berjalan masuk kedalam rumah dengan ragu-ragu. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku terpaksa harus pulang larut begini karena harus membeli banyak keperluan.


"Sudah jam berapa?" nada ketus itu menyambut kepulanganku.


Aku terdiam menunduk ketakutan. "M-maafkan saya pak,"


"Pacaran hingga kau lupa waktu untuk pulang," sarkasnya.


'Siapa yang pacaran?'


Aku tidak berniat menjawab atau membantahnya, aku hanya terdiam menunduk dengan ketakutan.


Apa yang dia lakukan benar-benar menyiksa batinku. Aku lelah harus bertahan dengan rasa sakit ini. Berharap ketika menikah mendapatkan kebebasan dan berhak menentukan kehidupan kedepanku malah tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Aku dikekang, batin dan fisikku tersiksa. Tidak ada satu orang yang mengetahui keadaanku.


Apa salahku? Kenapa ia terus-menerus menyiksaku. Jika ia tidak mencintaiku, lepaskan aku. Ta-tapi, aku tidak tau dengan diriku. Aku terlalu terpaku pada kehidupanku dan tidak berniat memberontak padahal aku bisa saja lari darinya.

__ADS_1


'Apa aku mulai terbiasa dan mulai Mencintainya?'


 


•••


 


Empat tahun aku memendam rasa padanya, gadis cantik yang selalu tertawa riang, gadis manis yang selalu peduli pada orang lain. Rasa ini datang bukan sekedar tiba-tiba, aku yang awalnya tak acuh padanya. Perlahan melunak dan mulai Memperhatikannya.


Dulu saat aku duduk dibangku kelas 10, ia selalu memanggil namaku dengan lembut. Mengajakku berbicara bahkan sesekali mengajak aku untuk ke kantin bersamanya. Ia adalah orang yang pertama kali berinteraksi baik denganku sejak awal masuk sekolah menengah atas. Terlalu sibuk dengan belajar membuat aku lupa untuk memiliki teman. Tidak ada yang berani mendekatiku, mereka bilang aku anak yang terlalu serius dan tidak bisa berhenti belajar. Pada Kenyataannya aku hanya anak biasa yang belajar sepenuhnya dan bermain seperlunya.


Penampilan ku culun, tidak seperti badboy-badboy dan juga tidak berdompet tebal yang didamba-dambakan para kaum hawa. Aku berpenampilan apa adanya, tapi dia dengan senang hati berteman dan membantuku.


Aku menyukainya, aku mencintainya. Tapi aku tidak terlalu mapan dan sempurna untuknya. Aku belum dapat berfikir dewasa dan itu hanya akan mempersulit kedepannya nanti.


Awalnya aku tak tau bahwa dia menyukaiku juga, tetapi dengan terang-terangan ia selalu berangan-angan Akan menikah denganku, memiliki anak denganku, bahkan sehidup semati denganku. Itu membuat ku senang, entah berapa kali ia mengatakan hal itu padaku yang selalu membuat jantungku berdegup kencang.


Aku mencintainya, aku ingin memilikinya.


•••


"Udah siap semua bos?" tanya Astra yang tengah membantuku mendekor Cafe yang telah aku booking.


Kami mendekorasi cafe ini dengan nuansa romantis dan sedikit variasi Mickey mouse. Dekorasi yang akan disukai Arin.


Aku tidak berniat mengundang siapapun, aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan Arin berdua. Lalu aku akan menjadikannya miliku, tapi apa pikiranku ini terlalu jauh?


"Gua sama Anya kaga di undang nih?" protes Astra.


"Gua pamit, semua udah clear ya bro. Tinggal ini," Astra menggesekkan jempol dan jari manisnya sambil tersenyum penuh arti.


"Iye ntar gua bagi,"


"Oke. Kalau gitu gua pamit,"


Astra pergi meninggalkan aku sendirian di cafe. Ku tatap sekelilingku. Dekorasi yang cocok untuk menyatakan cinta pada Arin.


Seharian ini aku menahan diri untuk tidak berkomunikasi pada Arin. Bahkan saat di kampus tadi aku menghindari Arin yang berkali-kali mencari keberadaan ku.


•••


Aku berjalan memapah Arin yang menutupi matanya. Ku bimbing ia yang berjalan penuh hati-hati.


"Jangan ngintip," ucapku memperingatkannya.


"Iya. ini apasih?! Gelap banget kalo matanya ketutup," Protesnya.


Aku tidak merespon protesnya. Perlahan aku melepaskan tanganku yang tadi memapahnya, berjalan menjauhinya tanpa berbicara.


"Ryan, loh kok? Gua buka ya nih mata?" tanyanya yang berdiam diri dengan mata tertutup.


Arin membuka perlahan matanya. "Gua buka aja ya ni mata. Awas lu ninggalin--"

__ADS_1


Ia terkejut melihat aku yang berdiri di depannya sambil memegang kue. Aku tersenyum lembut padanya,


"Happy Birthday Arin."


Buliran air matanya mengalir. Kedua tangannya menutup mulutnya menahan isakan.


"Loh, kok nangis?"


Aku meletakkan kue yang ku pegang di meja samping. Memeluknya erat yang menangis,


"Bahkan gua ga inget kalo hari ini ulang tahun gua," ucapnya terisak-isak.


Aku mengelus rambut surai miliknya, berusaha meredakan tangisannya.


"Cengeng banget," timpalku.


"Biarin," jawabnya sarkas.


Aku mengambil kue tadi, mengangkatnya dan mempersilahkan Arin meniupnya.


"Make a wish. terus tiup," titahku.


Ia menutup matanya berdoa dengan khusyuk dan meniupnya kasar.


"Kuenya juga ikutan terbang rin," ia hanya terkekeh menanggapiku.


"Tutup lagi dong matanya," pintaku.


"Males," jawabnya ketus tapi ia malah menutup matanya.


"Cepetan."


Aku buru-buru meletakkan kue yang ku pegang tadi. Berjalan mengambil bunga dan juga cincin yang sudah ku siapkan. Ini benar-benar seperti lamaran, padahal untuk saat ini aku hanya akan mengajaknya berpacaran dahulu.


Aku berdiri dengan tumpuan betisku dihadapannya, mengarahkan Cincin dan Bunga dihadapannya.


"Arin."


Ia perlahan membuka matanya, mengerjap-ngerjap-ngerjapkan dan membelalakkan matanya kaget, lagi-lagi ia menutup mulutnya dengan ekspresi tidak percaya.


"Empat tahun yang lalu, saat kau terus-menerus mencoba mengajakku berbicara, mencoba agar aku bisa berbaur dengan yang lain. Awalnya aku berfikir kau hanya seorang gadis yang berusaha menempel pada setiap laki-laki. Tapi, ternyata pandanganku berbeda. kau gadis ramah dan peduli pada semua orang. Membuat aku perlahan melunak dan bisa berbaur dengan yang lain, berkat kau aku bisa berbicara dan bermain dengan yang lain. Awalnya aku hanya merasa kagum dengan kau yang dengan senang hati membantu orang lain. Semua hanya rasa kagum, tapi perlahan rasa itu menjadi kuat dan berubah menjadi aku yang menginginkan mu. Aku berusaha untuk memendamnya, berusaha untuk terlihat biasa saja agar kau tak menjauhkan ku. Tapi, kau yang selalu terang-terangan mengatakan cinta padaku membuat aku sedikit memiliki harapan.  Aku seperti pengecut yang membiarkan wanita mengatakan cinta padaku. Tapi bukan itu alasanku tidak pernah merespon mu, aku hanya ingin menahan itu untuk sedikit saja, tidak ingin bersifat egois dan membiarkan aku untuk menjadi orang yang layak untuk mu. Arin, Aku melihat kesempurnaan pada dirimu, lalu aku jatuh cinta padamu. Kemudian, aku melihat ketidak sempurnaanmu, dan aku pun semakin jatuh cinta. Aku cinta padamu, itu adalah awal dan akhir dari segalanya. Arin, Izinkan aku memiliki mu? Aku mencintaimu."


Ku ucapkan semua kalimat tulus itu dengan satu tarikan nafas. Mengatakannya dengan amat tulus hingga air mataku menetes perlahan. Aku melihat Arin yang menatapku ragu, kemudian air mata mengalir dari sudut matanya.


"Ryan," panggilannya dengan suara serak.


"Maafkan aku,"


Arin memapah aku berdiri, aku masih bingung dengan ucapannya. Maaf, untuk apa ia meminta maaf padaku.


"Maaf karena aku juga mencintaimu," lirihnya yang memelukku erat.


"Terimakasih karena sudah mencintaiku, terimakasih karena telah membalas perasaanku---

__ADS_1


"Tapi, maafkan aku. Kita tidak dapat bersama Ryan."


__ADS_2